
Dalam pekatnya malam sebuah bayangan berkelebat cepat menuju ke guild cahaya berada. Dia seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Yan Lan.
Sepanjang perjalanannya tak satupun penerangan dari setiap rumah yang di jumpai nya. Pasar yang selalu rame di waktu malam, kini bagaikan pemakaman yang sepi dari kehidupan.
Yan Lan terus melesat cepat hingga sampai di depan guild cahaya berada. Di arel guild cahaya tampak terlihat sepi, biasanya banyak terdapat para pedagang yang menginap di tempat itu untuk menjajakkan barang dagangannya di ke esokan harinya, kini tak ada satu orang pun yang terlihat di tempat itu.
Yan Lan mencoba memasuki halaman terdekat guild, akan tetapi sebuah pelindung yang sangat kuat dan kasat mata telah menghalangi langkahnya.
"Aku tak bisa memaksa masuk, karena akan mancing para anggota guild cahaya untuk menyerangku, lebih baik aku menunggu sampai esok pagi dan malam ini lebih baik aku beristirahat sejenak di tempat ini untuk memulihkan diri," batin Yan Lan.
Yan Lan segera mencari tempat dan melakukan kultivasi di tempat itu.
Ke esokan paginya, udara dingin telah berganti dengan hangatnya sinar matahari, Yan Lan perlahan membuka matanya dan menatap kearah bangunan megah guild cahaya berada.
Tak terlihat tanda tanda kehidupan di dalamnya yang membuat Yan Lan mencerna keadaan yang ada.
"Sepertinya mereka semua sengaja berdiam di dalam sana akibat perang yang terjadi," batin Yan Lan.
Yan Lan berjalan ke arah pintu gerbang, dengan mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, Yan Lan pun berteriak.
"Ling Ling aku ingin bertemu denganmu".
Suara Yan Lan menggema di dalam bangunan besar guild cahaya dan sampai ketelinga Menejer Ling Ling.
Ling Ling yang mengetahui jika pemilik suara itu adalah Yan Lan, dengan segera menuju kearah pintu gerbang guild cahaya.
"Yan Lan sudah lama kita tidak bertemu," ucap Ling Ling sambil membuka pelindung guild cahaya.
Yan Lan melangkah masuk kedalam dan berhadapan langsung dengan Menejer Ling Ling.
"Aku menemuimu untuk menepati janjiku agar bisa meminum anggur bersamamu," jawab Yan Lan berbasa basi.
Yan Lan lalu dibawa oleh Ling Ling kesebuah ruangan yang megah dengan berbagai pernak pernik mahal di dalamnya.
"Duduk lah Yan lan, aku akan membawakan mu anggur," ucap Ling Ling sambil pergi meninggalkan Yan Lan.
Tak lama Ling Ling membawa tiga buah guci kecil berisikan anggur dan buah gelas kosong yang berada diatas nampan yang berada di dalam genggaman tangannya.
Tak lama Ling Ling duduk di samping Yan Lan kemudian menuangkan anggur kedalam gelas kosong yang di bawanya.
__ADS_1
"Silahkan," ucap Ling Ling.
Tanpa ragu Yan Lan meneguk gelas berisi anggur tanpa tersisa sedikit pun.
"Aku rasa kau kesini bukan untuk meminum anggur bersamaku, tapi ada hal penting lainya yang ingin kau tanyakan padaku, coba katakan siapa tau aku bisa membantumu," ucap Ling Ling kembali.
"Aku sedang mencari keluarga patriack sekte yang selamat dari pertempuran, termasuk istri dan putri tunggal patriack sekte Pingyin Qin," jawab Yan Lan.
"Maksudmu nyonya Lin Tiar cie dan putrinya Qian Qin?" tanya Ling Ling.
"Betul sekali, mereka berhasil selamat dari pertempuran dan sekarang pergi entah kemana, apakah mereka berdua berada disini?" tanya Yan Lan yang balik bertanya.
"Mereka berdua tak ada disini," jawab Ling Ling.
"Jika begitu aku akan mencarinya kembali, aku masih utang minum denganmu, setelah aku menemukan mereka berdua aku akan kembali minum bersamamu," ucap Yan Lan sambil pergi meninggalkan Ling Ling yang diam terpaku.
Sepanjang perjalanan, Yan Lan berfikir keras akan keberadaan ke dua wanita itu, dan pada akhirnya Yan Lan menemukan titik terang.
"Pasti mereka berdua kesana," batin Yan Lan.
Dengan cepat Yan Lan masuk ke dalam hutan, menerobos pepohonan dan semak belukar yang terdapat di sana, hingga Yan Lan berhenti pada dua buah pohon yang besar dan rimbun di hadapannya.
Qian Qin beserta Lin Tiar cie dan Mo Chi tersentak kaget setelah mendengar suara menggema ditempat mereka berada.
"Yan Lan...!! ini benar suara Yan Lan," teriak Mo Chi kegirangan.
"Qian Qin yang selalu murung seketika ceria kembali, dengan cepat Qian Qin berlari menuju kearah portal masuk ketempatnya berada.
Sementara itu Lin Tiar cie hanya bisa memandangi putrinya yang lagi kasmaran dengan senyum penuh arti.
Setelah segel portal di buka maka tampak seraut wajah tampan terlihat di sana. Qian Qin tanpa malu malu lagi langsung memeluk Yan Lan, ketegaran hatinya pun luntur, tangisnya pun pecah di dada bidang Yan Lan.
Yan Lan membawa Qian Qin masuk kedalam Alam mutiara naga. Setelah keadaan Qian Qin tenang Yan Lan lalu menceritakan keadaan sekte dan patriack Pingyin Qin ayahnya.
Tangis Qian Qin pecah kembali setelah mengetahui ayahnya telah mati dan pembunuhnya adalah Yan Lan kekasihnya sendiri.
Melihat putrinya seperti itu, Lin Tiar cie akhirnya angkat bicara.
Diapun menceritakan semua yang telah terjadi pada dirinya, ayah Qian Qin dan saudara kembarnya yang diakui Qian Qin sebagai ayah.
__ADS_1
Akhirnya Qian Qin mencerna perkataan ibunya, dan mengerti betapa selama ini ibunya telah banyak menderita dan berkorban agar dirinya bisa tumbuh besar seperti sekarang, tanpa di rendah kan oleh siapapun karena tidak mempunyai ayah.
"Kita tidak usah lagi membahas itu semua Qian er, yang terpenting sekarang bagaimana kita bisa membangun kembali sekte seperti sediakala, dan bagai mana mewujudkan rencana baik hubunganmu dengan Yan Lan agar bisa dapat diresmikan secepat mungkin," ucap Lin Tiar cie.
Mendengar perkataan ibunya, wajah Qian Qin berubah memerah, dia hanya tertunduk dan tak dapat menatap wajah Yan Lan yang berada di dekat nya.
"Bagai mana jika acara pernikahan kalian di selenggarakan di tempat ini, biar aku dan Mo Chi yang jadi saksinya," ucap Lin Tiar cie.
"Semua terserah tetua saja, karena aku sudah berjanji akan menikahi Qian er," jawab Yan Lan.
"Bagus, aku akan menikahkan kalian besok, dan malam ini kalian berdua bisa berbicara dari hati ke hati," ucap Lin Tiar cie sambil mengajak Mo Chi pergi dari tempat itu.
Setelah kepergian Lin Tiar cie, Yan Lan mengajak Qian Qin ke tepi danau yang berada tak jauh dari tempat itu. Qian Qin yang belum pernah jatuh cinta pada seorang pemuda, begitu sangat bahagia dan nyaman dengan keberadaan Yan Lan disisinya.
Yan Lan dan Qian Qin duduk di akar pohon besar bernaung kan rimbunnya daun pohon di tempat itu.
"Qian er, sebelum kau menikah denganku, aku akan jujur tentang diriku, apapun yang nantinya akan terjadi, semua itu tergantung denganmu," ucap Yan Lan.
"Apa yang ingin kau katakan kakak Yan Lan, aku akan mendengarkannya," jawab Qian Qin.
"Aku bukan lahir dan besar di daratan puncak Awan langit, aku berasal dari benua permata hijau yang di tugaskan oleh leluhurku untuk meningkatkan kekuatan di dalam kolam janin suci," ucap Yan Lan.
Seketika wajah Qian Qin berubah.
"Bagaimana kau bisa melewati pembatas antara ras manusia dan ras manusia setengah peri sepertiku?" tanya Qian Qin.
"Leluhurku selain seorang pemimpin dari ras manusia, salah satunya juga berasal dataran puncak Awan langit, namanya adalah Kumala Xie," jawab Yan Lan.
"Berarti Kumala Xie, si jenius dari puncak Awan langit merupakan leluhur Yan Lan, pantasan dia bisa masuk ke puncak Awan langit tanpa hancur menjadi debu," batin Qian Qin.
Tiba tiba saja Yan Lan memegang kedua tangan Qian Qin.
"Qian er kau bisa membatalkan pernikahan kita kapan pun kau mau, karena ada hal besar yang selama ini kusimpan dan tak pernah kau ketahui," ucap Yan Lan.
"Maksud kak Yan Lan?" tanya Qian Qin.
"Di benua permata hijau aku sudah mempunyai 3 istri," ucap Yan Lan kembali.
"Apa..?!!" pekik Qian Qin.
__ADS_1
Bersambung...