
Kereta kuda milik kuil berdatangan ke istana. Kereta kuda yang berwarna putih melambangkan kesucian dan kebersihan. Tanpa ada yang sadar bahwa ternyata mereka menyimpan rahasia yang kelam.
Paus dan para pemuka agama memberi salam pada Kaisar Braun dan keluarga Kaisar. Charlotte mengendong Louis di tangannya.
Paus memercikkan air suci untuk memberkati Pangeran Louis yang merupakan calon utama Putra Mahkota Kekasairan. Leticia menggenggam erat tangan Judith yang berdiri di sampingnya. Pada saat Judith berumur seperti Louis, tidak pernah ada pemberkatan. Hanya karena Louis adalah anak laki-laki dan putra dari Charlotte orang yang dicintai Braun, pemberkatan dilaksanakan. Padahal di dalam diri Judith juga mengalir darah keluarga Kekaisaran.
Leticia menyadari apa yang direncanakan Braun. Braun ingin menunjukkan kasih sayang kepada Permaisuri Pertama sudah sirna. Perhatiannya hanya ditujukan kepada Permaisuri Kedua dan putranya. Semua itu agar Leticia tidak mempunyai kekuasaan lagi di istana.
Berbeda dengan Leticia, mata Judith berbinar-binar melihat pemberkatan adiknya. Pemberkatan ini dilakukan dengan harapan Louis dapat berumur panjang dan sehat. Tujuan lain dari pemberkatan adalah memperlihatkan bahwa Kekaisaran dan Kuil memiliki hubungan yang harmonis. Ia tidak tahu kebenaran dibalik pemberkatan ini. Bahwa ternyata Judith tidak dianggap sebagai keluarga Kekaisaran.
Leticia memperhatikan seluruh orang yang berasal dari kuil. Pihak kuil yang melakukan sihir terlarang kemungkinan didalangi oleh salah satu petinggi kuil. Orang itu mempunyai wewenang yang tinggi hingga semua anggota kuil harus mematuhi perintahnya.
Mata Leticia tertuju pada satu orang, yaitu Paus.
Tinggal bagaimana caranya untuk menjatuhkan Paus. Kejatuhan petinggi tertinggi kuil dapat menimbulkan kekacauan. Warga Kekaisaran akan tidak percaya lagi terhadap kuil apabila mengetahui pemimpin yang melakukan tindakan terlarang. Ini dapat membuat pemerintahan Braun goyah. Hubungan kuil dengan Kekaisaran yang kuat, dapat membuat warga ragu apakah Kekaisaran ada sangkut pautnya dengan ritual sihir yang dilakukan oleh pihak Kuil. Apabila Grand Duke Faust mengungkap rahasia kelam ini, warga kekaisaran akan mempercayainya. Bila memungkinan Leticia akan membuat opini publik yang meminta Gerald menjadi Kaisar menggantikan Braun. Dukungan bangsawan dan reputasi yang sudah pulih akan mempermudah Gerald menjadi Kaisar. Pemerintahan yang akan ia jalankan bisa berlangsung damai. Warga akan mempercayai pahlawan yang mengungkapkan kebusukan kuil dan bangsawan.
Pemberkatan telah selesai. Pihak kuil telah pulang dari istana. Tidak ada informasi penting yang Leticia dapatkan dari pemberkatan Louis. Namun, ia yakin bahwa Paus merupakan dalang dari ritual sihir terlarang. Leticia akan diam-diam ke ibu kota untuk mencari informasi.
***
Leticia bercermin untuk melihat penampilannya. Rambutnya berwarna cokelat karena memakai rambut palsu. Gaun yang biasa ia pakai digantikan dengan pakaian yang biasa dikenakan oleh rakyat jelata. Ia juga sudah mempersiapkan kudung agar tidak dikenali.
"Anda akan pergi ke mana, Permaisuri?" tanya dayang pribadi Leticia.
"Aku akan ke ibu kota. Tolong rahasiakan ini dari semuanya, Emilia," kata Leticia meyakinkan dayang pribadinya.
Emilia merupakan salah satu dayang yang Leticia percayai. Ia selalu memihak Leticia.
"Bagaimana jika ketahuan, Permaisuri?" cemas Emilia.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku tidak akan lama," ujar Leticia meyakinkan dayang pribadinya.
Emilia akhirnya mengalah, mengikuti permintaan majikannya. Leticia bersyukur masih ada orang yang mengkhawatirkan dirinya selain teman-temannya.
Batu sihir teleportasi buatan Dale sudah berada di tangannya. Meskipun awalnya Leticia berniat menggunakan batu itu untuk berteleportasi dari istana ke kediaman Faust, ia bisa menggunakan batu sihir yang berada di genggamannya untuk berteleportasi ke tempat lain. Ia tinggal memikirkan tempat yang dituju agar berteleportasi ke tempat itu. Leticia mengaktifkan batu sihir.
Sekarang ia berada di salah satu gang di ibu kota. Leticia bergegas menuju sebuah bar. Ia memperlihatkan sebuah kertas berlambang bunga kepada seorang pelayan. Pelayan itu mengangguk, lalu meninggalkan tempatnya. Ia memandu Leticia ke sebuah ruangan.
Pelayan itu segera kembali untuk bekerja. Sekarang hanya tinggal Leticia dan pria yang cukup tua ditandakan rambut beruban dan kerutan di dahinya.
"Jadi informasi apa yang Anda inginkan?"
"Kudengar kuil menyimpan rahasia kelam."
"Rahasia apa yang Anda maksud?"
"Ritual sihir terlarang."
"Saya tidak bisa memberikan informasi itu."
"Berapapun bayarannya akan kubayar."
"Sayangnya bukan masalah bayaran. Informasi mengenai hal itu masih sangat sedikit dan bisa saja salah. Saya tidak ingin memberikan informasi palsu."
"Berikan saja informasi itu. Aku akan membayarnya."
"Baiklah, jika Anda memaksa."
Pria itu berdeham, mengembalikan suaranya yang serak. Ia melanjutkan, "Seperti yang Anda dengar kuil melakukan ritual sihir terlarang. Detailnya kami tidak tahu sihir terlarang apa yang mereka lakukan. Kami juga dengar beberapa bangsawan berdonasi di kuil dalam jumlah yang besar."
__ADS_1
"Siapa bangsawan-bangsawan itu?"
"Count Blaire, Marquis Lodrey, dan Viscount Gremaroft."
Itu adalah nama-nama bangsawan yang berada di dalam daftar orang yang perlu disingkirkan oleh Grand Duke Faust. Bangsawan-bangsawan itu menutupi perbuatan gelap yang mereka lakukan dengan terlihat baik. Berdonasi untuk kuil dapat menurunkan kecurigaan publik atas perbuatan illegal mereka. Leticia merasa lebih dekat dengan tujuannya. Jalan untuk memulihkan reputasi Grand Duke Faust semakin terbuka lebar.
"Apakah ada informasi lain?" tanya Leticia.
Pria itu mengerutkan dahinya. Ia berpikir sebentar. Lalu berkata, "Hanya itu yang kami dengar."
"Terima kasih. Kelebihan dari uang ini anggap saja sebagai uang tutup mulut atas kedatanganku hari ini." Leticia mengeluarkan kantong berisi koin emas. Pria tua itu mengambilnya dengan senang hati.
Leticia segera keluar dari ruangan itu. Tidak baik ia berada di luar lama-lama. Kepergiannya secara diam-diam akan segera ketahuan.
Leticia kembali ke tempat ia bertemu dengan pelayan yang mengantarnya. Ia mengamati keadaan di sekitarnya. Hari masih cerah tetapi sudah ada orang yang minum-minum. Ada juga yang hanya memesan makan.
Leticia melangkahkan kaki dengan santai agar tak ada orang yang curiga.
"Keponakan laki-lakiku menghilang," kata pria berambut cokelat dengan luka di dahinya
"Benarkah? Kapan kejadiannya?" tanya pria di depannya.
"Aku mendapat kabar kemarin. Dia hilang sekitar seminggu lalu. Orang tuanya sudah mencarinya di mana-mana, tetapi tidak ketemu. Anak laki-laki berusia enam tahun entah bisa berbuat apa di luar sana."
"Kenapa dia bisa hilang?"
"Dia sering bermain sampai larut malam. Seminggu yang lalu ia tidak kembali ke rumah. Saudaraku tinggal di pedesaan dekat dengan kuil. Daerah itu masih sangat sepi."
"Semoga saja dia segera ketemu. Aku bersyukur tinggal di ibu kota. Di sini lebih aman."
__ADS_1
"Kau benar."
Percakapan kedua pria itu cukup keras hingga terdengar ke telinga Leticia. Leticia mendapat informasi yang penting. Ia akan menyelidiki tempat anak laki-laki itu hilang. Mungkin ada sangkut pautnya dengan kuil atau penguasa wilayah desa itu. Desa itu berada di wilayah kekuasaan Viscount Gremaroft. Leticia yakin informasi ini akan membawa salah satu dari mereka menuju kehancuran.