
Setelah terjadi ledakan dan dan tewasnya penyihir berjubah hitam, Yan Lan kembali menyusun rencana dan juga sedikit memberi beberapa saran agar seluruh anggota yang ada, bisa memahami betapa pentingnya kerjasama dalam kelompok dan bahayanya suatu kecerobohan.
"Untuk saat ini, kita akan beristirahat di tempat ini, jangan sampai ada yang melewati garis yang kubuat apa pun yang terjadi, karena para petinggi penyihir kegelapan pasti akan datang ketempat ini, mengingat salah satu anggotanya telah kita bunuh," ucap Yan Lan.
Dengan menggunakan tombak penguasa semesta, Yan Lan membuat lingkaran mengelilingi semua rombongannya, stelah itu diapun berkata, "Garis ini merupakan salah satu tehnik yang di miliki tombak ini, walaupun penyihir kegelapan yang datang, dia tak akan mampu menembus keberadaan kita, garis ini akan melindungi kita yang berada di dalamnya dari penglihatan para penyihir, sedari itu beristirahat dan pulihkan diri kalian," ucap Yan Lan kembali.
Yan Lan datang menghampiri Putri Limudza yang berada di samping Draco yang sedang melingkarkan diri.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yan Lan.
"Draco sedang terluka, aku telah memberikannya pil dan sekarang ini dia sedang berkultivasi untuk melakukan penyerapan pil dalam menyembuhkan luka lukanya," jawab putri Limudza.
Yan Lan memperhatikan tubuh Draco, dan tampak terlihat olehnya beberapa bagian dari kulit tubuh Draco terbakar, hingga memperlihatkan daging disela sela kulit terbakar yang ada di tubuhnya.
Yan Lan menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan, sambil berkata "Li er, kita sangat membutuhkan tenaga Draco dalam pertarungan dengan para penyihir, karena para penyihir banyak menggunakan tehnik ilusi, sementara aku sendiri walaupun tak berpengaruh pada ilusi, tapi aku tak bisa menghilangkan ilusi itu untuk kalian semua, hal itu akan membuat konsentrasi ku hilang karena mengingat keselamatan dari rombongan ini," ucap Yan Lan.
"Kau jangan terlalu memikirkannya kak Yan Lan, Draco akan baik baik saja dan bunga teratai nirwana yang kita cari, akan segera kita dapatkan," jawab putri Limudza untuk menenangkan Yan Lan.
"Trimakasih Li er, pergilah untuk memulihkan kondisi tubuhmu, biar aku yang menjaga Draco," ucap Yan Lan.
"Baik kak Yan Lan," ucap putri Limudza sambil berdiri dan melangkah pergi untuk mencari tempat bagi dirinya dalam melakukan kultivasi, di dalam lingkaran yang di buat Yan Lan.
Setelah beberapa saat berlalu, di saat semuanya tengah melakukan kultivasi, Yan Lan melihat kelebatan 3 sosok misterius yang berpencar dari segala arah.
Melihat hal itu, Yan Lan tetap diam ditempatnya sambil memasang kewaspadaannya.
Diapun mendengar percakapan yang terjadi diantara ketiganya.
__ADS_1
"Kak Lewang, aku tak bisa mendeteksi keberadaan mereka yang telah membunuh adik kita, tapi aku merasa mereka belum jauh dari sini tapi mengapa sihirku tak bisa merasakan keberadaannya," ucap seorang penyihir yang bernama Lewung.
Apa kau juga tak bisa merasakan keberadaan mereka Lewong?" tanya Lewang.
Aku juga tak dapat merasakan kehadiran mereka kak Lewang, sepertinya mereka memasang sebuah perisai pelindung yang sangat kuat yang tak dapat kita tembus oleh kekuatan pendeteksi kita," jawab Lewong.
Lewang terdiam sesaat, dan mencerna keadaan yang ada diapun mengeluarkan bola kristal sebesar bola kaki dari dalam kotak penyimpanannya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan bola kristal sihir itu kak Lewang?" tanya Lewung.
"Aku akan menghancurkan seluruh hutan ini, aku ingin melihat apakah mereka masih sanggup untuk bersembunyi!!" jawab Lewang.
Yan Lan yang sedari tadi menyimak pembicaraan para penyihir, dibuat gelisah dengan perkataan penyihir yang bernama Lewang, yang ingin menghancurkan hutan tempat di mana dirinya dan rombongannya berada.
"Aku harus membawa ketiga penyihir itu menjauh dari tempat ini," bisik Yan Lan sambil menatap kearah rombongannya yang sedang melakukan kultivasi.
Lewang yang tengah memegang bola kristal sihir, seketika menghentikan kegiatannya karena merasakan kehadiran Yan Lan, dengan cepat Lewang melesat pergi meninggalkan tempat untuk mengejar Yan Lan.
Sebelum Lewang pergi, dia menyempatkan berteriak kepada ke dua saudaranya.
"Ikuti aku!!" teriaknya, yang menimbulkan pertanyaan di hati kedua saudaranya, mengapa kakak pertamanya begitu sangat tergesa gesa melesat cepat kearah depan.
Mendengar teriakan kakak pertamanya, Lewong dan Lewung segera melesat cepat mengikuti Lewang dari belakang.
Sementara itu, Yan Lan yang telah merasa jauh dari rombongannya berada, akhirnya menghentikan larinya dan menunggu kedatangan ketiga penyihir yang mengejarnya.
Tak lama berselang, ketiga penyihir itupun tiba dan menatap tajam kearah Yan Lan, Yan Lan yang ditatap dengan sedemikan rupa, membalas menatap ketiganya dengan tatapan dingin tanpa expresi.
__ADS_1
"Apakah kau yang telah membunuh saudaraku!!?" tanya salah seorang penyihir.
Yan Lan tak menanggapi perkataan penyihir itu, yang membuat ke tiga penyihir menjadi murka.
Tanpa basa basi, ketiga penyihir itu langsung menyerang Yan Lan dengan memakai tongkat yang gagangnya berbentuk berkepala ular kobra.
Yan Lan tak tinggal diam, dengan menggunakan tombak penguasa semesta, Yan Lan membalas serangan ke tiga penyihir yang menyerangnya, hingga jual beli serangan pun terjadi.
Walaupun Yan Lan di keroyok oleh ketiga penyihir, tak sedikit pun Yan Lan terlihat terdesak, malahan Yan Lan sanggup untuk meladeni serangan mematikan dari ketiga penyihir itu.
Melihat pemuda yang diserangnya sanggup bertahan dari gempurannya, Lewung segera mundur dari arena pertarungan dan dengan curang dia melesakkan serangan tersembunyi lewat tehnik petir yang di gunakannya.
Petir besar langsung menyambar tubuh Yan lan, akan tetapi sebelum petir itu mengenai Yan Lan, jiwa tombak penguasa semesta serta merta keluar dan menangkis petir besar yang mengarah kepada Yan Lan, hingga Yan Lan selamat dari sambaran petir.
Mengetahui jika salah seorang penyihir telah berlaku curang, dengan tehnik ruang dan waktu yan Lan berhasil mendekati Lewung dan menghantamkan api inti neraka tubuhnya, lewat perantara telapak tangan Yan Lan yang melesak tepat ketubuh Lewung.
Api hitam seketika membakar tubuh lewung yang membuat teriakan menyayat hati keluar dari mulutnya, melihat hal itu kedua saudaranya langsung menghampiri Lewung.
"Lewong jangan sentuh dia, api itu juga bisa membakar mu," teriak Lewang.
Lewong seketika mengurungkan keinginannya untuk menolong adiknya yang terus terbakar hingga menjadi debu.
"Kurang ajar, dia membakar adikku hingga jiwanya pun ikut terbakar," batin Lewang dengan dendam membara di dadanya.
Apa yang terjadi pada Lewung membuat kedua penyihir itu langsung mengeluarkan kekuatan terkuat yang di milikinya.
"Lewong, kita akan membalaskan kematian adik kita yang telah mati di tangannya," ucap Lewang.
__ADS_1
"Baik kak Lewang, aku juga sudah tak sabar untuk segera menghabisinya!!" jawab Lewong dengan amarah yang semakin menjadi jadi.