
Tanpa ia sadari Leticia sudah berada di kuil. Bedanya kali ini, sudah larut malam. Sangat berisiko berada di sana, salah satu pendeta mungkin dapat mengenalinya. Lalu, ia tidak meminta Emilia berjaga di depan kamarnya saat ini. Ini sudah larut malam, ia yakin bahwa Braun dan Judith sudah tidur.
Leticia ingin melihat kejatuhan Paus secara langsung. Selama ini ia hanya berperan dibalik layar. Ia hanya mendengar bagaimana Gerald menangkap bangsawan-bangsawan itu.
Gerald pasti sudah ada di sini untuk menguak rahasia kelam dari Paus. Dibuktikan dengan penjaga kuil sudah jatuh pingsan. Dale sudah mengabarinya kalau batu sihir itu sudah diserahkan pada Isabella. Isabella pasti segera memberikannya pada Gerald.
Leticia masuk ke kuil dengan mudah, berkat Gerlad. Kondisi kuil sangat sepi, semua pendeta sedang tertidur. Ia segera menuju gedung pendeta untuk mencari ruang bawah tanah.
Ada sedikit rasa penyesalan di hatinya. Seharusnya ia meminta Piere memberitahu tempat ruang bawah tanah. Kemungkinan terburuknya Leticia tidak dapat menemukan ruang bawah tanah atau ia menemukannya saat Gerald sudah selesai.
Leticia melewati lorong demi lorong untuk menemukan ruang bawah tanah itu. Tidak ketemu. Sungguh perbuatan tanpa persiapan dan pemikiran panjang terlebih dahulu. Seharusnya ia memikirkan hal ini masak-masak sebelum pergi.
Ia menyerah. Lebih baik menunggu kabar saja besok. Leticia mengambil batu sihir besar terleportasinya untuk kembali ke istana.
Tangannya ditarik dengan cepat. Ia tidak berhasil berteleportasi. Leticia melepas genggaman orang itu dengan menendangnya. Orang itu mundur untuk mempertahankan keseimbangannya agar tak terjatuh.
"Siapa kau?" tanya orang itu merintih kesakitan.
Piere memegang perutnya yang masih terasa sakit akibat tendangan Leticia. Merasa bersalah Leticia mendekatinya.
"Maafkan aku. Ini aku, Piere." Leticia membuka tudungnya. Rambutnya berwarna cokelat karena memakai rambut palsu. Namun, orang-orang yang pernah bertemu dengannya pasti mengenalinya.
"Maafkan tindakan lancang saya tadi, Permaisuri." Piere menunduk. Ia sudah menarik tangan Permaisuri Kekaisaran dengan kasar. Ia takut akan hukuman yang segera menimpanya.
"Tidak apa-apa, lagipula aku tidak memberimu kabar kalau akan datang. Bisakah kamu mengantarku ke ruang bawah tanah?"
"Baik, akan saya antar." Piere segera berdiri tegak mengantar Leticia ke ruang bawah tanah.
Leticia mengikutinya sambil memakai tudungnya. Piere mengantarnya sampai di depan saja. Ia tidak ikut ke dalam. Ia harus kembali ke kamar agar Paul tidak curiga. Paul sama sekali tidak tahu rencana menjatuhkan Paus. Piere menepati janjinya pada Leticia untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun.
Leticia berterima kasih pada Piere. Ia menuruni tangga menuju ruang bawah tanah itu. Ia membuka pintu. Ruangan itu sangat gelap hanya diterangi oleh obor yang berada di setiap sisi ruangan.
Tiba-tiba tudungnya terbuka. Ada orang yang menyibakkan tudungnya dari belakang. Ia segera berbalik melihat orang itu.
__ADS_1
Orang itu sangat terkejut dengan kedatangan Leticia. Satu ekspresi baru lagi, yang Leticia lihat dari orang itu.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Permaisuri?" tanya Gerald.
"Saya hanya ingin melihat kejatuhan Paus secara langsung, Grand Duke."
Gerald mengernyitkan dahinya seakan bertanya-tanya apa yang ada di otak Leticia.
"Anda tahu kalau ini sangat berbahaya, bukan?"
"Saya tahu. Saya tidak akan ikut campur saat Anda menangkap Paus, Grand Duke."
"Lakukan sesuka Anda, Permaisuri." Gerald menghembuskan napas panjang.
Mereka masuk ke ruangan di sisi lain. Ruangan itu kosong. Mereka datang terlalu cepat. Ritual sihir terlarang belum dimulai. Leticia mengamati ruangan itu. Tidak ada perabotan yang besar. Tidak ada tempat yang cocok untuk bersembunyi. Mereka harus bersembunyi di ruangan lain. Terdapat tiga pintu di ruangan itu. Pintu menuju ruangan tempat mereka keluar tadi dan pintu di sisi kanan dan kiri ruangan. Kedua pintu itu terkunci. Gerald membuka pintu di sebelah kanan dengan paksa menggunakan aura. Ruangan di pintu sebelah kanan kosong dan tidak terlalu luas seperti ruangan tempat mereka berada sekarang.
Mereka bersembunyi di ruangan itu. Gerald membuat lubang kecil di pintu itu, digunakan untuk mengintip. Tak lupa juga membuatkan lubang seukuran tinggi tubuh Leticia.
Jantung Leticia berdebar keras. Ia berusaha menenangkan dirinya. Terlalu bersemangat juga dapat mengakibatkan gagalnya rencana.
Paus mengambil kunci, membuka pintu di sisi kiri ruangan tadi. Ia masuk ke dalamnya, lalu kembali diikuti oleh anak-anak.
Tatapan anak-anak itu kosong. Mereka menuruti seluruh perintah Paus. Pertama, mereka untuk duduk di lantai. Mereka menjulurkan tangan ke depan lalu menggoresnya dengan pisau.
Leticia dan Gerald menahan diri untuk tidak keluar. Sihir terlarang ini memerlukan lingkaran sihir dan rapalan mantra untuk mengaktifkannya. Mereka menunggu saat-saat itu. Lingkaran ini dapat menjadi bukti Paus melakukan tindakan terlarang.
Lingkaran sihir ini dibuat dari darah anak-anak itu. Paus menggambarnya menggunakan jari tangannya. Tangan anak-anak itu masih mengeluarkan darah, tetapi mereka tidak kesakitan.
Leticia menggenggamkan tangannya dengan erat, berharap anak-anak itu tidak kehilangan banyak darah.
Lingkaran sihir sudah selesai. Paus berdiri di luar lingkaran sihir itu lalu merapalkan mantra. Lingkaran sihir itu mulai bersinar. Anak-anak itu mulai jatuh satu-persatu. Gerald segera keluar dari persembunyiannya, memukul Paus. Cahaya dari lingkaran itu lenyap seketika akibat penggunanya berhenti merapalkan mantra.
Paus memegang pipinya sambil menatap tajam Gerald. Ia menyeringai.
__ADS_1
"Saya kira Anda tidak akan datang, Grand Duke."
"Maaf membuat Anda lama menunggu saya, Paus. Ah, kau tidak pantas disebut Paus karena telah melakukan tindakan keji." Gerald membalas menatap tajam Paus. Ia menghunuskan pedangnya di depan leher Poppo.
Tawa keras Paus memenuhi ruangan. Leticia masih bersembunyi di tempatnya. Ia tidak ingin mengganggu Gerald. Anak-anak itu masih tak sadarkan diri.
"Anda tidak akan mengerti perasaan saya. Orang yang berlimpahan harta seperti Anda dapat melakukan apapun tanpa perlu berusaha keras. Saya hanya ingin hidup damai."
"Apa perlu sampai mengorbankan orang lain, terutama anak-anak?"
"Pengorbanan diperlukan untuk kebahagiaan orang lain, Grand Duke."
"Kau sudah gila."
"Sayang sekali Anda tidak akan bisa mengalahkan saya." Paus cekikikan.
"Kita lihat saja nanti."
Gerald menebaskan pedangnya ke tangan Poppo. Pedangnya dapat ditahan oleh Paus jahat ini dengan mudah. Gerald sedikit terkejut.
Tebasan pedang Gerald meski tanpa aura tidak dapat ditangkis dengan mudah. Kekuatan Poppo jauh melebihi manusia biasa. Kekuatannya ini didapatkan dari mengorbankan anak-anak pada ritual sebelumnya.
Tak ada gunanya bermain-main dengan pria jahat di depannya. Gerald melancarkan serangan demi serangan. Poppo dapat menghindarinya.
"Lihatlah perbedaan kekuatan kita, Grand Duke."
"Itu bukanlah kekuatanmu sendiri melainkan kau curi dari anak-anak itu." Gerald mengayunkan pedangnya lebih cepat hingga menggores pipi Poppo.
Poppo memegang pipinya yang berdarah dan menyeringai lebih lebar.
Ia mengeluarkan sihir api mengarahkannya pada Gerald. Gerald dapat menghindarinya. Sihir itu mengenai pintu menuju keluar.
Paus segera melarikan diri. Gerald mengejarnya.
__ADS_1
Leticia tidak lagi bersembunyi. Ia menepuk-nepuk pipi anak-anak untuk menyadarkannya, tetapi tidak berhasil. Ia mematikan asap dari obat terlarang itu.
Leticia segera menyusul Grand Duke Faust. Ia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Gerald.