Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 6 Membayar Utang


__ADS_3

Setelah mendatangi markas prajurit bayaran dan menerima uang, Leonard menuju kediaman Count Gail. Ia akan menghamburkan seluruh itu uang pada Count Gail dan terbebas dari jeratan utangnya. Tak perlu bersembunyi atau puj lari lagi. Leonard akan menjadi orang bebas.


Ia tidak disambut dengan ramah di depan kediaman Gail. Leonard tidak terlalu memedulikannya karena dipikirannya hanya ada satu, cepat-cepat memulai hiduo baru.


Leonard menunggu lama untuk bertemu dengan Count Gail. Count ini tanpa meminta maaf duduk di depan Leonard menanyakan maksudnya.


"Apa apa kau datang ke sini?"


Leonard segera mengeluarkan uang-uangnya. "Aku membayar lunas utang ayahku. Hitung saja jumlahnya pasti cukup."


Count menghitung uang Leonard tanpa ada rasa semangat. Setelah selesai ia berdecak sambil memandang rendah Leonard.


"Ini tidak cukup." Count mengetuk-ngetukkan koin emas itu di meja.


"Apa maksudmu? Bukannya utang ayahku sebanyak 100 koin emas? Semuanya lunas jika ditambah uang yang kucicil sebelumnya." Leonard meninggikan suaranya. Ia tidak terima selama ini Count tidak pernah menghitung utang orang tuanya dengan benar.


"Memang benar, tetapi bunganya belum kau bayar. Di surat perjanjian tertera apabila telat membayar maka peminjam haris membayar bunga. Orang tuamu sudah menunggak selama bertahun-tahun. Total bunganya mencapai 300 koin emas," jelas Count sambil membuang salah satu koin emas itu.


Leonard memperhatikan koin yang jatuh di bawah kakinya. Ia pun menatap tajam Count Gail. "Aku tidak pernah tahu soal ini. Kau tidak pernah menyebutnya sekali pun di depanku. Aku tidak percaya."


Count Gail mengangkat tangan menyuruh salah satu pelayannya membawakan surat perjanjian. Pelayan itu memberikannya pada Leonard. Dengan kasar Leonard meraih surat itu.


Ia membacanya. Tangannya gemetar menahan marah. Tanda tangan orang tuanya tertoreh di kertas itu. Rasa putus asa menggerogoti hatinya. Bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Ia harus membayar bunga yang terus bertambah, menjadi prajurit bayaran tidaklah cukup. Ia harus bekerja seumur hidup agar terbebas dari neraka ini.


"Sudah percaya? Sekarang pulanglah dan carilah uang lagi," kata Count Gail dingin.


Leonard meletakkan surat itu lalu melangkah keluar dengan sempoyongan. Sampai di luar ia berteriak keras.


"Argh!"


'Bangsawan gila aku tidak akan memaafkan kalian,' batin Leonard.


***


Duchess Hillbright berada di ruangannya. Ia kedatangan seorang tamu tetapi sama sekali tidak menatap orang yang ada di depannya.

__ADS_1


"Kami akan selalu setia pada Anda. Bagaimana tawaran kami Duchess?" tanya pria itu sambil menyunggingkan senyum bisnis.


Duchess terus menatap kertasnya tak menghiraukan orang itu. Ajudan Duchess berdeham sambil mengusir orang itu.


"Maaf, Marquis Loid Anda datang di saat yang tidak tepat. Tolong datang lagi saat Duchess sedang senggang."


Marquis Loid menggertakkan gigi. Ia menahan amarahnya pada Duchess sombong ini. Ia terus mendekati Duchess dengan harapan tawarannya menggiurkannya diterima. Dengan terpaksa ia pergi tanpa memperoleh apa pun. 


Duchess melirik ke arah pintu yang dibanting oleh Marquis Loid tadi. Ia menoleh ke arah ajudan pribadinya.


"Apa sudah ada kabar dari Ana, Flint?"


"Belum Duchess."


Duchess Hillbright menghela napas panjang. Adiknya memang keras kepala sekali. Ia akan membawanya dengan paksa mengunjungi Ayah dan Ibu mereka.


"Siapkan kereta kuda, aku akan ke kuil," perintah Duchess.


"Ayah saya sudah membuatkan batu sihir teleportasi yang diminta Duchess. Anda bisa langsung ke kuil menggunakan ini." Flint menyodorkan batu sihir kepada Duchess.


"Baik, Duchess." Flint menunduk.


Duchess Hillbright segera mengaktifkan batu sihir itu. Pemandangan di ruang kerjanya berubah menjadi lapangan kuil. Ia lantas menemui Paus untuk bertemu dengan adiknya.


"Baiklah, akan saya panggilan Pendeta Ariana, Duchess." Paus meninggalkan Duchess sendiri. 


Duchess menatap langit-langit sambil menunggu Ariana. Kepalanya terasa penuh, ia perlu bertemu dengan keluarganya untuk melepas kepenatan. Berurusan dengan bangsawan yang menjilatnya untuk menjadi Kaisar membuatnya muak. Ia tidak ingin menjadi Kaisar. Baginya Kaisar yang sekarang merupakan pemimpin yang lebih baik dibandingkan Kaisar sebelumnya. Ia membenci Kaisar sebelumnya dan tidak akan pernah memaafkannya.


Suara pintu terbuka terdengar. Ariana masuk ke dalam, sedangkan Paus meninggalkan mereka berdua. Ariana menatap kakaknya ragu-ragu.


"Jadi kapan kamu akan bertemu Ayah dan Ibu, Ana?" 


"Sebentar lagi, Kak. Aku belum bersiap-siap. Hatiku belum siap."


"Sampai kapan pun kamu tidak akan siap kalau terus lari, Ana. Aku akan berada di sampingmu, jangan khawatir."

__ADS_1


Ana menundukkan kepala sambil memainkan jarinya. Duchess menghentikannya dengan menggenggam tangan adiknya. Ia menatap mata emas yang sama dengan miliknya. 


"Baiklah, besok aku akan ke kediaman kakak." Ariana mengalah.


Duchess tersenyum sambil memeluk adiknya. "Aku akan menjemputmu besok."


Ariana mengangguk. "Terima kasih, Kak."


Pelukan mereka berdua mengendur. Duchess berpamitan kembali ke ruangannya. Ia meminta Flint menyiapkan kereta kuda besok. Adiknya akan datang. Mereka berdua akan menemui orang tua mereka. Duchess Hillbright sudah tidak sabar bertemu dengan keluarga tercintanya.


***


Sudah tiga gelas bir dihabiskan Leonard. Ia terus menegak bir itu untuk menghilangkan kekesalannya. Umpatan demi umpatan diucapkannya dalam hati. 


Ia memesan bir lagi. Tak ada teman yang menemaninya kali ini. Will sudah dibunuhnya. Kepercayaannya pada orang lain telah hilang bersamaan dengan pengkhianatan temannya.


"Jangan pernah meminjam pada Count Gail. Dia tidak mempunyai belas kasih," kata orang yang duduk bersama temannya di kursi belakang Leonard.


Leonard pun mengangguk meraih gelas birnya.


"Mau bagaimana lagi aku tidak punya uang. Pada siapa lagi aku harus meminjam uang?" tanya pria berambut cokelat muda penuh keputus asaan.


"Ada satu bangsawan yang baik hati. Dia tidak pandang bulu, seorang pahlawan perang. Coba saja minta pada Duchess Hillbright, dia akan membantumu bila niatmu baik," jawab orang di belakang Leonard.


Bir yang diminum Leonars tersembur ke depan. Ia terbatuk-batuk mengeluarkan bir yang masuk ke hidungnya. Ia tidak percaya bangsawan sombong itu adalah orang baik.


"Baiklah akan kucoba," kata pria berambut cokelat.


"Baguslah, pokoknya jangan ke Count Gail. Dia menerapkan bunga sangat tinggi, bahkan ia membuat perjanjian yang tidak pernah disetujui oleh peminjam."


Leonard menggebrak meja. Semua pandangan tertuju ke arahnya tetapi Leonard mengabaikannya. Ia berbalik ke orang di belakangnya. "Jelaskan lebih lanjut."


"Sepupuku meminjam uang pada Count Gail. Ia sudah melunasinya tetapi Count Gail menipunya. Di surat perjanjian itu tidak pernah tercantum besarnya bunga yang harus ditanggung dan tidak pernah ada yang namanya bunga pada kesepakatan sebelumnya. Count Gail memanipulasi surat perjanjiannya," ucap orang itu.


Leonard menggertakkan gigi dengan keras. Ia mengeluarkan uang lalu membantingnya dengan keras untuk membayar bir. Kakinya berderap-derap keluar dari bar itu. 

__ADS_1


Ia akan membuat perhitungan pada bangsawan serakah itu besok.


__ADS_2