
Yan Lan tak bisa apa apa lagi karena semua orang yang berada dalam aula utama itu tidak ada yang mendukungnya sama sekali, sehingga membuat Yan Lan semakin terpuruk dalam pembelaan dirinya dari tuduhan ketua Siang neder.
Yan Lan menyesali apa yang telah menjadi kesepakatan antara dirinya dan Qian Qin, tak di sangka olehnya jika Qian Qin telah menjebaknya dalam suasana yang tidak menguntungkannya.
Di tempat lain Qian Qin yang berada di dalam kamarnya tengah tertidur lelap, apa yang telah terjadi di dalam aula Guild pengadilan sekte sama sekali tak di ketahuinya.
Flash back
Qian Qin yang merasa belum puas dengan perkataan dari ayahnya, kembali mendatangi sang ayah dan terjadi kembali perdebatan antara ayah dan anak.
Ibu Qian Qin yang bernama Lin Tiar cie ,menjadi penengah dalam perdebatan itu.
hingga akhirnya perdebatan itu pun berakhir tanpa adanya titik terang dari permintaan Qian Qin yang tak mau di jodohkan dengan salah satu pemuda dari 4 keluarga besar, dan memilih calonnya sendiri.
"Lin er aku ingin kau urus putrimu itu dengan membuatnya tidak hadir dalam perkumpulan 4 keluarga besar di Guild keadilan sekte, karena kehadirannya pasti akan membuat keributan dan kekacauan disana," ucap Pingyin Qin.
Mendengar perintah dari suaminya, Lin Tiar cie tak bisa berbuat apa apa. Dengan membawakan sup yang di campur dengan pil tidur klas tinggi dan tanpa rasa, sup itu di bawanya menuju kamar putrinya.
Melihat ibunya berada di depan kamarnya, Qian Qin segera menyambutnya dan menyuruhnya masuk.
"Masuklah ibu," ucap Qian Qin.
Lin Tiar cie lalu masuk kedalam kamar putrinya.
"Qian er, kau jangan terlalu memaksakan kehendak dengan permintaanmu itu, ayahmu melakukannya karena ayahmu memikirkan suami yang terbaik di masa depanmu, yang mana pemuda yang menjadi calon suamimu itu yang akan menggantikan ayahmu kelak untuk menjadi patriack sekte berikutnya di masa depan," ucap Lin Tiar cie.
"Aku malas membahasnya lagi ibu" jawab Qian Qin tegas.
"Ya sudahlah kau makanlah dulu, ibu telah membawakan sup kesukaanmu, pastinya kau telah lapar," ucap sang ibu.
"Terimakasih ibu," jawab Qian Qin dan dengan segera memakan makanan yang di berikan oleh ibunya karena perutnya memang sudah sangat lapar.
Tak berapa lama setelah Qian Qin memakan sup pemberian ibunya, rasa kantuk yang teramat sangat telah menyerang tubuhnya yang membuat kedua mata Qian Qin sulit untuk dibuka.
"Ibu aku tidur dulu," ucap Qian Qin.
"Tidurlah, ibu akan menemanimu disini," jawab Lin Tiar cie.
Tak berapa lama setelah merebahkan tubuhnya di pembaringan, napas Qian Qin mulai terlihat teratur.
"Maaf kan ibu Qian er," ucap Lin Tiar cie sambil memandangi tubuh putrinya yang tertidur pulas.
*****
Di aula utama Guild keadilan, yang mana Yan Lan tengah tersudut dengan lantang langsung menantang ketua Siang neder untuk bertarung.
"Aku tak mungkin menang debat dengan kalian semua yang berada di dalam ruangan ini, apapun kebenaran yang kukatakan pasti akan salah di mata kalian, karna aku yakin ini semua sudah di rencanakan," ucap Yan Lan.
"Jika ketua keluarga neder merasa keberatan dengan apa yang telah kulakukan pada putra anda, aku menawarkan diri untuk bertarung dengan anda!!" ucap Yan Lan sambil menunjuk kearah ketua Siang neder.
Melihat Yan Lan yang meremehkannya, membuat ketua Siang neder bak kebakaran jenggot dan berteriak lantang menerima tantangan dari Yan Lan.
"Bagus jika kau ingin menantang ku dalam sebuah pertarungan, jika aku kalah maka aku tak akan menuntut mu karena telah melukai putraku, dan jika kau kalah maka nyawamu lah yang akan menjadi taruhannya," teriak Siang neder dengan amarah yang meluap luap.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu merasa jika pemuda yang bernama Yan Lan sudah gila, karena berani menentang ketua keluarga neder yang terkenal dengan keganasannya.
__ADS_1
"Persiapkanlah dirimu ketua siang, untuk kalah bertarung dengan ku," ucap Yan Lan.
Darah ketua siang neder semakin mendidih karena perkataan Yan Lan yang memprovokasi nya.
"Tunggulah Yan Lan, sebentar lagi aku akan menghabisimu," batin ketua Siang neder sambil menggenggam tinjunya.
Akhirnya untuk meredakan amarah ketua Siang neder maka patriack sekte dan ketua guild keadilan memutuskan, akan mengadakan pertarungan antara ketua keluarga neder dan Yan Lan yang akan di laksanakan besok.
Yan Lan di perbolehkan kembali ke dalam kamarnya, akan tetapi kamar Yan Lan tersebut telah dijaga ketat oleh para penjaga karena patriack sekte takut jika Yan Lan akan melarikan diri, yang mana jika itu memang terjadi maka akan timbul masalah baru antara patriack sekte dengan ketua keluarga besar neder.
Yan Lan menelan beberapa pil dan mulai melakukan penyerapan intisari pil, guna menguatkan pondasi tulangnya agar lebih baik lagi.
Senja beranjak malam di mana Qian Ling terbangun dari tidurnya, dia heran mengapa dia bisa tertidur lelap tanpa disadari kapan dia mulai tertidur.
Qian Qin melangkahkan kakinya keluar kamar sekedar untuk menghirup udara segar malam itu. Sayup sayup Qian Qin mendengar dari percakapan para penjaga jika besok akan di adakan pertarungan besar di arena pertarungan sekte.
Mendengar hal itu, Qian Qin langsung menuju ke arah penjaga dan menanyakan tentang pertarungan besar itu.
Dua orang penjaga yang melihat wanita muda bercadar yang datang menghampirinya, segera menggenggam tinju memberi hormat.
"Paman aku dengar dari percakapan kalian berdua jika besok akan berlangsung pertarungan besar di sekte ini, siapakah yang akan bertarung itu?" tanya Qian Qin.
Kedua pengawal itu saling pandang, mereka heran mengapa nona Qian Qin tak mengetahui berita besar itu.
"Besok yang akan bertarung itu adalah ketua Siang neder dan pemuda biasa yang tak tau asal usulnya bernama Yan Lan," ucap salah seorang penjaga.
Bagai petir yang menyambar disiang hari yang sangat terik, Qian Qin sangat terkejut mendengar perkataan penjaga itu, ternyata Qian Qin ketinggalan banyak berita setelah dia tertidur.
"Mengapa bisa aku tak mengetahui berita besar ini, jangan jangan....," batin Qian Qin.
"Ibu..ia ibu, pasti ibulah pelakunya, dia yang terakhir bertemu denganku, pasti ibu menaruh sesuatu pada sup yang ku makan hingga aku tertidur," batin Qian Qin.
Pertarungan ini tak boleh terjadi, ketua Siang neder bukanlah tandingan Yan Lan, aku akan menemui ayah untuk membahas masalah ini.
Qian Qin pergi menuju ke tempat ayahnya berada, akan tetapi sang ayah tak memberikan jawaban yang memuaskan hati Qian Qin hingga kembali terjadi perdebatan antara ayah dan anak.
"Qian er ayah tak bisa menghentikan pertarungan ini, semua telah di setujui oleh Guild keadilan sekte dan di saksikan oleh 4 keluarga besar," ucap patriack sekte.
"Ayah sungguh keterlaluan!!!" ucap Qian Qin sambil meninggalkan tempat itu.
Qian Qin berjalan menuju tempat Yan Lan berada, betapa terkejutnya Qian Qin melihat banyaknya penjaga yang mengelilingi kamar Yan Lan.
"Maaf nona muda, anda tak di perbolehkan untuk menemui Yan Lan," ucap ketua penjaga.
"Apa maksudmu penjaga," bentak Qian Qin.
"Siapa pun orang nya di larang untuk menemui Yan Lan, sebelum pertarungannya besok pagi," ucap kepala penjaga.
Qian Qin segera mengeluarkan pedangnya dan menyerang penjaga yang berada disana, hingga Qian Qin berhasil menerobos masuk kedalam kamar Yan Lan.
"Biarkan saja, jangan di lawan lagi," tiba tiba suara penuh wibawa menggema.
"Patrick" ucap semua penjaga serempak.
Patriack Pingyin Qin menganggukkan kepala dan melangkah pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Yan Lan maafkan aku karena tak tau menahu tentang pertarungan mu ini," ucap Qian Qin memulai percakapan.
Yan Lan tetap tak bergeming pada tempatnya, dia tetap melakukan kultivasi.
Qian Qin mendekati Yan Lan lalu menceritakan semua apa yang di alaminya hingga dia tertidur, dan setelah tersadar Qian Qin baru mengetahui jika Yan Lan akan bertarung dengan ketua Siang neder.
Setelah bercerita panjang lebar, tetap saja Yan Lan tak bergeming dari tempatnya duduk bersilanya, hingga membuat Qian Qin kesal dan memukulkan tangannya ke pundak Yan Lan.
Tiba tiba saja Yan Lan menangkap tangan Qian Qin dan sekali hentakan tubuh Qian Qin kini berada di pelukan Yan lan.
"Wajah mereka saling berdekatan, tatapan mata mereka pun saling beradu yang membuat sensasi berbeda yang di rasakan oleh Qian Qin.
Detak jantung Qian Qin memburu seiring dengan hembusan napas Yan Lan yang menerpa wajahnya.
"Kau mengkhwatirkan aku Qian er?" tanya Yan Lan.
Buru buru Qian Qin melepaskan dirinya dari dekapan Yan Lan dengan mendorong pemuda itu kedepan, dia pun memutar tubuhnya dan membelakangi Yan Lan.
"Siapa yang mengkhwatirkan kamu!! jawab Qian Qin, aku hanya ingin di pertandingan besok kau berhati hati dan bila sudah tak mampu bertarung, menyerahlah maka aku akan menghentikan jalannya pertarungan hingga kau bisa selamat," ucap Qian Qin.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu Qian Qin?" tanya Yan Lan.
Kini giliran Qian Qin yang yang terdiam dengan perkataan Yan Lan, jantungnya tiba tiba berdetak kencang, "apa yang sedang terjadi padaku, mengapa perkataannya selalu menggetarkan dadaku?" batin Qian Qin.
"Terus apakah yang ingin di katakannya?" batin Qian Qin.
Yan Lan berjalan mendekati Qian Qin, dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Qian er jika sudah tak ada lagi yang ingin kau katakan, ada bagusnya kau pergi dari sini agar aku bisa beristirahat".
Sontan Qian Qin membalikkan badan dan melotot kearah Yan Lan, di dalam pikiran Qian Qin terbayang jika Yan Lan akan mengungkapkan rasa cintanya, akan tetapi pemikirannya itu jauh terbalik Yan Lan malah menyuruhnya pergi dari ruangan kamarnya.
"Ngapain juga aku harus memikirkan dia, sementara aku baru mengenalnya," batin Qian Qin.
Dengan bersungut sungut Qian Qin pergi meninggalkan tempat di mana Yan Lan berada.
Selepas kepergian Qian Qin, Yan Lan kembali melakukan meditasi hingga pagi menjelang.
Udara pagi menerobos melalui kisi kisi jendela, Yan Lan perlahan membuka matanya, Yan Lan bangkit dari duduknya dengan tangan kanan memegang tinju tangan kiri di belakang tubuhnya.
"Ini lah saatnya aku memberimu pelajaran Siang neder," batin Yan Lan.
Setelah sarapan pagi, Yan Lan di bawa menuju ke arena pertarungan yang mana para penonton sangat antusias untuk melihat pertarungan itu.
Semua dukungan tertuju pada Siang neder, yang mana semua teriakan mengeluk elukan namanya tanpa ada satu suara yang mengeluk elukan Yan Lan.
Walaupun tanpa dukungan, Yan Lan tetap gagah masuk kedalam arena pertarungan dan berhadapan langsung dengan ketua Siang neder yang sudah duluan masuk ke dalam arena pertarungan.
Di podium utama telah di isi oleh para petinggi sekte, baik patriack sekte sendiri maupun ketua Guild keadilan sekte.
Tampak wanita cantik yang kini tak menggunakan cadar menjadi sorotan para penonton, kecantikannya sungguh sangat luar biasa di tambah bola mata bewarna biru yang menghiasi kedua matanya, dia adalah Qian Qin.
Bola mata biru itu sendiri Qian Qin dapatkan dari ibunya, yang merupakan seorang wanita cantik yang berasal dari keluarga besar Liu.
Qian Qin tak memperdulikan tatapan para pemuda yang terkagum kagum padanya, dia fokus pada Yan Lan yang sedang berdiri di atas arena pertarungan.
__ADS_1
"Berhati hatilah Yan Lan, aku tak ingin kau terluka dalam pertarungan ini," batin Qian Qin.