
"Apa maksud dari semua ini, Grand Duke?"
Gerald terdiam beberapa detik sebelum membuka suara.
"Kerja sama kita sudah selesai Permaisuri. Reputasi saya sudah membaik. Persiapan untuk menyerang Kaisar sudah matang. Saya tidak memerlukan Anda lagi."
Semua ucapan Gerald benar. Tanpa bantuan Leticia, Grand Duke Faust dapat menyerang Braun dengan lancar. Senjata dan pasukan sudah siap. Meski tidak ada bantuan penyihir, Gerald pasti bisa mengalahkan Braun tanpa kendala yang berarti.
"Apa Isabella tahu tentang hal ini?"
"Tidak ini tindakan saya sendiri. Keberadaan Anda hanya menjadi penghalang bagi saya. Dan saya akan menyingkirkan semua penghalang dari hadapan saya."
Gerald masih mengarahkan pedangnya pada leher Permaisuri Pertama. Leticia masih tidak percaya, ia telah dikhianati.
"Jika Anda membunuh saya, Isabella dan teman-teman saya tidak akan tinggal diam, Grand Duke," ancam Leticia.
Leticia bersikap setenang mungkin dalam situasi ini, walaupun hatinya sedang tidak karuan.
"Saya tahu. Saya akan membawa mayat Anda ke istana menggunakan batu sihir teleportasi. Orang-orang akan mengira Anda dibunuh oleh pembunuh. Tak ada yang mencurigai saya, karena saya yakin Anda diam-diam datang ke sini tanpa memberitahu siapapun. Saya sangat beruntung bertemu dengan Anda sendirian. Saya tidak perlu memikirkan rencana untuk menyingkirkan Anda secara diam-diam."
Leticia berusaha memahami apa yang ada di pikiran Gerald. Ia melihat mata yang biasanya membuatnya takut. Meskipun terlihat dingin, banyak emosi yang tercampuk aduk di dalamnya.
"Anda bukan orang seperti ini, Grand Duke."
"Anda bahkan baru mengenal saya sebentar dan bertemu beberapa kali. Kenapa Anda seolah-olah tahu semuanya tentang saya? Bukankah rumor tidak akan tersebar, jika tidak mengandung kebenaran di dalamnya? Rumor buruk itu benar, saya adalah orang kejam, Permaisuri."
Tidak Leticia yakin rumor itu salah. Atau itu hanyalah khayalannya semata?
"Anda tidak bisa membunuh saya, Grand Duke." Leticia menatap Gerald tajam sambil mengepalkan tangan.
"Saya bisa melakukannya. Luka seperti ini tidak akan menghentikan saya." Gerald menunjuk luka di kakinya.
Leticia mulai memahami sorot mata Grand Duke Faust. Itu bukanlah tatapan mata dingin. Kesedihan, kemarahan, tidak ingin kehilangan, bercampur menjadi satu. Ia pernah merasakan hal itu.
"Anda tidak bisa melakukannya... karena Anda mencintai saya, Grand Duke." Leticia menatap Gerald nanar.
Gerald melebarkan matanya. Ia menggertakkan gigi dengan keras.
"Jangan mengada-ada, Permaisuri!" teriak Gerald.
__ADS_1
Pedang Gerald semakin mendekat ke leher Leticia. Namun, Leticia sama sekali tidak gentar.
"Semua perhatian dan kepedulian Anda pada saya karena Anda mencintai saya. Anda hanya kabur dari perasaan Anda sendiri. Anda tidak ingin mengenal cinta dan takut kehilangan cinta, Grand Duke."
Gertakan gigi Gerald terdengar keras. Pedang yang berada di samping Leticia terlihat gemetar. Gerald ingin menebas leher Leticia, tetapi tidak sanggup. Semua perkataan Leticia benar, ia jatuh cinta kepadanya. Ia tidak ingin melihat Leticia terluka. Ia ingin menjaga dan melindungi Leticia.
"Ya Anda benar, Permaisuri! Saya jatuh cinta kepada Anda! Anda berhasil membuat saya berpikir secara tidak rasional! Anda selalu ada di pikiran saya! Dan Anda akan menjadi kelemahan terbesar saya!" Teriakan Gerald semakin keras.
"Saya tidak akan menjadi kelemahan Anda. Saya bisa melindungi diri saya sendiri." Leticia ikut meninggikan suaranya.
"Tidak ada jaminan, Anda tidak mengkhianati saya, Permaisuri!"
"Saya tidak akan mengkhianati Anda!"
"Kenapa Anda bisa seyakin itu?"
"Itu karena..."
Leticia menarik napas.
"Saya juga mencintai Anda, Grand Duke."
Gerald tersentak. Sorot matanya tersirat ketidakpercayaan.
"Berhentilah berbohong Permaisuri! Itu semua hanya tipu daya Anda! Kalau Anda mencintai saya kenapa Anda bisa berpikir secara rasional dalam situasi seperti ini?!"
"Saya juga tidak berpikir secara rasional, Grand Duke. Saya tahu bahwa dengan berada di kuil saya akan berada dalam bahaya. Saya hanya ingin melihat Anda. Saya merindukan Anda."
Jantung Leticia berdetak kencang saat ia melihat dan berada di dekat Gerald. Awalnya ia mengira ini rasa takut, tetapi lama-kelamaan ia sadar sedang jatuh cinta. Seperti saat bertemu dengan Braun dulu. Meskipun Gerald bersikap dingin, Leticia merasakan kepedulian di setiap tindakannya. Leticia menginginkan cinta yang tidak bisa ia dapat dari orang tuanya. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya hanya menghidupinya untuk menjadi Permaisuri.
Perhatian palsu dari Braun dengan mudah membuatnya jatuh cinta. Ia takut kalau Gerald juga berpura-pura peduli kepadanya atau perhatian yang ia berikan hanya sebatas kerja sama. Ia berusaha menahan rasa sukanya selama ini. Ia takut kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun, kepedulian tulus Gerald membuat cintanya semakin meluap-luap. Ia terus memperhatikan Gerald tanpa menyadari.
Gerald menurunkan pedangnya perlahan. Ia tidak tahu harus membalas apa.
Kaki Leticia terasa lemas. Tubuhnya terjatuh. Ia berusaha kuat dari tadi, tetapi dirinya sudah kelelahan. Napas lega keluar dari hidungnya.
Tiba-tiba Gerald sudah berada di depan mata Leticia. Langsung memeluk erat Leticia. Permintaan maaf yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata. Leticia membalas pelukan Gerald. Pada akhirnya, Gerald berani menerima kelemahannya.
Leticia bahagia mendapatkan kasih sayang dari orang yang ia cintai. Bukan perasaan palsu seperti yang diberikan suaminya.
__ADS_1
Air mata membasahi pipi Gerald. Ia merasa senang mengetahui Leticia juga mencintainya. Kegembiraan yang tak tertahankan.
Pelukan Gerald semakin erat karena tidak ingin Leticia tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Ia juga tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya seperti ini pada orang yang dicintainya.
Leticia menyadari Gerald yang menangis. Ia melepas pelukannya, menjauhkan kepalanya dari bahu Gerald. Gerald dengan berat hati mengendorkan pelukannya.
Mereka berdua saling bertatapan. Menyentuhkan kedua dahi mereka. Keduanya bisa merasakan hembusan napas satu sama lain.
Leticia menyeka air mata Gerald di kedua pipinya. Ia menyentuh wajah orang yang dicintainya.
"Anda tidak perlu takut. Saya berjanji tidak akan menjadi kelemahan Anda, Grand Duke."
Senyum Leticia merekah dibibirnya. Gerald perlahan ikut tersenyum.
"Leticia."
Jantung Leticia serasa ingin keluar. Ini pertama kalinya Gerald memanggil namanya.
"Gerald." Leticia membalasnya.
Kegembiraan memenuhi hati Gerald. Ia tidak ingin menahannya lagi. Tangannya menyetuh pipi Leticia dengan lembut. Tangan yang lain berada di belakang kepala Leticia.
Gerald mencium bibir Leticia. Leticia memejamkan mata sambil membalas ciuman Gerald. Ia merangkul leher Gerald.
Ciuman yang sangat lembut.
Gerald menyudahi ciuman mereka. Ia takut tidak dapat menahan diri apabila diteruskan.
Leticia menatap Gerald terakhir kalinya sebelum kembali istana. Gerald tersenyum membalas Leticia.
"Aku pulang dulu, Gerald."
"Berhati-hatilah di istana, Leticia."
Leticia mengaktifkan batu sihirnya menuju kamarnya. Ia berbaring di kasurnya sambil menantikan pertemuannya dengan Gerald lagi.
Gerald keluar dari gedung pendeta disambut oleh Piere dan pendeta yang lain. Memberitahu bahwa Paus telah tiada. Ia menjadi pahlawan. Tanpa Leticia mungkin ia tidak bisa seperti ini.
Ia ingin membahagiakan Leticia salah satunya dengan menurunkan Braun dari takhta. Ia akan menjadi Kaisar berikutnya.
__ADS_1