Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 40 Hari yang Menyebalkan


__ADS_3

"Semangat Judith! Kamu pasti bisa!" sorak Dale.


Sorakan seperti ini sudah menjadi pemandangan yang tidak asing bagi Isabella. Awalnya Isabella merasa terganggu, tetapi lama-kelamaan ia sudah terbiasa. Dengan disemangati seperti itu, Judith akan lebih percaya diri dan kemampuannya akan semakin meningkat.


Tak... Tak... Tak...


Isabella menangkis satu persatu serangan Judith dengan mudah.


"Ayo Judith! Cepat kalahkan Gurumu!" teriak Dale.


Namun, kenapa meski sudah berada di istana, orang ini selalu mengikutinya. 


Saat datang ke istana tadi ia merasa lega karena tidak perlu bertemu dengan orang menyebalkan yang datang setiap kali Judith berlatih. Namun, harapannya hancur ketika melihatnya di sela-sela latihan tadi. 


Ia mengira penyihir menyebalkan ini tidak tahu bahwa Isabella akan mengajari Judith di istana. Sepertinya setelah tidak melihat Isabella dan Judith di kediaman Faust, penyihir itu ke istana.


"Anggap saja Gurumu orang jahat! Kamu pasti bisa mengalahkannya!"


Brak... 


Pedang kayu terpental hampir mengenai kepala Dale. Dale masih menyungingkan senyum yang menjadi ciri khasnya. 


Pedang kayu itu milik Judith. Ia terkejut, pedang miliknya tiba-tiba tidak ada.


"Maaf, sepertinya saya menepis terlalu kuat, Tuan Putri." Isabella menundukkan kepala pada Judith.


Judith yang tersadar dari keterkejutannya, segera berlari mengambil pedangnya. Isabella mencegahnya.


"Biar saya saja yang mengambilnya, Tuan Putri." Isabella tersenyum kepada Judith.


"Baik, Guru," balas Judith sambil tersenyum.


Isabella memang sengaja mengarahkan pedang itu kepada Dale, agar membuatnya diam. Ucapannya yang terakhir sedikit mengganggunya.


Isabella melewati Dale, hendak mengambil pedang itu. Tangan Isabella tinggal satu jengkal satu menggapai pedang itu. Tiba-tiba pedang itu bergeser. Ia berusaha meraihnya, lalu pedang itu terbang. Pedang itu sudah berada di tangan Judith kembali.


Isabella menatap Dale dengan tajam, karena telah mengerjainya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku hanya mengembalikan pedang milik Tuan Putri." Dale membalas menatapnya.


"Berhentilah bermain-main di sini," kata Isabella ketus.

__ADS_1


"Sudah kubilang aku hanya ingin melihatmu," jawab Dale santai.


"Kalau begitu jangan ganggu aku." Isabella mendekati Dale sambil menunjuk dadanya. Terlihat sekali ia menahan amarah. Ia tidak ingin bertengkar di depan anak-anak.


"Aku tidak menganggumu. Aku hanya menyemangati dan membantu, Tuan Putri, itu saja." Dale mengangkat tangan di samping dadanya.


"Berhentilah berdalih."


"Begini saja. Kalau kamu mau berkencan denganku, aku akan berhenti menemuimu." 


"Jangan bermimpi. Aku tidak mau," jawab Isabella ketus.


Isabela merasa tidak ada jaminannya orang ini berkata jujur. Meskipun Isabella menyetujuinya, ada kemungkinan Dale tetap menganggunya.


"Eh... padahal banyak orang yang mau berkencan denganku. Bukankah aku pria yang menawan?" goda Dale.


"Ada banyak pria yang lebih baik dibandingkan dirimu. Salah satunya adalah Tuanku," jawab Isabella kesal.


"Apa seorang Guru punya waktu buat bermalas-malasan, Countess?" tanya seorang wanita.


Isabella dan Dale menoleh ke sumber suara. Isabella mendesah. Satu lagi sumber masalah datang. Ia lupa di sini adalah tempat berkeliaran orang yang bekerja untuk Kekaisaran. Mengajar di istana adalah benar-benar ide yang sangat buruk.


"Aku tidak bermalas-malasan. Orang ini mengangguku." Isabella menunjuk kepala Dale.


Dale hanya tersenyum seperti biasa.


"Terserah kamu percaya atau tidak, Penyihir Istana," jawab Isabella.


Isabella malas meladeni mereka berdua. Ia kembali untuk melatih Judith. Ia berusaha mempercayai mereka, tetapi ia tidak menyukai mereka. Ia mencoba bertahan demi Leticia dan Judith.


Rose memandang Dale dengan tatapan aneh. Dale membalasnya seperti biasa dengan senyuman.


Tak... Tak... Tak...


Suara pedang beradu terdengar kembali. Rose mendekat melihat latihan Judith dan Isabella. Tanpa sadar ia sudah berada di samping Dean yang diam saja daritadi. Rose melihat Judith yang bersemangat dalam berlatih. Ia juga melihat Isabella yang tekun dalam melatih Judith. 


"Sekarang aku tahu kenapa kamu bilang bahwa Gurumu lebih keren daripada aku, Judith," kata Rose lirih.


"Anda tidak perlu iri kepada Countess Wollard, Penyihir Istana. Setiap orang punya kelebihannya sendiri," jawab Dean tiba-tiba. 


Rose terkejut langsung menoleh ke arah Dean.


Dean mengakui bahwa Countess Wollard adalah orang yang hebat, lebih hebat dibanding dirinya. Judith mampu berkembang pesat karena didikan Countess. Di samping itu kemampuan berpedang Countess Wollard di antara kesatria wanita Kekaisaran merupakan yang terkuat. Namun, Pemimpin Penyihir Istana juga merupakan penyihir wanita terkuat di Kekaisaran, seharusnya ia tidak perlu merasa rendah diri.

__ADS_1


"Aku hanya bicara sendiri. Tidak perlu kau tanggapi," jawab Rose ketus.


Rose segera meninggalkan tempat itu sambik mendengus kesal. Sedangkan Dean kebingungan melihat tingkah laku Pemimpin Penyihir Kekaisaran.


Dean masih melihat Isabella sambil menyeringai. Sekarang ia tahu bagaimana perasaan Isabella terhadap Grand Duke Faust.


***


Leticia keluar dari tempat penyedia informasi. Ia berusaha menyelidiki kuil sekali lagi, tetapi tidak membuahkan hasil. 


Matanya tertuju kepada salah satu pedagang. Ia mengamati pedagang itu, karena tidak yakin ia mendekatinya.


Ia melihat dagangan milik pedagang itu yang tertata rapi di pelataran kios di Ibu Kota. Ia melihat siapa yang pemiliknya. Ternyata dugaannya benar.


"Kita bertemu lagi, Jasper," sapa Leticia.


"Ah, Perm-" Jasper menutup mulutnya.


Leticia menaruh telunjuk di depan mulutnya, meminta Jasper tidak melanjutkan ucapannya.


"Benar Nyonya sepertinya sudah cukup lama." Jasper berusaha bersikap seperti biasa.


"Apa ada barang baru yang kamu bawa, Jasper?" tanya Leticia.


"Saya menemukan akar tanaman hitam yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Lalu, batu baja dengan kualitas terbaik dari yang pernah ada di Kekaisaran. Mana yang menarik perhatian Anda, Nyonya?" Senyum bisnis terpampang pada bibir Jasper.


Awalnya, Leticia mengira bahwa orang yang ada di depannya ini adalah pedagang gadungan yang menjual barang-barang murahan. Namun, setelah ia membeli salep yang bisa menghilangkan bekas luka, pandangannya berubah. Salep itu sangat manjur. Leticia pernah memberinya pada Dean dan bekas lukanya sembuh.


"Maaf, sepertinya aku tidak membutuhkan keduanya." Leticia membalas senyumnya.


"Sayang sekali, padahal dulu Anda sangat tertarik pada barang bawaan saya. Dan berkat Anda saya mendapat untung sangat banyak dari bubuk yang bisa menyerap aura, Nyonya."


Leticia yang menyarankan Count Landell untuk membeli bubuk itu dari Jasper. Dari bubuk itulah tercipta batu yang bisa menyerap aura.


"Begitukah, kalau begitu bagaimana kalau kamu menawarkan barang-barangmu kepada Grand Duke Faust?" saran Leticia.


Jasper terperanjat, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tidak, tidak, jangan bercanda, Nyonya. Ini tidak lucu." Jasper tertawa.


"Jika kamu percaya diri pada barangmu seharusnya, kamu tidak perlu takut. Lagi pula, Grand Duke Faust tidak sekejam dirumorkan. Sekarang, dia dikenal sebagai pahlawan," kata Leticia berusaha meyakinkan Jasper.


Jasper bersendekap sambil berpikir. 

__ADS_1


"Baiklah akan saya coba, Nyonya. Doakan saya pulang dengan selamat."


"Tentu saja kamu akan pulang dengan selamat, Jasper," tawa Leticia.


__ADS_2