Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 13 Pertemuan Dengan Musuh Atau Sahabat?


__ADS_3

Leticia melepas tudungnya. Ia memesan sebuah ruangan khusus karena pembicaraan dengan Isabella tidak ingin terdengar oleh pengunjung lain. Tak terlihat pengawal Leticia di ruangan itu. Dean menunggu di luar restoran. Leticia sudah memberitahu Isabella melalui surat untuk menemui pengawalnya. Setelah itu, Dean akan mengantarkan Isabella menuju ruangan Leticia.


Jantung Leticia berdebar keras. Entah karena takut atau antusias bertemu dengan sahabatnya. Leticia menghela dan menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan dirinya. Ia menatap ke langit-langit mempersiapkan hati apabila Isabella menolak tawarannya. Atau Isabella tidak datang.


Klek...


Leticia menoleh ke arah pintu. Seorang wanita memakai kemeja merah ditutupi oleh setelan jas yang berwarna hitam berdiri di sana. Ia sudah lama tidak bertemu dengan wanita itu. 


Dean bersiap untuk masuk bersama wanita itu. Leticia segera berdiri, ia meminta Dean untuk menunggu di luar. Dari raut muka Dean terlihat ia enggan meninggalkan majikannya bersama ajudan orang yang berbahaya. Leticia menyakinkan Dean bahwa ia mengenal Isabella dengan baik.


Dean mematuhi perintah Leticia. Ia menutup pintu lalu mencari tempat yang kosong. Ia tidak mungkin menunggu di luar ruangan karena akan menimbulkan kecurigaan. Ia memesan makanan sambil mengamati ruangan yang ditempati Leticia.


Ruangan itu hening begitu ditutup. Isabella segera duduk begitu pula Leticia. Tidak ada yang memulai percakapan. Desert yang Leticia telah datang. Isabella mengamati makanan yang datang, ada beberapa desert kesukaannya. Keheningan di antara mereka berlangsung kembali. 


"Saya tahu ini sudah lama sekali, sebelumnya saya ingin minta maaf atas kejadian waktu itu."


Isabella masih memandang di tempat lain. Ia tidak melihat mata Leticia. Kesalahan yang Leticia lakukan memang sulit dimaafkan, ia tidak berharap untuk dimaafkan.


"Itu kejadian yang sudah lama sekali. Sekalipun Anda minta maaf tidak akan ada yang berubah. Katakanlah apa tujuan Anda mengundang saya yang sebenarnya, Permaisuri." Isabella mulai menatap Leticia.


Leticia seakan ragu-ragu mengatakan maksudnya. Ia diam sejenak memantapkan hatinya.


"Saya ingin Anda mengajari putri saya berpedang, Countess Wollard."


Isabella tersenyum kecut. "Saya tidak punha waktu untuk mengajari putri Anda. Saya sudah sibuk mengerjakan tugas sebagai ajudan Grand Duke Faust."


"Saya tahu. Putri saya akan ke kediaman Grand Duke Faust untuk belajar berpedang untuk menghemat waktu Anda."


"Apakah tidak ada guru lain untuk mengajari putri Anda, Permaisuri? Apakah tidak ada satu orang prajurit yang becus mengajari putri Anda?"


"Hanya Anda yang bisa mengajarinya, Countess. Saya sudah meminta pengawal untuk mengajari diri putri saya, tetapi sepertinya cara berpedangnya tidak cocok."


Isabella menghembuskan napas panjang. Ia terlihat semakin kesal.


"Tidak ada yang saya dapatkan dari mengajari putri Anda. Satu lagi saya tidak lagi membutuhkan uang, Permaisuri."

__ADS_1


Mata Leticia membesar. Ia sudah menduga Isabella akan menolak mengajari Judith.


"Bukan uang yang menjadi bayarannya, Countess. Saya menawarkan hal lain."


Salah satu alis Isabella terangkat. Ia penasaran dengan apa yang ditawarkan Leticia. Namun, ia tidak bertanya lebih lanjut. Apapun itu, ia tidak akan mengajari putri Leticia.


"Saya akan membantu Grand Duke Faust untuk mendapatkan tahta," lanjut Leticia.


Isabella terbelalak. Ia meragukan apa yang telah didengarnya. Penawaran yang Leticia katakan jauh dari semua bayangannya. "Apakah maksud Anda?"


"Grand Duke Faust memiliki darah keluarga kekaisaran. Tidak ada salahnya ia duduk di tahkta."


"Apakah Anda berniat memberontak, Permaisuri?"


"Bisa dikatakan begitu," jawab Leticia mantap.


Tidak ada keraguan di mata Leticia. Isabella tahu akan hal itu. Sorot mata teman lamanya yang bersungguh-sungguh tidak berubah dari dulu.


"Saya tahu hubungan Anda dengan Permaisuri kedua dan Kaisar sekarang tidaklah baik, tetapi tidak ada keuntungan dari memberontak Permaisuri."


"Saya memiliki sebuah keuntungan. Saya bisa terbebas dari istana yang tidak aman."


"Saya sudah menyelidiki kematian mendiang Grand Duke Faust. Ada kemungkinan mendiang Kaisar berada dibalik kematian mendiang Grand Duke Faust."


"Soal itu saya sudah tahu."


"Saya akan membantu untuk memulihkan reputasi Grand Duke Faust. Seorang Kaisar perlu mempunyai reputasi yang baik."


Isabella kembali terdiam. Kepalanya terasa ingin pecah memikirkan apa yang ada di benak Leticia. 


"Pada akhirnya saya yang tidak mendapat keuntungan, Permaisuri. Semua yang Anda tawarkan hanyalah menguntungkan diri Anda dan Tuan saya."


"Saya tahu, tetapi Anda akan berusaha mengembalikkan reputasi dari Grand Duke Faust untuk membalas budi. Di samping itu, apabila reputasi Grand Duke Faust mulai membaik maka reputasi Anda ikut membaik, Countess."


"Bagaimana jika saya tidak menyampaikannya pada Tuan saya?"

__ADS_1


"Pilihan itu ada di tangan Anda, Countess."


Tiba-tiba tawa Isabella lepas. Leticia hanya diam, menunggu jawaban dari sahabat lamanya. Semua yang ia katakan memang terlihat gila di mata orang lain. Namun, ia yakin dapat mewujudkannya. Asalkan Countess Wolard dan Grand Duke Faust mau bekerja sama.


"Bagaimana jika saya tidak mau, Permaisuri?" kata Isabella dengan nada mengejek.


Leticia memejamkan matanya. Ternyata memang tidak mungkin meminta bantuan orang yang masih membenci dirinya.


"Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Apapun pilihan Anda saya akan menerimanya."


Leticia berdiri. Ia berniat meninggalkan ruangan itu. Ia hampir sampai pada pintu. 


"Anda terlihat menyedihkan, menerima bantuan dari orang yang Anda buang," lanjut Isabella tiba-tiba.


Leticia menghentikan langkahnya. Ia masih membelakangi Isabella. 


"Pada akhirnya, Anda tidak pernah menganggap saya sebagai teman sekalipun. Anda hanya menganggap saya sebagai rekan bisnis. Jika Anda menganggap saya teman, maka setidaknya Anda menghubungi saya dalam beberapa tahun terakhir." Suara Isabella terdengar semakin meninggi.


Leticia mengepalkan tangannya. Ia berbalik. "Saya tidak bisa melakukannya, karena saya tahu Anda pasti tidak ingin berhubungan dengan orang yang menghancurkan keluarga Anda. Dengan menghubungi Anda itu artinya saya mengingatkan Anda dengan kejadian buruk yang pernah Anda lalui. Saya tahu, keluarga saya membuat Anda menderita dan saya hanya diam saja melihat hal itu. Namun, tidak pernah sekalipun saya menganggap Anda sebagai teman bisnis. Saya menganggap Anda sebagai sahabat."


"Omong kosong, kalau begitu setidaknya Anda membalas surat permintaan tolong yang saya kirimkan!" teriak Isabella.


Leticia terlihat kebingungan. "Anda mengirimkan surat?"


"Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali sampai saya menyerah mengirimkannya." Nada suara Isabella mulai melemah. Amarahnya mulai mereda. Ia melihat reaksi Leticia yang terlihat tidak tahu apa yang sedang Isabella bicarakan.


"Saya tidak pernah menerimanya," kata Leticia lirih.


Duke Hilbright pelakunya. Ia menghanguskan surat dari Isabella agar tidak diterima oleh putrinya. Leticia dan Isabella menyadari hal itu. Isabella memegang kepalanya. Ia menutup matanya rapat-rapat sambil menghembuskan napas panjang. 


"Tawaran Anda akan saya pikirkan. Namun, itu semua juga bergantung pada keputusan Tuan saya," ujar Isabella. 


"Terima kasih, Countess." Mata Leticia sedikit berkaca-kaca. Sahabat lamanya mulai mempercayainya kembali.


Leticia menunduk sambil berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.

__ADS_1


Isabella berdiri mendekati Leticia. "Tidak seharusnya Permaisuri menunduk di hadapan orang yang kedudukannya lebih rendah, Leticia."


Leticia mendongak melihat wajah temannya. "Saya menunduk di depan teman, Isabella."


__ADS_2