Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 76 Akhir Balas Dendam


__ADS_3

Gerald sudah tiba di ruang singgasana. Ia melihat sosok yang duduk di kursi singgasana dan sosok mungil yang berada di hadapannya mengacungkan pedang ke arahnya. Sosok mungil itu menatap Gerald dengan tatapan ingin membunuhnya.


Ia melihat sosok mungil itu dan di singgsana bergantian. "Apa kau sudah serendah itu hingga membuat putrimu bertarung denganku?" sindir Gerald.


"Mungkin kau akan mengalah bila bertarung dengan putri orang yang kau cintai," jawab Braun dengan nada mengejek.


"Kalau begitu apa kau tidak mencintai dia, hingga membuat putrinya dalam bahaya?" tanya Gerald sinis. 


"Aku mencintai dirinya dan kau yang merebutnya!" teriak Braun.


Gerald tahu kalau itu sebuah kebohongan. Jika Braun benar-benar mencintai Leticia, ia tidak menikah lagi dengan Charlotte. Lalu, membuat istrinya sendiri menjadi mandul.


"Itu benar, Anda merebut Ibuku. Lalu mempengaruhinya hingga seperti itu," timpal Judith.


Gerald menghela napas panjang. 


"Apa Anda tidak bisa melihatnya, Tuan Putri? Jika ayah Anda benar-benar mencintai Anda, sudah seharusnya dia membiarkan Anda melarikan diri bersama Permaisuri Kedua dan putranya, bukan berada di sini," kata Gerald menyakinkan Judith.


"Tidak, Ayah membiarkanku berada di sini karena menyayangiku. Beliau membiarkanku melihat kematian orang yang membuat Ibu membenci Ayah," jawab Judith.


Gerald melihat Braun yang menyeringai. Judith sudah dicuci otaknya oleh Braun dan Charlotte. Gerald tidak ingin melukai Judith karena Leticia akan membencinya. Namun, apabila ia tidak bertarung dengan bersungguh-sungguh, Braun akan mengambil kesempatan untuk mengalahkannya.


Gerald mengeluarkan pedangnya. Judith bersiap-siap menyerang Gerald. 


Gerald langsung melewatinya dan menyerang Braun. Braun terkesiap, tetapi mampu menangkis serangan Gerald.


Judith masih bengong karena orang yang ada di depannya tiba-tiba menghilang. Orang itu telah berada di belakang bertarung dengan ayahnya. Ia berlari mendekati mereka berusaha membantu ayahnya.


Gerald menendang Judith, menjauhkannya dari pertarungan mereka. Ia tidak ingin secara tidak sengaja melukai putri Leticia.


Braun mengumpat, "Cih, dasar tidak berguna." Hanya Braun dan Gerald yang dapat mendengarnya.


Gerald geram atas tindakan Braun. Ia mengeluarkan auranya lalu menyerang Braun. Braun terlambat untuk mengeluarkan auranya. Pedang yang digunakan untuk menangkis serangan Gerald langsung patah. 


Judith bangun untuk menyerang Gerald. Gerald menyingkarkannya lagi.


"Judith berikan pedangmu pada Ayah!" teriak Braun.

__ADS_1


"Baik." Judith segera melemparkan pedangnya pada Braun.


Braun berhasil menangkap pedang Judith. Ia bersungguh-sungguh mengeluarkan auranya menyerang Gerald. Gerald menangkisnya.


Suara gemerincing pedang terdengar di sana. Judith hanya bisa melihat kehebatan keduanya. Ia berharap ayahnya dapat mengalahkan orang yang merebut ibunya.


Gerald terus menerus menekan Braun. Braun mengumpulkan auranya agar serangannya lebih kuat. Begitu auranya terkumpul Braun menyerang Gerald. Gerald menangkisnya dan tidak terluka sekalipun. Pedangnya masih utuh.


Braun menggertakkan gigi, merasa kesal. Ia menyerang Gerald bertubi-tubi. Serangan demi serangan dapat ditangkis oleh Gerald dengan mudah.


Braun mengarahkan Gerald mendekati Judith. Gerald menyadarinya. 


"Menjauhlah, dari sini!" teriak Gerald sambil menghempaskannya dengan aura.


Judith terdorong cukup jauh.


Braun semakin kesal. Serangannya semakin tidak karuan. Gerald melihat banyak celah di serangan Braun. Ia memanfaatkan itu untuk melukainya. 


Tangan sebelah kiri Braun terluka. Braun kembali menyerang. Namun, ia semakin tertekan dengan perbedaan kemampuannya dengan Gerald.


Gerald mampu melukai Braun sedikit demi sedikit. Judith semakin khawatir dengan keadaan Ayahnya. Ia menghampiri mereka berusaha membantu ayahnya. Gerald menjauhkan Judith lagi. 


"Ayah!" teriak Judith.


Judith kembali melakukan tindakan sia-sia itu. Gerald tetap menjauhkannya lagi.


"Dasar anak tidak berguna!" teriak Braun.


Judith tersentak mendengar ayahnya yang mengumpat kepadanya.


"Baru sekarang kau menunjukkan sifat aslimu," ucap Gerald.


"Ha... ha... ha..." tawa Braun memenuhi ruangan itu.


Judith masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sisi ayahnya yang tidak pernah ia ketahui muncul.


Braun menghentikan tawanya. "Mau bagaimana lagi, lagipula nyawaku sudah di ujung tanduk."

__ADS_1


"Apa kau sama sekali tidak menyesali perbuatanmu?" tanya Gerald.


"Apa yang harus kusesali? Satu-satunya yang kusesali adalah membiarkannya hidup." Braun melihat ke arah Judith.


Lalu melanjutkan perkataannya, "Seharusnya aku membunuhmu saat kau dilahirkan anak si-" Braun memuntahkan darah.


Kata-kata Braun terhenti karena Gerald memperdalam tusukan pedangnya. Ia tidak ingin Judith mendengar hal itu dari ayahnya.


"Pada akhirnya kau masih mengoceh omong kosong," kata Gerald dingin.


Bulir-bulir air mata membasahi pipi Judith. Ayahnya tidak pernah mencintainya. Ia mengingat semua perhatian ayahnya yang ditujukan kepadanya. Datang ke perpustakaan. Datang ke kamarnya pagi-pagi. Semuanya hanya kepalsuan. Kata-kata ibunya benar. Dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan ini membuatnya syok.


Mana di antara ayah dan ibunya yang benar? Ia tidak tahu harus mempercayai siapa. Ia tidak tahu mana kasih sayang orang tuanya yang palsu.


Braun menyesal karena membiarkan Judith hidup saat dilahirkan. Ia sudah memantapkan diri untuk membunuh bayinya bila yang lahir dari rahim Leticia adalah laki-laki. Jika yang lahir bayi perempuan, sebenarnya ia masih ragu. Bukan karena bayi itu adalah darah dagingnya, tetapi karena keuntungan yang didapatnya bila membiarkannya hidup. Setelah memikirkannya, ia menggendongnya dan memberikannya pada Leticia suatu saat mungkin bayi itu akan berguna.


"Sayang sekali sampai kapanpun, kalian berdua tidak akan bisa bahagia bersama," ucap Braun sinis.


"Itu bukan urusanmu," balas Gerald.


Braun menyeringai. Ia mengarahkan pedang pada Judith. Lalu melemparkannya.


Gerald terkesiap. Ia hendak menyelamatkan Judith, tetapi tidak bakal sempat. 


Ujung pedang itu tinggal sedikit lagi mengenai Judith. Pedang itu terlempar ke arah yang lain.


Leticia telah tiba menggunakan batu sihir teleportasinya. Menyadari situasi yang terjadi, ia segera menangkis serangan yang ditujukan putrinya.


Leticia segera memeluk erat Judith. "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu sudah aman. Ibu akan melindungimu." 


Tangannya gemetar. Ia ikut menangis. Ketakutannya tadi masih terasa. Putrinya dalam bahaya. Jika sedikit saja ia datang terlambat, maka nyawa putrinya akan melayang. Ia tidak akan bertemu dengan putri tercintanya. Kengerian itu masih menyelimuti tubuhnya.


Judith masih terdiam dengan air mata yang terus mengalir, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Ayahnya berusaha membunuhnya. 


"Sial!" teriak Braun.


Merasa keadaan Judith sudah aman, Gerald menarik pedangnya lalu memenggal kepala Braun. Balas dendamnya sudah terpenuhi. Sekarang ia menjadi Kaisar. Meski tidak dapat membunuh orang yang membunuh Ayahnya secara langsung, ia bisa membalas perbuatan anaknya yang mencemari nama baiknya. Gerald melirik ke arah ibu dan anak itu. Mereka berdua telah selamat.

__ADS_1


Balas dendam Leticia sudah terpenuhi. Orang yang membuatnya mengalami penderitaan telah tiada. Yang tersisa adalah buah hatinya dengan suaminya. Meski darah orang yang ia benci juga mengalir di sana, ia tetap menyayanginya. Ia akan menjaga satu-satunya keluarganya yang tersisa.


__ADS_2