
Braakkkk
Krystal membuang asal tasnya begitu masuk ke dalam kamar. Dia kesal, kesal sekali. Entah kenapa dia selalu saja sial setiap kali berurusan dengan Nania. Krystal sampai heran sendiri di buatnya. Pertama, dia dan teman-temannya harus rela menerima hukuman skorsing karena kasus pembullyan. Padahal awal rencana tidaklah seperti itu. Mereka hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Nania, tapi harus berakhir pahit dengan mereka yang harus di hukum tidak masuk kampus dua minggu lamanya. Setelah itu Krystal harus rela kehilangan Sintia yang langsung di pindahkan ke luar negeri oleh orangtuanya. Belum lagi dengan Rhea yang mendadak jadi musuhnya, dengan sikap ibunya yang ikut campur dengan menghentikan perbuatan sopir untuk merusak rem mobil Nania. Dan hari ini … hari ini Kryastal kembali mendapat kesialan setelah Nania memutarbalikkan fakta dengan membuat keadaan jadi terlihat seperti dia yang sedang melakukan pembullyan. Padahal jelas-jelas Nanialah yang menyerang dengan membenturkan kepalanya ke dinding kamar mandi. Sialan sekali, bukan? Itulah kenapa Krystal merasa sangat kesal sekali sekarang. Huh.
“Kau benar-benar sangat brengsek, Nania. Sebenarnya sihir apa yang telah kau lakukan sehingga keadaan selalu berhasil berpihak kepadamu, hah?” amuk Krystal sambil membuang guling ke lantai. Dia lalu berbaring telentang dengan tangan tertempel di kening. Sungguh, apa yang terjadi hari ini membuat kebencian Krystal pada Nania semakin bertambah besar saja. Gadis itu … astaga. “Aku tidak percaya tidak ada kesempatan baik untukku membalas perbuatan Nania. Aku yakin suatu saat hari itu pasti akan tiba. Ya, pasti!”
Tok tok tok
“Nona Krystal, di luar ada Tuan Jovan. Dia bilang ingin bertemu denganmu!”
Suara pelayan menyadarkan Krystal dari kekesalannya. Mendengar nama Jovan di sebut, dengan cepat dia bangun kemudian berlari ke depan cermin. Krystal kemudian memoleskan lipstik ke bibirnya, bermaksud menyambut Jovan dengan penampilan yang jauh lebih menarik dari Nania.
“Lihatlah, Nania. Jovan lebih memilih untuk datang menjengukku alih-alih mendatangimu yang sok terluka hingga dilarikan ke rumah sakit. Heh, kasian sekali. Jovan pasti merasa bosan berurusan dengan gadis manja sepertimu. Menggelikan,” gumam Krystal merasa menang atas kehadiran Jovan ke rumah ini.
Setelah siap, Krystal bergegas keluar dari dalam kamar. Dia lalu menanyakan pada pelayan di mana pria itu berada sekarang. Bak seorang putri yang tengah dilanda kerinduan setelah sekian waktu tak berjumpa dengan kekasih hati, setengah berlari Krystal menuruni anak tangga. Dia kemudian tersenyum mendapati sosok tampan yang tengah duduk sendirian sambil bermain ponsel di ruang tamu.
Ya Tuhan, Jovan tampan sekali. Kali ini aku harus bisa memenangkan hatinya. Karena tadi Nania membenturkan kepalaku ke dinding kamar mandi, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk merebut simpatik Jovan. Dengan begitu dia akan merasa lebih iba padaku kemudian memutuskan untuk berpisah dari Nania. Hahaha.
__ADS_1
“Jo, kapan kau datang?” tanya Krystal sambil memegangi kepalanya. Dia berpura-pura lemah dan tak berdaya sebelum mendudukkan bokongnya di atas sofa.
Rasanya Jovan ingin sekali membanting gadis bermuka dua yang baru saja bicara. Jangan dikira Jovan tidak tahu kalau ada drama yang sedang dimainkannya di sini. Ingin mencari muka? Cihh, mimpi.
“Jo, kau kenapa ….
“Krys, aku minta berhentilah mengganggu Nania dan hubungan kami. Selama ini aku diam dan tak pernah menegurmu karena aku masih berusaha menghargai hubungan kedua orangtua kita. Tapi karena perbuatanmu hari ini sudah sangat keterlaluan, dengan tegas aku memberimu peringatan agar jangan mengusik kekasihku lagi. Aku tahu kau marah dan kecewa karena perjodohan di antara kita batal dilakukan, tapi bukan berarti kau boleh memelampiaskan semua kekesalan itu pada Nania. Dia tidak salah apa-apa, dan dia juga tidak pernah merebutku darimu. Asal kau tahu saja. Aku sudah mencintai Nania sejak dia masih sekolah menengah pertama, jauh sebelum kita saling mengenal. Jadi aku minta berhentilah membuat ulah sebelum aku habis kesabaran!” tegur Jovan tanpa basa basi sedikitpun. Dia enggan jika harus bersikap lemah lembut pada gadis searogan Krystal. Itu menjijikkan.
Wajah Krystal langsung pias begitu tahu kalau dia telah salah menduga tujuan Jovan datang ke rumahnya. Terluka, itu sudah pasti. Merasa senang karena berpikir Jovan akan bersimpatik padanya, malah harus berakhir menyakitkan karena pria ini datang hanya untuk menegurnya saja. Sialan sekali. Sehebat itukah Nania sampai-sampai Jovan tak ragu berkata kasar begini kepadanya? Hancur sudah semua harapan. Lagi-lagi Krystal harus mereguk kenyataan pahit kalau dia telah kembali kalah dari gadis liar itu.
Brengsek. Kenapa semua orang bisa begitu membela Nania sih. Memang apa istimewanya gadis liar itu? Jovan juga. Apa dia sama sekali tidak bisa melihat kalau aku ini seribu kali jauh lebih unggul dari kekasihnya yang manja itu. Sialan sekali.
“Jovan, apa-apaan kau ini. Kenapa kau menuduh yang tidak kulakukan. Kau pikir aku ini apa hah!” teriak Krystal emosi. Serapi mungkin dia menutupi keterkejutan diri karena ternyata Jovan menyimpan kecurigaan akan apa yang terjadi pada mobil Nania. Jujur, dia takut sekali sekarang. Untung malam itu ibunya datang dan menghentikan perbuatan sopir itu. Jika tidak, sekarang Krystal pasti akan berurusan dengan pihak berwajib. Astaga.
“Akukan sudah bilang kalau aku tidak menuduh. Aku hanya berharap kau tidak terlibat dalam masalah tersebut. Kenapa kau harus semarah ini menyikapi perkataanku?” sahut Jovan seraya menyipitkan mata. Firasat hati mengatakan kalau Krystal sedang menutupi sesuatu. Terbukti karena emosi gadis ini langsung meluap begitu dia menyinggung tentang kecelakaan malam itu. Aneh.
“Jelas aku marah karena kau bicara sambil menatap penuh curiga padaku. Beda cerita kalau kau bicara dengan orang lain, aku tidak akan mungkin merasa sedang dijadikan sebagai tersangka!” kilah Krystal. Dia lalu menarik dan membuang nafas dengan kasar. “Oke aku memang tidak menyukai Nania, sangat malah. Akan tetapi apa untungnya buatku sampai harus melakukan sesuatu yang berhubungan dengan tindak kriminal? Dan juga selama beberapa hari terakhir aku tidak di izinkan keluar oleh Ayahku. Bagaimana caranya aku tahu kalau Nania dan kedua temannya yang bodoh itu sedang bersenang-senang di klab. Jadi kalau mau menuduh orang carilah dulu buktinya dengan akurat, tidak sembarangan begini. Bagaimana sih!”
__ADS_1
“Darimana kau tahu kalau mereka sedang berada di klab? Kau memata-matai mereka ya?”
“Astaga, Jovan. Apa gunanya media sosial kalau aku masih harus repot-repot menyewa orang untuk memata-matai mereka? Ya Tuhan!”
Hmmm, semakin aneh. Krystal begitu pandai mengelak, seolah tahu kemana arah pembicaraanku. Sepertinya penyelidikan ini harus aku mulai darinya dulu. Awas saja kau ya. Aku tidak akan mempedulikan lagi hubungan antara Ayah dengan Paman Kendy jika aku sampai menemukan bukti kalau wanita pemilik jaket itu adalah kau, Krystal.
“Jovan, kau mau kemana?” tanya Krystal kaget melihat Jovan yang tiba-tiba berdiri kemudian berjalan menuju pintu. Segera dia berlari menyusul saat pria itu hanya diam mengabaikan.
Terdengar suara gemeletuk gigi saat Krystal melingkarkan tangan di lengan Jovan. Jijik, dengan kasar Jovan menghempaskan tangannya. Dia kemudian berbalik sambil melayangkan tatapan sengit pada gadis bermuka dua ini.
“Jangan coba-coba mencuri kesempatan untuk menyentuhku, Krystal. Karena hanya Nania saja yang boleh melakukannya. Tahu kau?” geram Jovan masih berusaha sabar untuk tidak mencekik gadis tak tahu malu di hadapannya.
“Selalu Nania, Nania dan Nania. Aku muak mendengarnya, Jovan. Aku muak!” jerit Krystal histeris sendiri. Dia sakit hati sekali saat Jovan menolak sentuhannya. Padahal Krystal sangatlah ingin.
“Begitupun aku yang muak berurusan dengan gadis menjijikkan sepertimu, Krystal. Jadi aku minta selagi aku masih bisa bersabar, berhentilah mengganggu hidup kami berdua. Jangan sampai aku gelap mata kemudian memperlakukanmu dengan cara yang jauh lebih kasar daripada ini. Mengerti?!”
Setelah berkata seperti itu Jovan langsung pergi dari sana. Dia tak mengindahkan teriakan Krystal yang memohon agar dirinya tetap tinggal. Sebelum masuk ke dalam mobil, Jovan menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Dan dia meninggalkan satu seringai tipis saat mendapati Krystal yang terlihat begitu marah sambil menatapnya.
__ADS_1
Menjijikkan. Entah pria malang mana yang akan menjadi pasanganmu kelak, Krys. Kearogananmu telah mengikis rasa malu di tubuhmu, membuatku merasa sangat muak hanya dengan mendengar namamu saja. Cihh.
***