My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
109. Di Terima Begitu Saja


__ADS_3

“Tuan Jovan, setelah makan siang nanti anda mempunyai janji temu dengan Tuan Kedndy. Pertemuan kali ini untuk membahas pengerjaan hotel yang sudah mulai dijalankan!” lapor Marcell sambil membaca catatan di tangannya. Dia lalu mendongak, menatap aneh ke arah sang atasan yang langsung menghembuskan nafas kasar begitu dia menyampaikan laporan. “Ada apa, Tuan Jovan? Apa anda sedang tidak enak badan?”


“Cell, harus berapa kali aku bilang untuk berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan saat kita sedang berdua. Kau tahu, caramu membuatku merasa kalau aku ini sudah tua!” protes Jovan jengkel akan sikap bebal bawahannya.


Marcell hanya bisa meringis kecil setelah mendapat teguran. Meski canggung, dia berusaha untuk bersikap sedikit santai dengan langsung duduk tanpa menunggu di perintah. Setelah itu Marcell menatap lekat wajah Jovan yang masih terlihat kesal. Merasa bersalah, dia akhirnya meminta maaf.


“Sorry, Jo. Tidak mudah untukku bersikap santai pada atasanku sendiri, terlebih kau juga telah menjadi penolongku. Rasanya sangat canggung jika harus memanggilmu dengan sebutan nama,” ucap Marcell.


“Aku tahu, tapi aku tidak peduli dengan alasan itu. Kau hanya di izinkan memanggilku Tuan saat sedang ada orang lain saja, kecuali Nania dan keluargaku. Selebihnya kita adalah teman. Paham?” sahut Jovan tak menerima alasan Marcell. Setelah itu dia bertopang dagu, kesal sat teringat siapa yang akan ditemuinya setelah makan siang. “Cell, kau bisa mewakilkan aku untuk pergi ke sana tidak? Kau tahu bukan kalau Paman Kendy adalah ayahnya Krystal? Jujur, aku malas jika harus berurusan dengannya. Aku takut tidak kuat menahan emosiku nanti!”


“Bukannya aku tidak mau menggantikan, tapi pertemuan ini kau harus hadir langsung untuk membahasnya dengan Tuan Kendy. Oke aku memang mengetahui permasalahan di antara kalian. Akan tetapi sebagai seorang pembisnis sejati bukankah sudah seharusnya untuk kalian bersikap professional?” ucap Marcell mengingatkan Jovan agar bisa memisahkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Dia tidak ingin citra baik pria ini jadi tercoreng hanya karena masalah wanita.


Jovan lagi-lagi menghembuskan nafas kasar. Yang di katakan Marcell sangat benar, dia tahu itu. Akan tetapi menilik hubungannya dengan keluarga Krystal yang sudah sangat renggang, membuat Jovan merasa ragu kalau di pertemuan nanti mereka tidak terlibat perselisihan. Jovan sih bisa-bisa saja mengacuhkan hal ini, tapi Paman Kendy? Apakah mungkin pria arogan itu bisa menyikapi masalah mereka dengan tidak mencampurkannya ke lingkup pekerjaan? Jovan sanksi.


“Jo, pertemuan kali ini sangat penting dan akan berpengaruh cukup besar pada perusahaanmu. Aku harap kau bisa tenang dengan menyikapi masalah ini secara dewasa. Lagipula apa untungnya kau masih mempedulikan sesuatu yang berhubungan dengan Krystal? Lupa ya kalau kau butuh banyak uang untuk mempertahankan Nania? Jadi ayolah, lupakan masalah yang ada dan mari jemput pundi-pundi uang untuk menyenangkan sugar babymu itu. Oke?” ucap Marcell memberikan semangat pada Jovan yang terlihat lesu.


“Wah, kau benar juga. Untuk apa aku memusingkan sesuatu yang bisa membuat Nania pergi ke pelukan sugar daddy lain?” sahut Jovan langsung sadar begitu nama Nania di sebut. Dia lalu menatap serius ke arah Marcell. “Jadi apa yang akan di bahas di pertemuan nanti, Cell?”


Melihat semangat Jovan yang sudah kembali berkibar, Marcell pun segera memberitahukan poin apa saja yang akan di bahas bersama ayahnya Krystal nanti. Keduanya kemudian larut dalam perbincangan yang sangat serius. Hingga tak berada lama seseorang datang mengetuk pintu ruangan.


“Masuk!” teriak Jovan. Dia kemudian menoleh saat pintu terbuka. “Oh kau, Rhea. Ada apa? Tumben sekali kau datang di saat jam kerja. Sudah istirahatkah?"


Bukannya menjawab, Rhea malah berbalik keluar kemudian menarik tangan seseorang yang bersembunyi di balik dinding. Indar, ya, dia datang bersama gadis itu. Karena sudah berjanji akan mempekerjakannya di perusahaan sang kakak, Rhea sampai rela menghabiskan jam istirahatnya hanya untuk menjemput gadis ini kemudian membawanya kemari.


“Kau kenapa, Indar. Ayo cepat masuk. Jangan takut. Yang di dalam itu kakakku, bukan pembunuh yang akan mencabut nyawamu. Ayo cepat masuk!” omel Rhea saat Indar seperti bertahan enggan masuk menemui sang kakak.


“Rhea, gedung ini sangat besar dan mewah. Gadis sepertiku mana mungkin di izinkan bekerja di sini. A-aku pulang saja ya,” sahut Indar gemetaran. Sungguh, dia sama sekali tidak menyangka kalau Rhea akan membawanya ke tempat sebagus ini. Indar mengira kalau dia akan di pekerjakan di kantin perusahaan yang tidak terlalu besar.


“Coba saja kalau kau berani melarikan diri dari sini. Aku akan langsung memanggil temanku kemudian memintanya untuk membantingmu sampai gepeng. Mau?” Rhea dongkol. Dia menghempaskan tangan Indar kemudian berkacak pinggang. Benar-benar tidak ada obatnya kebodohan gadis satu ini. Huh. “Dengar ya, Indar. Kalau kakakku sampai berani menolakmu, aku bersumpah akan meledakkan perusahaan ini sampai hancur lebur. Jadi sekarang kau sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak segera masuk kemudian menemui kakakku itu. Mengerti?”

__ADS_1


“Tapi Rhea, aku ….


“Masuk, atau aku akan menendang bokongmu!”


Indar pasrah. Sambil mer*mas ujung bajunya, dia melangkah mengikuti Rhea masuk ke dalam ruangan. Dan begitu sampai di hadapan dua orang pria yang tengah menatapnya, dengan cepat Indar menundukkan kepala. Gugup sekali.


“Apa kau membully gadis ini, Rhe?” tanya Jovan penuh selidik. Dia curiga adiknya kumat.


“Apa aku terlihat seperti gadis pembully, Kak?” sahut Rhea balas bertanya. Dia kemudian mendengus, merasa jengkel karena di tuduh sedang membully Indar. Yang benar saja.


Jovan menghela nafas. “Telingaku dan telinga Marcell bisa mendengar jelas kalau tadi kau mengancam akan membanting gadis itu sampai gepeng. Bisa tolong kau jelaskan apa maksudnya itu? Dan satu lagi. Kami juga mendengar niatmu yang ingin mengebom perusahaan ini. Tolong di jelaskan juga ya?”


“Kak, aku itu bukan sedang mengancam Indar, tapi aku sedang memetahkan kebodohannya yang tidak ada obat. Masa iya aku akan membiarkannya di tolak bekerja di perusahaan milik keluarga kita. Jadi ya sudah aku ancam saja dia. Dan mengenai rencana pengeboman kantor ini, anggaplah hanya salah bicara saja. Aku gemas pada Indar. Begitu!” ucap Rhea yang pada akhirnya menjelaskan alasan mengapa dia melayangkan ancaman.


“Benar seperti itu?” Jovan bertanya penuh selidik.


Rhea mengangguk cepat. Dia lalu menyenggol bahu Indar supaya tidak hanya diam seperti patung. “Cepat sana sapa calon bosmu. Jangan malah diam saja seperti batu. Memangnya kau mau mati kelaparan jika tidak segera mendapatkan pekerjaan? Cepat sana!”


“Ekhmmm, jadi namamu Indar?”


“I-iya, T-Tuan. Na-nama saya I-Indar,” jawab Indar terbata. Dia masih belum berani mengangkat wajahnya.


“Kalau sedang di ajak bicara itu jangan malah menundukkan kepala Ndar-Indar. Itu tidak sopan namanya!” celetuk Rhea kian gemas melihat sikap malu-malu gadis di sebelahnya. Bukan malu-malu sih, tapi lebih tepatnya sedang gugup. Hehe.


“Jangan memaksa, Rhe!” cegah Jovan tak membiarkan Rhea terus memojokkan Indar. Dia kasihan melihatnya. “Oke, sekarang beritahu alasan mengapa kalian datang kemari. Kau tidak mungkin membawanya untuk menggodaku kan, Rhe?”


Rhea terbelalak kaget.


“Kak, kalau mau menuduh itu yang kira-kiralah. Aku juga tidak sebodoh itu dengan mengumpankan nyawa secara percuma pada Nania. Kekasihmu yang garang bisa memanggangku hidup-hidup jika tahu kalau aku membawa gadis lain untuk menggodamu. Sudah gila apa!”

__ADS_1


Jovan terkekeh. Dia kemudian mengangguk saat Marcell memberi kode kalau jam makan siang sudah hampir tiba. Tak mau membuang waktu, dia beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Indar yang masih betah menundukkan kepala.


“So, apa tujuanmu datang menemuiku, Indar? Kalau bisa jawablah dengan cepat karena aku harus segera pergi!”


Mengumpulkan segala keberanian yang dimilikinya, Indar akhirnya mendongak. Dia lalu menelan ludah saat manik matanya bertatapan dengan manik mata kakaknya Rhea.


Astaga, pria ini tampan sekali.


“Indar, hellow??”


“A, o-oh aku … aku itu. Anu Tuan, Rhea bilang di kantin perusahaan ini sedang membutuhkan karyawan. Da-dan aku bermaksud melamar untuk be ….


“Kau di terima. Cell, kita berangkat sekarang!”


“Oke,” sahut Marcell patuh. Dia kemudian tersenyum melihat ekpresi syok di wajah Indar. “Lucu,” gumamnya.


Sepeninggal Jovan dan Marcell, Rhea dengan sengaja membiarkan Indar tersesat dalam keterkejutannya. Sudah dia duga dari awal kalau sang kakak pasti akan langsung menerimanya bekerja di perusahaan ini.


“A-aku di terima?” gumam Indar tak percaya. Dia lalu mengerjapkan mata sambil menunjuk dadanya sendiri. “Aku di terima bekerja di sini? Semudah itu? Hah?”


“Kenapa? Kaget ya?”


Indar menoleh. “Rhea, ini bukan mimpi, kan? Kakakmu menerimaku begitu saja tanpa bertanya tentang apapun padaku. Ini mimpi atau bukan?”


“Untuk membuktikan apakah sekarang kau sedang bermimpi atau tidak, bagaimana kalau kau biarkan aku menampar wajahmu sebanyak tiga kali. Kalau sakit, itu artinya kau tidak sedang bermimpi. Tapi jika tidak terasa sakit, tandanya kau sedang berhalusinasi. Bagaimana?”


Untuk beberapa saat Indar hanya terdiam bingung mencerna perkataan Rhea. Hingga tak berapa lama setelahnya dia tiba-tiba memekik kencang saat tersadar dari keterkejutannya. Tanpa mempedulikan di mana dia sedang berada sekarang, Indar langsung melompat ke pelukan Rhea sambil tertawa lebar. Dan dia sama sekali tak peduli saat gadis ini mengumpat dan memaksanya untuk turun.


Oh, jadi seperti ini ya rasanya punya teman baik? Apa Nania, Susan dan Tasya juga melakukan hal yang sama saat mereka sedang bahagia? Aaa, aku jadi ingin menangis. Hikss.

__ADS_1


***


__ADS_2