PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Terpilih


__ADS_3

"Apakah paman mengenal saya?" tanya Yan Lan.


"Siapa yang tak mengenal pemuda seperti anda, bau darah keluarga Wong begitu sangat jelas pada tubuhmu, selama ini aku telah memperhatikanmu dan itu semua tanpa engkau sadari," jawab orang tua itu.


"Siapa sebenarnya lelaki tua ini?" batin Yan Lan.


"Kau tak usah bertanya tanya dalam hati seperti itu, karena sebesar apa pun kau berusaha untuk mencari tau keberadaan ku, kau tak akan bisa," ucap lelaki tua itu.


"Paman.., terimakasih kau sudah menyelamatkanku," ucap Yan Lan.


Ha..ha..ha..dari nada bicaramu, kau tak seperti leluhurmu wong ji Ang yang terlalu arogan dan bar bar di masa mudanya, kau begitu sopan dan juga banyak pertimbangan, aku suka pemuda sepertimu," ucap orang tua itu.


"Mengapa paman menyelamatkanku?" tanya Yan Lan.


"Anak muda banyak hal yang kau tak ketahui tentang dataran ini, mungkin kau hanya mengetahui jika Benua permata hijau dan dataran Awan langit yang ada penghuninya, masih ada benua yang lebih besar dengan tingkat kekuatannya yang lebih kuat, Benua itu bernama Benua Semesta Biru, yang lebih besar 20 kali kali lipat dari benua permata hijau, disana terdapat 4 kerajaan besar dengan beberapa klan serta sekte besar yang mendiami benua itu. Saat ini para petinggi iblis telah mulai membangun kerajaannya di sana yang tentunya akan membuat ketentraman Benua Semesta Biru dalam bahaya," ucap orang tua yang ada di hadapan Yan Lan.


Yan Lan mendengarkan semua penjelasan orang tua yang ada di hadapannya dengan seksama, walau pun dia sendiri tak mengetahui maksud dan tujuan orang tua itu menjelaskan semua kisah tentang Benua Semesta Biru.


"Saat ini Benua permata hijau telah bergejolak, Raja iblis telah menunjukkan kekuasaannya di sini dengan menguasai para penguasa tamak yang gila kekuasaan, dengan mempengaruhi mereka dengan imbalan akan membantu mereka dengan iming iming menjadikan mereka penguasa, dan pada akhirnya mereka semua akan menjadi pengikut raja iblis," sambung orang tua itu.


"Yan Lan aku memilihmu untuk memberantas seluruh iblis yang berada di dunia ini, aku ingin kau memulainya dengan memusnahkan iblis yang berada di benua permata hijau," ucap tua orang tua itu.


"Maksud anda paman?" tanya Yan Lan.


"Ribuan tahun yang lalu, para dewa berperang melawan raja iblis dan pasukannya, walaupun nirwana mengalami kehancuran, akan tetapi para dewa mampu untuk memusnahkan seluruh iblis. Tanpa disadari oleh Dewa tertinggi yang tinggal di kuil suci, raja iblis berhasil menitipkan titisannya ke benua permata hijau dan sekarang telah berkembang pesat dengan banyaknya pengikut raja iblis yang berada di setiap tempat, hal ini yang menjadi ke khwatiranku selama ini, aku akan melatihmu untuk menandingi kekuatan raja iblis agar kelak kedamaian di dunia ini akan kembali lagi," ucap orang tua itu.


"Aku masih belum mengerti dengan maksud anda paman!?" ucap Yan Lan.


"Aku adalah Dewa Suci, aku akan menjadikanmu orang yang terkuat di dunia ini untuk memberantas semua iblis hingga habis seakar akarnya, aku akan melatihmu sendiri, dan pelatihanmu itu akan menghabiskan waktu selama 3 tahun lamanya, apakah kau bersedia Yan Lan?" tanya Dewa suci.


Seketika tubuh Yan Lan bergetar hebat, dia tak menyangka jika orang tua yang ada di hadapannya saat ini merupakan Dewa tertinggi yang tinggal di nirwana.


Dengan cepat Yan Lan menganggukkan kepalanya mengiyakan keinginan Dewa suci itu.


"Bagus..!! aku tak sia sia memilih mu sebagai seorang kultivator yang telah di pilih oleh para dewa," ucap Dewa suci.


"Tapi Dewa, aku tak bisa meninggalkan masalah yang telah terjadi di kota bulan suci untuk berlatih selama tiga tahun lamanya," ucap Yan Lan.


"Kau tak usah khwatir Yan Lan, aku akan melatihmu di alam tempatku berada yang mana waktu tiga tahun itu sana sama halnya dengan waktu tiga bulan lamanya, jika kau meminta waktu kurang dari tiga tahun untuk berlatih, maka kau tak akan sanggup untuk dapat menguasai tehnik yang akan kuberikan padamu, walaupun kau seorang jenius dari benua permata hijau," ucap Dewa suci.


"Aku akan mengikuti mu Dewa, aku akan sekuat tenaga untuk berlatih karena tujuanku sedari kecil ingin menjadikan benua permata hijau damai dan tentram untuk di tinggali," jawab Yan Lan.


"Kau salah anak muda, sekarang tujuanmu adalah memberi ke damaian di dunia bukan cuma hanya di benua permata hijau belaka, kau sekarang adalah orang yang di pilih para dewa berarti kau harus membantu para dewa untuk melindungi dan memberikan perdamaian pada dunia ini, termasuk Benua Semesta Biru," ucap Yan Lan.


"Yan Lan terdiam, banyak hal yang menggelayuti fikirannya saat ini, tak mungkin dirinya bisa memberikan kedamaian bagi Benua Semesta Biru, yang mana terdapat 4 kerajaan besar yang terdapat disana, jika salah melangkah bisa saja terjadi peperangan antara kerajaan di benua besar itu.


Tak lama kemudian tawa Dewa suci menghentikan lamunan Yan Lan.


"Kau tak usah memikirkan hal itu Yan Lan, aku akan membekali mu dengan sesuatu yang dapat membantumu kapan saja, dan aku yakin kau akan dapat memberikan kedamaian di semua benua yang ada di dunia ini," ucap Dewa suci.


Yan Lan menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan, dan mengiyakan semua yang di katakan Dewa suci.

__ADS_1


Tak lama Yan Lan memikirkan hal baru dalam otaknya. "Tak ada salahnya aku meminta sesuatu hal pada Dewa suci," batin Yan Lan.


"Dewa aku ingin meminta sesuatu hal padamu, sekiranya dewa suci dapat memenuhi keinginanku ini," batin Yan Lan.


"Katakanlah, apa yang ingin kau minta padaku?" tanya Dewa suci.


"Aku ingin meminta Ketiga sahabatku bisa menjadi manusia dan mempunyai tingkat kultivasi seperti dirinya saat ini," ucap Yan Lan.


"Hanya itu? baik aku akan memenuhi permintaanmu itu," ucap Dewa suci sambil memberikan 3 pil bercahaya pelangi pada Yan Lan.


"Suruh mereka bertiga menelan pil ini" sambung Dewa suci.


Dengan kondisi yang lemah Yan Lan berusaha meraih 3 buah pil itu dari tangan dewa suci, akan tetapi sebuah cahaya putih terang langsung menghujam kearah tubuh Yan Lan, yang membuat Yan Lan merasakan kekuatan nya kembali pulih seperti sediakala.


"Terimakasih atas apa yang telah kau berikan padaku Dewa," ucap Yan Lan sambil meraih 3 buah pil berwarna pelangi dari tangan Dewa suci.


"Sekarang aku akan membawamu ke nirwana, persiapkan dirimu," ucap Dewa suci.


Tak lama berselang baik Yan Lan maupun Dewa suci menghilang dan menuju ke dalam alam nirwana.


*****


Sementara itu tetua Lu Sian Lang yang membawa pangeran ke 3 dan ketua Lu Sian Hong, berhasil menemukan sebuah goa yang cukup luas di dalamnya.


"Kita sudah berjalan sangat jauh, tak mungkin para manusia iblis mengejar kita sampai kesini, yang jadi pikiranku saat ini bagai mana keadaan ke tiga petinggi klan yang bertarung dengan manusia iblis," ucap Lu Sian Hong.


"Kau tak usah banyak berfikir keras ketua, lebih baik kau pikirkan kesehatanmu, ke tiga petinggi klan itu mempunyai kultivasi di atas rata rata manusia iblis, aku yakin mereka pasti dapat menjaga diri," jawab tetua Lu Sian Lang menghibur kakaknya.


Melihat para petinggi klan Luyang sedang bercakap cakap, pangeran ke 3 memilih untuk melihat situasi di dalam goa.


Setelah puas melihat ke adaan goa, pangeran ke 3 kembali menghampiri ketua Lu Sian Hong dan tetua Lu Sian Lang.


"Paman!! aku tak bisa tinggal di tempat seperti ini, aku lebih baik kembali ke istana ketempat paman Li Wang," ucap pangeran ke 3.


"Pangeran, jika kau kembali ke istana, itu sama halnya dengan mengantarkan nyawamu sendiri, manusia iblis akan terus mengincar mu karena kau merupakan putra mahkota pewaris tahta istana gerbang naga, lebih baik kau bersama kami di sini untuk meningkatkan kultivasimu, nanti tetua Lu Sian Lang yang akan membimbingmu dalam berlatih," ucap ketua Lu Sian Hong.


"Aku tetap akan pergi dari sini, aku tak bisa tinggal di tempat kotor dan lembab seperti ini, kalian jangan mencoba untuk menghentikan ku," ancam pangeran ke 3.


"Kau jangan keras kepala pangeran!!, ini semua demi keselamatan dari penerus tahta istana gerbang naga," ucap tetua Lu Sian Lang.


Pangeran ke 3 yang merasa muak dengan kedua petinggi klan Luyang itu, dengan segera berlari menembus hutan belantara mengikuti jejak jalan yang tadi mereka bertiga lalui.


Ketua Lu Sian Lang sangat kesal melihat tingkah laku pangeran ke 3 yang begitu bodoh, yang ingin mengantarkan nyawanya kepada para manusia iblis yang kini telah menguasai istana.


Tak lama kemudian, ketua Lu Sian Hong menapakkan tangan kanannya ketanah sambil terbatuk batuk.


"Kakak apa yang kau lakukan!!" ucap tetua Lu Sian Lang sambil membantu kakaknya berdiri.


"Adik ikuti pangeran ke 3 dari jauh, di khwatirkan ada binatang buas yang akan memangsanya, aku telah memasang ilusi pembatas sekitar 1000 meter dari sini, dan aku ingin kau tidak mempersulitnya," ucap ketua Lu Sian Hong.


Tetua Lu Sian Lang yang masih merasa kesal kepada pangeran ke 3 tak bisa berbuat banyak mendengar perintah dari ketua klan, dia pun mengiyakan perkataan kakaknya itu.

__ADS_1


"Baik ketua, aku akan menjaga putra mahkota," jawab tetua Lu Sian Lang sambil melesat keluar dari dalam goa.


Selepas kepergian Lu Sian Lang, ketua klan Luyang langsung melakukan kultivasi di tempat itu.


Sementara itu, pangeran ke 3 yang terus melesat cepat menjadi kebingungan karena kehilangan jejak, diapun menjadi murka dan marah. Dengan kekuatan yang di milikinya, pangeran ke 3 menghancurkan segala apa yang ada di dekatnya termasuk beberapa pohon besar yang telah tumbang olehnya.


"Mengapa ini semua terjadi padaku...!!" teriak sang pangeran sambil terduduk lesu di tanah.


"Aku tak boleh menyerah, aku harus bisa kembali ke istana, aku tak ingin seperti mereka berdua yang pasrah dengan keadaan, lebih baik aku ke istana untuk bertarung dengan manusia iblis, dari pada aku tersiksa di tempat sunyi dan kotor seperti ini," bisik sang pangeran.


Pangeran ke 3 bangkit berdiri, diapun kembali melesat menerobos rimbunnya hutan tanpa peduli kemana arah langkah kakinya berlari.


Tetua Lu Sian Lang yang melihat apa yang telah di lakukan oleh pangeran ke 3, hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


"Jika kau bukan seorang putra mahkota, tak akan sudi aku untuk menjagamu," batin ketua Lu Sian Lang dari atas salah satu dahan pohon besar yang banyak terdapat di dalam hutan itu.


Pangeran ketiga yang terus berlari seketika menghentikan langkahnya. "Mengapa aku terus berlari berputar putar di tempat ini, bukannya itu pohon pohon yang kutumbangkan tadi?" tanya pangeran ke 3 dalam hati.


Pangeran ke 3 merasa heran dengan situasi yang ada, dia tak menyangka akan kembali lagi ketempatnya semula, yang mana jejak jejak pohon tumbang dan semak belukar yang tadi dia hancurkan bisa terlihat lagi olehnya.


Tiba tiba saja pangeran ke 3 di kejutkan oleh suara berdesir yang makin lama semakin dekat dengan dirinya.


"Jangan bilang jika di hutan ini ada binatang buasnya," batin pangeran ke 3 sambil memasang sikap siaga.


Tak lama kemudian terlihat di hadapan pangeran ketiga seekor ular yang sangat besar sedang menatap tajam ke arahnya.


"Celaka, ular ini merupakan binatang roh," batin pangeran ke 3 yang langsung mengeluarkan pedang dari dalam kotak penyimpanannya.


Di tempat lain, di atas sebuah dahan pohon tetua Lu Sian Lang terus memperhatikan pangeran ke 3 yang kini tengah berhadapan dengan seekor ular raksasa.


"Ular ini merupakan Ular piton batu yang mempunyai tingkatan roh raja, aku ingin melihat sampai dimana kekuatan kultivasimu pangeran, semoga saja piton ini bisa memberikan pelajaran padamu," batin tetua Lu Sian Lang.


Tetua Lu Sian Lang terus memperhatikan pangeran ke 3 yang sedang bertarung dengan piton batu raksasa, dengan tetap berjaga jaga agar pangeran tetap terhindar dari bahaya.


Sementara itu pangeran ke 3 terus melancarkan serangan serangan cepatnya ke arah ular piton raksasa, akan tetapi setiap pedang yang di tebaskan mengenai ular piton raksasa itu, tubuh ular piton tersebut tak mengalami luka yang berarti.


"Mengapa pedangku tak bisa merobek tubuh ular piton raksasa itu? jika terus begini aku pasti akan menjadi makanannya," batin sang pangeran.


Beberapa waktu telah berlalu, Qi di dalam tubuh pangeran ke 3 perlahan lahan mulai terkuras, yang membuat pergerakannya semakin melambat. Di pihak lain ular piton raksasa yang menjadi lawan pangeran ke 3 malah semakin gencar menyerangnya.


Dan pada akhirnya pangeran ke 3 terkena sabetan ekor sang ular, yang membuatnya terhempas jauh kebelakang.


"Aku tak mau mati di makan ular piton ini, tapi aku tak punya kesempatan untuk lari darinya, tubuhku sudah terlalu lemah karena bertarung terlalu lama dan terluka," batin sang pangeran.


Diapun menyesali apa yang telah di lakukannya, jika dia tak egois dan tetap tinggal di goa bersama kedua petinggi klan Luyang, pasti kejadian ini tak akan menimpanya.


Kini pangeran ke 3 hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya, sabetan ekor ular piton raksasa yang telak mengenai tubuhnya membuat sang pangeran tak bisa berbuat banyak.


Disaat saat genting itu pangeran ke 3 melihat sosok tetua Lu Sian Lang yang kini sedang bertarung dengan ular piton raksasa.


"Akhirnya aku dapat terselamatkan,_ batin sang pangeran.

__ADS_1


__ADS_2