
Yan Lan terus berjalan hingga mereka melihat sebuah tugu yang menjulang ke langit, akan tetapi sebelum Yan Lan mendekati tugu itu, seketika udara di tempat itu berubah menjadi menyesakkan dada.
"Tuan muda cepat menyingkir dari tempat ini, udara yang ada telah bercampur dengan racun," teriak biyao.
"Aku tidak boleh mundur dari tempat ini, karena selangkah lagi aku bisa menggapai tugu itu, tapi bagai mana caranya aku kesana," batin Yan Lan.
"Biyao adakah cara lain untuk menembus kabut racun tanpa warna itu?" tanya Yan Lan.
Tuan muda racun ini sungguh sangat kuat, Aku pun tak mampu mengatasinya," jawab biyao.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? tanya Yan Lan kembali.
"Ada baiknya kita mundur sesaat mencari tempat yang lebih aman untuk kita mencari solusi dalam memecahkan masalah ini," ucap biyao.
"Kalau begitu baiklah biyao," ucap Yan Lan.
Setelah mendapatkan tempat yang aman dari racun tanpa warna yang berada di tugu, Yan Lan dan Biyao mulai mendiskusikan masalah racun itu.
Di saat yang genting itu, tiba tiba Yan Lan teringat akan pil obat pemberian Ming Sin Si sewaktu akan memasuki hutan larangan klan Ming.
"Biyao apakah kau mengetahui tentang pil ini?" tanya Yan Lan.
Biyao segera memperhatikan pil yang berada di tangan Yan Lan.
Tuan muda, ini adalah penawar racun tanpa warna yang ada di tugu itu, setelah menelannya tuan muda tak usah khwatir lagi dengan keberadaan racun di tugu itu," jawab Biyao.
Tiba tiba saja Yan Lan terdiam, ada sesuatu yang mengganjal hatinya saat ini. Melihat hal itu biyao pun mempertanyakannya pada Yan Lan.
"Tuan muda apakah yang sedang anda pikirkan, hingga membuat perubahan pada wajah anda?" tanya Biyao.
Yan Lan menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan.
"Biyao sebentar lagi aku akan masuk kedalam sekte naga di atas awan, tugu itu akan mengantarkan aku ke perbatasan sekte, di mana batas antara sekte dan daratan benua permata hijau terdapat sebuah pelindung bagi sekte naga di atas awan yang mana jika selain darah setengah peri, tubuh orang yang akan masuk ke dalam area sekte akan hancur menjadi debu walau pun itu adalah praktisi beladiri tingkat tinggi yang berupa roh," ucap Yan Lan.
Biyao mengerti apa yang sekarang di pikirkan oleh tuan mudanya saat ini, dan tak masalah baginya jika tuan mudanya akan meninggalkan dirinya.
"Tuan muda berangkatlah kesana, aku akan menunggumu di benua permata hijau hingga tuan muda kembali.
__ADS_1
Melihat kesungguhan hati Biyao, Yan Lan merasa tak tega untuk meninggalkannya.
"Aku akan mengenalkan mu dengan Leo, dia adalah sahabatku sama sepertimu," ucap Yan Lan.
Tak lama berselang Leo pun muncul setelah di panggil oleh Yan Lan.
Betapa terkejutnya Biyao melihat binatang surgawi dengan tubuh emas yang kini berada di hadapannya, Biyao pun mundur beberapa langkah kebelakang dengan sikap waspada.
"Leopard ini sungguh mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, jika aku bertarung dengannya maka dapat di pastikan dialah yang akan menjadi pemenangnya," batin Biyao.
"Leo ini Biyao sahabatku, dan Biyao ini Leo sahabatku, aku sengaja mengenalkan kalian satu sama lain karena kalian berdua terikat kontrak darah denganku," ucap Yan Lan.
"Biyao apa kabar? tanya Leo.
"Ba..ba..baik" jawab Biyao gugup.
Melihat kecanggungan di antara mereka berdua, Yan Lan pun hadir sebagai penengah dan tak berapa lama Biyao dan Leo pun mulai akrab.
"Leo aku ingin kau membawa biyao ke dalam alam batinku, jika suatu hari aku dalam kesulitan aku minta pada kalian berdua untuk membantuku," ucap Yan Lan.
Setelah berpamitan Biyao dan leo menghilang dari pandangan dan masuk ke alam batin Yan Lan.
Kini Yan Lan memandangi tugu yang berdiri kokoh itu dari kejauhan.
"Aku harus secepatnya menuju ke tugu itu," batin Yan Lan.
Yan Lan segera menelan sebuah pil pemberian dari Ming Sin Si dan duduk bersila untuk melakukan penyerapan intisari pil.
Setelah di rasa cukup, Yan Lan langsung melesat ke arah tugu yang selama ini di carinya.
Yan Lan tersenyum lega karena racun tanpa warna yang menyebar di udara tak berefek padanya.
"Akhirnya tugu ini berada di hadapanku," bisik Yan Lan.
Yan Lan segera mengaktifkan mata langitnya dan segera menggunakan tehnik gerbang ruang dan waktu, sambil menempelkan kedua telapak tangannya di tugu yang berada di hadapannya.
Seketika itu Yan Lan pun menghilang, dan dari atas tugu muncul cahaya yang dengan cepat melesat keatas langit.
__ADS_1
Cahaya itu nampak jelas terlihat dari dalam klan Ming, yang membuat ketua Ming Chi Sun tak dapat lagi mengontrol amarahnya.
Ketua Ming Chi Sun mengamuk sejadi jadinya dengan menghancurkan apapun yang ada di dalam ruangan tempatnya berada sambil berteriak sekencang kencangnya.
"Yan Lan...!! tunggulah pembalasanku!!".
*****
Yan Lan yang berada pada dimensi ruang, akhirnya terdampar pada sebuah tempat di kaki gunung.
"Apakah ini yang dimakan pegunungan Awan langit?" tanya Yan Lan dalam hati.
Dengan semangat yang ada dalam dirinya, Yan Lan mulai menaiki gunung itu dan pada akhirnya.
"Ackh..."
Seperti di sengat oleh aliran listrik, Yan Lan berteriak sekuat kuatnya, tubuhnya jatuh lemas dan tak sadarkan diri.
Yan Lan terbangun dan melihat dirinya sedang berada pada sebuah ruangan yang di penuhi oleh berbagai macam ramuan herbal.
"Di mana aku?" batin Yan Lan.
"Kau sudah bangun anak muda!?" tanya seorang laki laki paruh baya.
Yan Lan hanya terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya.
"Kau sudah dua hari tak sadarkan diri, ini makanlah dulu, aku akan meninggalkanmu untuk meramu pil obat," jawab lelaki paruh baya itu.
Yan Lan menganggukkan kepalanya untuk yang kedua kalinya.
"Paman di apakah nama tempat ini?" tanya Yan Lan.
"Kau sangat aneh anak muda!!, berada di sekte naga diatas awan pun kau tak tau?" jawab lelaki tua itu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Yan Lan.
Seketika Yan Lan merasa senang dengan perkataan dari lelaki paruh baya itu.
"Akhirnya aku telah sampai ke sekte Naga diatas Awan," bisik Yan Lan.
__ADS_1