
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Wajah Krystal berubah bengis ketika melihat Nania tengah berjalan masuk ke dalam ruangan Jovan. Dia yang kala itu baru saja keluar dari dapur perusahaan guna membuatkan teh untuk Jovan, hanya bisa menahan kesal menyaksikan bagaimana gadis nakal itu pergi menemui pria yang di sukainya.
"Nania, apa perlu aku memakai toa untuk memperingatkanmu agar melepaskan Jovan? Benar-benar tidak tahu diri sekali kau ya," ujar Krystal penuh kesal.
Sesaat kemudian Krystal teringat kalau waktu itu Nania pernah mengajaknya untuk bersaing secara sehat dalam memperebutkan Jovan. Dia lalu terpikirkan cara untuk meminta bantuan dari Rhea saja. Adiknya Jovan pernah bilang kalau dia juga tidak menyukai Nania, sama sepertinya. Setelah itu Krystal segera meletakkan teh yang dia bawa ke atas meja kemudian menghubungi Rhea.
"Halo, Rhe. Kau sedang apa? Sibuk tidak?" tanya Krystal begitu panggilan tersambung. Dia lalu melirik sinis ke arah ruang kerja Jovan di mana ada Nania di sana.
"Tentu saja aku sibuk, Krys. Kenapa?" sahut Rhea dari dalam telepon.
"Oh, aku pikir kau sedang senggang. Begini, Rhe. Sekarang Nania ada di perusahaan, dia sedang menggoda Jovan di dalam ruangannya," jawab Krystal seraya menghela nafas panjang. Hummmm.
Saat Krystal tengah meratapi nasib kalau hari ini dia harus rela membiarkan Jovan berduaan dengan Nania, tiba-tiba saja dia dibuat tersenyum semringah saat mendengar kalau Rhea akan datang ke kantor. Hal ini tentu saja di sambut Krystal dengan penuh suka cita. Kapan lagi dia akan menemukan pembela di mana pembela tersebut sama-sama menyimpan rasa tak suka pada Nania. Haha.
"Aku akan datang ke kantor untuk mengusir gadis tidak tahu malu itu dari sekitaran kakakku. Sekarang aku tutup dulu panggilannya,"
Sembari menyimpan ponsel ke dalam tas, Krystal terus saja menyunggingkan senyum di bibirnya. Tatapan matanya juga tak henti melihat ke arah pintu ruangan Jovan, tak sabar menantikan bagaimana Nania akan ditarik paksa keluar dari sana.
"Hmmm, sekarang kau bersenang-senanglah dulu di dalam sana, Nania. Tapi nanti begitu Rhea datang, akulah yang akan menggantikan posisimu. Heh," gumam Krystal sinis.
Tak perlu menunggu lama, terlihat Rhea yang baru saja keluar dari dalam mobil melangkah cepat masuk ke dalam perusahaan. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Krystal yang tengah berdiri menunggunya.
"Di mana gadis itu?" tanya Rhea.
"Nania ada di dalam," jawab Krystal sambil menunjuk ruangan Jovan. "Rhe, tolong usir Nania dari ruangan Jovan. Dia itu bukan gadis baik-baik, aku khawatir Jovan akan terpengaruh dampak buruk darinya,"
__ADS_1
"Iya aku juga tahu. Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam!"
Krystal mengangguk. Segera dia menggandeng lengan Rhea lalu ikut masuk ke dalam ruangan Jovan.
Sementara itu Nania yang sedang asik dengan ponselnya Jovan langsung menoleh saat pintu ruangan terbuka, tak terkecuali dengan Jovan juga. Dia yang melihat kedatangan adiknya langsung tanggap akan apa yang ingin dilakukan oleh Rhea dan juga Krystal. Jovan kemudian tersenyum samar. Oke, drama di mulai.
"Wahhh, sepertinya ada manusia tak tahu diri yang ingin berlagak seperti bos di sini," sindir Rhea terang-terangan. Dia melirik sekilas ke arah Nania kemudian tersenyum sinis saat gadis itu melihat ke arahnya.
"Sayang, siapa dua rubah betina ini? Wajah mereka buruk sekali. Lihat, bulu kudukku sampai berdiri semua begitu melihat wajah mereka. Hiiii," tanya Nania sambil menunjukkan kedua tangannya yang putih bersih kepada Jovan.
Di tanya seperti itu oleh Nania membuat kedua sudut bibir Jovan berkedut. Namun secepat kilat Jovan menutupi bibirnya dengan tangan saat Rhea menatapnya tajam. Bukan takut, Jovan hanya tidak ingin permainan ini selesai dengan cepat jika Rhea sampai pergi dari ruangan ini. Kasihan Nania, kekasihnya itu kan belum puas bermain.
"Kak, apa kau yakin sedang menjalin hubungan dengan gadis tidak punya sopan santun seperti dia?" tanya Rhea sambil menunjuk ke arah Nania. Darahnya sampai naik ke ubun-ubun saking kesalnya di sebut sebagai rubah betina.
"Gadis mana yang kau maksud, Rhe?" sahut Jovan balik bertanya. Dia kemudian berdiri, berjalan mendekati Nania sambil memasukkan satu tangannya ke saku celana.
Krystal menggeretakkan giginya melihat Jovan yang dengan begitu mesra memeluk Nania. Sungguh, Krystal benar-benar sangat ingin mendepak Nania agar menghilang dari muka bumi sekarang juga. Dia marah dan juga cemburu melihatnya di perlakukan dengan begitu lembut oleh Jovan. Krystal meradang.
"Rhea, kau tidak mungkin tidak tahu kan kalau gadis di sampingku ini adalah calon kakak iparmu?" tanya Jovan. Dia lalu mencium kening Nania dengan begitu mesra. "Jadi tolong jaga bicaramu. Kau belum lupa dengan apa yang aku katakan saat kita sedang sarapan bersama Ayah dan Ibu 'kan? Dan ancaman itu akan tetap berlaku meski kau adalah adikku. Paham!"
"Cihhh, sampai dunia ini kiamat pun aku tidak akan sudi mengakui gadis murahan itu sebagai calon kakak iparku, Kak. Jangan harap!" amuk Rhea tak terima.
"Benarkah?" timpal Nania. "Kalau begitu apakah yang pantas menjadi kakak iparmu adalah si sekertaris magang itu, Rhe? Em, siapa namanya, sayang. Aku lupa!"
"Krystal, sayang. Dia anaknya teman Ayah," jawab Jovan santai.
"Oh, Krystal. Maaf ya, namamu terlalu pasaran sampai aku lupa untuk mengingatnya. Padahal di kampus kita sering bertemu. Iya kan, Krystal?" ejek Nania sambil tersenyum penuh kemenangan. Enak juga ternyata bermain drama seperti ini.
"Nania, jaga mulutmu baik-baik ya!" hardik Krystal dengan wajah merah padam menahan amarah.
__ADS_1
"Kau yang seharusnya menjaga mulutmu sendiri, Krystal. Apa hakmu meneriaki kekasihku seperti itu hah!" sentak Jovan tak terima saat ada orang lain ingin menyakiti Nania. Enak saja. Mati-matian Jovan memantaskan diri agar bisa mendapatkan cinta gadis ini, jadi dia mana mungkin rela membiarkan orang lain membuat hati Nania menjadi tidak senang. Mimpi.
"Jovan, aku ... aku ....
Krystal begitu kaget saat Jovan tiba-tiba membentaknya. Kakinya sampai lemas, tak percaya kalau laki-laki yang dia suka tega bersikap kasar hanya demi untuk membela gadis lain. Sungguh sangat menyakitkan hati.
"Krystal, kita ini adalah orang yang tidak sengaja saling kenal karena hubungan kedua orangtua kita. Akan tetapi aku perlu mengingatkanmu tentang batasan di antara kita. Jadi tolong dengarkan kata-kataku dengan baik!" ucap Jovan dengan tegas. "Dengar. Di kantor kau hanyalah sekertaris yang sedang kuberi kesempatan untuk unjuk kemampuanmu, dan ini aku lakukan karena orangtua kita. Namun di belakang itu semua, kita hanyalah orang asing yang tidak memiliki keterikatan satu sama lain. Terlepas dari apa tujuanmu memaksa agar bisa bekerja di sini, aku memiliki hak untuk memecatmu jika kau sampai membuatku dan juga membuat hati kekasihku merasa tidak nyaman. Jadi ... aku tegaskan kau cukup lakukan saja tugasmu selama magang di perusahaanku. Jangan melewati batasan. Mengerti?!"
Rhea langsung memegang tangan Krystal yang sedang gemetaran setelah ditegur oleh sang kakak. Setelah itu Rhea melayangkan tatapan yang sangat amat tajam pada gadis yang kini tengah tersenyum lebar di pelukan kakaknya. Sungguh, Nania benar-benar seorang gadis yang sangat pandai memancing kemarahan di diri orang lain. Rhea sangat membencinya.
Awas saja kau, Nania. Aku tidak akan tinggal diam melihatmu yang ingin menguasai Kak Jovan sepenuhnya. Dia kakakku, dan aku bersumpah akan membuat kalian berdua berpisah secepatnya. Ingat itu, geram Rhea dalam hati.
Nania langsung bertepuk tangan dengan hebohnya begitu melihat Rhea membawa Krystal keluar dari dalam ruangan. Dan setelah itu Nania menangkup kedua pipi Jovan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kau tahu, Jo. Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan dalam hidupku. Terima kasih, sayang. Kau benar-benar memainkan peran dengan begitu baik. Aku sungguh bangga memiliki sugar daddy sepertimu," ucap Nania dengan sepenuh hati memberikan pujian.
"Hmmm, hanya seperti ini saja caramu memberikan pujian?" tanya Jovan pura-pura merajuk. Dia suka sekali melihat manik mata Nania dari jarak dekat. Sangat indah.
Nania langsung menyeringai lebar saat mendengar pertanyaan Jovan. Dia lalu mengatakan sesuatu yang membuat Jovan jadi ikut menyeringai lebar sepertinya.
"Malam ini datang dan jemputlah aku di rumah. Jangan lupa pastikan dulu kesehatan jantungmu karena yang akan kau jemput nanti adalah seorang bidadari. Oke?"
"Tentu saja, sayang. Aku pastikan malam ini kau akan terpesona sampai ke tulang-belulang begitu melihat penampilanku!"
"Uuuu, aku jadi tidak sabar, sayang,"
Setelah itu Jovan dan Nania berpelukan. Wajah keduanya terlihat begitu bahagia setelah apa yang baru saja terjadi di sana. Benar-benar pasangan yang sangat amat serasi. Benar tidak?
*******
__ADS_1