Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 63 Cemburu?


__ADS_3

Kabar Paus yang melakukan ritual sihir terlarang sudah tersebar. Kekaisaran menjadi kacau. Para bangsawan dan Paus saling bekerja sama melakukan perbuatan jahat. Kepercayaan rakyat mulai memudar. Namun, pendeta yang lain berusaha meyakinkan mereka bahwa hanya Pauslah yang bertindak keji.


Kegaduhan itu mencapai istana. Isabella dan Judith tetap latihan seperti biasa. Dale tidak datang. Mungkin Dale sudah menyerah pada Isabella Pertemuan mereka terakhir kali pasti membuat Dale sadar.


Seharusnya Isabella merasa senang karena tidak ada orang yang mengganggunya lagi. Namun, ada setitik rasa sedih dalam hatinya, tanpa ia sadari Isabella mengharapkan kedatangan Dale. Meski menunggu hingga latihan Judith selesai, Dale tidak datang. 


Isabella pulang dengan sedikit rasa kecewa dan marah. Kenapa Dale ikut campur pada perasaan Isabella sambil memarahinya? Ia ingin menanyakan hal itu saat bertemu.


Namun, akibat perbuatan Dale, Isabella meragukan perasaannya pada Tuannya. Ia baru menyadari bahwa ada yang berbeda dari Gerald. Tidak terlihat dingin. Terkadang Isabella melihatnya tersenyum.


Isabella memberanikan diri bertanya, "Maaf Tuan, kalau boleh bertanya bagaimana pandangan Anda terhadap Permaisuri Leticia?"


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" Gerald menoleh pada Isabella.


"Saya hanya penasaran saja, maaf kalau saya lancang." Isabella menunduk.


Gerald menerawang ke depan. "Permaisuri Pertama terkesan kuat dan rapuh secara bersamaan. Aku tidak mengerti jalan pikirannya yang tergesa-gesa tetapi cerdik. Awalnya aku meragukan kalau suatu hari dia akan mengkhianatiku, tetapi dia bisa dipercaya."


Ekspresi Gerald saat membicarakan Leticia berbeda daripada biasanya. Rasa senang, penasaran dan bangga, semua itu terpancarkan dari wajahnya. Ini pertama kalinya Isabella melihat Tuannya yang seperti itu. 


"Benar, dia bisa dipercaya," jawab Isabella lirih.


Namun, meski Gerald membicarakan orang lain dengan wajah yang seperti itu, kenapa ia tidak merasa marah atau sakit hati? Ia semakin bingung. Apakah yang dikatakan Dale benar, bahwa semua perasaan Isabella hanya rasa kagum dan ingin bertumpu pada seseorang saja?


Tiba malam saat ia berlatih dengan Leticia. Isabella berusaha mengesampingkan perasaan sebentar. Meski terkadang ia sempat melamun.


Setelah selesai, duduk di kursi dekat lapangan latihan. 


"Apa kamu tidak apa-apa, Bella?"

__ADS_1


Leticia menyadari temannya yang satu ini tidak seperti biasanya. 


"Aku tidak apa-apa, Leti. Tanpa terasa kita hanya tinggal melakukan pemberontakan." Isabella cepat-cepat mengalihkan pembicaraan tidak ingin Leticia khawatir.


"Itu benar."


Suasana mereka jadi canggung. Leticia ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu, tetapi ia sudah memantapkan hatinya.


"Aku ingin memberitahumu sesuatu."


"Tentang apa Leti?"


"Aku jatuh cinta pada Grand Duke Faust."


Isabella terkejut mendengar hal ini, tetapi ia berusaha tetap tenang.


"Entah itu bisa disebut pernyataan cinta atau tidak, tetapi kami sudah menyadari perasaan masing-masing." Leticia membalas senyuman Isabella.


Teman dan Tuannya saling jatuh cinta. Semua perubahan Grand Duke Faust disebabkan oleh Leticia. Ini sebabnya Gerald dapat berekspresi seperti itu saat membicarakan Leticia. Sama sekali tidak ada perasaan marah, kesal atau sakit hati. 


Isabella malah merasa senang melihat sahabatnya bahagia.


"Kalau begitu apa kamu akan menjadi Permaisuri untuk Tuanku setelah beliau menjadi Kaisar, Leti?"


"Sejujurnya aku belum kepikiran sampai ke sana, Bella. Jika aku menjadi Permaisuri Grand Duke Faust, kedudukannya tidak akan stabil. Dia akan mengangkat seorang janda sekaligus Permaisuri mendiang Kaisar sebelumnya sebagai kekasihnya. Banyak bangsawan yang akan menentangnya. Lagipula aku juga sulit mendapat anak lagi. Dia akan kesulitan memiliki pewaris yang sah apabila menikahiku." 


Leticia menunduk melihat kakinya. Isabella memegang bahunya sambil menyemangatinya. Leticia melihat sahabatnya.


"Aku yakin tuan tidak akan mempermasalahkan hal itu. Tuan adalah orang yang kuat dan ditakuti. Tidak ada berani menentangnya. Lalu kalian bisa menjadikan Judith sebagai Kaisar yang berikutnya. Hukum Kekaisaran bisa diubah. Aku akan ikut menyakinkannya bila beliau ragu, Leti."

__ADS_1


"Terima kasih, Bella. Aku akan meyakinkan Judith bahwa ayahnya tidak pernah mencintainya. Dengan begitu dia tidak akan bersedih akibat kematian Braun. Judith akan menerima Grand Duke Faust sebagai ayah barunya, walau mungkin akan sedikit lama untuk membuka hatinya."


Leticia dan Isabella saling tersenyum membayangkan masa depan. Persiapan mereka sudah matang, tetapi pemberontakan akan ditunda. Leticia akan meyakinkan Judith terlebih dahulu. Apabila Judith sudah membenci Braun, mereka akan melangsungkan pemberontakan. Ia akan bahagia memiliki putri dan orang yang mencintainya.


"Ngomong-ngomong, apa kamu pernah cemburu melihat kedekatanku dengan tuan?" tanya Isabella sambil menggaruk-garuk pipinya dengan satu jari.


Leticia sedikit terkejut dengan pertanyaan Isabella. "Kalau soal itu, daripada cemburu mungkin lebih tepatnya aku ingin menjadi dirimu berada di sampingnya. Aku ingin berada di dekatnya selama mungkin. Ah, bukan berarti kamu harus berhenti bekerja Bella. Aku mempercayaimu sepenuhnya."


"Aku tahu. Maaf kalau aku bertanya yang aneh-aneh, Leti."


Isabella telah meyakinkan hatinya. Yang diucapkan Dale benar. Ia tidak mencintai Gerald. Ia tidak pernah merasa cemburu. Ia hanya ingin diakui oleh orang yang dikaguminya. Ia ingin membalas budi pada orang yang telah menyelamatkannya. Berkat Dale, ia menyadari perasaannya. Bila tidak, mungkin ia akan menjauhi Leticia menganggapnya sebagai orang yang merebut orang yang dicintainya.


Namun, ia masih tidak bisa memaafkan tindakan Dale yang menekannya. Seharusnya ia bisa memberitahunya dengan cara yang lebih halus. Hanya saja, ia ragu akan mempercayai ucapan Dale yang disampaikan dengan baik-baik. Ia akan menganggap Dale bercanda dan bermain-main seperti biasanya.


Setidaknya, hubungannya dengan Leticia tidak merenggang. Apalagi karena berebut orang yang dicintai. Jika itu benar terjadi, Leticia akan mengalah demi Isabella. Leticia lebih mementingkan perasaan sahabatnya dibandingkan dirinya sendiri.


Beberapa hari kemudian, Isabella bertemu dengan Dale di salah satu restoran di ibu kota. Dale sedang bersama salah satu gadis sedang berbincang sambil memakan camilan. 


Mata mereka berdua bertemu. Dale berpura-pura tidak mengenal Isabella, mengalihkan pandangannya kepada orang yang ada di depannya. Isabella membalasnya dengan memalingkan muka.


Isabella membungkus beberapa camilan untuk Leticia dan Judith. Mereka mengundang Isabella untuk minum teh bersama. Sambil menunggu pesanannya siap, Isabella menoleh ke arah meja Dale. Mereka berbincang-bincang sangat akrab dan tertawa bersama. Isabella merasa kesal. Usai pesanannya selesai, ia segera pergi tanpa melihat Dale lagi.


Dengan mudahnya Dale berganti wanita setelah menyerah pada Isabella. Seorang pecinta wanita yang menyebalkan. Entah sudah berapa kali ia bergonta-ganti wanita. Ia yakin dalam waktu singkat Dale akan beralih pada wanita lain.


Isabella bertanya-tanya dalam hati, 'Kenapa tidak ada wanita bekas korbannya yang melabrak dirinya?'


Mungkin mereka hanya butuh teman mesra tetapi tidak sampai menjalin hubungan, jadi tidak sampai timbul perasaan yang mendalam.


Apapun itu bukanlah urusan Isabella. Ia tidak ingin campur pada urusan pria pecinta wanita itu. 

__ADS_1


__ADS_2