
Dean dan Emilia berada di ruang kerja Permaisuri Pertama. Mereka sedikit tegang karena tiba-tiba dipanggil oleh Leticia. Leticia mulai berbicara, "Kalian adalah orang kepercayaanku. Aku tahu kesetiaan kalian padaku dan kekaisaran. Namun, jika dihadapkan pada pilihan harus memilih salah satu, kalian akan memilih yang mana?"
Dean dan Emilia terkejut dengan pertanyaan Leticia. Emilia menjawab terlebih dulu.
"Bagi saya yang menyelamatkan keluarga saya adalah Permaisuri. Saya akan tetap melayani Permaisuri sampai akhir hayat. Saya akan memilih Permaisuri."
Emilia sudah memantapkan hatinya sejak keluarganya mulai pulih. Jika bukan karena Permaisuri Pertama, masalah keuangan keluarganya tidak akan terselesaikan.
Bagi Dean ini adalah pertanyaan yang sangat sulit. Permaisuri Pertama memilihnya menjadi pengawal pribadi karena kemampuannya walaupun ia berasal dari rakyat jelata. Seorang kesatria harus melindungi tuannya. Yang ditanyakan Permaisuri Pertama adalah siapa tuannya.
"Saya akan melindungi Anda dengan taruhan nyawa, Permaisuri. Seorang kesatria harus setia pada Tuannya. Tuan saya adalah Anda, Permaisuri. Tak ada bangsawan yang mempercayai rakyat jelata seperti saya kecuali Anda, Permaisuri." Dean menundukkan kepalanya.
Leticia tersenyum. Ia mempunyai pendukung yang setia. Ia mengeraskan wajahnya, mengatakan semua rencananya untuk menggulingkan pemerintahan Braun.
Keduanya tercengang mendengar hal itu. Namun, bagi mereka yang terpenting adalah loyalitas
"Kesetiaan saya tetap pada Permaisuri Pertama." Emilia dan Dean menjawab bersamaan.
"Aku harap kalian bisa merahasiakan hal ini," tutur Leticia
"Baik, Permaisuri." Dayang dan pengawal Leticia menunduk.
"Maaf, apabila saya lancang. Siapa saja yang terlibat dalam pemberontakan ini, Permaisuri?" tanya Dean masih menunduk.
"Aku bekerjasama dengan Grand Duke Faust, tentunya Countess Wollard juga ikut terlibat. Pemimpin Penyihir Kekaisaran dan Pemimpin Penyihir Menara juga mengetahui hal ini. Apa ada yang ingin Anda ketahui lagi Sir?"
"Tidak ada, Permaisuri." Dean bernapas lega.
"Sir Dean, Anda bisa kembali menjalankan tugas," perintah Leticia.
"Siap, Permaisuri."
Dean segera keluar dari ruangan itu, pergi untuk mengawal Judith.
Rose berpapasan dengan Dean. Ia menuju ruang kerja Leticia. Ia sudah memasuki ruangan. Leticia memerintahkan Emilia keluar untuk kembali bekerja.
Penyihir istana ini menceritakan temuannya tadi sekaligus memberikan batu sihir teleportasi pesanan Leticia. Batu itu sangat kecil, karenanya hanya mengandung sihir yang sedikit. Itu sebabnya sihir teleportasi hanya bisa digunakan empat kali.
Leticia mendengar cerita Rose dengan seksama.
"Menurutmu bagaimana, Leti?"
"Sekarang aku tahu bagaimana cara Marquis Lodrey menjual budak tanpa ada yang curiga. Liburan panti asuhan pasti semacam dalih. Marquis Lodrey memerintahkan kepala panti asuhan untuk membawa anak-anak itu untuk dijadikan budak di Kerajaan Uthria," jelas Leticia.
Tidak ada orang yang curiga karena anak-anak itu tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga. Tak ada yang mengenal anak-anak itu. Bila anak-anak lama hilang dan digantikan yang baru tidak ada yang sadar. Tetangga di sana hanya tahu bahwa ada anak-anak di panti asuhan.
__ADS_1
"Kita bisa mengancam kepala panti untuk mengatakan semuanya. Mereka bisa dijadikan saksi," cetus Rose.
"Sepertinya itu sedikit berbahaya, bisa saja Marquis Lodrey menutup mulut mereka selamanya sebelum menguak kejahatannya. Lebih baik kita mengawasi lalu membawa mereka sebagai saksi di persidangan," saran Leticia.
"Itu juga ide bagus." Rose mengangguk.
"Aku akan memberitahu informasi ini pada Grand Duke Faust. Lalu memintanya menangkap Marquis Lodrey saat anak-anak itu berlibur. Pasti Marquis dan kepala panti bertemu di suatu tempat agar tidak ada yang curiga. Tanpa anak-anak itu sadari kepala panti meninggalkan mereka. Setelahnya, Marquis membawa anak-anak itu sebagai budak dijual kepada bangsawan Uthria."
Itu semua hanya dugaan Leticia. Namun, ia yakin Grand Duke Faust akan menerima sarannya. Ia akan memberitahu Gerald besok.
"Apa ada yang perlu kubantu lagi, Leti?"
"Aku ingin kamu mencari tahu waktu tepatnya mereka berangkat, Rose."
"Baiklah, akan kupastikan kapan mereka pergi liburan."
Sebelum pergi Rose ia berbalik.
"Leti, kau sudah memberitahu pengawal Judith tentang semua rencanamu untuk memberontak bukan?"
"Sudah, aku juga memberitahu dayang pribadiku."
"Apa tanggapan mereka?"
"Mereka sempat terkejut tetapi tetap berada di pihak kita, Rose."
Rose tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
Leticia menerawang ke langit-langit sambil mengepalkan tangannya. Ia merasa iri pada Dean dan Emilia yang bisa dengan cepat memilih. Sedangkan dirinya sendiri masih bingung mana yang akan ia pilih, hubungan darah atau temannya.
***
Isabella masih berada di kediamannya ia belum pergi ke kediaman Faust karena kedatangan tamu.
"Kamu sudah mengabari Grand Duke, kalau datang terlambat bukan?" tanya tamu Isabella.
"Tentu saja sudah," jawab Isabella singkat.
"Tidak kusangka kamu mau bertemu empat mata denganku," goda tamu Isabella.
Mata Isabella berkedut. Ia menyesal telah menyambut penyihir menara di istananya. Dale ingin bicara empat mata dengan Isabella untuk membicarakan hal penting. Ia tidak mempersalahkan hal ini, karena Dale tidak semenyebalkan saat pertama kali bertemu. Namun, penyihir menara yang satu itu selalu bermain-main.
"Berhentilah menghabiskan waktuku. Jadi ada keperluan apa kamu ingin bertemu denganku?"
"Pendeta itu sudah menghubungiku."
__ADS_1
Dale terlihat sangat serius. Isabella menelan ludahnya.
"Apa katanya?"
"Dugaan kita benar, Pauslah yang mengenalkan obat itu pada temannya."
"Dengan ini, kita bisa menjatuhkan, Paus."
"Bukan cuma itu, kita jadi punya saksi atas ritual sihir terlarang kuil."
Isabella menghela napas sambil tersenyum. Semuanya berjalan lancar, dengan ini reputasi Tuannya akan semakin baik dan pemerintahan Kaisar yang sekarang akan goyah. Rencana Leticia akan berhasil.
"Ritual sihir terlarang apa yang dilakukan kuil?"
"Soal itu, saksi mata kita tidak tahu. Dia hanya melihat anak-anak dikorbankan. Saat berada di sana dia juga merasa pusing. Aku sedang mencari tahu ritual sihir terlarang yang melibatkan anak-anak."
"Apa Leticia sudah mengetahui hal ini?"
"Belum."
"Kalau begitu kenapa kamu memberitahukan hal ini padaku terlebih dahulu?"
"Kita berdua adalah orang yang bertugas menyelidiki kuil. Sudah seharusnya aku memberitahu hal ini kepadamu terlebih dahulu," jawab Dale dengan senyum ciri khasnya.
Isabella menyadari ini adalah tipu muslihat Dale agar dapat bertemu dengannya. Ia sudah tertipu menerimanya di kediaman Wollard.
"Sepertinya urusan kita sudah selesai. Aku harus bekerja." Isabella berdiri.
"Baiklah, hati-hati Countess." Dale juga ikut berdiri.
"Lain kali, ceritakan bagaimana kamu bertemu dengan Grand Duke Faust, Countess," lanjut Dale sebelum Isabella keluar dari ruangan itu.
Isabella menghentikan langkahnya, menoleh pada Dale.
"Ada apa kamu menanyakan hal ini?"
"Aku hanya penasaran," jawab Dale singkat.
"Aku bisa menceritakannya sekarang, kalau kamu penasaran."
Isabella menceritakan bagaimana Grand Duke Faust yang menyelamatkannya saat ia hendak menuju kediaman Hilbright untuk meminta pertolongan pada Leticia. Grand Duke Faust yang melatihnya dan membuatnya seperti sekarang ini. Ia merasa ini bukan hal rahasia yang perlu disembunyikan.
"Kalau tidak ada yang kamu tanyakan lagi, aku akan pergi."
Tidak ada jawaban dari Dale. Isabella melanjutkan langkahnya yang terhenti tadi.
__ADS_1
Dale menatap punggung Isabella yang kini tertutup oleh pintu. Isabella sudah mempercayainya hingga meninggalkannya di kediaman Wollard tanpa diawasi. Entah mengapa ada menggelitik hati Dale. Ia tidak yakin perasaan apa ini.