
Pedang beradu di lapangan latihan. Arion menyerang kakaknya dengan hati-hati. Selama ini ia tidak pernah menang sekali pun dari kakaknya. Serangan kakaknya sangat cepat dan tidak mudah ditebak, lengah sekali maka ia akan kalah.
Judith menangkis dan menyerang balik Arion, mencari celah yang sulit dilihatnya. Pertahanannya adiknya semakin membaik, semenjak terakhir kali mereka berlatih tanding. Lama kelamaan Arion bakal mengunggulinya, Judith pun semakin bersemangat menantikan kehebatan Arion.
Gerald sebagai wasit memerhatikan anak-anaknya yang akur ini. Pandangannya teralihkan pada Leticia dan Ariana yang menyaksikan pertandingan di bangku.
Ariana menatap saudara-saudarinya yang hebat. Rasa iri mulai timbul di hatinya. Leticia menggenggam tangan Ariana, sambil mengeluarkan suara.
"Bagaimana keseharianmu di kuil, Ana?"
"Baik, Ibu," jawab Ariana singkat.
Putri keduanya bersikap tertutup di hadapan dirinya. Berbeda dengan putri pertamanya yang selalu menceritakan segala kesehariannya.
Ariana ingin terlihat kuat di hadapan orang lain bahkan keluarganya. Ia tidak ingin menjadi parasit yang selalu menggerogoti keluarganya.
"Ana, jangan anggap Ibu sebagai orang asing," ujar Leticia penuh kelirihan.
Ariana menggeleng pelan menatap ibunya dengan nanar. "Aku hanya tidak ingin membebani Ibu dengan masalahku."
"Tidak apa-apa, itu gunanya keluarga bukan? Ibu akan mendengarkannya meski masalah itu sangat besar." Leticia mengelus-elus pipi putrinya.
"Terima kasih, Ibu." Ariana berusaha tersenyum.
Leticia memeluk putrinya. "Ibu menyayangimu Ana. Tidak pernah sekali pun Ibu membenci atau menyalahkanmu atas kejadian di kerajaan Lortamort. Jadi Ibu mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"Baik, Ibu." Ariana membalas pelukan ibunya, kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan merambat ke seluruh tubuhnya. Ia merindukan pelukan ini.
Pedang terlempar. Judith menodongkan pedangnya pada Arion sambil tersenyum. Arion mengangkat kedua tangannya mengaku kalah.
"Kakak memang hebat, aku tidak akan bisa menang."
"Suatu hari, kamu pasti bisa mengalahkanku, Rion. Perkembanganmu sangat pesat, benar bukan Ayah?" Judith menolehkan kepala pada ayahnya.
Gerald mengangguk. "Benar."
"Rion, Rion, Rion," panggil seorang gadis seumuran dengan Arion yang berlarian ke arah Rion. Gadis itu terengah-engah sambil tersenyum. Tersadar ada orang lain, ia pun menyapa Kaisar dan Judith.
"Salam kepada Kaisar. Kak Judith ternyata berkunjung ke istana. Aku merindukan Kak Judith," kata gadis itu penuh kegirangan sambil memeluk Judith.
Ibu dari gadis itu mendesah berat, menarik anaknya menjauhi Judith. "Beri salam yang benar, Sylvie"
"Maafkan aku, Duchess." Sylvie menunduk sambil mengangkat gaunnya.
Judith terkekeh. "Sudahlah, tidak apa-apa Guru."
__ADS_1
Isabella tersenyum ke arah muridnya. Lalu berpaling ke arah Gerald. "Maafkan atas kelancangan putri saya, Yang Mulia."
"Tidak apa-apa, lagipula mereka saling kenal," balas Gerald menenangkan Isabella.
"Bagaimana dengan kakak? Apa dia juga ke sini?" tanya Sylvie pada Judith.
"Tidak, Flint mengerjakan tugas yang kutinggalkan. Apa dia tidak bilang padamu kalau aku akan berkunjung ke istana, Sylvie?"
"Tidak, dia penuh rahasia," gerutu Sylvie sambil memalingkan wajah. Flint tidak bercerita tentang kepergian Judith ke istana, karena adiknya bakal menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Kedua sudut bibir Sylvie terangkat ke atas melihat Ariana.
"Ternyata Ana ada di sini juga." Sylvie menghampiri Ariana lalu menggandengnya.
"Mumpung kita berkumpul di sini, ayo kita main," ajak Sylvie pada Arion dan Ariana.
"Boleh saja," jawab Arion penuh kesenangan. Sudah lama ia tidak bermain dengan Ariana, hanya saja ia tidak tahu bagaimana caranya. Keberadaan Sylvie membuatnya lebih mudah.
Ariana mengangguk. Mereka pun pergi ke tempat lain, meninggalkan orang mereka dan Judith sendirian. Leticia menghampiri Isabella. Temannya ini tidak lagi menjadi asistennya karena kesibukan Isabella menjadi Countess dan mengurus anak-anak. Terkadang Leticia merindukan bagaimana mereka bisa bertemu tiap hari untuk berbincang-bincang tentang masalah kecil.
"Anak itu benar-benar. Entah mirip siapa dirinya," gerutu Isabella.
Leticia tertawa pelan. "Tidak apa-apa, Sylvie malah bisa mendekatkan Rion dan Ana yang lama tidak berjumpa. Aku malah bersyukur dengan adanya Sylvie."
Isabella menghela napas panjang sambil tersenyum. Pertemanan anak-anaknya dan Leticia menjadi kesempatan Isabella bertemu dengan Leticia disela-sela kesibukannya. Tidak mungkin ia akan menolak permintaan Sylvie yang menggemaskan walau sedikit merepotkan.
"Aku akan berjalan-jalan dulu. Ibu, Ayah dan Guru berbincang-bincang saja." Judith menjauhi mereka sebelum salah satu dari ketiganya menjawab.
"Andalah yang pantas menjadi Kaisar, Tuan Putri."
"Kami akan membantu Anda, Pangeran Rion tidak sehebat Anda."
Kata-kata pendukung Ayah kandungnya terngiang-ngiang di kepala Judith. Ia sudah muak mendengar kata-kata itu. Padahal takhta tidak pernah menjadi impiannya, tetapi kenapa mereka terus memintanya menjadi Kaisar. Bahkan ia sampai menjadi Duchess untuk menyatakan keengganannya menjadi Kaisar, tetapi para penjilat itu tidak mau menyerah.
"Tidak kusangka, kau kemari Judith," sapa seorang wanita.
Judith tersadar dari lamunannya menoleh ke arah suara. Ia tersenyum ke arah wanita dengan jubah penyihir istana itu. "Aku merindukan keluargaku, Bibi Rose."
"Apa kau tidak merindukanku juga? Sejak menjadi Duchess kau jadi sulit ditemui," goda Rose sambil mendekatkan kepalanya ke Judith.
"Tentu saja aku merindukan Bibi. Bibi bisa menemuiku kalau mau."
Judith melanjutkan langkahnya menuju taman di dampingi oleh Rose.
"Bagaimana pemberontakan terakhir?" tanya Rose.
"Sangat mudah tidak ada kendala berarti."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu."
"Ngomong-ngomong di mana Raymond? Aku tidak menemukannya di lapangan latihan."
"Putra semata wayangku itu, tidak ingin menjadi kesatria istana seperti ayahnya. Dia menjadi kesatria suci di kuil." Rose menggeleng-gelengkan kepala sedikit kesal. Ia merasa kesepian, bila anaknya menjadi kesatria melihatnya setiap hari akan menjadi hal mudah. Terkadang ia menyesal tidak membuat adik untuk Raymond.
"Ana tidak pernah cerita kalau Raymond jadi kesatria suci."
"Mungkin mereka tidak pernah bertemu. Ray tidak bercerita tentang Ana juga."
Judith merasa aneh, tetapi pikiran itu dibuangnya jauh-jauh. Perkataan Rose ada benarnya, atau mungkin Ana lupa bercerita.
"Kapan kamu kembali ke kediamanmu, Judith?"
"Beberapa hari lagi, Bibi."
Pandangan Rose teralihkan pada suaminya yang celingukan di taman. Ia langsung merangkul lengan suaminya tanpa peduli keberadaan Judith.
"Kenapa kemari, Sayang?"
"Aku mencari Duchess, Sayang." Dean tersenyum lembut pada Rose.
Begitu tersadar ada Judith, Dean segera menurunkan tangan istrinya. Mereka memang terbiasa bermesraan jika tak ada seorang pun yang melihat. Tetapi, Rose terkadang lupa keberadaan orang lain begitu melihat Dean.
"Maafkan saya dan istri saya, Duchess." Dean tertunduk malu.
"Sudahlah, tidak apa-apa, Sir."
"Pangeran Arion dan Putri Ariana mencari Anda."
"Baiklah." Judith berlalu tak ingin mengganggu pasangan yang seperti pengantin baru itu.
Ariana, Arion dan Sylvie berada di lapangan rumput. Mempertontonkan sihir baru yang diajarkan ayahnya sudah menjadi aktifitasnya ketika berada di istana. Wajah takjub Ariana tak dapat ditutup-tutupi lagi. Lama tidak bertemu, Sylvie pun semakin hebat. Ia pun bertekad akan menjadi lebih kuat lagi.
Judith telah datang, ia disambut oleh ketiga anak-anak itu. Bebannya telah hilang. Inilah yang menyebabkan ingin datang ke istana.
***
Setelah pulang ke kediaman Hillbright.
Kesatria berjajar rapi di lapangan latihan. Mereka adalah calon kesatria baru yang akan diselesi sendiri oleh Duchess Hillbright. Judith berpidato sambil memperhatikan mereka satu persatu. Matanya tertuju pada satu orang. Ia pun turun dari panggung sambil terus berpidato.
"Seorang kesatria harus setia pada Tuannya. Jiwa dan raganya adalah milik Tuannya."
Langkahnya terhenti pada lelaki berambut cokelat muda. Ia menatapnya tajam.
__ADS_1
"Itu yang membedakan kesatria dari prajurit bayaran yang hanya menginginkan uang," sindir Judith.
Leonard mengepalkan tangannya dengan erat. Jalannya menjadi kesatria Duchess tidak akan mudah.