
Leticia pergi ke kediaman Lodrey. Marchioness Lodrey menyambutnya. Marchioness menyuguhkan camilan dan teh kepada Leticia. Leticia menikmati jamuan Marchioness.
"Ada apa Anda datang kemari, Permaisuri?" tanya Marchioness Lodrey.
Leticia berhenti menyesap tehnya. Ia meletakkan cangkir tehnya.
"Saya dengar sudah sepuluh tahun Anda dan Marquis belum dikaruniai anak, Marchioness. Perkataan saya bukan bermaksud menyinggung Anda," jelas Leticia.
"Benar, Permaisuri. Saya mandul. Jadi saya dan Suami saya sering ke panti asuhan untuk bertemu anak-anak. Saya menganggap mereka sebagai pengganti anak yang tidak bisa saya lahirkan, Permaisuri. Di sisi lain kami dapat membantu mereka yang tidak punya ayah atau ibu."
Sungguh tujuan yang mulia. Namun, Leticia sama sekali tidak mengendorkan kecurigaannya.
"Kenapa Anda tidak mengadopsi anak saja, Marchioness?"
"Suami saya tidak setuju. Beliau tidak tega mengambil salah satu anak di panti asuhan karena takut bila anak yang lain merasa iri. Suami saya ingin memberikan kasih sayang yang adil pada mereka semua."
Semua perbuatan Marquis dan Marchioness tidak mempunyai celah. Leticia tidak tahu tindakan jahat apa yang bisa mereka lakukan. Ia tidak ingin Marchioness curiga karena kedatangannya tiba-tiba menanyakan perihal panti asuhan.
"Saya turut prihatin, Marchioness. Saya minta maaf apabila bertanya yang tidak-tidak. Sebenarnya sudah lima tahun saya tidak mengandung lagi. Saya merasa frustasi." Leticia mengusap matanya.
Marchioness Lodrey merasa iba. Ia memegang tangan Leticia. Akting Leticia berhasil.
"Saya tahu bagaimana rasanya, Permaisuri. Anda harus tetap tegar. Anda masih memiliki Tuan Putri dan Yang Mulia pasti masih menyayangi Anda, Permaisuri."
"Saya harap itu benar, Marchioness," jawab Leticia lirih.
Dengan begini Marchioness Lodrey tidak perlu mencurigai Leticia yang bertanya tentang panti asuhan itu. Marchioness akan mengira bahwa Leticia mendatanginya karena butuh teman untuk bercerita. Teman yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Hanya saja Leticia tidak ingin bercerita lebih lanjut. Pastinya Marchioness Lodrey sudah tahu bahwa Kaisar lebih menyayangi Permaisuri Kedua. Leticia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya dengan menceritakan hal itu.
__ADS_1
"Saya siap mendengar cerita Anda kapan saja, Permaisuri." Marchioness Lodrey tersenyum.
"Terima kasih, Marchioness. Saya merasa lebih lega." Senyum palsu Leticia merekah.
Leticia pulang tanpa mendapat informasi penting apapun. Kali ini lawannya sangat berhati-hati. Namun, ia masih belum menyerah. Pasti ada celah yang bisa ia manfaatkan. Ia berharap Rose dan Grand Duke Faust mendapat informasi yang bagus.
***
Rose berada di depan panti asuhan yang sering dikunjungi oleh Marquis Lodrey. Ia sudah memasang ilusi di ruang kerjanya sehingga tidak ada orang yang curiga. Ia juga sudah mengunci pintu agar tidak ada yang masuk.
Ia memakai tudung sihir sambil mengamati anak-anak yang bermain di halaman depan panti asuhan. Mereka terlihat sangat gembira. Kepala panti asuhan memanggil mereka karena sudah waktunya untuk makan sianga.
Rose mengikuti mereka. Makanan yang disajikan di meja makan sangat layak. Pasti uang donasi yang diberikan pada panti asuhan ini sangat banyak.
"Mari kita syukuri makanan hari ini anak-anak. Semua berkat bantuan dari Marquis dan Marchioness Lodrey," kata kepala panti asuhan.
Anak-anak panti asuhan mengangguk dan makan dengan lahap. Anak kecil yang belum bisa memegang sendok disuapi oleh kepala panti asuhan. Kepala panti asuhan ini baik hati, berbeda dengan kepala panti asuhan milik Rose dulu.
Mereka hidup dari belas kasihan orang yang lewat. Anak-anak yang tidak menyukai mereka melakukan penindasan. Mereka pernah mencoba meminta bantuan pada bangsawan yang lewat, tetapi mereka malah ditendang karena menganggu.
Itu sebabnya Rose bersikap tidak ramah kepada Leticia saat pertama kali bertemu walaupun Leticia menyelamatkan mereka. Jika bukan karena Leticia, ia pasti masih meringkuk di gang bersama dengan Dale.
Rose tersadar dari lamunannya. Ia berkeliling panti asuhan. Rose merasa tidak ada yang aneh dari panti asuhan ini, seperti panti asuhan pada umumnya.
Energi Rose terus berkurang. Ia takut tidak bisa mempertahankan ilusinya. Ia menggunakan batu sihir untuk berteleportasi kembali ke istana.
Rose berniat kembali pada malam hari di panti asuhan ini, mungkin ia akan mendapatkan sesuatu. Karena bisa saja kepala panti asuhan berpura-pura baik di depan anak-anak dan menunjukkan sifatnya saat sendirian.
__ADS_1
***
Rose kembali pada malam hari. Dalam keadaan tidak terlihat ia pergi menuju kamar kepala panti asuhan.
Terlihat kepala panti asuhan membuka sebuah surat. Rose mengintip isi surat itu. Sebenarnya ini melanggar privasi tetapi ia tetap melakukannya.
Isi dari surat itu adalah kepala panti asuhan telah bekerja dengan baik. Oleh karena itu, Marquis Lodrey memberikan uang tambahan bagi kepala panti asuhan. Kepala panti asuhan menutup surat itu tanpa memberikan balasan. Ia mengambil uang itu lalu menyimpannya. Ia tersenyum.
Rose merasa tindakan kepala panti ini sedikit aneh, tetapi ia tidak bisa memikirkan alasan dibaliknya. Ia memutuskan menghubungi Leticia nanti.
Kepala panti asuhan berkeliling memeriksa anak-anak. Rose mengikutinya. Ada yang masih tertidur dan ada juga yang masih terjaga. Kepala panti asuhan memperingatkan mereka yang belum terlelap. Anak-anak itu segera tidur. Kehidupan mereka sungguh damai. Kepala panti asuhan kembali ke kamarnya untuk tidur.
Rose segera keluar dari panti asuhan itu. Ia kembali ke rumahnya menggunakan sihir teleportasi. Ia menghubungi Leticia.
"Leti, apa aku menganggumu?"
"Tidak, ada apa Rose?
Rose segera menceritakan apa yang didapatkannya hari ini. Tentang panti asuhan yang bagus. Kepala panti yang baik. Serta surat yang berisi uang tambahan untuk kepala panti.
"Mungkinkah panti asuhan itu sebenarnya milik Marquis Lodrey? Tetapi, kenapa Marquis menutupinya?" ungkap Rose. Daritadi ia memikirkan kemungkinan itu tetapi tidak memiliki penjelasan yang tepat.
"Itu adalah salah satu kemungkinan dan jika ditutupi, ini malah membuat Marquis mencurigakan. Kepemilikan panti asuhan tidak perlu ditutupi. Ini malah merupakan hal yang bagus. Pasti ada sesuatu. Lalu tindakan kepala panti asuhan itu juga mengusikku. Biasanya orang pasti membalas surat dengan berterima kasih atas pemberian orang lain. Dia tidak melakukannya seolah-olah itu merupakan hal yang biasa terjadi," jelas Leticia panjang lebar.
"Itu benar, makanya aku merasa aneh. Aku akan mencoba bertanya kepada anak-anak panti itu besok."
"Tetaplah berhati-hati, Rose."
__ADS_1
"Tentu saja, Leti."
Rose mematikan batu sihirnya. Ia beristirahat untuk melakukan penyelidikan besok. Ia ingin membantu Leticia untuk membalas budi. Bukan demi balas budi belaka, ia ingin membantu temannya.