Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 7 Istana Tak Lagi Aman


__ADS_3

Leticia berada di ruang kerjanya melamun. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia berniat membalas dendam kepada suaminya, tetapi dengan cara apa? Ia tidak mungkin membuat suaminya cemburu dengan menjalin hubungan dengan pria lain, karena Braun tidak mencintainya. Ia bisa membuat Braun menderita dengan membunuh Charlotte, tetapi kehidupan Leticia tidak akan berjalan dengan mulus. 


Jalan keluar satu-satunya adalah dengan membuat Braun turun tahta. 


Leticia yakin bisa bertahan dengan hidup di perasingan. Namun, ia tidak mempunyai celah yang bisa Leticia manfaatkan. Ia memimpin dengan bersih.


Leticia bisa mengungkapkan persekongkolan antara duke hilbright dengan Braun. Bukti-bukti bisa ia dapatkan dengan bantuan teman-temannya. Namun, ada kemungkinan Braun akan menang karena ia memiliki dukungan yang lebih kuat. Braun bisa bersikukuh bahwa Kaisar meninggal karena sakit. 


Pintu terbuka. Lamunan Leticia langsung buyar. Judith datang menemui ibunya. Ia segera berlari mendekati Leticia. 


Sebuah gambar ditunjukkan pada Leticia. Dalam gambar itu terdapat dua orang laki-laki dan perempuan yang bergandengan tangan. Ada anak perempuan di tengahnya. Lalu di samping lelaki itu terdapat perempuan yang mengendong anak. Leticia berusaha tersenyum melihat gambar anaknya.


"Bagaimana gambarku ibu?"


"Bagus sekali, Sayang."


"Terima kasih Ibu. Aku harap keluarga kita bisa berbahagia selamanya."


Senyum Leticia memudar. Ia berusaha tersenyum kembali. Harapan itu tidak mungkin terwujud. Kepalsuan yang mendasari keluarga kekaisaran tidak akan mendatangkan kebahagiaan.


Leticia melihat lengan tangan Judith tampak memerah. Ia segera mengambil gambar itu laku memegang tangan Judith.


"Apa kamu habis jatuh sayang?" Tangan Leticia meraba lengan Judith yang memerah dengan tangan lain.


"Aku tidak apa-apa Ibu." Judith dengan sigap menarik lengannya dari Leticia.


"Apa perlu Ibu panggil dokter untuk memeriksamu?" tanya Leticia merasa khawatir.


"Tidak perlu nanti akan membaik sendiri." Judith memegangi lengannya yang masih memerah.


"Apa kamu yakin?" 


Judith menggangguk. Ia menyerah dan memeluk putrinya. 


"Jika kamu ada masalah ceritakan kepada ibu ya?" Leticia mengelus-ngelus tengkuk putrinya.


"Baik, Ibu." Judith semakin tenggelam dalam pelukan Leticia yang hangat.


Leticia merasa putrinya menyembunyikan sesuatu. Lengan putrinya memerah seperti habis dipukul oleh sesuatu, tetapi siapa yang melakukannya? Apakah orang itu tidak takut melukai keluarga kekaisaran?


Leticia akan membalas orang itu.


***


Rose sedang menyelidiki orang-orang yang mungkin melukai Judith. Ia sudah menyelidiki orang-orang yang dicurigai melukai putri Leticia. Braun, Charlotte, dayang-dayang istana, bahkan seluruh warga istana sudah Rose selidiki. Tidak ada hasil yang memuaskan. 

__ADS_1


Braun tidak melukai Judith, ia jarang bertemu dengannya. Charlotte hanya bertemu dengan Judith di depan umum, tidak mungkin ia memukul Judith karena akan menodai citranya. Dayang-dayang istana yang melayani Judith juga terkejut melihat hal itu. Rose mencurigai mereka berbohong, ia mengancam mereka dengan sihir api. Namun, mereka memang tidak melakukannya. 


Rose berjalan menuju istana Leticia, untuk menyampaikan hasil penyelidikannya. Ia mendengar dua wanita yang sedang berbicara. 


"Putri pertama sangat bodoh," kata wanita berkacamata berambut coklat.


"Benar sekali, mempelajari tata krama saja tidak bisa. Aku sering menghukumnya," sahut wanita berambut hitam bergelombang.


"Aku pun juga sering menghukumnya. Dia juga gampang dibodohi. Kularang melapor pada ibunya dia juga menurut. Aku juga mengatakan bahwa ibunya pasti akan merasa terbebani karena anaknya yang menyedihkan."


Rose langsung berhenti. Ia segera mendekati kedua wanita itu. Kedua wanita itu langsung terdiam.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Rose menatap mereka dengan tajam.


Mereka melarikan diri dari Rose. Rose menggunakan sihirnya, membuat mereka tidak bisa bergerak.


"Aku tanya sekali lagi. Apa yang kalian bicarakan?"


"Maafkan, kami Penyihir Istana. Kami tidak akan melakukannya lagi," kata wanita dengan berkacamata 


"Benar, kami berjanji." Wanita berambut panjang ikut menyahut sambil menganggukkan kepala.


Rose melepaskan sihirnya. Mereka langsung lari terbirit-birit. 


Rose menghela napas panjang. Seharusnya ia membawa mereka kepada Leticia, tetapi Rose tidak ingin menganggu pekerjaan Leticia. Sebenarnya ia datang tanpa memberitahu Leticia.


Ada satu tempat yang belum Rose cari, yaitu ruang pertemuan. Sepertinya Leticia kedatangan tamu. Rose segera menuju ke tempat itu.


Mata Rose bertemu dengan salah satu pengawal Leticia berambut biru dan bermata hijau seperti batu zamrud, yaitu Dean. Dean sedang berjaga sendirian di depan. Sedangkan, beberapa pengawal lain berada di dalam.


"Apakah permaisuri sedang ada tamu?"


"Benar, Penyihir Istana."


"Kurasa aku harus menunggu di sini." Rose berdiri di samping Dean. Ia akan menunggu sampai pertemuan Leticia dengan tamunya selesai. 


"Apakah ada yang ingin Anda sampaikan pada permaisuri? Saya bisa menyampaikannya."


"Tidak, aku ingin menyampaikan hal ini sendiri."


Setelah pertemuan selesai, beberapa bangsawan keluar dari ruang pertemuan. Rose menggunakan sihir agar tidak terlihat di mata mereka. Sihir ini hanya berlangsung singkat, biasanya penyihir lebih memilih menggunakan tudung sihir agar tidak terlihat lebih lama. Dean kebingungan karena orang yang berada di sebelahnya menghilang, tetapi itu bukan urusannya. Tugas pengawal adalah mengawal majikannya.


Keberadaan Rose yang tiba-tiba muncul mengagetkan Dean. Rose meminta maaf kepada pengawal Leticia itu, lalu segera memasuki ruangan bertemu Leticia.


"Ada apa Rose? Kamu bisa menghubungiku lewat batu sihir saja. Apa kamu menunggu lama." Leticia terlihat terkejut dengan kedatangan Rose.

__ADS_1


"Tidak terlalu lama. Maafkan aku karena datang mendadak, Leticia. Aku ingin membicarakan hal penting."


"Tentang apa?"


Rose menceritakan apa yang didengarnya tadi. Leticia menggenggam erat pena yang berada di tangannya. Wajahnya berubah kesal.


"Terima kasih, atas bantuanmu Rose. Aku selalu berhutang budi padamu."


"Tidak masalah Leticia. Aku minta maaf karena tidak membawa mereka langsung."


"Tidak, kamu sudah banyak membantu. Mereka bisa berdalih dengan alasan bergurai saja. Aku akan menanyai Judith mengenai hal ini."


Leticia segera pergi menemui Judith. 


***


Leticia dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Lalu pergi ke kamar putrinya.


Judith sedang bermain dengan dayang-dayangnya. Mereka yang ada di kamar Judith terkejut dengan kedatangan Leticia yang tergesa-gesa.


Leticia meminta dayang-dayang itu meninggalkan mereka berdua sendiri. Judith merasa kebingungan dengan tindakan Leticia.


"Apa kamu baik-baik saja, Sayang?"


"Aku baik-baik saja, Ibu."


"Apakah guru-gurumu bersikap baik kepadamu?"


Judith terdiam mendengar perkataan Leticia. 


Ia menjawab tergagap, "Me-Mereka ber-bersikap baik."


Leticia menghembuskan napas, terlihat kesal. "Ibu tidak ingin mendengar kebohongan, Judith."


Ini pertama kalinya Judith melihat ibunya marah. 


"Maaf aku Ibu. Aku tidak boleh bilang kepada Ibu. Aku tidak ingin menjadi anak yang menyedihkan." Mata Judith mulai berkaca-kaca.


"Kamu tidak menyedihkan, Sayang. Kamu boleh menceritakan kepada ibu semuanya." Leticia memeluk Judith.


Judith menceritakan tindakan guru-guru yang dilakukan kepadanya. Jika Judith salah melakukan atau menjawab sesuatu, maka ia akan dipukul. Jika ia mengadu maka ia akan dihukum lebih keras lagi.


Bukan cuma itu. Guru-guru Judith mengajarnya dengan salah. Guru tata krama mengajarinya untuk membungkuk kepada orang siapapun terutama dirinya. Seorang putri tidak seharusnya membungkuk kepada sembarang orang, Putri Kekaisaran hanya perlu membungkuk kepada orang yang jabatannya lebih tinggi. Seperti Kaisar, Permaisuri, Grand Duke atau Grand Duchess, dan Duke atau Duchess. 


Guru sejarah menceritakan sejarah dengan salah. Kekaisaran didirikan oleh Kaisar Keith, kakek dari Braun. Namun, guru itu salah mengajari Leticia. 

__ADS_1


Leticia menggenggam erat putrinya. Sekarang istana sudah tidak aman lagi.


__ADS_2