
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Pagi-pagi buta Krystal dan teman-temannya sudah datang ke kampus. Mereka berniat mengambil kamera yang sebelumnya mereka pasang di ruangan tempat Nania latihan.
“Sin, cepat masuk. Aku dan yang lainnya akan berjaga di luar!” perintah Krystal sambil melihat kesana kemari memastikan kalau keadaan aman.
“Baiklah. Segera kabari aku kalau ada yang datang,” sahut Sintia kemudian buru-buru masuk ke dalam ruangan untuk mengambil kamera.
Sembari menunggu Sintia keluar, Krystal menanyakan apakah video Nania sudah selesai di edit atau belum. Karena semalam dia dan teman-temannya pergi berbelanja hingga larut, terpaksa mereka menunda menyebarkan video yang berisi aib Nania. Mau bagimana lagi, Krystal dan teman-temannya sudah sangat kelelahan semalam. Jadi memutuskan pagi ini saja mereka baru akan menyebarkan video tersebut.
“Heh, lihatlah Nania. Sebentar lagi reputasimu di kampus ini akan segera hancur. Orang-orang pasti akan merasa jijik setelah melihatmu yang sedang menangis ketakutan seperti anak kecil,” ucap Krystal sambil menyeringai tipis melihat video di ponsel temannya. “Nanti kalian kirimkan video ini ke mahasiswi yang aktif menggosip. Ingat, jangan gunakan nomor milikmu. Kau harus menggunakan kartu lain agar mereka tidak tau kalau kitalah yang telah mengirimkan video itu.”
“Tenang saja, Krys. Aku dan Sintia sudah menyiapkan kartu khusus untuk rencana kita ini,”
“Good job. Kalau begitu langsung kirim saja videonya begitu Sintia keluar. Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat Nania yang menangis kecewa saat orang-orang tak lagi mempedulikannya.”
“Baiklah.”
Tak lama kemudian Sintia keluar dari dalam ruang latihan sambil membawa kamera di tangannya. Setelah itu Krystal pun segera mengajak mereka semua pergi dari sana sebelum ada orang lain yang melihat keberadaan mereka. Sambil menertawakan kehancuran Nania yang sudah ada di depan mata, Sintia iseng-iseng ingin melihat video yang ada di dalam kamera. Bukannya apa, Sintia masih menyimpan sedikit kekhawatiran kalau-kalau ada orang yang iseng menukar ataupun menghapus video yang ada di dalamnya. Namun sebelum sempat Sintia melakukannya, dia dan teman-temannya sudah lebih dulu di buat kaget oleh kemunculan Nania dan kedua sahabatnya. Segera saja Sintia memasukkan kamera ke dalam tasnya karena tak mau Nania mengetahui kalau kemarin dia diam-diam memasang kamera di dalam ruangan tempat dia berlatih.
__ADS_1
“Yooo, Krystal. Tumben sekali kau dan teman-temanmu sudah datang ke kampus. Ada apa, hm?Apa kalian sedang melakukan sesuatu hal untuk membully mahasiswa lain?” tanya Nania sambil tersenyum penuh maksud. Sengaja Nania dan kedua sahabatnya datang ke kampus lebih awal karena ingin menangkap basah Krystal saat mengambil kamera yang sebelumnya sudah di tukar dengan kamera milik Susan. Dan benar saja, mereka benar-benar memergokinya. Haha, takdir sedang begitu baik ternyata.
“Kau jangan sembarangan menuduh ya, Nania. Kau pikir aku ini apa sampai harus membully mahasiswa lain. Hah?!” sentak Krystal tak terima akan tuduhan yang dilayangkan oleh Nania. Nafasnya sampai memburu saking kesalnya Krystal terhadap juniornya satu ini.
“Ih ya sudah sih biasa saja menjawabnya, kenapa juga kau sampai meneriaki aku seperti itu. Membuat orang jadi curiga saja,” sahut Nania sambil memilin rambut panjangnya. Sungguh, saat ini Nania benar-benar sangat ingin menertawakan Krystal yang terlihat begitu panik. Sayang sekali Krystal dan teman-temannya tidak tahu kalau video yang ada di kamera mereka berisi tentang bukti pembullyan yang mereka lakukan. Kalau mereka tahu, Nania yakin sekali kalau Krystal pasti tidak akan seberani ini padanya.
Ngomong-ngomong kenapa video aibku masih belum mereka sebar ya? Mereka tidak mungkin mengganti rencana untuk mengerjaiku ‘kan? Ujar Nania dalam hati.
“Ekhmmm, pipimu kenapa, Nania?” tanya Krystal iseng-iseng menanyakan luka yang ada di pipi Nania. Akhirnya Rhea ada gunanya juga. Haha.
“Memangnya kau tidak bisa lihat apa kalau pipiku terluka. Sia-sia Tuhan memberimu mata kalau hal seperti ini saja kau masih harus bertanya padaku. Dasar konyol!” jawab Nania langsung kesal saat Krystal membahas tentang luka yang ada di pipinya. Kesenangannya seketika lenyap begitu teringat kalau wajahnya sudah tak mulus lagi. Sekarang Nania tak ubahnya seekor angsa yang buruk rupa. Menyebalkan. Huh.
“Yakkk, aku itu bertanya baik-baik ya. Kenapa kau menjawabku dengan sangat cetus. Kau itu yang konyol!” teriak Krystal murka.
Krystal mendengus kasar. Dia lalu berlalu pergi dari hadapan Nania sambil menahan kekesalan di hatinya. Sementara Nania sendiri, dia terlihat murung sambil memegangi pipinya yang tertempel plaster bergambar bunga matahari. Rasanya Nania seperti kehilangan kepercayadiriannya gara-gara luka sialan ini.
“Sudahlah, Nania. Kau tidak perlu merasa sesedih ini hanya karena luka sekecil itu. Nanti lukanya juga akan sembuh sendiri,” hibur Susan sambil mengelus bahu sahabatnya yang sedang bersedih. Dia cukup mengerti perasaan Nania.
“Aku juga tahu kalau lukanya pasti akan sembuh, tapi kan sekarang aku jadi tidak cantik lagi,” sahut Nania lirih. “Lihat, sekarang wajahku jadi tidak mulus sempurna karena ada plaster yang menghalangi. Daripada aku harus turun harga diri karena kecantikanku ternoda, aku lebih memilih untuk di hukum Ayah saja. Walaupun hukuman menghadap tembok sangatlah menyebalkan, setidaknya itu jauh lebih baik karena hanya keluargaku saja yang mengetahuinya. Akan tetapi luka ini … astaga. Baru kali ini aku merasakan patah hati yang sangat dalam. Rasanya sungguh tidak enak!”
Susan dan Tasya kompak memutar bola mata mereka karena jengah mendengar keluhan Nania yang sangat berlebihan. Hanya karena luka sekecil itu sahabat mereka sampai menganggapnya sebagai patah hati yang cukup berat. Ingin heran, tapi ini adalah Nania. Jadi Susan dan Tasya memilih untuk tidak banyak berkomentar karena khawatir itu akan membuat Nania semakin menggila.
__ADS_1
“Oya, Sya. Aku jadi bingung kenapa Krystal masih belum menyebarkan videoku. Apa jangan-jangan mereka beralih rencana karena kita sudah lebih dulu mengetahuinya ya? Kalau benar begitu maka habislah kita semua,” tanya Nania menanyakan kemungkinan kalau Krystal merubah rencananya.
“Eishhh, itu mana mungkin terjadi, Nania. Jika dugaanmu benar, mereka seharusnya tidak datang ke kampus sepagi ini untuk mengambil kamera mereka di ruang latihan. Kita berpikir posisitif saja. Siapa tahu semalam mereka lupa, makanya sampai sekarang keadaan masih tenang. Coba kita tunggu satu atau dua jam lagi. Kalau videomu masih belum tersebar, aku akan meminta Marcell untuk mencaritahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan!” jawab Tasya seraya tersenyum licik.
“Marcell?”
“Iya Marcell. Mahasiswa yang kemarin memberitahu kita kalau Sintia menanyakan jadwal latihanmu,” sahut Tasya. Setelah itu Tasya memicingkan mata saat menyadari ada yang tidak beres dengan ingatan Nania. “Nania, jangan bilang kau lupa kalau kau itu sudah berjanji akan mengajak Marcell makan malam. Ingat ya, Nania. Jika bukan karena Marcell yang memberitahu tentang Sintia, kita tidak mungkin tahu kalau Krystal dan teman-temannya ingin mengerjaimu. Jadi kau jangan tidak tahu diri begini, Nania. Kau harus membalas kebaikan Marcell dengan mengajaknya makan malam bersama!”
Tasya langsung memekik kaget saat keningnya tiba-tiba di sentil oleh Nania begitu dia selesai bicara. Sedangkan Susan, dia memilih untuk berpura-pura tidak melihat apa yang baru saja terjadi. Dia tidak mau terkena imbasnya juga.
“Tasya, aku memang lupa dengan janji yang kuucapkan pada Marcell. Tapi bukan berarti kau bisa menyebutku tak tahu diri. Aku hanya lupa, bukan tak tahu balas budi. Paham kau!” omel Nania sambil mendelikkan mata ke arah Tasya yang sedang mengusap keningnya yang memerah. Nania sungguh sangat kesal sekali mendengarnya.
“Iya-iya maaf. Aku tidak sengaja mengataimu seperti itu. Kata-kata itu reflek keluar dari dalam mulutku, Nania. Sungguh,” sahut Tasya sambil bergidik ngeri melihat tatapan galak sahabatnya.
“Maaf-maaf. Huh,” kesal Nania.
Tak mau kedua sahabatnya terus bertengkar, Susan memutuskan mengajak mereka untuk pergi ke kelas. Ya sekalian untuk melihat keadaan apakah orang-orang sudah melihat video yang disebarkan oleh Krystal atau belum.
Nania yang memang msih sedikit kesal pada Tasya berjalan lebih dulu sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Sedangkan Taysa sebagai pelaku kekesalan Nania hanya bisa menghela nafas panjang melihatnya merajuk. Dia pasrah saja jika seandainya nanti Nania akan menjaga jarak darinya.
Haihhh, beginilah jika mempunyai teman bar-bar. Sekalinya tersinggung langsung merajuk seperti anak kecil. Tapi … aku sangat menyayangi Nania. Dia adalah manusia paling masuk akal yang pernah aku kenal. Hehe, batin Tasya.
__ADS_1
***