
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? 💜💜💜
***
"Ardan, bagaimana ini. Sejak kemarin siang Rhea terus saja mengurung diri di dalam kamar. Aku khawatir dia kenapa-napa," ucap Silvi sambil berjalan cepat ke arah Ardan yang sedang duduk di ruang makan bersama putra mereka, Jovan. Dia baru saja kembali dari kamar putrinya.
Jovan menarik nafas dalam sambil memperhatikan ibunya yang terlihat begitu cemas. Sejak pulang dari kantor polisi, Rhea memang langsung mengurung diri di dalam kamarnya dan tidak keluar lagi sampai sekarang. Bahkan adiknya juga melewatkan makan malamnya begitu saja. Jadi wajar kalau sekarang sang ibu begitu mencemaskan keadaannya. Dia maklum.
"Sudahlah, sayang. Biar saja Rhea ingin melakukan apa di kamarnya. Mungkin dia sedang merenungkan hasil dari perbuatannya kemarin," sahut Ardan acuh. Dia masih sangat kesal pada putrinya yang sudah lancang merendahkan orangtua Nania.
"Kita mana boleh bersikap seperti itu, Ar. Sesalah-salahnya Rhea, dia tetap anak kita. Dan sebagai orangtua saat anak melakukan kesalahan kita wajib untuk mengingatkan, bukan malah membiarkan dan memojokannya seperti ini. Ingat Ar, kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Jangan sampai Rhea mengikuti jejaknya Jovan karena dia yang merasa di abaikan!" tegur Silvi tak setuju dengan sikap acuh Ardan terhadap putri mereka.
"Ibu benar, Ayah. Kalian tidak boleh membuat Rhea berpikir kalau kita telah meninggalkannya di saat ada masalah datang menimpanya. Lagipula Nania juga telah memaafkan perbuatannya. Dia dan keluarganya sama sekali tidak menyimpan dendam pada Rhea!" imbuh Jovan setuju akan apa yang di katakan oleh ibunya.
Ardan menghela nafas. Dia tak mengatakan sepatah katapun saat Silvi kembali membahas kesalahan mereka di masa lalu.
"Em kalau tidak begini saja, Bu. Biar aku yang membujuk Rhea supaya dia mau keluar dari kamarnya!" ucap Jovan menengahi pembicaraan. Dia kemudian beranjak menuju kamar adiknya.
Hmmm, tidak ku sangka aku akan melakukan hal seperti ini pada Rhea. Tapi kenapa rasanya sedikit aneh ya? Apa karena selama ini aku dan dia tidak terlalu dekat, ujar Jovan dalam hati.
Saat Jovan sampai di depan kamar Rhea, dia tak langsung mengetuk pintu. Jovan hanya berdiri diam sambil memikirkan kata apa yang akan dia ucapkan pada adiknya nanti. Karena tak bisa menemukan jawabannya, Jovan akhirnya memutuskan untuk menelpon Nania saja.
"Lama sekali dia menjawabnya. Apa kelas Nania sudah dimulai ya?" ujar Jovan saat panggilannya tak kunjung di jawab.
"Halo, Jo. Tumben sekali kau menelponku pagi-pagi begini. Memangnya kau tidak pergi mencari uang ya?"
__ADS_1
Bibir Jovan langsung berkedut mendengar Nania yang langsung membahas tentang uang. Sambil meng*lum senyum, Jovan memberitahu Nania alasan kenapa dia menelponnya.
"Sayang, sekarang aku sedang berdiri di depan pintu kamarnya Rhea. Sejak kemarin dia terus mengurung diri, dan itu membuat Ibu merasa cemas. Jadi aku memutuskan untuk membujuknya agar mau keluar, tapi aku bingung harus bicara apa padanya," ucap Jovan. "Kau jangan khawatir. Aku ini bos, aku tidak akan mungkin jatuh miskin hanya karena aku yang berangkat sedikit lebih siang dari karyawan yang lain. Mengerti?"
"Oh, baguslah kalau begitu. Aku lega mendengarnya," ucap Nania dari dalam telepon. "Dan mengenai Rhea, aku sarankan kau sebaiknya bicara secara baik-baik padanya. Jangan lupa katakan pada Rhea untuk jangan terlalu mempercayai Krystal lagi. Kalau perlu kau tunjukkan saja video yang semalam aku kirimkan. Mungkin itu bisa membantu menyadarkan Rhea dari pergaulan sesatnya dengan sekertaris magang itu!"
"Baiklah. Aku akan mencoba saran darimu. Terima kasih banyak ya atas bantuannya,"
"Ya sudah kalau begitu telponnya aku matikan dulu. Dosenku sudah masuk ke kelas. Bye, sugar daddy-ku!"
Senyuman manis tersungging di bibir Jovan saat Nania menutup panggilan. Dia lalu memasukkan ponselnya ke saku celana, kemudian segera mengetuk pintu kamarnya Rhea.
Rhea yang saat itu baru selesai mandi hanya menatap dalam diam ketika pintu kamarnya kembali di ketuk dari luar. Dia masih merasa kesal pada keluarganya karena kemarin mereka lebih memilih untuk membela Nania daripada membelanya. Itulah kenapa sejak semalam Rhea enggan keluar dari dalam kamar. Dia malas bertatap muka dengan orangtuanya, apalagi kakaknya.
Hah, Kak Jovan? Tumben sekali dia mau datang ke kamarku. Ada apa ya? ujar Rhea membatin.
Karena penasaran sesuatu apa yang ingin di bicarakan oleh sang kakak, Rhea akhirnya luluh dan bersedia untuk membuka pintu kamarnya. Dia lalu menatap kakaknya dengan ekpresi wajah yang begitu masam.
"Ada apa, Kak?"
"Keluarlah. Jangan membuat Ibu merasa cemas," jawab Jovan. Dia lalu menatap luka bekas cakaran di wajah Rhea, merasa bangga karena luka itu Nania yang melakukan.
"Aku sedang tidak ingin bertemu dengan Ayah dan Ibu. Kau sebaiknya pergi saja dari sini dan tolong katakan pada Ibu kalau aku baik-baik saja!" ucap Rhea tak mempedulikan kekhawatiran sang ibu. Dia benar-benar enggan untuk bertemu dengan orangtuanya. Rhea masih kecewa.
"Apa ini karena kau merasa tak terima Ayah dan Ibu lebih membela Nania saat di kantor polisi kemarin?"
__ADS_1
Pertanyaan Jovan langsung mengena di hati Rhea. Dia diam, tapi tatapan matanya tidak bisa bohong kalau memang hal itulah yang membuatnya marah. Jovan yang menyadari kalau pertanyaan tepat sasaran pun nampak tersenyum samar. Dia lalu melangkah maju ke depan kemudian memegang kedua bahu adiknya.
"Rhe, kau jangan salah paham dalam mengartikan sikap Ayah dan Ibu kemarin. Mereka bersikap seperti itu hanya karena ingin menegurmu saja. Di matamu mungkin Nania hanyalah seorang gadis biasa yang suka membuat masalah. Tapi keluarganya, mereka bukanlah orang yang bisa kita singgung sesuka hati. Ayah dan Ibu marah karena mereka khawatir keluarga Nania akan menuntutmu balik. Kau tidak lupakan kalau kau telah menghina orangtua Nania?"
Rhea tertegun. Dia sangat kaget melihat sikap kakaknya yang seperti ini. Sungguh, ini adalah pertama kalinya Rhea dan kakaknya berinteraksi sedekat ini. Karena dulu, jangankan untuk bicara panjang lebar dan saling mengingatkan seperti sekarang, menyapa pun tak pernah mereka lakukan. Jadi sudah pasti tindakan kakaknya sekarang membuat Rhea cukup syok. Tapi di sisi lain Rhea juga merasa sangat senang mendapat perhatian yang selama ini tak pernah dia dapatkan dari sang kakak. Rhea merasa di sayang.
"Rhea, kau dengar apa yang aku katakan 'kan?" tanya Jovan sambil mengguncang pelan bahu adiknya yang malah diam melamun.
"Aku dengar, Kak," jawab Rhea sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita turun. Ayah dan Ibu sudah menunggu di ruang makan."
"Em bisakah aku tidak sarapan bersama kalian, Kak? Hari ini aku ada pertemuan penting di kantor, aku bisa terlambat jika harus sarapan dulu di rumah!" ucap Rhea dengan halus menolak ajakan kakaknya.
Kini giliran Jovan yang terdiam. Dia lalu menelisik mata adiknya untuk memastikan kalau alasan itu adalah benar adanya. Setelah merasa yakin kalau adiknya tidak sedang berbohong, Jovan akhirnya menyetujui keinginan Rhea yang tidak ingin sarapan di rumah. Kemudian tanpa di sengaja Jovan terdorong untuk mengusap puncak kepala Rhea, sesuatu yang baru pertama kali ini dia lakukan.
"Semangat bekerjanya, dan jangan lupa ambil bekalmu dulu di bawah. Nanti biar aku yang akan menjelaskan pada Ayah dan Ibu agar mereka tidak mengkhawatirkanmu lagi," ucap Jovan sambil menghela nafas. Dia merasa canggung bersikap seperti ini pada adiknya. Tapi jujur, Jovan senang karena pada akhirnya dia bisa meruntuhkan keegoisan yang selama ini melekat di dirinya. Jovan akhirnya mampu bersikap layaknya seorang kakak yang baik dan juga perhatian.
"Baik, Kak. Terima kasih," sahut Rhea takjub.
Jovan mengangguk. Setelah itu dia segera pergi dari depan kamarnya Rhea. Berjalan cepat menuruni anak tangga kemudian melangkah menuju ruang makan.
Nania, berkatmu aku jadi bisa sedikit perhatian pada Rhea. Aku menyayangimu, gadis desaku yang seksi, batin Jovan penuh kebahagiaan.
*******
__ADS_1