
"Siap, Tuan Putri."
Para pengawal itu langsung keluar mengejar pencuri itu. Judith hendak menyusul mereka dihentikan Dean.
"Anda mau ke mana, Tuan Putri?" tanya Dean.
"Tentu saja untuk mencari Ibu, Sir. Kenapa Sir Dean masih di sini?" jawab Judith dengan cepat. Ia masih kebingungan.
"Sebaiknya Anda tetap di tempat aman, Tuan Putri. Permaisuri Pertama meminta saya untuk melindungi Anda bagaimanapun keadaannya. Bagi saya yang utama adalah keselamatan Anda," tegas Dean.
"Kalau begitu, bagaiman dengan Ibu?" tanya Judith.
"Percayakan pada pengawal yang lain, Tuan Putri. Besok apabila kereta kuda datang, kita minta bantuan untuk mencari Permaisuri Pertama. Jika terlalu lama, Anda bisa meminta salah satu pengawal untuk kembali ke istana malam ini untuk meminta bala bantuan. Permaisuri Pertama akan baik-baik saja, beliau adalah orang yang kuat. Sebaiknya Anda beristirahat, Tuan Putri. Saya akan berjaga di dalam agar Anda merasa aman," jelas Dean.
Dean segera mengambil alas kaki untuk Judith agar kakinya tidak terkena serpihan kaca. Mereka segera mengemasi barang-barang dan berpindah ke kamar lain. Judith masih tidak bisa tenang. Saat memindahkan barang. Salah satu barang bawaan ibunya terjatuh.
Sebuah batu sihir. Ada dua orang yang berkemungkinan memberikan batu sihir itu pada ibunya, Pemimpin Penyihir Menara atau Pemimpin Penyihir Kekaisaran.
Judith segera meraih batu sihir itu berusaha mengaktifkannya. Ini pertama kalinya ia memegang batu sihir secara langsung. Ia menekan sebuah tombol lalu batu sihir itu menyala. Batu itu berkedip-kedip cukup lama hingga menyala terang.
"Paman Dale, Bibi Rose, tolong selamatkan ibu! Ibu diculik kami di penginapan X di ibu kota!" teriak Judith. Air mata membanjiri pipinya.
Batu sihir itu meredup. Tak ada jawaban dari sebrang sana, tetapi Judith yakin salah satu dari mereka mendengarnya dan segera mencari ibubya. Judith memeluk batu sihir itu berharap salah satu dari mereka menemukan ibunya.
Dean kembali karena mendengar tangisan. Ia memeluk Judith berusaha menenangkannya.
Salah satu pengawal kembali. "Tuan Putri, kami minta maaf. Kami kehilangan penculik Permaisuri Pertama."
Judith melepas pelukan Dean. Ia mengembalikan batu sihir itu ke kantong milik ibunya. Ia berusaha tetap kuat, menghapus air matanya.
__ADS_1
"Cepat kembali ke istana dan minta bala bantuan. Yang lain tetap lakukan pencarian, kita harus menemukan ibuku bagaimanapun caranya." perintah Judith.
***
Leticia membuka matanya. Ia berada di lantai. Kaki dan tangannya terikat. Ia mengedarkan mata ke sekeliling. Ia berada di sebuah gubuk tua dan dijaga oleh dua penculik itu. Mereka duduk di kursi. Penculik itu saling berbisik. Lalu salah satu dari mereka keluar.
Orang yang keluar itu kembali membawa pemimpin mereka. Pimpinan mereka membawa salah satu kursi mendekati Leticia lalu duduk di atasnya sambil menatap Leticia. Ia membawa botol berisi minuman keras. Ia menegaknya sampai habis. Lalu berkata, "Jadi bagaimana rasanya diculik, Permaisuri?"
"Jika kamu membutuhkan uang, aku akan memberikannya kepadamu," jawab Leticia ketus.
"Kami tidak membutuhkan uang. Kami hanya ingin membuat perhitungan," tawa pria itu.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Leticia.
"Tidak ada. Kami hanya ingin balas dendam." Pria itu menyeringai, berjalan terhuyung-huyung mendekati Leticia.
"Kami tahu, kami akan ditangkap. Toh, kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Yang kami perlukan hanyalah rasa puas melihat ayahmu menderita," teriak orang itu.
Mata Leticia terbelalak. Awalnya ia mengira yang mengirim penculik ini adalah Charlotte. Namun, Charlotte terlalu sibuk untuk mengurusi nama baiknya yang tercoreng, ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.
Leticia tahu ayahnya banyak memiliki musuh karena ambisinya yang terlalu besar. Namun, ia tidak tahu apa yang ayahnya lakukan.
"Apa yang Ayahku lakukan?"
"Seperti biasa dia pintar menutupi segalanya. Atau kamu saja yang tidak mau tahu, Permaisuri. Kami adalah bangsawan yang bisnisnya hancur gara-gara ayahmu. Ayahmu semakin kaya dan berkuasa sedangkan kami semakin terpuruk. Kami kehilangan segalanya, hanya tersisa nyawa saja. Sebelum tewas setidaknya kami ingin melihat penderitaan Duke Hilbright."
"Kalian hanyalah sekumpulan penakut. Kalian tidak berani pada Ayahku sehingga menargetkan diriku." Sorot mata Leticia semakin tajam.
Pria itu melempar botol hampir mengenai kepala Leticia. Leticia tidak terkejut masih menatapnya tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Untungnya meleset. Sepertinya kamu tidak kenal takut, Permaisuri. Kukira hanya anak penurut dan hanya tahu kemewahan saja. Tenang saja aku tidak akan melukaimu, untuk sekarang. Aku akan memanggil ayahmu untuk menyaksikan sendiri bagaimana putrinya disiksa." Pria itu cekikikan.
Apa ayahnya akan datang? Leticia juga tidak tahu. Bagi ayahnya yang terpenting adalah kekuasaan. Meskipun ayahnya datang, alasannya bukan karena ia peduli pada Leticia. Ia hanya butuh orang untuk melahirkan anak laki-laki Kaisar.
Leticia tahu sifat ayahnya. Ia pernah terluka sewaktu kecil, tetapi ayahnya menemuinya bukan karena khawatir kepadanya. Duke Hillbright khawatir jika tak ada yang mau menikahi Leticia karena ada goresan luka di tubuh putrinya.
"Sepertinya aku terlalu banyak bicara. Istirahatlah dan tunggulah penderitaan yang akan kamu alami," lanjut pria itu. Orang itu menyeringai lalu keluar.
Salah satu penculik itu membawa kursi itu menjauh menempatkannya di tempat semula. Mereka duduk mengawasi Leticia lagi.
Kedua pengawas itu saling berbincang. Leticia bergeser ke kiri sedikit demi sedikit. Ia mengambil pecahan botol itu diam-diam tanpa sepengetahuan kedua pengawas itu. Tadi ia sengaja menyulut kemarahan pria itu. Botol yang dibawanya bisa menjadi alat untuk membuat Leticia kabur dari sini.
Leticia menggores tali yang mengekangnya sedikit demi sedikit. Pecahan botol yang tajam sempat melukai tangannya. Ia menahan rasa sakitnya sambil berusaha memotong tali yang mengikat tangannya.
Tangannya sudah bebas. Ia tetap menaruh tangannya di belakang agar kedua orang yang mengawasinya tidak curiga. Ia berhasil memotong tali di kakinya.
Ada dua orang yang masuk ke dalam untuk menggantikan dua orang yang mengawasi Leticia. Cahaya yang menembus sela-sela dinding dan jendela gubuk itu mulai menghilang. Hari sudah berganti malam.
Kedua orang itu mulai mengantuk. Leticia berdiri perlahan dan berjalan tanpa suara. Ia memukul tengkuk salah satu dari mereka. Orang itu langsung pingsan sedangkan yang lain terbangun. Leticia segera menjegal kakinya membuatnya terjatuh lalu memukul tengkuknya.
Leticia tidak berpikir menggunakan pintu sebagai jalan keluar karena pastinya ada orang yang menjaga di luar. Leticia mengambil kursi lalu menggesernya di bawah jendela yang letaknya cukup tinggi.
Suara pintu terbuka terdengar. Leticia segera cepat-cepat naik ke kursi lalu mencoba meraih jendela itu.
"Sepertinya, tugas saya di sini sudah selesai. Saya tidak perlu melakukan apa-apa," kata orang itu.
Leticia menghentikan tindakannya. Ia menoleh pada suara yang tidak asing itu. Bukan suara pemimpin penculik tadi.
"Kenapa Anda ada di sini, Grand Duke?" tanya Leticia.
__ADS_1