
"Untuk apa aku menuruti semua kemauanmu?" tantang Judith.
Marquis Loid tidak akan memberikan penawar racun itu, meski Judith menuruti permintaannya. Lagipula Arion dan Ariana sudah disembuhkan Paus, Marquis tidak memperkirakan Judith bisa membawa pendeta secepat itu.
"Sayang sekali jika Anda tidak mau. Adik Anda pasti kesakitan." Marquis Loid memasang ancang-ancang untuk membanting botol berisi penawar racun.
Tidak terlihat Judith akan mengehentikan Marquis. Ia masih duduk memperhatikan tingkah laku Marquis yang semakin terlihat bodoh.
"Banting saja, aku tidak membutuhkannya," ujar Judith sinis.
Amarah Marquis Loid meledak. Botol penawar racun itu dilempar hampir mengenai wajah Judith bila tidak menelengkan kepala.
"Berhentilah bersikap sombong. Kau hanyalah anak ingusan yang tidak apa-apa. Jika bukan karena kau adalah anak Kaisar terdahulu, aku tidak akan mendekatimu!" teriak Marquis.
Tak mau membuang-buang waktu lagi, Judith mengeluarkan surat perintah penangkapan Marquis Loid. Ia meminta surat perintah pada Gerald setelah mengetahui rencana pemberontakan Marquis, tetapi bukti masih kurang. Ini adalah saat yang paling tepat untuk menangkap Marquis.
"Anda ditangkap atas tuduhan pemberontakan dan rencana pembunuhan keluarga kekaisaran, Marquis Loid," tegas Judith.
"Kau tidak punya cukup bukti."
"Aku merekam percakapanku dengan budakmu. Bukti pemberontakan akan kugeledah di kediaman ini."
Judith bangkit menuju pintu. Sebilah pedang terhunus di samping leher Judith.
"Jangan berlagak!" Marquis Loid bersiap menebas kepala Judith.
Dengan cepat, Judith menangkis pedang Marquis. Suara pedang beradu terdengar di ruangan itu. Judith menghindari serangan demi serangan dari Marquis itu.
"Kenapa kau tidak menyerang? Apa kau takut?" ejek Marquis.
Judith tidak terprovokasi, ia menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik. Sisi kiri Marquis terbuka lebar. Judith menendang perut Marquis hingga tersungkur. Pedang Marquis yang ter menyingkirkan pedang dari musuhnya. Ia memukul Marquis satu itu berkali-kali, melampiaskan kekesalannya yang menumpuk. Seandainya tidak ada hukum yang membelenggu pembunuhan bangsawan tanpa pengadilan terlebih dahulu, mungkin Judith sudah menghabisi nyawa Marquis Loid sedari tadi.
"Ampuni aku," ucap Marquis Loid lirih.
Luka lebam memenuhi wajah Marquis Loid. Darah keluar dari sudut bibirnya. Ia terus meronta-ronta tetapi Judith tanpa ampun terus melayangkan tinjunya hingga Marquis itu tak sadarkan diri.
Judith menyeret Marquis itu menuju kereta kuda yang akan mengantarkan penjahat ke istana. Ia kembali menuju kediaman Loid untuk mencari bukti pemberontakan Marquis Loid. Langkah Judith terhenti di ruang tengah. Terasa keberadaan seseorang di sekitar sana.
__ADS_1
Tanpa menoleh ke arah orang itu, ia berkata, "Untuk apa kamu ke sini? Apakah untuk melihat kejatuhan Marquis Loid atau menyaksikan diriku yang menyedihkan?"
Suara langkah kaki mendekat. Leonard menampakkan diri dengan tatapan sendu. Ia membuka mulut lantas menutupnya kembali. Leonard tahu akan bertemu dengan Judith di kediaman Loid. Ia ingin menjelaskan semuanya, tetapi kata-kata tak sanggup terucap.
"Aku melepaskanmu asalkan tidak muncul di hadapanku lagi," kata Judith dingin.
Kaki Leonard seolah menancap ke lantai. Ia mengepalkan tangan dengan erat. Satu kalimat lolos dari mulutnya.
"Maafkan aku."
Judith berdecak, masih memunggungi Leonard. "Maaf untuk apa? Aku sendiri yang bodoh mempercayai prajurit bayaran yang hanya mementingkan uang dan tidak punya loyalitas sepertimu"
"Kamu salah, aku ingin mengabdi padamu. Pikiran balas dendam tidak pernah terlintas di kepalaku sekarang. Dulunya aku membencimu karena semua bangsawan yang kukenal selalu merendahkan rakyat jelata, tetapi kamu berbeda. Kamu yang membuka mataku bahwa tidak semua bangsawan itu licik, serakah, dan penuh kebohongan," jelas Leonard.
"Kepercayaanku padamu sudah habis."
Leonard terdiam. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kebenaran.
"Aku tidak pernah tahu Idris akan meracuni adikmu. Jika tahu sudah pasti akan kucegah karena kamu sangat menyayangi Ariana dan Arion."
Judith tak bersuara, tak ingin melihat wajah Leonard. Hatinya terlanjur terluka.
Leonard menunggu jawaban Duchess. Namun, jawaban itu tak kunjung datang. Leonard memejamkan mata, sudah waktunya ia pergi. Harapannya mendapatkan maaf dari Duchess sudah hancur.
"Maafkan aku, Duchess. Kuharap suatu hari kamu akan bahagia."
Leonard berjalan menjauhi Duchess. Ia tertahan karena suara kecil di belakangnya.
"Orang tanpa kesetiaan dan hanya mementingkan kekuasaan adalah orang yang paling kubenci, karena mengingatkanku pada ayah kandungku. Dan. Kamu salah satunya."
Leonard memutar tubuhnya. Punggung Duchess yang terlihat.
"Tetapi sikapmu terkadang membuatku bingung. Kamu selalu berusaha menyelamatkanku padahal jelas-jelas bekerja sama dengan Marquis. Aku menempatkan harapan padamu bahwa mungkin saja kamu akan berubah. Lama-kelamaan harapan itu berubah jadi angan-angan berbahagia bersamamu."
Duchess perlahan berbalik. Matanya sembab menatap Leonard yang menyunggingkan senyum.
"Katakan dengan jelas alasanmu ingin menjadi bangsawan," pinta Judith.
__ADS_1
"Aku ingin memilikimu, Duchess." Leonard menghampiri Judith. Tangannya meraih pinggang dan tengkuk Duchess. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Judith.
Judith menutup mata seraya membalas ciuman Leonard. Tangannya melingkar pada leher Leonard, tak ingin melepas prajurit bayaran satu itu.
Ciuman mereka semakin menuntut satu sama lain, berharap lebih banyak bisa menyalurkan apa yang mereka rasakan. Leonard menjauh, menyeka air mata Judith yang menetes. Ia mendekap Judith seolah-olah takut ditinggal pergi.
"Aku mencintaimu, Duchess."
Kedua sudut bibir Judith terangkat. "Aku juga mencintaimu, Leonard."
"Apa aku boleh memanggil namamu?"
Judith mengangguk. Leonard merasakan anggukan Judith lantas berbisik, "Aku mencintaimu, Judith."
Judith mengendurkan pelukan. Ia bertatapan dengan Leonard dan saling mendekatkan bibir. Pasangan yang dimabuk cinta itu terus melanjutkan kemesraan mereka hingga lupa waktu.
***
Malam semakin dingin, bukti pemberontakan Marquis Loid sudah terkumpul. Judith menuju kereta kuda. Leonard mengulurkan tangan untuk membantu Judith naik ke kereta kuda. Judith meraihnya tanpa ragu-ragu.
Leonard duduk di samping Judith menautkan tangan mereka. Senyum Judith mengembang seraya bersandar pada Leonard.
Bibir Leonard mendarat di puncak kepala Judith. Pengawal satu itu masih tidak percaya bahwa cintanya berbalas. Bila yang dirasakannya hanya mimpi, ia berharap mimpi itu berlangsung selamanya.
"Lain kali jangan pernah menutupi sesuatu dariku lagi, Leon," kata Judith sambil mengusap-usapkan kepalanya pada lengan Leonard.
Leonard terkekeh karena bisa melihat sisi lain dari Duches. "Baik, aku janji."
Leonard menggenggan tangan Judith lebih erat lagi. "Kalau kamu ingin menangis, menangislah aku tidak sanggup melihatmu menahan tangis seperti tadi," lanjut Leonard.
"Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Hanya ayah dan ibuku yang pernah melihatku menangis."
"Aku juga menjadi salah satunya."
Judith tertawa pelan. Matanya semakin mengantuk, ia telah melewati hari yang sangat panjang. "Aku lelah."
"Tidurlah, aku akan menjagamu." Leonard melepas genggamannya. Ia merangkul Judith sembari mengelus-elus lengan Duchess itu.
__ADS_1
Judith tertidur sepanjang perjalanan menuju kediaman Hillbright. Meski sudah sampai, Leonard tidak tega membangunkan Judith. Leonard membopong Judith keluar dari kereta kuda. Di depannya berdiri Permaisuri yang sudah menunggu kedatangan Duchess. Tatapan penuh tanda tanya Leticia terus tertuju pada Leonard.