My Sugar Daddy ( Nania)

My Sugar Daddy ( Nania)
92. Marah Dan Kecewa


__ADS_3

Eugghhhhhhhh


Pagi ini Krystal bangun dengan hati yang dipenuhi kegembiraan hebat. Walau masih berada dalam kekangan sang ayah, hal tersebut tak membuatnya merasa kebosanan. Dan apa kalian tahu penyebab mengapa dia bisa segembira itu? Jawabannya adalah karena dia puas melihat dua dari tiga musuh bebuyutannya dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi berdarah-darah dan tidak sadarkan diri. Harusnya sih yang dia harapkan mengalami kecelakaan adalah Nania. Namun siapa yang akan menduga kalau gadis sialan itu berhasil selamat karena memilih untuk pulang bersama Jovan. Sedangkan Susan dan Tasya, sudahlah. Kedua gadis tak berguna itu dengan t*lolnya malah menaiki mobil yang remnya sudah dirusak lebih dulu. Hahaha, jackpot sekali, bukan?


“Lebih baik sekarang aku melihat berita dulu untuk melihat perkembangan dari kejadian semalam. Siapa tahu ada sesuatu hal lucu yang bisa membuatku merasa lebih bahagia lagi. Hehehe,” gumam Krystal dengan penuh percaya diri.


Diraihnya ponsel yang berada di atas meja samping ranjang kemudian tangannya mulai berselancar mencari berita tentang kecelakaan yang terjadi semalam. Tak lama, diapun menemukan berita tersebut. Krystal kemudian berbaring menyamping guna mendengarkan pembawa berita menyampaikan penyebab dan juga kondisi korban yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit.


“Karena pengemudi dalam keadaan setengah mabuk, mobil yang di kendarainya tak sengaja menerobos lampu merah kemudian terbalik. Sampai saat ini polisi masih mendalami kasus tersebut guna mencaritahu apakah ada unsur kesengajaan ataupun korban lain dalam insiden tersebut!”


Kedua mata Krystal langsung menyipit begitu dia mendengar si pembawa berita sama sekali tak menyinggung tentang adanya kerusakan di mobil Nania. Ini aneh. Jelas-jelas dia meminta sopir taxi itu merusak remnya, tapi mengapa sampai sekarang polisi masih belum menemukan penyebabnya dan hanya menyebutkan kalau kecelakaan itu terjadi karena pengendaranya sedang mabuk? Mendadak perasaan Krystal menjadi tidak tenang memikirkan kemungkinan ada orang lain yang mengetahui rencananya. Bisa gawat jika seandainya seseorang itu sampai mengetahui perbuatan si sopir taxi. Ah, sial.


Tok tok tok


Karena sedang merenung memikirkan satu kemungkinan buruk yang terjadi, Krystal sampai berjengit kaget saat seseorang mengetuk pintu kamar. Segera dia duduk dengan tegak kemudian mematikan ponselnya sebelum dia mempersilahkan orang itu untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Masuk!” teriak Krystal sambil merapihkan rambut. Secepat kilat dia merubah ekpresi di wajahnya dari yang sedang kebangun menjadi normal seperti biasa.


Pintu kamar terbuka. Kemudian masuklah Aileen yang datang sambil membawakan segelas susu + roti di atas nampan. Sambil tersenyum kecil, dia berjalan menghampiri putrinya yang ternyata sudah bangun.


“Selamat pagi, sayang. Tumben sekali pagi ini kau bangun cepat. Tidurmu nyenyakkah semalam?”


“Selamat pagi juga, Ibu. Lumayan nyenyak sih, tapi tidak membuat suasana hatiku membaik,” jawab Krystal sedikit acuh. Dia lalu menerima nampan berisi sarapan dari sang ibu dengan sedikit malas-malasan. “Ada apa ini, Bu? Tidak biasanya Ibu datang ke kamarku sepagi ini sambil membawakan sarapan,”


Aileen menghela nafas panjang mendengar pertanyaan putrinya. Sembari duduk di tepai ranjang, ditatapnya lekat gadis cantik yang kini tengah menyesap susu yang tadi di bawanya. Di balik sorot mata Aileen, muncul gurat kesedihan dan juga kekhawatiran akan sesuatu hal.


“Krystal, kapan kau berencana untuk serius dengan hidupmu? Sekarang kau bukan lagi anak-anak, kau punya tanggung jawab besar untuk hidupmu sendiri. Jadi bisakah kau memberitahu Ibu kapan kau akan berhenti bersikap kekanak-kanakan?” sahut Aileen balik bertanya. Dia lalu mengulurkan tangan mengelus pipi putrinya yang tengah mengerutkan kening. “Apa yang sudah kau lakukan semalam, hem? Apa kau tidak tahu dampak dari perbuatanmu yang meminta seorang sopir taxi untuk merusak rem mobil milik orang lain? Kalau Ibu tidak buru-buru menghentikannya, pagi ini polisi pasti sudah datang ke rumah kita kemudian membawamu untuk di periksa. Kenapa, Nak? Haruskah kau berbuat sampai sejauh ini hanya karena seorang laki-laki? Kau itu perempuan, Krystal. Jagalah harga dirimu dengan sebaik mungkin, bukan malah merusaknya dengan cara rendahan seperti tadi malam. Mengerti?”


Bisa kalian bayangkan sendiri tidak betapa kagetnya Krystal karena ternyata diam-diam sang ibu membuntutinya saat kabur ke klab dan bahkan mengetahui rencananya. Pantas saja tadi pembawa berita tak menyebutkan adanya kerusakan rem di mobil Nania. Ternyata ini penyebabnya.


Brengsek! Apa-apaanlah Ibu ini. Kenapa sih harus ikut campur dalam kesenanganku. Membuat orang kesal saja. Huh.

__ADS_1


Alih-alih merasa bersalah, dengan marah Krystal malah menepis tangan sang ibu yang masih mengelus pipinya. Dia kemudian turun dari ranjang dan berdiri di dekat meja rias. Sambil bersedekap tangan, Krystal menyampaikan betapa dia sangat kecewa akan sikap sang ibu yang terkesan ikut campur dalam kehidupannya.


“Bu, bisa tidak sih Ibu berhenti merecoki hidupku. Apa masih kurang juga Ayah dan Ibu mengurungku seperti seorang narapidana di rumah ini? Dan kenapa juga semalam Ibu harus menghentikan perbuatan sopir taxi yang aku perintahkan untuk merusak rem mobilnya Nania? Asal Ibu tahu saja ya. Perbuatan Ibu itu sangatlah melukai hatiku. Tahu!” ucap Krystal dengan intonasi suara yang terkesan membentak. “Dan satu hal lagi. Yang aku lakukan bukan karena aku tergila-gila pada Jovan. Tapi karena aku yang ingin menuntut balas atas apa yang telah Nania lakukan padaku. Gara-gara fitnahnya, sampai detik ini aku masih belum bisa hadir di kampus. Dan saat aku meminta kalian untuk membantu mencari keadilan, kalian malah acuh dan lebih mementingkan reputasi ketimbang perasaan anak sendiri. Jadi ya sudah jangan salahkan aku kalau aku mengambil tindakan seperti semalam demi agar bisa membalas orang yang telah menyakiti perasaanku!"


“Tapi tidak seperti ini juga caranya, Krys. Yang kau lakukan itu sudah masuk dalam tindak kriminal. Apa jadinya nanti kalau polisi sampai menetapkanmu sebagai tersangka? Masa depanmu bisa hancur total, sayang,” sahut Aileen masih berusaha sabar menghadapi sikap putrinya.


“Hancur ya hancur saja. Toh sekarang masa depanku memang sudah hancur setelah kalian menolak untuk mengeluarkan Nania dari kampus,” sahut Krystal cetus. Enggan mengalah. Sekalian saja dia gunakan alasan ini untuk menekan sang ibu agar bersedia membantunya. Haha. Dia cerdik sekali, bukan? Menggunakan kesempatan dan kesempitan. Luar biasa.


Raut kecewa tercetak jelas di wajah Aileen saat dia mendengar perkataan Krystal yang lagi-lagi mengungkit keputusan suaminya perihal penolakan waktu itu. Sebagai seorang ibu dan juga seorang istri, posisi Aileen sekarang cukuplah sulit. Di satu sisi dia merasa tak terima ada seseorang yang dengan begitu beraninya merendahkan Krystal, tapi di sisi lain dia juga tidak mungkin melawan keputusan Kendy yang memilih untuk menjaga nama baiknya dengan tidak menggunakan kekuasaan untuk mendepak Nania dari kampus. Namun, dia sama sekali tidak menyangka kalau alasan ini akan di gunakan oleh Krystal untuk melakukan sesuatu yang jelas-jelas bisa sangat merusak reputasi keluarga mereka. Putrinya sudah melewati batas.


“Bu, aku itu tidak banyak meminta pada kalian. Cukup bantu aku dengan mengeluarkan Nania dari kampus. Sudah, itu saja. Tidak sulit ‘kan?” desak Krystal penuh harap. Kali ini dia yakin sang ibu pasti luluh.


“Kita bicara lagi nanti, Krys. Kali ini perbuatanmu benar-benar membuat Ibu merasa sangat kecewa. Berdoa saja semoga Ayahmu tidak akan pernah tahu kalau semalam kau diam-diam kabur dan pergi ke klab. Karena jika Ayahmu sampai tahu, detik itu juga Ibu akan langsung meminta Ayahmu agar memindahkanmu kuliah ke luar negeri saja menyusul Sintia. Dia sahabatmu, bukan?” sahut Aileen kemudian melenggang pergi dari sana. Dia lalu menutup pintu kamar sedikit kuat, ingin menunjukan kalau dia sedang marah dan kecewa.


Sial! Kenapa Ibu susah sekali sih diluluhkan. Argggg!

__ADS_1


***


__ADS_2