
Pergantian Kaisar Kekaisaran Houllem terjadi 15 tahun yang lalu. Kaisar yang sekarang merupakan pahlawan yang menguak kebusukan-kebusukan bangsawan yang sebenarnya sudah mendarah daging. Bangsawan-bangsawan yang mempunyai bisnis yang ilegal mulai membelot ke kerajaan lain. Ada beberapa bangsawan yang masih bertahan. Beberapa karena kesetiaan, beberapa lagi karena menyiapkan pemberontakan.
Pemberontakan mulai sering terjadi, tetapi dengan mudahnya dikalahkan oleh orang-orang kepercayaan Kaisar. Yang menjadi masalah ada kepercayaan rakyat. Rakyat ketakutan dengan keadaan kekaisaran yang kacau. Ketakutan ini dimanfaatkan oleh pemberontak tersebut untuk menggulingkan Kaisar, dengan pemberontakan lebih besar.
"Jadi menurutmu siapa yang menang, Leon?" tanya Will sambil meminum birnya.
Leonard menghabiskan birnya terlebih dahulu. Ia mendesah lega, sambil mengelap mulutnya. "Siapa pun tidak masalah yang terpenting kita dapat uang."
"Kau ini benar-benar licik, Apa kamu berniat lari membawa setengah bayaranmu kalau Kaisar kalah?" tanya Will yang mulai cegukan. Satu gelas bir saja dapat membuat Will mabuk.
Leonard menambah lagi birnya, ia meneguk satu lagi. "Nyawa dan uang lebih penting daripada kesetiaan. Yang dibeli Kaisar adalah kemampuanku dalam berpedang. Kalau masalah menang atau tidaknya bukan urusanku."
"Kurasa kali ini kita akan menang. Pemimpin pasukan kali ini adalah seorang bangsawan muda yang mendapatkan gelarnya karena telah menumpas pemberontakan-pemberontakan sebelumnya. Dia tidak terkalahkan. Apa kamu mau taruhan?" Will mengeluarkan uangnya.
"Tidak perlu, aku selalu kalah taruhan denganmu."
Will tidak menjawab Leonard karena sudah tertidur. Pada akhirnya Leonard minum sendirian hingga menghabiskan tiga gelas bir. Ia membawa Will tidur di kamarnya.
Leonard yang tidak bisa tidur keluar melihat langit malam. Sudah lama ia menjadi prajurit bayaran. Utang menggunung yang ditinggalkan orang tuanya menyebabkannya menempuh jalan ini.
Minum bir sudah menjadi kebiasaannya, jika tidak dilakukan Leonard takut membenci kebodohan orang tuanya karena meminjam uang pada seorang bangsawan. Ditambah ia tidak ingin mengutuk orang tuanya karena membuatnya menanggung penderitaan dan utang. Pernah ia mencoba bersembunyi dan lari agar ditagih, tetapi bangsawan itu dapat mengetahui tempat Leonard bersembunyi. Hidupnya menyedihkan gara-gara bangsawan karenanya ia memendam kebencian pada bangsawan itu. Ia akan menjadi kuat dan mempunyai banyak uang untuk membalas bangsawan itu.
Penentuannya adalah hari pemberontakan. Jika Kaisar menang ia akan membayar lunas semua utangnya. Jika kalah ia akan mengubah wajahnya lalu melarikan diri ke kerajaan lain.
***
Cahaya matahari memasuki ruangan. Leonard masih tertidur dengan pulas. Ia baru tertidur pukul 02.00. Dan ini sudah pagi hampir menjelang siang. Menjelang siang.
Matanya terbuka. Ia melihat kasur tempat Will tertidur kosong.
"Sial kenapa Will tidak membangunkanku?" umpat Leonard.
Ia segera bersiap-siap menuju tempat berkumpulnya prajurit bayaran. Hari ini adalah hari pemberontakan. Prajurit bayaran diminta berkumpul di lapangan depan penginapan yang mereka tempati.
Namun, begitu Leonard keluar lapangan itu kosong. Leonard bertanya pada pemilik penginapan. "Di mana prajurit bayaran yang lain?"
__ADS_1
"Mereka sudah pergi ke tujuannya. Kau tidak tahu?" kata pemilik penginapan.
"Sial."
Leonard bergegas mencari tumpangan menuju tenda pasukan Kaisar. Prajurit bayaran yang lain sudah berkumpul di sana. Ada kereta pengangkut barang yang untungnya menuju ke sana. Leonard menaiki kereta itu bersama kotak berisi perlengkapan perang seperti baju zirah, pedang, dan perisai. Ia bernapas lega, meski terlambat dan mungkin akan dimarahi oleh pemimpin prajurit bayaran, Leonard tidak ambil pusing karena uangnya tidak dipotong.
Tiba-tiba kereta pengangkut barang itu berhenti. Leonard melongok ke depan.
"Kenapa berhenti?"
Tangan kusir itu gemetaran menunjuk ke depan. "Ada perampok."
Perampok-perampok itu mengelilingi kereta kuda yang ada di depan. Salah satu perampok itu tersadar ada yang memperhatikannya, menoleh ke arah kereta pengangkut barang yang ditumpangi oleh Leonard. Ia menghampiri kereta pengangkut barang itu.
Leonard turun dari kereta pengangkut barang itu. "Aku tidak mau membayar, nyawamu selamat karena aku."
Leonard mengeluarkan pedangnya menangkis serangan perampok itu. Dengan mudahnya ia mengalahkan perampok itu. Perampok-perampok lain mulai berlarian ke arah Leonard. Leonard menghindari perampok-perampok itu lalu melancarkan serangan balik membunuh mereka.
Leonard menyeka cipratan darah di wajahnya. Masih tersisa satu perampok yang mengendap-endap di belakang Leonard. Perampok itu mengayunkan ke arah prajurit bayaran itu. Darah keluar mulut perampok itu. Pedang Leonard terhunus di dadanya. Leonard mencabutnya lalu mengibaskan pedang untuk menghilangkan darah yang menempel.
Leonard tersenyum ke arahnya. "Kau sudah aman. Ingat wajahku, kau berutang padaku. Bayar aku setelah sampai di kediamanmu."
Sebelum gadis itu menjawab, Leonard segera kembali ke kereta pengangkut barang itu. Ia menyuruh kusir melanjutkan kereta pengangkut barangnya. Leonard tidak sabar mendapat bayaran atas jasanya ini.
***
Setelah sampai di perkemahan pasukan kekaisaran, Leonard segera mencari prajurit bayaran yang lain. Ada beberapa kumpulan di perkemahan ini. Prajurit bayaran di sebelah barat, kesatria dan penyihir di sebelah timur, pendeta untuk menyembuhkan orang terluka berada di sebelah utara. Sedangkan bagian selatan dibiarkan kosong untuk jalan masuk kereta. Mata Leonard tertuju pada Will yang duduk bersama prajurit bayaran lain. Leonard menggiring Will untuk berbicara berdua dengannya.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Leonard geram.
"Aku sudah membangunkanmu berulang kali, tetapi kau sama sekali tidak bergerak, Leon," jawab Will.
Leonard menggertakkan giginya lalu berbalik untuk menenangkan diri. Biasanya Leonard mudah terbangun karena sentuhan atau suara sedikit pun. Will adalah teman prajurit bayarannya, tidak mungkin ia berbohong. Mungkin karena efek alkohol yang diminumnya semalam.
"Pemimpin prajurit bayaran memanggilmu," tambah Will sambil menunjuk ke tenda di sebelah kanannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku mempercayaimu." Leonard menuju tenda itu.
Begitu menyingkap tenda itu, Leonard melihat pemimpin prajurit bayaran menatapnya tajam. Ia sudah siap menerima segala ocehan yang akan dilontarkan pemimpin prajurit bayaran itu.
"Kukira kau melarikan diri, Leonard," ucap pemimpin prajurit bayaran.
"Maaf aku bangun kesiangan, Pemimpin," balas Leonard.
"Setelah menerima bayaranmu kamu bisa pergi ke tempat lain."
Leonard mengerti apa yang dimaksud pemimpin prajurit bayaran itu. Ia dipecat. Ia sudah menduganya. Lagipula ia sudah bergonta ganti tempat perekrutan prajurit bayaran selama berkali-kali, ini tidak akan menjadi masalah.
"Baik, Pemimpin."
Leonard keluar dari tenda itu. Ia mendesah berat. Will menghampirinya. "Bagaimana?"
"Aku dipecat."
"Aku akan merindukanmu." Will berusaha memeluk Leonard.
Leonard memegangi wajah Will agar tidak mendekat. "Menjijikan."
"Ngomong-ngomong kenapa kau terlambat?"
"Aku membantu seorang gadis bangsawan menyingkirkan perampok. Sudah kuminta bayaran jika dia kembali ke kediamannya."
"Apa kamu tahu namanya atau kediamannya?"
Leonard menepuk dahinya. Dia lupa menanyakan nama gadis itu dan gadis itu tidak tahu namanya. Mungkin gadis itu bisa mencari Leonard dengan bantuan pelayan atau pengawalnya. Tetapi, seandainya gadis itu tidak mau membayarnya, ia harus merelakan uangnya. Hanya berbekal wajah gadis itu, ia tidak bisa mencarinya di seluruh kekaisaran seorang diri.
Sebuah kereta kuda datang di depan perkemahan. Seorang kesatria membukakan pintu kereta kuda itu. Leonard dan Will menghampiri kereta kuda itu. Seseorang turun dari kereta itu. Mata Leonard terbelalak melihat gadis bangsawan yang diselamatkannya tadi berada di tempat ini.
Seluruh kesatria menunduk memberikan hormat pada gadis itu.
"Selamat datang, mohon bantuannya Duchess Hilbright."
__ADS_1
Leonard masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.