Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 10 Teman


__ADS_3

Dua orang duduk bersama sedang meminum teh di sebuah ruangan. Ruangan Permaisuri yang megah. Seorang pria datang duduk di antara mereka. 


"Sudah lama sekali aku tidak datang ke istana." Pria berambut putih yang panjang dan mata hijau menyibakkan rambut dengan tangannya.


"Terima kasih sudah datang, Dale," jawab Leticia.


Dale adalah pemimpin penyihir menara. Ia merupakan rakyat jelata seperti Rose. Mereka berdua adalah teman akrab Leticia.


"Bagaimana kabar Judith, Leticia?" tanya Rose.


"Dia baik-baik saja. Aku sudah memecat guru-gurunya. Sekarang aku yang mengajari semuanya." Leticia tersenyum dengan lembut kepada Rose.


Tanda tanya besar muncul di kelapa Dale. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua wanita itu. "Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi? Apakah ini ada alasannya kau mengundangku Leticia?"


"Benar, Dale. Ceritanya cukup panjang," ujar Leticia.


Leticia menceritakan tentang hubungan Braun dan Charlotte di masa lalu. Obat kesuburan yang ternyata membuat Leticia mandul. Begitu pula, masalah guru-guru Judith yang sering menguhukumnya dan mengajarkan hal salah. Ia juga menceritakan hubungan ayahnya dan Braun dengan kematian Kaisar sebelumnya.


Rose menatap tajam Leticia, karena ternyata Leticia masih menyembunyikan sesuatu darinya. Leticia meminta maaf karena ingin menceritakan semuanya saat mereka bertiga berkumpul.


"Ini gila, benar-benar gila," suara Rose terdengar lirih. Ia memegangi kepalanya.


"Bagaimana kau bisa bertahan di istana selama ini, Leticia?" tanya Dale.


"Kalau bukan karena Judith aku tidak akan bertahan." Leticia menghela napas.


"Jadi apa yang akan kau lakukan Leticia?" tanya Rose.


"Aku ingin terbebas dari istana ini. Aku merasa terkekang. Hidupku dan Judith tidak aman lagi." Leticia mengepalkan tangannya erat-erat. Kedua alisnya berkerut. "Tetapi, aku tidak tahu bagaimana perasaan Judith. Aku takut jika kami pergi ia tidak bisa meninggalkan kehidupan istana yang mewah," lanjut Leticia.


"Apa pun yang kau lakukan, Judith pasti mendukungmu Leticia." Rose menggenggam tangan Leticia. Wajah Leticia yang tegang berubah menjadi lebih tenang. Semua beban yang ada pundaknya terasa hilang satu persatu.


"Itu benar. Tidak mungkin Judith akan memilih bersama Kaisar tidak tahu diri itu," kata Dale kesal. 


"Kau tidak boleh menghina Kaisar di istana." Rose memukul kepala Dale.


"Jadi kau mendukung Kaisar?" tanya Dale sambil memegang kepalanya.


"Aku mengingatkanmu karena mulutmu itu tidak bisa dijaga," jawab Rose ketus.


Leticia tertawa. Kebersamaan mereka bertiga membuatnya melupakan masalah yang menimpanya sejenak. Rose dan Dale tersenyum melihat tawa Leticia. 


"Aku akan balas dendam kepada mereka," ujar Leticia tiba-tiba. Tawanya hilang.


"Dengan cara apa?" tanya Rose.

__ADS_1


"Aku masih memikirkan caranya dengan matang. Aku akan menurunkan Braun dari tahkta."


"Apapun yang kau lakukan, kami akan mendukungmu Leticia," ujar Rose menyakinkan Leticia.


"Itu benar." Dale meletakkan ke dua tangan di bahu Leticia untuk memberi semangat.


Leticia tersenyum. Masih ada orang yang ada di belakangnya siap membantu.


"Aku tidak menyangka hubungan kita bertiga akan seperti ini," celetuk Leticia.


"Apa maksudmu Leticia?" tanya Dale bingung.


"Kalian berdua awalnya memusuhiku bukan?" kata Leticia sambil terkekeh.


"Itu sudah lama sekali," jawab Rose.


"Benar, itu semua salah Rose. Dia mudah salah paham pada seseorang," timpal Dale.


"Tapi, kau juga ikut-ikutan Dale," nada kesal terdengar dari mulut Rose.


Leticia memandang keluar jendela. Saat itu musim semi seperti saat ini. Musim semi yang cerah. Pemandangan masa lalu mulai merasuki tubuh Leticia.


***


Leticia masih bersedih karena tidak bisa membantu temannya. Keluarga sahabatnya terkena masalah. Mereka meminta bantuan pada ayahnya. Namun, ayahnya tutup mata pada masalah mereka. 


Leticia tidak mendengar lagi kabar dari sahabatnya. Leticia menyendiri di kamar selama beberapa hari. Ia baru mau keluar ke ibu kota karena bujukan ibu asuhnya. 


Ada festival yang diadakan di ibu kota. Semua hiruk pikuk yang ada di kota tidak membuat pikiran Leticia membaik. Ia pergi dari pengawasan pengawal dan ibu asuhnya.


Leticia sampai pada sebuah gang yang sepi. Ia melihat dua orang anak yang tersungkur dipukul oleh sekumpulan anak-anak. Leticia mendekati mereka. Ia melindungi ke dua anak itu. Memukul semua mereka hingga lari. 


Tubuh Leticia kuat karena ia sering berlatih pedang dengan temannya walaupun Duke Hilbright melarangnya. Mengalahkan anak-anak yang menindas orang lain bukan masalah baginya. Mereka hanyalah orang lemah yang suka berdiri diatas penderitaan orang lain.


Leticia mengulurkan tangannya kepada dua anak itu. Anak perempuan menampik tangan Leticia. Leticia terkejut memegangi tangannya yang terasa sakit.


"Aku tidak butuh bantuan dari bangsawan sepertimu!" teriak anak perempuan.


Sorot matanya terlihat tajam. Ia menggertakkan giginya. Anak laki-laki menatap Leticia dengan tidak bersahabat. 


"Kami tidak butuh dikasihani. Kami bisa menjaga diri kami sendiri. Pergilah!" Anak laki-laki itu mengeluarkan sebuah bola api dari tangannya. 


Mata Leticia melebar melihat hal itu. Ia memang merasa sakit hati karena pertolongannya ditolak, tetapi pemandangan yang ada di depannya lebih menakjubkan. Seorang rakyat jelata bisa menggunakan menggunakan sihir. Ini bukanlah hal yang lumrah. Ia adalah anak yang berbakat. Namun, bakatnya akan sia-sia jika masih berada di sini. Anak itu perlu pendidikan yang lebih memadai, yaitu lewat sekolah sihir. 


"Sejak kapan kamu bisa menggunakan sihir?" tanya Leticia kepada anak laki-laki itu.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu."


"Tidak ada gunanya kau peduli terhadap kami bisa menggunakan sihir atau tidak," ujar anak perempuan itu.


"Jadi kamu juga bisa menggunakan sihir?" tanya Leticia pada anak perempuan.


Anak perempuan itu mengeluarkan bola api yang sama dengan temannya. Leticia terkejut melihat bakat yang luar biasa pada rakyat jelata. Leticia memegang kedua tangan anak perempuan itu. Seketika bola api itu sirna.


"Kalian berdua luar biasa. Apakah kalian mau belajar sihir?"


Kedua anak itu saling tatap lalu menoleh ke arah Leticia. 


"Tidak." "Ya."


Jawaban mereka berbeda. Mereka saling melotot satu sama lain. 


Anak perempuan itu menarik tangannya dari Leticia. "Aku tidak mau. Kalau kau mau silakan saja Dale."


Dale yang semula bersemangat ingin belajar sihir menjadi ragu-ragu. 


"Aku akan membayari kalian untuk belajar sihir," kata Leticia dengan yakin.


Uang yang ia gunakan adalah uangnya sendiri. Ayahnya tidak akan menyekolahkan anak-anak yang tidak mempunyai nilai keuntungan. Leticia tidak akan bilang kepada ayahnya.


Dale terlihat tertarik. Berbeda dengan anak perempuan itu, ia terlihat ragu-ragu.


"Tidak ada untungnya kau membantu kami. Tidak ada jaminan pula kau tidak membohongi kami," kata anak perempuan itu.


"Baiklah jika kalian tidak mau. Aku akan menawari anak-anak lain saja." Leticia berpura-pura pergi. 


"Jangan pergi!" Anak perempuan itu menarik lengan Leticia. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Kalian bisa mempercayaiku. Jika aku sampai berbohong atau melukai kalian, kalian bisa membalasnya," kata Leticia meyakinkan mereka.


Dale memegang bahu anak perempuan itu. Memberikan dorongan untuk mempercayai anak bangsawan yang baru ditemuinya.


"Jika bohong maka aku akan membakarmu," ujar anak perempuan itu ketus. Meskipun terdengar sebagai ancaman, anak itu mulai mempercayai Leticia.


"Baiklah. Namaku Leticia." Senyum Leticia kepada mereka.


"Aku Rose."


"Aku Dale."


Begitulah pertemuan pertama mereka. Leticia membantu mereka karena ingin melihat impian mereka terwujud. Sebab ia bahagia melihat orang yang menggapai mimpinya. Bagai mimpinya juga ikut tercapai. Mimpi yang Leticia punya tidak dapat terwujud. Ayahnya tidak ingin anaknya menjadi seorang kesatria. Duke Hilbright ingin anaknya menjadi putri bangsawan yang ikut dalam pergaulan kelas atas.

__ADS_1


Di sisi lain, Leticia ingin mempunyai teman. Ia ingin membantu mereka. Menebus kesalahannya di masa lalu karena tidak dapat menyelamatkan sahabat baiknya. 


__ADS_2