
Setelah pertemuan dengan sang ratu, Yan Lan ditempatkan pada tempat khusus para tamu kerajaan.
"Tuan muda, mengapa kau tak memperjuangkan cintamu, dan menolak Putri di depan ibunya, apakah kau tahu seperti apa perasaan putri Bilqis sekarang ini?" hatinya pasti hancur mendengar kenyataan jika kau menolaknya," ucap Cencen yang sangat kesal dengan tindakan Yan Lan, yang menolak cinta tulus dari sang putri.
"Ada beberapa hal yang tak kau ketahui tentangku Cencen, jika putri Bilqis terus bersamaku maka hidupnya akan menderita, aku tak ingin hal itu terjadi padanya, biarkan dia sakit sekarang daripada sakit di kemudian hari," jawab Yan Lan.
"Aku tak habis pikir dengan cara pandang mu tuan muda, jika masalah hidup aku rasa dengan kemampuanmu yang seperti sekarang ini, kau dapat menghidupi putri Bilqis dengan layak, apalagi sang putri tak menuntut banyak darimu dia hanya memintamu untuk mencintainya," ucap Cencen kembali.
"Cencen kau telah aku anggap sebagai saudara, aku akan menceritakan sedikit kisah tentang hidupku, dan aku tak ingin kau memotong ceritaku, sebelum aku selesai menceritakannya kepadamu agar kau paham maksud dan tujuanku," ucap Yan Lan.
"Baik tuan muda, aku akan mendengarkannya," ucap Cencen.
Yan Lan pun mulai bercerita.
Aku berasal dari Benua permata hijau, dan disana aku merupakan seorang kaisar terbesar di benua itu, yaitu kekaisaran Phoenix.
Aku mempunyai 4 istri disana, yang membuat hari-hariku sangat bahagia, aku kemari untuk mencari tumbuhan kristal penumbuh roh karena aku sangat memerlukannya, jika putri Bilqis mengetahui jika aku telah mempunyai 4 istri, dia pasti akan tersakiti dan seperti di bohongi olehku, apalagi statusnya merupakan seorang putri dari kerjaan yang sangat besar seperti kerajaan cahaya nirwana ini, sehingga aku memutuskan untuk tak bersamanya ucap Yan Lan mengakhiri ceritanya.
Mendengar cerita itu, Cencen tak langsung percaya dengan perkataan Yan Lan, bisa saja Yan Lan berbohong untuk menutupi kesalahannya karena telah menolak Putri Bilqis, Cencen pun terdiam.
"Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu sekarang," ucap Yan Lan sambil mengeluarkan lencana kerajaannya dari dalam cincin ruang yang dimiliki olehnya.
Cencen baru menyadari jika Yan Lan mempunyai cincin ruang yang begitu sangat langka yang berada di dunia ini, dan betapa terkejutnya Cencen Melihat lencana yang di keluarkan oleh Yan Lan, yang merupakan lencana seorang raja.
Tubuh Cencen bergetar melihat lencana yang dikeluarkan oleh Yan Lan, perasaannya kini bercampur aduk antara senang dan rasa takut.
Senang mengetahui Yan lan adalah seorang kaisar, dan takut karena telah berkata lancang kepadanya.
"Tak kusangka tuan muda Yan Lan merupakan seorang Kaisar besar," batin Cencen.
"Maafkan atas tindakan ceroboh ku yang mulia, semua itu kulakukan karena aku tak mengetahui jika tuan muda adalah seorang Kaisar," ucap Cencen.
"Sudahlah, aku tak mempermasalahkannya, aku malah senang jika kau tetap memanggilku tuan muda dari pada yang mulia," jawab Yan Lan.
"Kau telah menganggapku saudara tuan muda, maka aku ingin mendengar jawaban dari hatimu yang terdalam, apakah kau mencintai putri Bilqis?" tanya Cencen sambil menatap tajam ke arah Yan Lan.
Terlihat Yan Lan menarik napas dalam dalam, dan menghembuskannya keluar secara perlahan-lahan. "Walaupun aku mencintainya, semua itu tak akan merubah keadaan karena aku telah berjanji pada sang ratu untuk tidak mencintainya," jawab Yan Lan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengetahui apakah kau mencintai putri Balqis?" ucap Cencen mengulangi pertanyaannya.
Kini giliran Yan Lan yang menatap ke arah Cencen. "Aku mencintainya," ucap Yan Lan singkat.
"Bagus..!! hanya itu yang ingin ku ketahui darimu tuan muda," ucap Cencen kembali.
*****
Di dalam sebuah ruangan yang megah, yang dikelilingi oleh taman nan indah dengan berbagai macam bunga yang bermekaran di sana, serta beberapa kolam ikan yang dipenuhi ikan berwarna warni di dalamnya, tampak seorang gadis tengah menangis meratapi nasibnya di atas pembaringan.
Dia adalah putri Bilqis, yang kini tengah bersedih karena penolakan yang dilakukan oleh
Yan Lan di hadapan ibunya.
Akhirnya timbul rasa benci yang begitu kuat di hatinya, dan tak ingin lagi bertemu dengan Yan Lan.
"Aku membencimu kak Yan Lan, kau bukanlah seorang raja, atau pun anak bangsawan tapi mengapa kau menolakku!!" teriak putri Bilqis melampiaskan kekesalannya dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
*****
Keesokan paginya, Yan Lan dan Cencen berjalan jalan di sekitar istana, dan tiba tiba saja ada suara yang memanggilnya.
"Bukankah kamu yang bertarung di Mistik gold waktu itu bukan?" tanya anak laki laki itu.
"Benar," ucap Yan Lan sambil tersenyum padanya.
"Aku ingin kau mengajariku tehnik pedang," pintanya.
"Baik, tapi aku ingin melihat tehnik pedang yang telah kau pelajari sebelumnya," jawab Yan Lan.
"Aku akan memperlihatkannya padamu," ucap anak kecil yang tak lain adalah pangeran Zheng Bil Ang.
Mereka berenam akhirnya pergi ke tempat di mana terdapat ruang latihan pangeran berada.
Pangeran langsung memperagakan tehnik pedang yang diajarkan oleh ayahnya, dan Yan Lan pun memperhatikannya dengan seksama.
"Anak ini sangat jenius, dengan umurnya yang semuda ini dia dapat menggunakan tehnik pedang dengan sempurna," batin Yan Lan.
__ADS_1
"Bagai mana menurutmu?" tanya pangeran.
" Tidak buruk, kau melakukannya dengan sempurna, tapi ada kekurangan di dalam gerakan mu, kau tak memiliki jiwa pedang di dalamnya," jawab Yan Lan.
"Dapatkah kau mengajarkanku tehnik berpedang?" tanya pangeran.
"Aku akan mengajarkanmu satu tehnik pedang, yaitu Tehnik bayangan pedang. tehnik ini terbagi dalam 3 tingkatan yaitu bayangan pedang bumi, bayangan pedang awan dan bayangan pedang langit, kau juga boleh mempelajarinya Cencen," ucap Yan Lan.
"Baik tuan muda, aku akan mempelajarinya," jawab Cencen.
Hari itu Yan Lan mengajarkan tentang jiwa yang ada di dalam pedang, dan bagaimana cara melakukan kultivasi agar dapat menguasai jiwa atau roh pedang.
"Pangeran, sudah waktunya kau beristirahat, aku akan menunggumu besok disini untuk belajar tehnik bayangan pedang," ucap Yan Lan.
"Baik!!" ucap pangeran singkat.
Sambil menunggu raja Zheng long selesai melakukan kultivasi nya, Yan Lan mencari kesibukan dengan mengajarkan pangeran dan Cencen tehnik bayangan pedang.
Sudah dua Minggu berlalu, belum juga ada tanda tanda raja Zheng long selesai melakukan kultivasinya, dan dalam waktu dua Minggu itu, putri Bilqis tak pernah datang menemui Yan Lan.
Di tempat latihan sang pangeran.
"Cencen dan pangeran Zheng Bil Ang, kalian berdua telah menguasai tehnik pedang bayangan, aku ingin mencoba tehnik pedang itu denganmu pangeran," ucap Yan Lan.
"Baik kak Yan Lan, aku akan mencoba bertarung denganmu," jawab sang pangeran.
Yan Lan dan pangeran terlibat pertarungan yang sengit, sang pangeran terus melakukan serangan dengan teknik yang telah diberikan Yan Lan padanya.
Pedang ditangan pangeran berkelebat sangat cepat, begitupun dengan gerak tubuhnya yang kini hanya terlihat bayang-bayang yang berkelebat saja.
Dan pada akhirnya sang pangeran menggunakan teknik pedang bayangan langit, yang mempunyai teknik pamungkas di dalamnya.
Ribuan bayangan seketika muncul seiring dengan pergerakan pangeran yang semakin cepat, bayangan pedang itu seketika menyerang Yan Lan dengan sangat ganas, dan pada akhirnya pangeran menebaskan pedangnya ke depan, maka ribuan pedang langsung tertuju pada satu titik yaitu tubuh Yan Lan.
Dengan menggunakan teknik ruang dan waktu, Yan Lan berhasil lolos dari serangan sang pangeran, akan tetapi efek yang ditimbulkan dari serangan pangeran itu sangat luar biasa, dinding bangunan tempat latihan pangeran hancur berantakan yang menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat.
Seketika para prajurit yang ada di tempat itu segera menuju ke lokasi ledakan, begitupun Putri Bilqis yang ada bersama Erlang Mo segera melesat menuju ke tempat ledakan dan runtuhan bangunan.
__ADS_1
Tak hayal lagi, ledakan yang terjadi akibat teknik pedang yang dikeluarkan oleh pangeran, membuat keramaian di sekitar tempat itu.
"O...o.., pantas saja, kau rupanya, sudah di berikan penginapan gratis di istana, kau malah merusak bangunan di sini, dasar tak tau berterimakasih..!!" hardik Erlang Mo dengan amarah yang masih membara di dadanya, melihat siapa yang telah membuat keributan itu.