
Sudah enam bulan berlalu sejak pernikahan Leticia dan Gerald. Banyak gosip yang membicarakan mereka.
"Cinta mereka pasti bertahan sebentar."
"Permaisuri katanya mandul, itulah yang menyebabkan Kaisar terdahulu menikah lagi. Pasti Kaisar yang sekarang akan melakukan hal yang sama."
"Mereka butuh pewaris tahta."
"Permaisuri tidak bisa dipercaya, dia pernah berkhianat mungkin akan berkhianat lagi."
Semua itu tidak mereka pikirkan. Gosip yang beredar sama sekali tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Gosip itu hanya membicarakan hal yang terlihat buruk saja.
Mereka menjalani pernikahan yang bahagia. Meski Judith tidak terlalu dekat dengan Gerald, kebenciannya terhadap ayah tirinya perlahan berkurang.
Dale dan Isabella menikah selang 1 bulan setelah pernikahan Leticia dan Gerald. Kini, Penyihir menara memanggil Dale sebagai Count Wollard. Dean dan Rose menikah seminggu setelahnya. Sebelum itu, Rose berkunjung ke rumah orang tua untuk meminta restu. Orang tua Dean setuju asalkan putranya bahagia bersama orang yang ia cintai. Mereka tidak memandang status Rose sebagai anak yatim piatu.
Semuanya sangat damai.
Judith sedang berlatih pedang bersama Isabella. Isabella masih menjadi gurunya. Judith tetap ingin belajar berpedang karena ingin menjadi orang yang kuat untuk melindungi ibunya.
Gerald melewati lapangan latihan melihat Judith berlatih. Judith dan Isabella menunduk memberikan salam pada Kaisar.
"Apa kamu ingin berlatih bersamaku, Tuan Putri?"
Di mata Judith, Gerald terlihat sangat menakutkan. Kekuatannya sangat kuat, ia takut terluka menghadapinya.
Isabella menyadari tatapan muridnya, berusaha menenangkannya. "Jangan khawatir, Judith. Yang Mulia tidak akan menyakitimu."
Judith mengangguk. Ia tidak tahu kenapa ibunya bisa jatuh cinta pada orang yang semenakutkan ini.
Mereka berlatih satu sama lain. Gerald menahan diri, tidak mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya. Meski begitu Judith tetap kewalahan melawannya.
Setelah selesai, mereka beristirahat.
"Kemampuanmu semakin meningkat, Tuan Putri," puji Gerald.
"Terima kasih, Yang Mulia." Judith menunduk.
Aura kecanggungan menyelimuti mereka berdua. Isabella menyadarinya berusaha mencairkan suasana.
"Apa sehabis ini kamu ingin menemui ibumu, Judith?" tanya Isabella.
"Benar, Guru," jawab Judith bersemangat.
"Apa aku boleh mengantarmu, Tuan Putri? Aku juga ada keperluan dengan Permaisuri," timpal Gerald.
Gerald ingin mendekatkan diri dengan putri istrinya. Namun, ia tidak tahu cara yang tepat. Ayahnya dulu adalah orang yang tegas jadi Gerald tidak tahu bagaimana caranya bersikap lembut pada anak. Ibunya hanya berbaring di kasur. Dulu ia sering mengunjunginya. Ibunya mengajarkannya sedikit cara menunjukkan kasih sayang.
Judith sebenarnya ingin menolaknya karena ingin pergi sendirian, tetapi ia tidak bisa menolak permintaan Kaisar. "Anda boleh mengantar saya, Yang Mulia."
Gerald menggendong Judith. Isabella gelagapan dengan cara Kaisar menggendong Judith. Ia menggendongnya seperti membawa barang.
Judith terkejut dan takut dengan tindakan ayah tirinya. Ia meronta-ronta.
__ADS_1
Isabella memberikan contoh cara menggendong yang benar. Gerald mengangguk sambil meminta maaf pada Judith.
Kini Gerald menggendongnya dengan benar. Judith merangkul leher Gerald karena ketakutan. Isabella menghela napas panjang pada Tuannya itu.
Gerald menepuk-nepuk punggung Judith untuk menenangkannya sambil berjalan menuju ruang kerja Leticia.
Mereka sudah sampai. Leticia menyambut mereka dengan gembira. Judith segera turun memeluk Ibunya sambil gemetaran. Ia kebingungan dengan sikap putrinya ini. Lalu melihat Gerald yang memalingkan kepala. Ia bertanya kepada putrinya. "Ada apa, Sayang?"
Judith sebenarnya enggan mengatakannya. Ia tidak ingin ibunya marah, tetapi jika berbohong pasti akan ketahuan. "Kaisar menggendongku tetapi tidak tahu cara menggendong yang benar, jadi aku merasa tidak nyaman."
Leticia menatap Gerald sambil menghela napas panjang. Ia berpaling pada putrinya lagi.
"Maafkan, tindakan Kaisar ya, Sayang. Beliau tidak tahu cara menunjukkan kasih sayang dengan benar. Sebenarnya, Beliau ingin dekat denganmu," kata Leticia menyakinkan Judith.
Judith menatap Gerald. Ia berusaha memakluminya tetapi tetap saja masih takut. Judith berlindung dibalik Ibunya.
Gerald tertegun melihat sikap Judith kepadanya. Leticia bertanya pada Gerald, "Ada keperluan apa Anda kemari, Yang Mulia?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu tetapi lebih baik nanti malam saja. Nikmatilah waktu bersama putrimu dulu," jawab Gerald.
Gerald lalu meninggalkan ruangan itu. Rasa takut Judith mulai menghilang. Ia duduk di samping Ibunya.
"Bagaimana latihannya, Sayang?"
Leticia tersenyum pada putrinya. Judith menyadari senyuman bahagia Leticia bukan cuma ditunjukkan pada Gerald saja. Saat itu ibunya benar-benar bahagia, begitu pula dengan sekarang. Leticia tidak bisa menunjukkan senyum itu padanya dan Braun karena ia tidak benar-benar bahagia.
"Menyenangkan, Kaisar tadi juga sempat melatihku, Ibu."
Leticia mengelus-elus kepala putrinya.
"Apa Ibu tidak akan mengajariku lagi?"
Leticia yang disibukkan dengan pekerjaannya sebagai Permaisuri memanggil guru untuk Judith. Guru yang ia pilih adalah orang yang bisa dipercaya. Guru-guru itu tidak akan menyakiti putrinya.
"Ibu sibuk, Sayang. Kalau ada yang tidak kamu mengerti dengan yang diajarkan gurumu, kamu bisa bertanya pada Ibu. Lagipula sekarang keadaannya sudah aman, jadi guru-guru itu tidak akan menyakitimu."
"Baik, Ibu."
Sebenarnya Judith ingin bermanja-manja dengan Leticia, tetapi karena semakin lama umurnya semakin bertambah, ia ingin bersikap dewasa.
***
Leticia yang berbaring di kasur dikejutkan dengan orang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Orang itu mengecup bibirnya sebentar lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Leticia.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan Gerald?" tanya Leticia.
"Kerajaan Yuvinere ingin bekerja sama dengan kita, tetapi mereka ingin menikahkan Judith dengan Putra Mahkota di sana," jawab Gerald tanpa basa-basi.
Leticia tersentak. Ia merasa geram karena putrinya yang masih kecil sudah menerima lamaran penikahan. Ia ingin putrinya menikmati masa kecilnya terlebih dahulu.
"Begitu ya. Jadi kapan mereka datang ke sini?"
"Seminggu lagi. Apa perlu kutolak?" jawab Gerald geram.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kita akan membuat perhitungan pada mereka," balas Leticia dengan nada jahat.
"Baguslah itu juga yang kuinginkan."
Mereka kedua saling tersenyum, memikirkan rencana untuk mempermalukan kerajaan Yuvinere. Lalu, melanjutkan hal yang mereka tunda tadi.
***
Keluarga Kekaisaran Houllem dan Keluarga Kerajaan Yuvinere makan bersama. Raja Yuvinere berbicara panjang lebar tentang pertunangan putranya dengan Judith. Leticia berusaha menahan amarahnya dari tadi.
"Jadi bagaimana, Kaisar dan Permaisuri?" tanya Raja Yuvinere.
"Maafkan saya, tetapi maaf saya harus menolaknya," jawab Gerald.
"Saya juga menolaknya," timpal Leticia.
"Apa tidak dipikirkan dulu?" Raja Yuvinere berusaha menyakinkan mereka.
"Saya tidak mau putri kami bertunangan dan menikah dengan orang yang lebih lemah darinya," jawab Gerald ketus.
Raja Yuvinere yang tidak tahan dihina, ia menantang Gerald. Bila putranya menang, Judith harus bertunangan dan menikah dengan putranya. Namun, bila kalah ia akan kembali ke kerajaannya dengan tangan kosong.
Gerald dan Leticia menyetujuinya. Judith bingung dengan sikap mereka berdua. Namun, ia juga yakin tidak akan kalah dengan lawannya meskipun laki-laki. Ia sudah berlatih dengan giat.
Mereka berada di lapangan latihan. Judith dan Putra Mahkota Kerajaan Yuvinere bertarung. Judith lebih unggul, ia bisa menang melawan lawannya dengan mudah.
Ratu Yuvinere merasa khawatir akan kekalahan putranya. Ia hendak membantu putranya diam-diam dengan batu sihir. Leticia menyadarinya, mencengkram tangannya.
"Apa yang hendak Anda lakukan?"
"Saya tidak melakukan apa-apa," elak Ratu Yuvinere.
Merasa telah dipermalukan. Raja Yuvinere yang menyembunyikan batu sihir yang lain, mengaktifkan batu sihirnya untuk melukai Judith. Bola api melesat menuju ke arah Judith. Judith terkejut tidak sempat menghindar. Gerald lari untuk melindunginya.
Leticia semakin geram. "Kami tidak akan pernah bekerja sama dengan Kerajaan Yuvinere. Perbuatan Anda yang berusaha melukai putri kami tidak akan kami maafkan untuk selamanya."
Keluarga Kerajaan Yuvinere pulang dengan menanggung malu.
Judith kagum dengan ibunya yang keren tadi. Judith memandangi ayah tirinya. Tadi, Gerald menyelamatkan dirinya meski menyebabkan punggungnya terluka.
"Apa itu sakit?" tanya Judith pada Gerald.
"Tidak apa-apa ini bukan luka yang parah," jawab Gerald sambil mengelus-elus kepala Judith.
Judith merasa senang. Ia bisa merasakan kasih sayang ayah yang tulus ingin melidunginya.
"Cepat sembuh, Ayah."
Leticia dan Gerald tersentak dengan ucapan Judith. Gerald memeluk Judith dengan erat. Leticia tersenyum melihat kedua orang yang ia sayangi semakin dekat.
"Terima kasih, Judith."
Gerald merasa senang jadi seperti ini rasanya jadi seorang ayah. Dulu ia takut untuk merasakan cinta dan kasih sayang, sekarang ia bersyukur memiliki keduanya. Semua itu tidak akan menjadi kelemahannya. Itu akan menjadikannya kuat.
__ADS_1