
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE💜
***
Jika di tempat lain ada Jovan yang baru saja berseteru dengan adiknya, hal yang sama juga di alami oleh Nania di kampusnya. Namun bedanya di sini Nania sedang dilabrak oleh Krystal, kakak senior yang ingin di jodohkan dengan Jovan. Tadi begitu sampai di kampus, Nania dan kedua temannya langsung di hadang oleh Krystal dan gerombolannya. Hal ini tentu saja mengundang kemarahan di diri Susan dan Tasya karena kebetulan mereka sedang terburu-buru agar bisa segera sampai di dalam kelas.
"Hei, Krystal. Sebenarnya maumu itu apa sih, hem? Kenapa kau terus saja mengganggu kami!" tanya Susan sambil menatap jengkel ke arah kakak seniornya yang tengah berdiri menghadang jalan bersama dengan para antek-anteknya. Susan bertanya sambil berkacak pinggang. Dia lalu mendengus kesal saat kakak seniornya ini malah bersikap acuh padanya.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian berdua!" sahut Krystal seraya menatap jengah ke arah dua sahabat Nania. Dia lalu menatap sinis ke arah Nania yang terlihat begitu santai di hadapannya. "Dan kau, Nania. Aku minta segeralah kau putuskan hubunganmu dengan Jovan. Kau jangan tidak tahu malu karena tetap berhubungan dengan pria yang telah di jodohkan denganku. Paham kau?"
"Maaf, kau bilang apa barusan? Aku tidak dengar," ejek Nania sambil mendekatkan telinga ke arah Krystal. Dia lalu terkekeh seraya bergerak mundur ke belakang saat kepalanya hendak di dorong. "Krystal-Krystal, kau dan Jovan itu baru bertemu beberapa malam yang lalu. Sedangkan aku? Aku bahkan sudah menandai Jovan sejak umurku masih belasan tahun. Jadi tolong kau jangan tidak tahu diri dengan memintaku untuk meninggalkan dia ya. Karena apa? Karena aku tidak akan mungkin melepaskan sugar daddy-ku pada perempuan buruk rupa sepertimu. Paham?"
Kedua tangan Krystal terkepal kuat mendengar ejekan yang baru saja dilayangkan oleh Nania. Dadanya serasa terbakar api yang begitu besar hingga membuat seluruh tubuhnya jadi terasa sangat panas.
"Kenapa, hm? Ingin marah? Ya sudah marah saja, tidak perlu di tahan-tahan. Nanti jadi penyakit," tambah Nania kembali mengejek Krystal yang terlihat sedang menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Mulutmu benar-benar ya, Nania. Jangan kau kira karena sudah menjadi kekasihnya Jovan kau bisa bersikap angkuh di hadapanku ya. Ingat, Ayahku dan ayahnya Jovan telah sepakat untuk menjodohkan kami berdua. Mungkin sekarang kau menang karena berhasil memiliki Jovan lebih dulu. Akan tetapi aku yakin kemenanganmu ini tidak akan bertahan lama jika Paman Ardan sampai mengambil tindakan dengan meminta Jovan untuk segera memutuskanmu. Tahu kau!" geram Krystal sambil menunjuk wajah Nania. Dia benar-benar sangat kesal melihat wajah tengil gadis ini.
"Oh ya? Wahhh, aku takut sekali tidak mendapat restu dari orangtuanya Jovan!" ucap Nania sambil pura-pura bersikap seperti orang yang sedang ketakutan. "Tapi, Krystal. Alangkah baiknya kalau kau mau bersaing secara sehat denganku jika benar-benar ingin mendapatkan hatinya Jovan. Sungguh, aku tidak akan keberatan untuk melakukannya!"
"Apa maksudmu bicara seperti itu padaku, Nania? Apa kau merasa takut karena secara tidak langsung aku sudah mendapatkan restu dari keluarganya Jovan? Iya?" cibir Krystal saat dia menyadari kekhawatiran Nania. Krystal merasa menang sekarang.
"Um, tidak juga sih. Karena jika hanya untuk bisa memenangkan Jovan darimu, aku sama sekali tidak membutuhkan restu dari siapapun. Termasuk dari kedua orangtua Jovan," sahut Nania santai. "Krystal, aku mengajakmu untuk bersaing secara sehat adalah karena aku sangat tahu kalau kau tidak akan bisa menang meski kau sendiri telah mendapat dukungan dari keluargamu dan juga orangtuanya Jovan. Lihatlah, Tuhan telah menciptakan aku dengan begitu sempurna. Sementara kau, hah. Wajah dan bentuk tubuhmu saja masih kalah jauh dariku. Yakin bisa mengalahkan aku hanya dengan mengandalkan restu dari para orangtua, hem?"
Wajah Krystal berubah menjadi merah padam saat menyadari kalau fisiknya memang kalah jauh dari Nania. Tak ingin kembali di permalukan, Krystal pun akhirnya mengajak teman-temannya untuk pergi dari sana. Untuk kali ini Krystal akui kalau dia kalah telak dari Nania. Akan tetapi untuk hari yang akan datang, Krystal pastikan kalau dialah yang akan menjadi pemenangnya.
"Wahh, Nania. Kau benar-benar sangat pandai memprovokasi kemarahan Krystal. Jika tadi aku yang ada di posisinya, aku pasti akan merasa sangat malu. Haihhh, lucu sekali. Dengan wajah pas-pasan begitu beraninya dia ingin merebut Jovan darimu. Aku rasa Krystal itu sudah gila," ucap Susan sambil memegangi perutnya yang kaku karena kebanyakan tertawa.
"Biar saja. Lagipula siapa suruh dia berani memintaku untuk memutuskan Jovan. Ya kali aku akan melepaskan pria sesempurna Jovan hanya demi seorang Krystal yang kecantikannya bahkan masih kalah jauh dariku. Heh," sahut Nania. Dia lalu memilin rambut panjangnya yang dia biarkan terurai biasa. "Ingin merusak hubunganku dengan Jovan? Mimpi!"
"Oh ya, Nania. Apa benar kalau Krystal adalah sekertarisnya Jovan?" tanya Tasya penasaran.
__ADS_1
Sebelum menjawab pertanyaan Tasya, Nania mengajak kedua sahabatnya untuk segera masuk ke dalam kelas. Dia lalu menjelaskan pada Susan dan Tasya tentang rencananya bersama Jovan yang ingin mengerjai Krystal selama perempuan itu bekerja sebagai seorang sekretaris.
"Memang benar kalau Krystal akan menjadi sekertarisnya Jovan selama tiga bulan ke depan. Awalnya sih aku tidak setuju, tapi setelah Jovan memberitahuku kalau itu hanya sekedar formalitas menjaga hubungan baik antara orangtua mereka, maka aku tidak punya alasan lain untuk tidak mengizinkan Krystal menjadi sekretarisnya. Dan juga Jovan itu adalah seorang sugar daddy yang sangat amat pengertian di mana dia mengajakku untuk menjadikan Krystal sebagai mainan baru kami. Dia bilang aku bebas melakukan apapun pada Krystal asalkan itu bisa membuatku merasa senang!" jawab Nania sambil tersenyum lebar. Membicarakan tentang sugar daddy-nya membuat Nania jadi merindukan Jovan.
Hmmm, kira-kira Jovan sedang apa ya sekarang? batin Nania penasaran.
"Woaahhh, kau benar-benar sangat beruntung memiliki sugar daddy seperti Jovan, Nania. Aku jadi iri," ucap Susan sambil mengatupkan kedua tangannya ke depan dada.
"Susan benar, Nania. Aku juga ingin memiliki kekasih yang sepeka dan seperhatian Jovan. Kira-kira masih ada stoknya tidak ya? Aku bosan berpacaran dengan pria yang masih belum mahir dalam berhubungan," timpal Tasya dengan raut wajah yang begitu memelas. Dia sangat berharap kalau Nania akan mengenalkan salah satu teman Jovan padanya dan juga pada Susan.
"Haihh, tidak perlu merengek seperti itu di hadapanku. Aku tahu apa maksud kalian yang sebenarnya," celetuk Nania sambil memutar bola matanya jengah. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan dua sahabatnya ini ketika sedang menginginkan sesuatu. "Kalian tenang saja. Nanti aku akan meminta Jovan agar mengenalkan teman-temannya pada kalian. Tapi kalian harus bersabar ya karena Jovan masih baru dalam dunia bisnis. Rekan kerjanya pasti belum terlalu banyak. Oke?"
Nania berjengit kaget saat Susan dan Tasya tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Dia lalu tertawa saat kedua sahabatnya ini tak henti mengucapkan kata terima kasih padanya. Tak lama kemudian sampailah mereka bertiga di dalam kelas yang mana membuat mereka langsung mencari tempat duduk karena dosen pengajar sudah datang.
******
__ADS_1