
Keributan yang terjadi di luar membuat para pendeta bangun dari tidurnya. Mereka segera berhamburan keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Piere pun ikut keluar bersama Paul. Mereka melihat Paus yang sedang bertarung melawan Grand Duke.
Semua pendeta mendekat, mereka berniat membantu Paus, kecuali Piere dan Paul. Niat mereka terhenti begitu melihat sihir yang dikeluarkan oleh Paus. Seorang pendeta tidak boleh menggunakan sihir untuk menyerang orang lain. Berkat mereka digunakan untuk menyelamatkan dan menyembuhkan orang.
Paus melancarkan serangan api pada Gerald. Gerald menghindarinya. Serangan itu mengenai pendeta yang berada di sana. Pendeta itu tersungkur kesakitan. Tak peduli pada yang lain, Poppo tetap melanjutkan serangannya.
Gerald menangkis serangan itu, melindungi pendeta yang lain.
"Cepat pergi dari sini!" teriaknya.
Semua yang melihat pertarungan mereka langsung berhamburan meninggalkan tempat itu. Piere memberikan berkat pada Gerald sebelum pergi tanpa ada yang tahu. Karena jarak mereka cukup jauh, berkat miliknya tidak terlalu terasa bagi Gerald.
Paus membuat hentakan tanah yang menyebabkan beberapa pendeta terjatuh. Poppo segera mendekati mereka untuk membunuh orang yang melihat kejadian ini. Gerald tiba di depannya. Ia menghalangi Paus. Pendeta yang masih berdiri membantu mengobati pendeta yang terluka lalu segera menjauh dari tempat itu.
Leticia yang baru keluar dari ruang bawah tanah, melihat orang-orang berlarian. Ia menunggu keadaan sepi, karena apabila ia menerobos ia akan terseret arus dan terjatuh. Berada di kerumunan orang panik seperti itu malah akan membuatnya terluka.
Setelah sepi, ia berlari ke arah yang berlawanan dengan orang-orang tadi. Ia menuju halaman belakang gedung pendeta.
Leticia melihat Gerald masih bertarung dengan Paus. Rerumputan di sana telah rusak akibat serangan yang dilancarkan oleh Paus maupun Gerald. Leticia berdiri cukup jauh dari sana, tetapi pertarungan mereka masih dalam jangkauan matanya. Ia bersembunyi, karena apabila mendekat pasti dirinya akan terluka dan malah membuat Gerald melindunginya. Ia akan menjadi beban. Seandainya Leticia lebih kuat atau sekuat Isabella, ia berniat membantu Gerald.
Gerald mulai bersungguh-sungguh mengeluarkan auranya. Penggunaan aura di tempat sempit seperti ruangan ritual tadi malah akan melukai orang yang ada di sekitarnya. Daya serangnya sangat kuat. Ia takut anak-anak yang tidak bersalah tadi terkena serangannya. Berada di tempat luas seperti ini menguntungkan Gerald.
Paus mengeluarkan bola api yang lebih besar mengarahkannya pada Gerald. Gerald begerak cepat menghindarinya. Lalu membalas serangan Paus. Lengan Paus terkena serangan Gerald. Darah bercucuran dari lengannya.
Pedang dan batu Clear buatan Count Landell memang sangat hebat. Jika ia masih menggunakan pedang yang lama mungkin ia akan kesulitan melukai Poppo.
Poppo menyembuhkan lengannya yang terluka. Gerald tidak membiarkannya beristirahat menyerangnya kembali.
Paus menghindari serangan Gerald kali ini. Lalu menciptakan jarum dari es, menyerang Gerald.
__ADS_1
Gerald mundur ke belakang, tetapi jarum itu menggores kaki dan lengannya. Poppo menyeringai serangannya berhasil. Serangannya memang tidak fatal, tetapi apabila Grand Duke Faust terus menerus terluka, ia akan cepat kelelahan. Pertarungan yang panjang sangat merugikan Gerald.
Gerald menyadari hal ini, ia segera mengumpulkan aura pada pedangnya. Pedangnya sampai bersinar kemerahan.
Sinar pedang milik Grand Duke Faust pada malam hari sangat indah. Warna merahnya hampir sama dengan mata Gerald.
Meskipun terluka, Gerald tidak merasa sakit. Berkat Piere membuatnya bisa terus melanjutkan pertarungan tanpa teralihkan oleh rasa sakit.
Gerald menganyunkan pedangnya dengan kuat. Paus menangkisnya karena tidak sempat menghindar. Serangan Gerald sangat kuat dan cepag hingga lengan Paus terputus. Serangannya menembus tembok yang berada di belakang Paus.
Paus memegangi lengannya. Berkat penyembuhan dikeluarkan untuk menghentikan pendarahan lengannya. Ia tersujud.
Gerald mendekatinya, karena kekalahan Paus sudah di depan mata.
Leticia kagum dengan kekuatan Grand Duke Faust. Poppo bukanlah lawan yang mudah. Gerald dapat mengalahkannya dengan luka ringan.
"Kau sudah kalah," ucap Gerald dingin.
"Lagipula pendeta yang lain bakal tahu tentang perbuatan saya. Mereka pasti akan menjadi saksi di persidangan. Saya tidak akan menang melawan Anda. Tangkap saya Grand Duke." Paus menyodorkan tangannya ke depan. Ia menyerah.
Leticia tidak bisa mendengar percakapan mereka, tetapi Poppo menyerah terlalu cepat. Ada yang mencurigakan.
"Baiklah," jawab Gerald.
Gerald akan menyeret Poppo ke persidangan dan membuatnya dijatuhi hukuman mati. Orang yang mengorbankan anak-anak yang tidak bersalah tidak patut dikasihani.
Gerald menyarungkan pedangnya.
Paus tersenyum. Ia mengeluarkan jarum es di belakang Grand Duke Faust. Gerald tidak tahu bahaya yang ada di belakang kepalanya.
__ADS_1
Leticia menyadari tindakan yang dilakukan Paus. Ia berteriak, "Awas di belakang Anda, Grand Duke!"
Gerald mendengar teriakan Leticia, menengok sedikit ke belakang.
Jarum es sudah terbang ke arahnya. Ia segera berpindah ke samping menggunakan auranya.
Jarum es itu menembus jantung Poppo. Paus jahat itu roboh. Ia telah menerima karmanya, yaitu dengan kematiannya sendiri.
Untungnya, rahasia kelam Poppo diketahui sebelum lima tahun. Apabila sudah lima tahun, kekuatan Poppo akan lebih hebat dan tak dapat terkalahkan. Sihir keabadian merasuki tubuh Poppo sepenuhnya. Poppo tidak dapat dibunuh. Namun, Poppo benar-benar sial. Seandainya ia lebih berhati-hati, ritual sihir terlarangnya tidak akan diketahui oleh banyak orang.
Leticia bernapas lega. Situasi tadi benar-benar membuatnya takut. Seakan-akan ia sendiri yang mengalaminya. Jantungnya memompa darahnya sangat cepat.
Leticia berjalan mendekati Gerald. Kaki Gerald terluka karena terkena jarum. Jika tadi ia tidak memakai aura dan Leticia diam saja mungkin dirinya sudah tidak ada di dunia.
Jarum es itu mulai memudar. Gerald memeriksa tubuh Poppo. Paus jahat telah mati. Gerald memberi tanda pada Leticia. Leticia menggangguk. Mereka menang.
Leticia membalikkan badan melihat semua kekacauan ini. Ia menerawang ke depan.
Walaupun memang tidak sesuai dengan ekspetasi Leticia. Tidak ada pengadilan untuk Paus. Meskipun akhir Paus bakalan sama.
Dengan bukti yang sudah berada di tangan, mereka dapat menguak kebusukan Paus. Hubungan antara bangsawan-bangsawan yang melakukan tindakan terlarang dengan Paus akan tersebar. Orang-orang akan membencinya.
Anak-anak yang hendak dikorbankan tadi akan dirawat di tempat yang lebih baik bersama anak-anak panti asuhan Lodrey.
Tinggal selangkah lagi balas dendamnya bakal terwujud.
Leticia menengok ke belakang. "Kita berhasil, Grand Duke. Dengan ini, tinggal menjatuhkan Ka-"
Kata-kata Leticia terhenti. Ia membelalakkan matanya. Pedang yang dihunuskan pada Poppo tadi sekarang berada di samping lehernya.
__ADS_1
Leticia menatap Gerald dengan bertanya-tanya. Pedang Gerald sama sekali tidak ada niat untuk diturunkan. Gerald menatapnya dengan dingin. Tanpa senyuman. Mata merah itu benar-benar bakal menerkamnya.