My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
28. Hari Yang Sial


__ADS_3

πŸ“’πŸ“’πŸ“’BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE? πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


***


"Woaahhh, perusahaan ini besar sekali, Nania. Kau benar-benar sangat beruntung menjadi kekasihnya Jovan!" puji Susan sambil menatap penuh kagum ke arah gedung megah yang ada di hadapannya.


"Susan benar, Nania. Luar biasa, sugar daddy-mu memang tidak ada lawan!" imbuh Tasya ikut memberikan pujian.


Nania yang tengah menyender di pintu mobil langsung tersenyum lebar begitu mendengar pujian yang di ucapkan oleh Susan dan Tasya. Dia lalu membuka kaca mata hitamnya, menatap dengan seksama ke arah gedung milik kekasihnya, Jovan.


"Gilrs, ayo masuk!" ajak Nania. "Sekalian aku ingin memperkenalkan kalian pada sekertaris magang yang ada di perusahaan ini. Orangnya sih cantik, sangat amat cantik sampai membuatku ingin tertawa setiap kali melihatnya. Ayo!"


Susan dan Tasya langsung menyeringai lebar begitu mendengar perkataan Nania. Setelah itu keduanya pun segera mengekori Nania yang mulai melangkah masuk ke dalam perusahaan. Bak milik sendiri, Susan dan Tasya di buat terheran-heran akan sikap Nania yang begitu akrab dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan Jovan. Sahabat mereka bahkan tidak ragu untuk saling bertanya kabar dengan para karyawan tersebut. Membuat Susan dan Tasya jadi merasa iri karenanya.


"Nania, bagaimana bisa kau begitu akrab dengan para karyawan itu?" tanya Susan yang sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"Tentu saja aku bisa, Susan. Para karyawan itu tahu kalau aku adalah calon istri dari bos mereka. Juga tidak ada salahnya kan kalau aku berhubungan baik dengan orang-orang yang bekerja di sini?" jawab Nania dengan bangganya. Dia kemudian tersenyum saat ada karyawan yang menyapa.


"Wahhh, kau benar-benar sangat keren, Nania. Aku salut padamu,"


Nania lagi-lagi tersenyum lebar mendapat pujian dari Susan. Dan ketika Nania hampir sampai di ruangan Jovan, dia tidak sengaja melihat bayangan Krystal yang sedang berjalan bersama Rhea dari arah lain. Seketika jiwa usil Nania muncul, dia berniat kembali mengerjai kedua gadis tersebut.


Hehe, sepertinya hari ini adalah hari sial kalian berdua Krystal, Rhea, ujar Nania dalam hati.


Namun sayang, sebelum sempat Nania memberitahu Susan dan Tasya kalau musuh mereka ternyata juga datang ke perusahaan ini, Jovan sudah lebih dulu keluar dari dalam ruangannya. Hal ini tentu saja membuat Nania jadi melupakan rencananya sendiri karena sekarang dia sudah berjalan menghampiri kekasihnya itu.

__ADS_1


"Oh, Nania. Kenapa tidak bilang kalau kau datang kemari?" tanya Jovan sedikit kaget melihat kemunculan Nania. Dia tanpa ragu segera memeluknya, tak mempedulikan keberadaan Krystal yang baru saja datang dengan adiknya.


"Kenapa memangnya, Jo? Tidak boleh ya kalau aku memberi kejutan untuk kekasihku sendiri?" sahut Nania dengan manja. Sengaja dia melakukannya untuk memanas-manasi Krystal. Haha.


"Boleh, tentu saja sangat boleh, sayang. Apa sih yang tidak untukmu,"


Jovan tersenyum. Dia menangkup pipi Nania kemudian menatapnya dalam. Cantik, kekasihnya ini benar-benar sangat cantik.


"Kak Jovan, lihat. Nania tadi menamparku!" ucap Rhea mengadukan perbuatan Nania sambil menunjuk luka lebam di pipinya.


Rasakan kau, Nania. Sebentar lagi kau pasti akan di usir pergi oleh kakakku. Heh, batin Rhea.


"Nania menamparmu?" tanya Jovan. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke wajah Rhea. Ternyata benar, ada luka lebam di sana.


"Iya, Kak. Tadi itu aku bermaksud menjemput Krystal di kampusnya, lalu aku tidak sengaja melihat Nania yang sedang menggoda para mahasiswa yang ada di sana. Karena kau bilang Nania adalah kekasihmu, aku jadi merasa tak terima melihatnya yang dengan begitu mudah menebar pesona pada laki-laki lain. Aku marah, dan aku berniat menegurnya. Akan tetapi Nania malah menamparku, Kak. Benar kan, Krys?" jawab Rhea sembari melayangkan pertanyaan pada Krystal. Dia lalu mengedipkan mata, memberi kode pada Krystal kalau saat ini mereka sedang bermain peran.


"Siapa kau berani bicara seperti itu tentang kekasihku, hah?" hardik Jovan tak terima saat Krystal menjelek-jelekkan Nania. "Siapa kau berani memintaku untuk menjauh dari Nania. Apakah hubungan kita sedekat itu sampai kau berani untuk memerintahku, hem?"


"Jo, ak-aku ....


Krystal tergagap. Dan hal ini membuat Nania tersenyum penuh kemenangan dalam pelukan Jovan. Bahkan Susan dan Tasya yang tadi sempat merasa kesal mendengar perkataan Krystal, kini mereka ikut tersenyum senang melihat bagaimana Jovan membungkam mulut kakak senior mereka yang lancang itu. Benar-benar permainan yang sangat seru.


"Dan kau, Rhea. Aku tahu seperti apa perangaimu dan aku juga sangat tahu seperti apa watak kekasihku. Mungkin memang benar kalau luka yang ada di wajahmu adalah perbuatan Nania, tapi aku yakin Nania tidak akan mungkin melakukan hal tersebut jika bukan kau dulu yang memantik api. Sekarang beritahu aku apa yang telah kau lakukan pada Nania sampai-sampai dia menamparmu!" cecar Jovan sambil menatap tajam ke arah adiknya. Jovan bukan tak sayang pada Rhea, tapi dia tahu dengan sangat jelas kalau adiknya ini sangatlah pandai memanipulasi keadaan. Jadi dia tidak bisa membela Rhea sepenuhnya. Jovan yakin betul kalau Nania tidak bersalah.


"Jovan, maaf menimbrung. Sebenarnya yang Nania lakukan pada adikmu adalah karena dia yang ingin menolongku dari kebrutalan Krystal. Saat kami bertiga berada di parkiran kampus, tiba-tiba saja mereka datang lalu menghina Nania dengan kata-kata yang tidak pantas. Dan sebagai sahabatnya tentu saja aku tidak terima. Mungkin karena merasa tersinggung, Krystal marah kemudian ingin menamparku, tapi di hadang oleh Nania. Rhea tak terima. Dia lalu mengatai Nania sebagai sampah kotor yang tidak pantas menyentuh kulit tubuh Krystal yang berharga. Dan ... ya, Nania menamparnya!" sela Susan dengan penuh semangat masuk ke dalam permainan Nania. Kapan lagi coba dia bisa menjebak kedua nenek sihir ini. Benar tidak?

__ADS_1


"Susan, bicara apa kau hah. Jangan mengada-ada!" amuk Krystal panik begitu mendengar perkataan Susan yang tengah membela Nania.


"Itu memang benar kok. Kalau tidak percaya, kalian boleh memeriksa CCTV yang ada di parkiran kampus. Di sana terekam jelas bagaimana tadi kau begitu ingin memukulku. Iya kan, Sya?" sahut Susan.


"Apa? CCTV?" kaget Krystal dan Rhea berbarengan.


"Iya, CCTV. Kenapa memangnya?"


"Bukankah tadi kalian bilang tidak ada CCTV di sana ya?" tanya Rhea bingung.


"Ohh, itu. Sebenarnya aku hanya sedang mengetes kepekaan Krystal saja apakah dia bisa mengenal kondisi kampusnya dengan baik atau tidak. Dan terbukti, dia mencari ilmu hanya untuk sekedar formalitas saja. Harusnya dia bisa berpikir kalau mustahil di kampus sebesar universitas kami tidak ada CCTV yang mengawasi keseharian para mahasiswa. Terlebih lagi itu wilayah parkiran di mana semua kendaraan para penghuni kampus tersimpan di sana. Jadi Rhea, temanmu itu sangat bodoh sekali bukan?" sahut Nania menjawab pertanyaan Rhea.


Krystal hanya bisa diam mematung begitu mendengar penuturan Nania. Sedangkan Rhea, dia terlihat kikuk karena telah di kelabui secara terang-terangan oleh gadis yang ingin di usiknya. Malu, itu sudah pasti. Tanpa di sadari oleh Krystal dan juga Rhea, tujuan mereka yang ingin merusak image Nania di hadapan Jovan malah berbalik pada diri mereka sendiri. Bukannya mendapat simpatik, yang ada mereka malah di buat kehilangan muka seperti ini. Keduanya sampai tidak berani berkutik begitu Nania membongkar kebodohan mereka di hadapan Jovan. Mereka mati kutu.


"Sayang, apa kau sudah makan siang?" tanya Jovan sambil menahan tawa.


"Aku, Susan dan Tasya hanya makan cemilan saja saat di kampus tadi. Dan rencananya kami ingin mengajakmu makan siang bersama. Begitu," jawab Nania sambil mengerlingkan mata ke arah Jovan. Dia benar-benar sangat puas melihat bagaimana Krystal dan Rhea mati kutu dua kali di hadapannya.


"Em, bagaimana ya? Aku harus segera pergi menemui klien pertamaku sekarang. Sepertinya aku tidak bisa menemani kalian makan," ucap Jovan tak enak hati.


"Oh, it's okay. Santai saja, Jo. Kalau hanya masalah makan kami bertiga bisa kok makan di kantin perusahaan ini. Lebih baik sekarang kau pergi urus bisnismu saja karena aku sangat suka dengan uangmu. Oke?" sahut Nania dengan gaya centilnya.


Jovan menyeringai. Tanpa mempedulikan keberadaan orang-orang yang ada di sana, dia mencium bibir Nania kemudian pergi ke ruang meeting. Rasa lelah di diri Jovan lenyap begitu saja setelah dia mendapat asupan vitamin dari kekasihnya yang cantik itu.


Nania, lama-lama aku bisa gila jika tidak bisa segera memilikimu seutuhnya. Sungguh, ujar Jovan dalam hati.

__ADS_1


*******


__ADS_2