
Flint terkejut melihat Duchess pingsan. Tak biasanya Duchess kelelahan hingga tak sadarkan diri.
Leonard langsung membopong Duchess walau belum diberi perintah. Ia tidak memedulikan bahunya yang masih sakit. Dalam hati Leonard menggerutu. Kemarin ia sudah memperingatkan Duchess, tetapi tidak didengarkan. Namun, ia tidak bisa membayangkan kejadian kemarin malam bila mereka berdua membuka baju, pastinya akan semakin canggung.
"Bawa Duchess ke kamar," perintah Flint.
Leonard menuju ke kamar Duchess yang berada di ujung sayap kiri lantai dua. Ia membaringkan Judith di kasur. Wajah Duchess berkeringat deras.
Flint menaruh tangannya ke dahi Judith. Sangat panas, Duchess demam. Ia bergegas mencari dokter, meninggalkan Leonard dan Judith sendirian.
Leonard menatap nanar atasannya itu. Rasanya ia melihat banyak sisi lain Duchess, mulai dari pemimpin kesatria, bangsawan sombong, putri yang cantik dan gadis rapuh. Kelemahan Duchess sudah di depan mata, tetapi ia sama sekali tidak senang, malah merasa iba. Leonard mengambil handuk, menyeka keringat wajah Judith yang bersimbah keringat.
Bulu mata Duchess sangat lentik, alisnya sedikit tajam. Hidungnya pun mancung dan memiliki bibir yang mungil. Pasti bibirnya terasa manis. Leonard menggeleng-gelengkan kepala menyingkirkan pikiran kotornya. Berduaan dengan Duchess kemarin membuat otaknya rusak.
'Sadarlah dia musuhmu, Leonard,' batin Leonard meneguhkan hatinya.
Pintu terbuka dengan keras. Leonard menoleh ke arah Flint dan dokter yang mulai mendekat. Ia menyingkir memberi jalan pada dokter itu. Sang dokter memeriksa Duchess. Setelah selesai ia berpaling ke arah Flint.
"Duchess terserang demam, bila beristirahat ia akan sembuh. Saya akan membuat obat penurun demamnya," ucap dokter.
"Terima kasih, Dokter." Flint menunduk.
Dokter itu hendak kembali ke ruangannya, tetapi Flint teringat sesuatu.
"Dia juga terluka. Tolong diperiksa dokter," pinta Flint sembari menunjuk Leonard.
Dokter itu mengangguk lantas memeriksa bahu Leonard. Memar di bahu Leonard cukup parah, untungnya tidak ada patah tulang. Setelah selesai, giliran kaki Leonard diperiksa, hampir sama dengan bahu Leonard, tulangnya masih baik hanya memar-memar saja. Mungkin akan sakit jika berjalan, tetapi tidak ada luka serius.
"Tidak ada cidera yang serius. Beristirahatlah dalam beberapa hari pasti akan membaik. Lalu minumlah obat pereda sakit bila perlu, akan kuberikan setelah kuracik."
Dokter itu kini benar-benar pergi. Leonard menatap Flint seolah-olah ada tanda tanya di kepalanya. Ia tahu Flint tidak menyukainya, tetapi kenapa ajudan Duchess itu malah membantunya?
"Aku hanya melaksanakan perintah Duchess," jawab Flint seakan-akan dapat membaca pikiran.
Flint menatap Leonard yang berdiri mematung di kamar Duchess. Memang tugas seorang pengawal adalah menjaga majikannya tetapi bila terluka seperti itu yang ada Leonard malah menjadi beban. "Apa yang kamu lakukan di sini? Cepat istirahat saja. Biar aku yang menjaga Duchess."
"Baiklah," balas Leonard malas-malasan.
Kakinya Leonard terasa berat keluar dari ruangan itu. Entah mengapa ia ingin tinggal lebih lama untuk mengetahui perkembangan kondisi Duchess.
__ADS_1
Leonard telah sampai di kamarnya mengistirahatkan diri. Terdengar suara ketukan pintu. Idris muncul dari balik pintu membawa dua bungkusan kertas.
"Apa itu?" tanya Leonard.
"Obat minum saja bila terasa sakit." Idris memberikan salah satu bungkusan kertas itu pada Leonard.
"Terima kasih." Leonard menerima bungkusan itu.
Matanya tertuju pada bungkusan kertas lain yang masih digenggam Idris. Idris menyadari tatapab Leonard, mengangkat bungkusan kertas itu.
"Ini untuk Duchess, aku sudah menggantinya dengan obat pelemah kekuatan dari Marquis Loid."
Mata Leonard melebar. Bagaimana bisa Marquis Loid secepat itu tahu bahwa Duchess akan sakit? Baru satu hari Duchess dan dirinya terjatuh ke jurang. Meski Idris memberitahu Marquis, perlu waktu setidaknya dua hari untuk mengirim surat. Bila bolak-balik dari Kediaman Hillbright ke Kediaman Loid, Idris akan dicurigai.
"Jangan bilang kalau kecelakaan kereta kuda itu ulah Marquis," tuduh Leonard.
Idris menyeringai. "Memang benar, untungnya kemarin hujan jadi tidak ada yang curiga."
Leonard menghampiri Idris mencengkeram baju pelayannya. "Aku juga ada di kereta itu! Dia ingin membunuhku juga?!"
Leonard tahu bahwa sasaran kemarahannya salah, tetapi ia perlu melampiaskan amarahnya. Ia tidak lebih dari sebuah bidak yang bisa dibuang kapan saja.
"Tetap saja nyawaku hampir melayang!"
"Tak perlu risau, seandainya mati sekali pun, dendammu terbalaskan. Duchess akan terjatuh dan bersujud di hadapan Marquis."
Leonard mendorong Idris yang masih menyeringai. Bicara dengan pelayan gila ini hanya membuang-buang waktu. Pemikiran mereka berbeda. Pelayan itu berutang nyawa pada Marquis Loid sehingga rela mengorbankan apa pun bahkan nyawanya sekali pun. Atau mungkin ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat dikorbankan selain nyawanya.
Berbeda dengan Leonard yang masih menyayangi nyawanya, mengharapkan kebebasan dan kebahagiaan. Ia memiliki orang tua yang harus dijaga.
"Keluarlah, jangan tunjukkan wajahmu beberapa hari ini," ancam Leonard.
Idris menunduk meninggalkan Leonard. Leonard mengerang kesal sembari mengepalkan tangannya dengan erat.
'Kau salah mengira aku akan patuh saja, Marquis,' batin Leonard.
***
Suara langkah kaki terdengar di lorong. Dua gadis berlarian menuju kamar Duchess, mengetuk pintu. Flint menoleh ke pintu yang terbuka lebar. Ia menghela napas panjang melihat kedua gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa mulutmu tidak bisa menjaga rahasia, Sylvie?" gerutu Flint.
"Apa tidak boleh seorang adik mengetahui keadaan kakaknya? Aku akan sedih jika Kakak sakit tetapi tidak tahu apa-apa," protes Sylvie.
"Tapi kuil juga membutuhkan Saintess."
"Pembangunan kuil bisa ditangani oleh Rion."
Ariana mengabaikan perseteruan kakak beradik itu. Tadi Sylvie mendatanginya tergesa-gesa di kuil. Sylvie memberitahu Ariana dan Arion yang mengatur pembangunan kuil kalau Judith kecelakaan dan sakit. Saudara kembar itu ingin mengunjungi kakaknya, tetapi harus ada salah satu yang tinggal. Arion meminta Ariana yang menemui Judith karena kekuatan berkat lebih dibutuhkan. Lantas Sylvie memberikan batu sihir teleportasi untuk Ariana. Mereka pun berteleportasi ke kediaman Hillbright.
Ariana menghampiri Judith sambil menggenggam tangan sang kakak untuk memberi berkat. Wajah Judith berangsur membaik. Ia membuka mata perlahan, melihat Ariana duduk di sebelahnya. Tangannya yang bebas mengelus muka adiknya yang khwatir.
"Terima kasih, aku baik-baik saja, Ana," kata Judith lirih.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Kak. Istirahat saja dulu," balas Ariana dengan lembut.
Judith mengangguk pelan. Sesuatu terlintas di kepalanya, ia mengucapkannya sebelum terlupakan. "Prajurit bayaran yang pernah menyelamatkanmu terluka. Kamu bisa menyembuhkannya juga, Ana."
"Baik, Kak."
Flint memandu Ariana menuju kamar Leonard. Sylvie tetap tinggal untuk melindungi Duchess.
Mereka berdua telah sampai di kamar Leonard. Leonard terperanjat melihat Ariana datang menemuinya.
"Kenapa kau kemari, Ariana?" tanya Leonard.
"Aku ingin menyembuhkanmu," balas Ariana.
Leonard menatap Flint yang berdiri di depan pintu. "Apa kau bisa meninggalkan kami sendirian?"
"Aku tidak bisa meninggalkan Putri Ariana bersamamu sendirian," protes Flint.
Ariana menoleh ke arah Flint penuh permohonan. "Biarkan kami sendirian, Kak Flint."
Flint mengepalkan tangannya dengan erat, ia masih mencurigai Leonard. Tanpa pengawasannya, Leonard bisa saja melukai Ariana. Namun, ia tidak bisa menentang permintaan Ariana.
"Baiklah, teriak saja kalau dia berbuat macam-macam, Putri Ariana." Flint menunggu di luar.
Di dalam kamar Ariana menyembuhkan Leonard dengan cepat. Leonard menatap bungkusan kertas yang diberikan Idris dan Ariana bergantian.
__ADS_1
"Ada yang ingin kusampaikan, tetapi jangan pernah menanyakan dari mana aku tahu akan hal ini. Obat Duchess mengandung pelemah kekuatan. Aku ingin kau membuangnya."