
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Jo, apa Ibu boleh masuk ke kamarmu sebentar?” tanya Silvi setelah mengetuk pintu kamarnya Jovan. Raut wajahnya terlihat cemas dan penuh kekhawatiran
Jovan yang baru saja selesai bersiap segera membuka pintu kamar begitu dia mendengar suara ibunya. Karena kekesalan di diri Jovan masih belum mereda, dia mempersilahkan sang ibu masuk ke dalam kamar tanpa menampilkan senyum sama sekali.
“Jovan, Ayahmu bilang semalam kau dan Rhea bertengkar. Apa benar?” tanya Silvi seraya menatap lekat ke wajah putranya yang terlihat tidak seceria hari biasanya. Silvi sebenarnya tahu kalau Jovan itu sedang marah, tapi dia memberanikan diri untuk datang menyapa karena Ardan menolak memberitahu apa yang terjadi semalam.
“Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang kakak dan juga sebagai seorang kekasih yang baik, Bu. Jadi Ibu tidak perlu khawatir, tidak ada masalah besar yang terjadi antara aku dan Rhea,” jawab Jovan.
“Kalau memang benar bukan masalah besar, lalu kenapa Ayahmu menghukum Rhea? Tolong beritahu Ibu, Jo. Ya?”
Jovan menghela nafas panjang. Dia lalu membimbing sang ibu menuju ranjang kemudian memintanya duduk di sana. Setelah itu Jovan berjongkok, memegang kedua tangan sang ibu lalu menciumnya penuh sayang.
“Aku tidak tahu mengapa Rhea masih belum sadar juga kalau Nania itu sangat peduli padanya. Hanya karena Nania mengingatkan kalau Krystal bukan teman yang baik untuknya, Rhea sampai tega menyerang Nania. Dia mencakar pipinya sampai terluka, Bu,” ucap Jovan yang akhirnya memberitahu sang ibu tentang kejadian yang sebenarnya. “Dan tidak hanya itu saja. Saat aku mengajaknya bicara, di hadapanku Rhea dengan berani mengancam akan menabrak Nania karena dia merasa tak terima aku lebih membela Nania ketimbang membelanya. Aku marah, kemudian mencekik dan menampar pipinya. Rhea sudah sangat kelewatan, Bu. Kalau aku tidak segera menyadarkannya, aku takut dia akan semakin menggila. Walaupun selama ini hubungan kami tidak terlalu dekat, tapi aku sangat tahu kalau Rhea tak pernah peduli pada urusan orang lain. Namun semenjak Rhea berhubungan dekat dengan Krystal, sikapnya menjadi sangat liar. Tindakan Ayah sudah sangat benar dengan tidak membiarkan Rhea keluar dari rumah dulu karena dengan begini dia baru akan sadar kalau Krystal ada hanya di saat Krystal sedang membutuhkannya saja!”
“Apa? Rhea menyerang Nania?”
Nafas Silvi tercekat. Sungguh, dia tak menyangka kalau putrinya sanggup melakukan hal seperti ini. Pantaslah jika Ardan menjadi begitu marah dan menghukumnya. Ternyata karena sikap Rhea memang sudah sangat keterlaluan. Ya Tuhann.
__ADS_1
“Bu, aku minta Ibu jangan berpikir berlebihan tentang masalah ini ya. Nania baik-baik saja, dia hanya sedikit kaget karena ada yang tiba-tiba melukainya. Ibu jangan cemas. Oke?” hibur Jovan saat menyadari kekagetan di diri sang ibu.
“Jo, kenapa Rhea bisa jadi seperti ini. Dia sebelumnya adalah gadis yang baik meskipun sikapnya sangat dingin. Ibu jadi takut kalau keluarga Nania merasa tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan adikmu padanya. Bagaimana kalau mereka sampai mengusik keluarga kita, Jo? Apa yang akan terjadi dengan masa depan kalian nanti?” tanya Silvi beruntun. Dia ketakutan memikirkan nasib kedua anaknya.
“Astaga, Ibu. Aku kan sudah bilang agar jangan berpikir berlebihan tentang Nania. Dia dan keluarganya adalah orang-orang yang sangat baik, dan mereka sama sekali tak menganggap masalah ini sebagai sesuatu yang besar. Ibu tenang saja ya. Aku berani jamin tidak akan terjadi apapun pada keluarga kita. I’m promise,” jawab Jovan sambil terkekeh pelan melihat reaksi sang ibu yang begitu ketakutan.
Ibu-Ibu. Andai saja Ibu tahu betapa hangatnya keluarga Nania, aku jamin Ibu pasti tidak akan ketakutan seperti ini. Bahkan Kak Lusi sebagai kakaknya Nania saja malah mengkhawatirkan keadaan Rhea, jadi ketakutan yang Ibu rasakan sekarang sama sekali tidak mendasar. Hmmmm, ujar Jovan dalam hati.
Sementara itu di luar kamar, Ardan yang tidak menemukan keberadaan anak dan istrinya pun langsung berkeliling mencari mereka. Dia lalu tak sengaja mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap dari arah kamar Jovan. Penasaran, Ardan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam sana. Dia ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh anak dan istrinya.
“Ekhmmm, pantas saja rumah ini terasa sepi seperti kuburan. Ternyata kalian malah asik mengobrol di sini ya,” sindir Ardan sembari berjalan menghampiri anak dan istrinya. Setelah itu Ardan duduk di samping Silvi sambil memperhatikan wajahnya. “Sayang, kau kenapa? Kenapa wajahmu terlihat seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu?”
“Bagaimana aku tidak khawatir, Ar. Putri kita melakukan tindakan yang sangat ceroboh, dan aku begitu takut keluarganya Nania merasa tak terima. Tapi untunglah tadi Jovan bilang kalau keluarganya Nania tidak mempermasalahkan perbuatan Rhea. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga kita jika seandainya mereka sampai menuntut balas, “ jawab Silvi seraya menghela nafas panjang.
“Iya. Kali ini mungkin Rhea masih beruntung. Akan tetapi jika hal ini sampai terulang, aku tidak yakin kalau mereka akan diam saja. Mereka pasti akan melakukan tindakan untuk membela Nania,”
“Karena itulah aku menghukum Rhea, sayang. Ya semoga saja dia bisa mengerti kalau apa yang kita lakukan adalah untuk kebaikannya sendiri. “
Jovan diam mendengarkan pembicaraan kedua orangtuanya. Sedetik kemudian pikiran Jovan melayang pada ingatan tentang pembicarannya dengan Nania di telepon tadi malam. Tepat setelah Jovan selesai memberi penjelasan pada ayahnya, Nania menelpon. Dan seperti yang Jovan pikirkan kalau Nania pasti merasa sangat sedih karena luka di pipinya. Bahkan kekasihnya yang seksi itu tak ragu menangis sesenggukan hanya untuk mengeluh kalau kecantikannya telah ternoda. Ingin tertawa tapi Jovan merasa tak tega. Alhasil dia hanya diam dan mendengarkan ocehan Nania yang tak henti merutuki perbuatan adiknya. Demi kenyaman bersama, malam itu juga Jovan langsung mentransfer uang ke rekening yang di pegang oleh Nania. Dan apa kalian tahu apa yang terjadi setelah Jovan mengeluarkan jurus dewa itu? Tangis Nania langsung berhenti dan gadis itu mulai mengucapkan kata manis yang membuat tubuh Jovan meleleh seperti jelli.
“Jo, Ayah dan Ibu masih ada di sini. Memangnya tidak bisa nanti saja ya memikirkan tentang Nania?” ledek Silvi sambil menatap lucu kea rah Jovan yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Dan sangat mudah bagi Silvi untuk menebak penyebab mengapa putranya bisa berkelakuan seperti ini. Apalagi kalau bukan tentang Nania. Benar tidak?
__ADS_1
“Hehe, tahu saja kalau aku sedang memikirkan Nania, Bu,” sahut Jovan tanpa merasa malu sama sekali setelah ketahuan sedang memikirkan kekasihnya yang seksi itu.
“Tentu saja Ibu sangat tahu, Jovan. Memangnya siapa lagi yang bisa membuatmu bersikap aneh seperti tadi kalau bukan Nania. Ibu benar tidak?”
Jovan mengangguk. Dia lalu tertawa lepas saat telinganya di jewer oleh ayahnya.
“Dasar bucin. Di hadapan kita dia bahkan tidak malu untuk memikirkan Nania, sayang. Sepertinya anak kita ini sudah terkena sindrom cinta buta,” ledek Ardan sambil menggelengkan kepala melihat kebucinan anaknya.
“Biar sajalah. Kau seperti tidak pernah muda saja, Ar. Sudah lupa ya betapa gilanya kau dulu saat mengejarku?” sahut Silvi yang malah balas meledek suaminya.
“Astaga, sayang. Kenapa kau malah buka kartu sih,” protes Ardan. Dia lalu berdehem pelan saat menyadari kalau Jovan masih ada di sana. Tak mau dipermalukan, Ardan segera memikirkan topik lain untuk mengalihkan pembicaraan. Dia lalu teringat akan sesuatu tentang Nania. “Oh ya, Jo. Kapan kau akan membawa pulang Nania dan mengenalkannya pada Ayah dan Ibu?”
“Secepatnya, Ayah, “ jawab Jovan tanpa ragu.
“Apa Nania akan bersedia?”
“Tentu saja. Aku kan calon suaminya, jadi mana mungkin dia menolak saat ingi di kenalkan pada calon mertuanya,”
“Cihhh, kau terlalu percaya diri, Jovan. Awas nanti kau patah hati jika Nania sampai menolak ajakanmu,” cibir Ardan geli sendiri melihat kepercaya-dirian putranya.
“Itu hanya akan terjadi dalam mimpi Ayah saja. Hehe.”
__ADS_1
Karena hari sudah semakin siang, Jovan mengajak Ayah dan Ibunya untuk sarapan. Dia tidak mau sampai datang terlambat ke kantor karena itu akan memberikan contoh yang tidak baik pada karyawannya. Jovan adalah seorang bos yang sangat teladan bukan? Tentu saja, hehe.
***