My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
106. Ratu Drama


__ADS_3

"Oh, kau sudah pulang sayang?" tanya Silvi sambil menatap putrinya yang baru saja pulang. Dia sedang asik membaca majalah fashion di ruang keluarga sembari menemani Ardan menonton televisi.


"Iya, Ibu." Rhea menatap sinis pada sang ayah yang begitu manja berbaring di pangkuan sang ibu. Sambil menenteng barang belanjaannya, Rhea ikut bergabung di sana. "Bisa tidak sih Ayah jangan kelewat manja pada Ibu. Ayah itu sudah tua, malulah sedikit pada anak sendiri!"


"Hubungan kami sah di mata Tuhan dan negara, Rhe. Jadi apanya yang musti dimalukan. Iyakan, sayang?" sahut Ardan cuek-cuek saja meski di sindir dengan begitu gamblang oleh putrinya. Dia malah dengan sengaja meraih tangan wanita cantik ini kemudian mengecupnya penuh cinta. Hehehe, sekalian ingin memanas-manasi anak gadisnya supaya cepat menikah.


"Kau ini, Ar. Sudah, jangan memancing perdebatan," lerai Silvi seraya menggelengkan kepala.


"Siapa yang sedang memancing perdebatan, sayang. Aku dan Rhea hanya mengobrol santai layaknya anak dan orangtua. Benar tidak, Rhe?"


"Entah. Aku tidak merasa seperti itu kok," sahut Rhea cetus.


"Haihh, kumat lagi kau."


"Biar saja. Kan penyakit ini turunan dari Ayah."


"Hei, mana ada seperti itu. Ayah sama sekali tidak menurunkan gen cetus dan juga acuh kepadamu ya!" protes Ardan tak terima.


"Lalu?" Rhea menyipitkan mata. Merasa senang karena menemukan celah untuk merusak kemesraan ayah dan ibunya. "Jadi maksud Ayah dari Ibulah aku mendapatkan turunan sikap jelek ini? Oh Ibu, lihatlah kelakuan pria yang telah menjadi suamimu itu. Pria ini menuduh Ibu yang telah membawa gen buruk di rumah ini!"


Silvi menghela nafas. Dia lalu menarik telinga Ardan, merasa kesal karena di tuduh telah memberikan gen buruk pada anak-anak mereka.


"Hehehe, maaf sayang. Baiklah, aku yang buruk. Kau baik, penebar kebajikan seperti bidadari surga. Jangan merajuk lagi. Oke?" bujuk Ardan mengalah.


"Haihhhh, kalian ini ya. Ada saja yang menjadi bahan perdebatan!" keluh Silvi sambil menatap bergantian pada suami dan anaknya.


Ardan dan Rhea kompak tertawa mendengar keluhan wanita cantik ini. Tak lama setelahnya perhatian mereka tertuju pada seorang pria tampan yang baru saja datang dengan wajah muram. Sadar terjadi sesuatu, Rhea pun segera datang mendekat. Dia lalu membantu melepaskan dasi yang terpasang di kerah baju pria ini.


"Kak, what happen?"

__ADS_1


"Krystal kembali membuat ulah. Dia membully Nania hingga membuatnya harus dirawat karena ujung kulit hidungnya terkelupas," jawab Jovan lesu.


"APA?"


Rhea, Silvi dan juga Ardan sama-sama memekik kaget mendengar perkataan Jovan. Namun kekagetan mereka hanya terjadi sebentar. Oh ayolah, ini tentang Nania. Hal yang mustahil untuk gadis itu bisa menerima lapang dada orang lain membully-nya.


"Ekhmm, apa lukanya serius?" tanya Rhea sambil menahan diri agar tidak tersenyum.


Jovan menoleh. Dia menatap lama ke arah Rhea sebelum akhirnya mereka sama-sama tertawa.


"Hahahaha, sudah aku duga. Pasti kekasihmu yang ratu drama itu membuat Krystal terkena getah dari perbuatannya sendiri kan, Kak?" ucap Krystal sambil terus tertawa.


"Hahahaa, iya. Tadi Nania bilang kalau Krystal dengan sengaja telah menjegal kakinya saat keluar dari toilet. Dan hal itu membuat ujung hidungnya mencium lantai kamar mandi sampai tergores sedikit. Kau tahu sendiri kan kalau Nania itu memiliki anggapan kalau semua yang melekat di tubuhnya adalah aset yang sangat luar biasa berharga. Dia membalas Krystal dengan membenturkan kepalanya ke dinding, lalu berpura-pura sedang di bully saat para seniornya datang. Seperti yang kau bilang barusan kalau gadis itu adalah ratu drama, Rhe. Nania kembali memojokkan Krystal dengan meminta rujukan agar dilarikan ke rumah sakit dengan alasan takut gegar otak. Padahal dia seperti itu hanya karena khawatir akan menjadi gadis buruk rupa gara-gara luka yang tak seberapa itu. Lucu sekali 'kan?" jawab Jovan tak kuasa untuk tidak menertawakan kelakuan kekasihnya yang memang rada-rada gila itu.


"Astaga Nania, benar-benar ya anak satu itu. Tapi aku suka sekali dengan caranya membalas Krystal. Ibarat kata, dia tak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga untuk membalas perbuatan gadis bermuka dua itu. Huh, mendengar namanya saja aku sudah kesal setengah mati. Menjengkelkan!"


"Sayang, kau kenapa diam saja, hem?" tanya Ardan saat menyadari sikap istrinya yang terlihat berbeda. Dia kemudian duduk, mengambil majalah dari tangan sang istri kemudian merangkulnya mesra. "Apa kau merasa tidak suka mendengar Nania mengerjai Krystal?"


Jovan dan Rhea langsung diam memperhatikan sang ibu. Mereka lupa kalau wanita cantik ini memiliki hati yang sangat lembut sehingga mudah terbawa perasaan.


"Hmmm, aku hanya sedang memposisikan diri sebagai Aileen, Ar. Sebagai seorang Ibu, jelas aku akan merasa sangat sedih jika mengetahui ada hal buruk yang di alami oleh putriku. Perbuatan Krystal pada Nania memang sedikit kelewatan, tapi itu terjadi karena dia merasa kesepian. Mungkin di mata orang lain memiliki kehidupan sebagai anak orang kaya merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan. Akan tetapi tidak semua anak orang kaya bisa merasakan hal tersebut. Contohnya Jovan dan Rhea. Sejak kecil apa pernah mereka merasa kekurangan? Tidak pernah. Namun, hanya setelah mereka bertemu dengan Nania, mereka bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Begitu pula dengan Krystal. Di sini aku tidak sedang membela ataupun membenarkan perbuatannya, tidak. Aku hanya merasa sedih kenapa antara keluarga kita dan keluarganya Aileen harus terjadi hal seperti ini. Padahal seharusnya kita bisa berkumpul dan tertawa bersama. Iya 'kan?" jawab Silvi dengan lembut menyampaikan kesedihan hatinya. Dia lalu menatap bergantian ke arah anak-anaknya. "Rhea, Jovan. Tidak baik terlalu bahagia di atas kesedihan orang lain. Krystal bukan orang asing, dia hanya seorang gadis yang sedang terbutakan oleh rasa cintanya. Jika bisa, kalian janganlah terlalu keras padanya. Kasihan. Dia tidak punya saudara yang bisa di ajak berbagi. Mengerti?"


"Tapi Bu, Krystal itu adalah gadis yang sangat jahat. Dia saja tega memanfaatkan aku demi kepentingan pribadinya tanpa memandang hubungan dekat keluarga kita. Masa iya aku harus berbuat baik pada manusia keji seperti dia!" protes Rhea kurang setuju dengan pemikiran sang ibu.


"Iya sayang, Ibu juga tahu hal itu. Akan tetapi tidak ada salahnya bukan kalau kau mau memaafkan dan kembali menjalin hubungan baik dengannya? Siapa tahu sikap Krystal bisa berubah jadi jauh lebih baik. Itu bisa saja terjadi, bukan?"


"Ck, mana mungkin bisa, Ibuku sayang. Krystal itu sudah terlanjur bersahabat dekat dengan iblis. Hatinya sudah tertutup hawa na*su yang sangat jahat. Benar tidak, Kak?"


Jovan diam tak langsung menjawab. Jika Nania ada di sini, dia yakin sekali kalau kekasihnya itu akan setuju dengan perkataan sang ibu. Karena sejauh Jovan mengenal Nania, dia bukanlah seseorang pendendam yang gemar mengumbar emosi. Nania memang bar-bar, tapi gadis itu terdidik dengan sangat baik di keluarganya. Jadi Jovan memutuskan untuk tidak membantah keinginan sang ibu yang ingin agar dia tidak bersikap berlebihan pada Krystal.

__ADS_1


"Kak Jovan, bicaralah. Jangan diam saja!" desak Rhea.


"Aku setuju dengan yang Ibu katakan!"


Ardan dan Rhea membelalak kaget mendengar ucapan Jovan. Anak ini tidak sedang kerasukan setan, kan?


"Ini aku katakan bukan karena aku peduli pada Krystal, tapi karena Nania. Kalau dia ada di sini, dia pasti akan langsung bermanja pada Ibu. Nania gadis baik, aku yakin dia tak pernah menyimpan dendam pada Krystal meskipun gadis itu selalu mencari masalah dengannya. Walaupun aku tidak bisa menjanjikan akan memperlakukan Krystal dengan baik, tapi aku akan berusaha untuk sedikit lebih mengertinya. Selama tidak membahayakan keselamatan Nania dan keluarga kita, aku akan belajar untuk lebih bersabar. Inikan yang Ibu mau?" ucap Jovan sambil menatap ibunya yang sedang tersenyum.


"Jadi kapan kau akan meresmikan Nania menjadi bagian dari keluarga ini, Jo?" tanya Silvi bangga karena putra pertamanya bisa menyikapi masalah dengan sikap yang dewasa.


"Aku ingin secepatnya, tapi Nania menolak. Dia bilang tugasnya masih belum selesai untuk mendapatkan perhatian dari pria-pria tampan selain aku. Ibu pasti tahu sendirilah seperti apa watak gadis itu," jawab Jovan seraya menghela nafas panjang. Pasrah setiap kali membahas tentang kekasihnya yang gemar berburu pria tampan.


Silvi tergelak. Nania ... astaga.


"Kak Jovan, kau benar tidak apa-apa mengalah seperti ini?" tanya Rhea memastikan. "Kalau tiba-tiba Krystal berbuat sesuatu yang membahayakan Nania bagaimana?"


"Kalau memang benar dia berani berbuat seperti itu, maka aku tidak akan segan membuat perhitungan dengannya. Bahkan jika harus berhadapan dengan Paman Kendy sekalipun. Nania dan kalian semua, aku tidak akan mengizinkan siapapun mengusik ataupun menyakiti kalian. Itu sumpahku!" jawab Jovan dengan mimik wajah yang sangat serius. Dia kemudian tertawa saat sang ayah mengacungkan dua jempol tangan ke atas.


"Ini baru anak Ayah. Berani dan bisa di andalkan. Pertahankan, Nak!" puji Ardan penuh bangga.


"Pasti, Ayah."


"Aku bangga sekali memiliki saudara sepertimu, Kak!" timpal Rhea ikut memuji.


"Ibu juga!" Silvi tak mau kalah.


Pada akhirnya mereka semua tertawa bersama. Suatu kebahagiaan yang dulu tak pernah mereka bayangkan bisa terjadi. Tapi berkat gadis seksi yang begitu menggilai sugar daddy, Jovan dan keluarganya bisa bercengkrama penuh kehangatan seperti sekarang. Kalau sudah begini mungkinkah masih ada gadis lain yang bisa menggeser posisi Nania di hati mereka? Sudah pasti jawabannya adalah tidak ada. Nania, one and only. Hanya satu-satunya, dan akan menjadi milik Jovan seorang.


***

__ADS_1


__ADS_2