
π’π’π’BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? πππ
***
Nania hanya bisa pasrah saat dirinya di hukum oleh sang ayah dengan cara berdiri di pojok ruangan sambil menghadap ke tembok. Dia tahu, sangat amat tahu kalau ayahnya marah sekali akan tindakan yang dia lakukan kepada Rhea, adiknya Jovan.
"Luyan, sudahlah. Sudah dua jam Nania berdiri di sana, tolong maafkan dia ya? Putri kita tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini. Kau juga tahu itu 'kan?" tanya Nita berusaha membujuk suaminya agar mau memaafkan kesalahan Nania. Dia tidak tega melihat putrinya di hukum seperti itu.
"Jangan terlalu memanjakan Nania, Nita. Aku tahu yang Nania lakukan tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja tindakannya tidak bisa dibenarkan. Semarah apapun Nania, harusnya dia itu tidak boleh sembarangan menyerang orang. Nania itu adalah atlet bela diri, akibatnya bisa fatal jika dia sampai memukul bagian yang salah. Tahu kau!" jawab Luyan dengan nada suara yang cukup tinggi.
Nania sungguh brutal. Bisa-bisanya anak ini menghajar seorang gadis di tempat umum. Dan untungnya keluarga Jovan tidak membawa kasus ini ke pengadilan. Jika hal ini sampai terjadi, maka habislah masa depan Nania. Luyan sampai bergidik takut saat membayangkannya.
"Tapi Luyan, Nania ....
"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Lebih baik sekarang kau diam saja dan bantu pikirkan bagaimana cara untuk menasehati gadis nakal itu!" sahut Luyan menyela perkataan Nita dengan tegas. Dia paling tidak suka jika ada orang yang membela kesalahan putrinya.
Nania yang mendengar perdebatan antara ayah dan ibunya hanya bisa menggerutu pelan sambil menyumpah-serapahi Rhea. Gara-gara gadis itu sekarang Nania jadi di hukum seperti ini. Juga Kak Gleen. Bukannya membiarkan Nania yang menjelaskan pada sang ayah, kakak iparnya itu malah sembarangan bicara. Bahkan yang tidak Nania lakukanpun habis di adukannya pada sang ayah. Sepertinya kakak iparnya itu memiliki dendam tersendiri kepadanya.
"Awas saja kau, Kak Gleen. Urusan kita tidak akan selesai sampai di sini saja. Berani mencari masalah dengan Nania, maka sampai ke ujung duniapun kau akan terus ku kejar. Heh," geram Nania.
__ADS_1
Tak lama kemudian masuklah seorang pelayan melaporkan kalau di depan ada Jovan yang datang berkunjung. Sontak saja hal ini membuat Nania merasa sangat senang. Dia lalu berniat untuk pergi menghampiri kekasihnya itu. Dan ketika Nania baru akan berbalik badan, sang ayah sudah lebih dulu memberi kode kalau dia tidak di izinkan untuk meninggalkan hukumannya. Sayang sekali, sepertinya kali ini ayahnya benar-benar sangat marah.
"Kau tetap di sana dan jangan coba-coba melarikan diri dari hukuman yang Ayah berikan. Mengerti?" ucap Luyan memperingatkan putrinya dengan tegas.
"Ayah, Jovan datang kemari pasti karena ingin bertemu denganku. Tolong biarkan aku bertemu dengannya sebentar, Ayah. Kasihan dia. Kalau dia marah kemudian memutuskan hubungan denganku bagaimana. Memangnya Ayah mau anak Ayah yang cantik ini menjadi perawan tua? Tidak 'kan?" bujuk Nania masih dengan kondisi membelakangi ayahnya.
"Ck, kau ini bicara apa, Nania. Sembarangan!"
"Aku serius, Ayah. Ayah kan tahu sendiri kalau Jovan adalah pria terbaik yang akan ku jadikan sebagai suami masa depanku. Jadi kalau dia sampai meninggalkan aku, maka aku akan benar-benar menjadi perawan tua. Tolong biarkan aku pergi menemuinya, Ayah. Pleaseee," ....
Tak mempedulikan rengekan Nania, Luyan meminta suster untuk mendorong kursi rodanya menuju ruang tamu. Dia bermaksud meminta maaf pada Jovan atas apa yang telah dilakukan Nania terhadap adiknya. Sebagai orangtua, Luyan merasa bertanggung jawab dan ikut merasa bersalah juga atas apa yang terjadi. Padahal Luyan tak pernah lelah mewanti-wanti Nania agar jangan sembarang membuat ulah. Tapi tetap saja dia kecolongan seperti ini.
Sementara itu Jovan yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri begitu melihat ayahnya Nania datang. Segera dia menyapanya dengan sopan kemudian menggantikan suster mendorong kursi rodanya.
"Sama-sama, Paman," sahut Jovan.
"Nah, kau duduklah. Ada hal penting yang ingin Paman bicarakan denganmu!"
Jovan mengangguk. Dia kemudian duduk di samping kursi roda Paman Luyan lalu menatapnya dengan seksama. Sebenarnya tanpa di beritahu pun Jovan sudah tanggap akan hal penting apa yang ingin di sampaikan oleh ayahnya Nania. Namun karena tak mau di anggap tidak sopan, Jovan memilih untuk diam mendengarkan saja. Jovan yakin sekali kalau yang ingin di sampaikan oleh Paman Luyan pasti berhubungan dengan kejadian tadi siang.
__ADS_1
"Jovan, atas nama Nania Paman ingin meminta maaf padamu. Paman benar-benar tidak menyangka kalau Nania akan seberani ini menyerang adikmu. Walaupun tindakannya adalah untuk membela kami, tapi Paman tetap tidak bisa membenarkan sikap Nania. Dengan sangat menyesal tolong sampaikan permintaan maaf Paman pada keluargamu ya. Dan Paman pastikan secepatnya Nania akan meminta maaf pada ayah, ibu, dan juga adikmu!" ucap Luyan dengan segenap hati mewakilkan putrinya untuk meminta maaf.
"Paman, Paman tidak perlu meminta maaf pada keluargaku. Masalah tadi siang sama sekali bukan di sebabkan oleh Nania. Adikku lah yang salah!" sahut Jovan enggan kekasihnya di salahkan.
"Jo, Paman tahu di sini kau sedang membela Nania. Paman bisa mengerti akan hal itu. Akan tetapi perlu kau ketahui kalau Paman tidak pernah mendidik Nania dan juga kakak-kakaknya dengan cara membenarkan kesalahan yang telah mereka lakukan. Terlepas siapa yang bersalah dalam hal ini, Paman akan tetap menganggap Nania bersalah karena dia telah menggunakan kemampuannya untuk menyakiti orang lain. Juga karena dialah yang pertama kali menyerang adikmu, jadi Paman dengan tegas mengingatkanmu untuk tidak membela Nania lagi. Yang salah harus tetap meminta maaf, dan Nania wajib melakukannya!"
Jovan langsung menelan ludah begitu melihat ketegasan di diri Paman Luyan. Kini dia mengerti mengapa Nania dan kedua kakaknya bisa terdidik dengan cara yang begitu hebat. Ternyata ini rahasianya.
Pantas saja Kak Gleen dan Kak Fedo bisa sangat mencintai kakak-kakaknya Nania. Ternyata karena Paman Luyan telah mendidik mereka dengan begitu baik dan juga tegas. Hmmm, aku jadi iri pada mereka. Kapan ya aku bisa memiliki Nania seutuhnya, ujar Jovan dalam hati.
"Jovan, Paman bukannya tidak sayang pada Nania. Paman bersikap tegas seperti ini adalah untuk kebaikannya juga. Jadi Paman harap kau jangan salah memahami ya!" ucap Luyan. "Sekarang Nania masih Paman hukum, jadi dia tidak bisa menemuimu dulu. Tidak apa-apa 'kan?"
"Ha? Nania di hukum?" kaget Jovan.
Luyan mengangguk. Dia kemudian tersenyum kecil. "Hanya hukuman ringan saja. Nania Paman hukum untuk berdiri menghadap tembok lalu meminta dia untuk merenungi kesalahannya. Jangan berpikiran yang macam-macam!"
"Oh, hehehe. Aku pikir Paman menghukum Nania dengan cara memukulnya atau mengurungnya di dalam kamar. Aku sudah khawatir sekali tadi," ucap Jovan lega.
"Dalam mendidik anak, sangat tidak baik kalau kita menggunakan kekerasan di dalamnya. Ini juga adalah pelajaran penting untukmu agar kelak saat kau menjadi orangtua, kekerasan tidak kau gunakan untuk menghukum kesalahan anak. Karena apa? Karena hal itu bisa melukai batin anakmu yang mana bisa berdampak pada kesehatan mentalnya!"
__ADS_1
Jovan mendengarkan dengan seksama nasehat penting dari ayahnya Nania. Dia sampai lupa dengan tujuannya datang ke rumah ini. Hingga sore menjelang, Jovan benar-benar tidak di izinkan untuk menemui Nania. Setelah itu Jovan pun memutuskan untuk pulang saja. Dia berpamitan pada ayahnya Nania kemudian berkata akan datang lagi nanti malam. Biasalah, dia sudah sangat merindukan kekasihnya yang seksi itu. Hehehe.
***