
Kilauan cahaya berkat berhenti bersinar dari tangan Ariana. Sorot mata penuh tanya dilontarkan pada Leonard.
"Apa dokter yang berusaha meracuni Kakak?"
"Bukan dokter tetapi orang lain. Aku tidak bisa mengatakan siapa orangnya. Lalu jangan pernah memberitahu tahu siapa pun kalau aku yang mengatakannya padamu," jelas Leonard.
"Kenapa?"
Sulit untuk mengatakan kebenaran pada Ariana, tidak mungkin Leonard mengaku bahwa ia sebenarnya ingin mencelakai Duchess. Bahwa ia bekerja sama dengan Marquis untuk melihat Duchess bertekuk lutut di hadapannya.
Memang ia berubah haluan ingin menjatuhkan Marquis Loid, tetapi masalahnya terletak pada Idris. Pelayan itu akan membeberkan gerak-gerik Leonard pada Marquis Loid. Bila Marquis Loid tahu bahwa ia berkhianat, nyawa Leonard dan keluarganya akan terancam. Mencari tahu keberadaan orang tua Leonard pasti mudah untuk seorang Marquis.
Jalan satu-satunya yang terpikirkan di kepala Leonard adalah ia akan menjadi agen ganda untuk Duchess Hillbright dan Marquis Loid.
"Aku tidak bisa mengatakannya." Leonard tertunduk.
Ariana mengernyitkan dahinya. Gelagat Leonard sangat mencurigakan, tetapi Ariana berusaha mempercayai orang yang pernah menyelamatkannya itu. Meski terlihat bar-bar, Leonard adalah orang baik.
"Baiklah, aku mempercayaimu, Leonard" Ariana mengangguk pelan.
"Terima kasih, Ariana."
Ariana bangkit menuju kamar kakaknya. Flint mengikutinya. "Apa yang kamu bicarakan dengan orang tadi, Ariana?"
"Aku tidak bisa mengatakannya, Kak Flint." Kemantapan terlihat dari sorot mata Ariana. Janjinya pada Leonard akan ia tepati.
Flint mundur perlahan, ia sadar bahwa sekali Ariana bertekad sangat sulit untuk digoyahkan. Bahkan Duchess sekali pun harus berjuang keras untuk mengubah pikiran Ariana.
Mereka sampai di kamar Duchess. Ariana mendekati kakaknya yang masih terjaga.
"Apa Kakak diberi obat oleh dokter?" tanya Ariana.
"Benar, ada di nakas," jawab Flint menggantikan Judith.
Ariana mengambil bungkusan kertas di nakas, lantas menyimpannya ke saku baju. Permintaan Leonard telah ia ikuti dengan baik. Ia tersenyum pada Judith.
"Kakak sudah sembuh jadi tidak perlu minum obat lagi. Aku akan menyimpannya."
"Baiklah, terima kasih, Ana. Lalu, terima kasih Sylvie karena telah membawa Ana ke sini." Judith menoleh ke arah Ariana dan Sylvie bergantian.
"Bukan apa-apa, Kak Judith," balas Sylvie meringis.
__ADS_1
"Kalau begitu aku kembali dulu, Kak," pamit Ariana.
Judith mengangguk. "Jaga dirimu baik-baik, Ana."
"Kakak juga."
Ariana menggenggam batu sihir teleportasinya. Sylvie pun melakukan hal yang sama. Kedua gadis itu menghilang dari hadapan Judith dan Flint.
Judith bangkit dari tidurnya. Ia tidak ingin bermalas-malasan dengan berdiam diri, masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Terlebih kesehatannya sudah pulih, mendadak Flint sudah berada di depannya.
"Sebaiknya Anda istirahat sehari lagi, Duchess. Anda tidak perlu khawatir, saya akan mengerjakan tugas Anda," saran Flint.
"Aku tidak bisa membebankan semuanya padamu, Flint." Duchess Hillbright bersikeras pada pendiriannya.
Flint juga tidak mau kalah. "Saya tidak terbebani yang terpenting adalah kesehatan Anda. Anda tidak ingin keluarga Anda khawatir bukan?"
Judith menghela napas panjang kembali berbaring di tempat tidurnya. "Baiklah, aku akan istirahat. Kamu bisa kembali bekerja Flint."
"Baik, Duchess." Flint undur diri menuju ruang kerja Duchess.
Judith menerawang ke langit-langit, penasaran dengan keadaan Leonard.
***
Tatapan Arion tertuju pada Ariana dan Sylvie yang telah tiba di kuil. Ia menghampiri mereka.
"Bagaima keadaan kakak?" tanya Arion.
"Sudah baikan, Rion," jawab Ariana.
Arion menghembuskan napas lega. Ia menatap Sylvie seraya mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Terima kasih sudah memberi tahu kami, Sylvie."
"Tidak masalah, Rion."
Sylvie mengibas-ibaskan tangan, menutupi wajah yang sedikit memerah. Senyuman Arion selalu membuat Sylvie salah tingkah. Entah sejak kapan, jantungnya berdegup kencang bila bersama Pangeran itu. Sayangnya, ia tak berani menyatakan perasan pada Arion. Rasa takut ditolak karena hanya dianggap sebagai teman terus membelenggu Sylvie.
"Apa kamu sakit, Sylvie?" Arion menaruh tangannya di kening Sylvie seperti yang selalu dilakukan ibunya ketika sakit.
"Aku hanya kepanasan. Aku pamit dulu, Rion, Ana." Sylvie mundur dengan cepat seraya melambaikan tangan ke saudara kembar itu. Ia mengaktifkan batu sihir menuju ke kediaman Wollard.
__ADS_1
Arion menatap Ariana yang sama kebingungan dengan dirinya. "Sylvie kenapa?" tanya Arion.
Ariana menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak tahu, dia baik-baik saja ketika bertemu dengan kakak."
"Kamu istirahat saja, Ana. Kamu pasti lelah. Biar aku saja yang mengatur pembangunan kuil."
Menyembuhkan Judith dan Leonard tidak terlalu menguras tenaga Ariana. Namun, ia telah memberi berkat pada pekerja dan orang-orang yang datang ke kuil. Seorang Saintess sekali pun pasti akan kelelahan bila mengeluarkan kekuatan suci sebanyak itu.
"Aku seorang Saintess. Sudah sepatutnya aku berada di sini, Rion." Ariana menatap lurus Arion.
Menyadari keteguhan saudara kembarnya, Arion mengalah. Setidaknya, kepercayaan diri Ariana semakin meningkat dan Arion turut berbahagia akan hal itu. "Kalau begitu jangan memaksakan diri, Ana. Jangan sampai membuat Ayah dan Ibu khawatir."
"Baiklah, Rion."
Arion kembali mengatur para pekerja, Ariana menuju ke kelompok pendeta yang memberi berkat pada pekerja. Ariana menangkap sosok yang tak asing.
"Kenapa kamu ada di sini, Kak Raymond?"
Raymond menoleh ke arah Ariana, lantas tertunduk. "Saya bekerja sebagai kesatria suci, jadi sudah tugas saya untuk membantu, Saintess."
"Sejak kapan? Kenapa kita tidak pernah berpapasan?" Ariana menggantikan pendeta yang memberikan berkat pada Raymond. Ia mengernyitkan dahi, mereka begitu dekat tetapi Raymond tidak menemuinya.
"Sekitar tiga bulan yang lalu. Saya sering berlatih dengan kesatria yang lain, jadi kita tidak pernah bertemu, Saintess." Raymond menghindari tatapan Ariana.
Tidak ingin bertanya lebih lanjut, Ariana menyudahi pemberian berkat pada Raymond. Lagipula, energi Raymond sudah kembali. Namun, kesatria suci itu bergeming di hadapan Ariana.
"Ada apa, Kak Raymond?"
Raymond ragu-ragu membuka mulut. "Jika perlu bantuan, minta saja kepada saya, Saintess."
"Baiklah, akan kuingat." Ariana tersenyum.
Raymond segera melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya, ia ingin menemui Ariana, tetapi tidak berani. Jarak di antara mereka semakin lebar, sejak Ariana menjadi pendeta. Raymond berusaha mendekatkan diri dengan bekerja sebagai kesatria, tetapi tetap saja ia bingung untuk mencari topik pembicaraan.
Tiba-tiba, ada yang menepuk bahu Raymond. Ia berpaling ke orang di belakangnya.
"Kak Raymond, apa kamu bisa menemaniku ke ibu kota besok?" tanya Ariana ragu-ragu.
"Saya bisa, Saintess." Raymond menunduk.
"Terima kasih, akan kutunggu di depan pintu gerbang besok."
__ADS_1
Ariana berlarian kecil menuju kelompoknya lagi. Raymond menekan jantungnya yang berdegup kencang. Matanya sulit lepas dari Saintess itu.