Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
S2 Bab 8 Tuan Baru


__ADS_3

"Untuk apa aku menuruti semua perintahmu?" ujar Leonard ketus.


"Tentu saja untuk menggantikan orang yang kau bunuh. Dia adalah budakku. Aku memerlukan budak baru, kau adalah orang yang pantas," jawab bangsawan itu.


"Memangnya aku membunuh siapa?"


"Bahkan kau melupakan temanmu sendiri, sungguh menyedihkan."


"Will?"


"Cukup basa basinya. Tugasmu adalah membuat Duchess Hillbright mematuhiku."


"Hahaha." Leonard tertawa keras. Entah mengapa ucapan bangsawan di depannya sangat lucu. Ia membutuhkan bantuan dari rakyat jelata.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Leonard menyeringai.


Dua pedang berada di samping leher Leonard siap menebasnya. "Nyawamu akan melayang."


"Aku tidak mau melakukan pekerjaan kotor dengan cuma-cuma."


Pedang itu semakin mendekati leher Leonard.


"Nyawaku sama sekali tidak penting. Lagipula kamulah yang akan kesusahan mencari orang hebat sepertiku."


"Percaya diri sekali. Aku menyukaimu. Lepaskan dia." Bangsawan itu ikut menyeringai.


Pengawal-pengawal itu mengendurkan tekanan pada Leonard. Leonard duduk di lantai sambil memegangi tubuhnya yang terasa sakit. Tak lupa ia menanyakan bayarannya.


"Jadi apa yang akan kudapatkan?"


"Akan kukabulkan permintaanmu. Tiap bulan aku akan memberimu uang asalkan misimu berhasil."


"Apa pun itu?" tanya Leonard memastikan.


"Benar." 


"Baiklah, apa misi pertamaku?"


Leonard tidak sabar memberi pelajaran pada Duchess Hillbright. Jika berhasil ia akan meminta uang yang melimpah pada bangsawan ini. 


"Tidak kusangka kau bersemangat sekali. Padahal orang suruhanku langsung ciut nyalinya begitu mendengar nama Duchess Hillbright dan orang tuanya."


"Memangnya siapa orang tuanya?"


Bangsawan itu tertawa keras. "Memang benar orang yang tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai rasa takut. Aku tidak menyangka ada orang yang tidak mengenal orang tua Duchess Hillbright. Cari tahu saja sendiri."


Leonard menggeram. Semua bangsawan sangat sombong dan suka memerintah sesuka mereka, tetapi ia butuh bantuan orang ini.

__ADS_1


"Cih, sudahlah katakan saja misiku."


"Masuklah ke pasukan Duchess Hillbright. Misi selanjutnya menyusul." Bangsawan itu menepuk-nepuk bahu Leonard sambil terus menyeringai.


Leonard membalas seringaiannya. "Baiklah, harus kupanggil siapa dirimu, Tuan?"


"Marquis Loid."


Leonard menyatakan kesetiaannya pada Tuannya yang baru. Balas dendamnya akan tercapai.


***


"Seperti biasa?" tanya pemilik bar pada Leonard.


"Tidak, aku sudah berhenti. Bawakan saja makanan terenak."


Kebencian pada orang tuanya digantikan dengan kebencian pada Duchess. Leonard perlu tujuan baru untuk hidup dan Duchess adalah tujuannya.


"Baiklah." Pemilik bar itu segera menyiapkan makanan.


Rasa penasaran akan orang tua Duchess Hillbright dan Ariana terus menghantuinya. Ia menduga bahwa orang tua mereka bangsawan terkenal. Atau malah bangsawan yang terlibat skandal. Mungkin itulah yang menyebabkan Ariana ikut dalam penumpasan pemberontakan, demi menghapus reputasi buruk orang tua mereka. Itu pula yang menjadi alasan Duchess terus menjadi pemimpin penumpasan pemberontakan, ia ingin menampilkan citra baik di mata Kaisar.


Pemilik bar kembali dengan sepiring daging. Leonard menyantapnya dengan lahap.


"Apa kau pernah dengar nama Duchess Hillbright?" tanya Leonard dengan mulut yang penuh.


"Tentu saja, Duchess sangat terkenal. Dia sangat hebat, baik dan dikagumi banyak orang," puji pemilik bar.


"Apa kau tahu siapa orang tuanya?" 


Pemilik bar menggebrakkan tangannya ke meja. "Apa kau bodoh? Bagaimana bisa kau tidak mengenal Kaisar dan Permaisuri?"


Leonard menjatuhkan sendoknya. "Apa?"


***


Kereta kuda sampai di istana. Permaisuri sudah menunggu kedatangan putri-putrinya di gerbang istana. Kedua putrinya turun dari kereta kuda. 


Putri pertamanya yang menjadi Duchess baru ditemuinya sejak setahun yang lalu karena kesibukan putrinya. Sedangkan putri keduanya terakhir kali bertemu 3 tahun yang lalu sejak penobatan Judith menjadi Duchess. Ia sangat merindukan putrinya hingga memeluk mereka berdua.


"Selamat datang, Judith, Ana." Leticia melepas pelukan menatap kedua putrinya bergantian.


"Di mana Ayah dan Rion, Ibu?" tanya Judith.


"Mereka sedang latihan, tetapi pasti sudah selesai sekarang. Ah, itu mereka." Leticia membalikkan badan menghadap kedua lelaki yang datang.


Gerald tersenyum ke arah keluarganya bersama dengan Arion. Wajah Arion sangat mirip dengan Gerald seolah-olah melihat Gerald versi mudanya. Bila Ariana terlahir sebagai laki-laki, wajahnya akan sama dengan ayahnya tetapi dengan warna mata yang berbeda dan lebih lembut.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu, Ana," sapa Arion pada saudara kembarnya.


"Eh, ya, sudah lama sekali, Rion," jawab Ariana gugup.


Ariana sudah lama tidak bertemu dengan keluarganya, ia merasa canggung. Semenjak kekuatannya bangkit, ia memutuskan pergi ke kuil. Sebenarnya ia tidak ingin pergi tetapi rasa bersalah terus membebani dirinya. Semua itu disebabkan karena ibunya terluka saat melindungi dirinya. 


Leticia yang menyadari kecanggungan di antara mereka semua, membuka suara. "Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku tahu kalian semua lapar."


Mereka semua menyetujuinya. Keluarga kerajaan melangkah menuju ruang makan, kaki Ariana tidak mau bergerak. Judith menghampiri dan mendorong punggung adiknya dengan lembut.


"Kalahkan rasa takutmu, Ana," ujar Judith.


Ariana mengangguk melangkahkan kaki bersama kakaknya. 


Makanan tersaji di meja makan. Keluarga kerajaan makan dengan lahap. Sudah lama sekali mereka berkumpul lengkap seperti ini. Senyuman terus menghiasi makan bersama ini. Gerald memulai percakapan pertama kali.


"Bagaimana pemberontakan terakhir, Judith?"


"Bukan masalah besar, Ayah. Pengkhianatan prajurit bayaran sudah kuantisipasi sebelumnya," kata Judith sambil meletakkan peralatan makannya.


"Baguslah, jangan sampai lengah," jawab Gerald bangga pada putrinya.


"Ngomong-ngomong, kenapa kalian datang bersama?" tanya Leticia. 


"Soal itu..." Judith mengalihkan pandangan pada adiknya. Ia menggenggam tangan Ariana untuk menyemangati.


Ariana menunduk sambil membuka mulutnya. "Saat pemberontakan aku ikut dalam pasukan pendeta. Aku minta maaf karena tidak bilang pada Ayah dan Ibu."


Wajah Leticia dan Gerald mengeras. Arion membelalakkan matanya. "Kenapa kamu ikut dalam pemberontakan, Ana. Bukankah ada pendeta lain?" tanya Arion.


"Aku hanya ingin membantu Ayah dan Ibu. Rasanya hanya aku saja yang tidak bisa apa-apa," balas Ariana dengan air mata yang menggenang.


Leticia dan Gerald saling bertatapan. Permaisuri ini tersenyum kepada anaknya. "Kami menerimamu apa adanya, Ana. Tidak perlu menjadi seperti kakakmu, kamu tetap disayangi."


"Terima kasih, Ibu," jawab Ariana sambil menangis.


Judith memeluk adiknya. Leticia pun mendekati Ariana lalu menenangkannya. Ini dapat mengurangi rasa bersalah Ariana walau hanya sedikit. Rasa bersalahnya terlalu dalam.


***


"Jadi apa yang ingin kamu ceritakan pada Ibu, Judith?" tanya Leticia di kamarnya sambil menyodorkan kedua tangannya pada Judith.


Judith memeluk ibunya seperti yang ia lakukan waktu kecil. Meski sudah dewasa, ia masih suka bermanja-manja dengan ibunya. Adik-adiknya tidak tahu kelakuannya ini. Ia tidak ingin menjadi sebagai panutan yang buruk.


"Aku bertemu dengan orang yang aneh. Awalnya dia menyelamatkanku dan meminta bayaran. Saat bertemu denganku lagi, dia menantangku bertarung karena aku perempuan, tentu saja dia berhasil kukalahkan. Awalnya aku merasa kesal, tetapi begitu mengetahui bahwa alasan sikap bebalnya karena membayar utang orang tuanya, aku merasa kasihan," jelas Judith masih memeluk ibunya. Rasanya menenangkan berada di dekapan ibunya.


Leticia mengelus-elus kepala putrinya. "Sepertinya kamu bertemu dengan orang menarik. Jadi, sebenarnya hal penting apa yang ingin kamu bicarakan dengan Ibu?"

__ADS_1


Judith melepas pelukannya dan menatap ibunya dengan serius. "Trauma Ana belum hilang Ibu. Saat pemberontakan dia histeris karena melihat orang mati dengan posisi yang sama saat Ibu menyelamatkan Ana waktu kecil."


Tangan Leticia merenggut baju putrinya. Ia memejamkan mata. Ternyata putri keduanya masih mengingat kejadian itu. Saat putri keduanya ditawan di kerajaan lain.


__ADS_2