
Kepalan tangan Judith mulai mengendur. Tadi ia hampir meninju Leonard meski sudah digantikan oleh Flint. Tak apa bila dirinya yang dihina atau pun dibenci, asalkan bukan keluarganya. Leonard bicara seolah-olah tahu segalanya padahal hanya rumor bohong belaka. Tak mau amarah mengendalikannya, Duchess meninggalkan Leonard dan Flint sendirian.
Dengan ini Flint bebas melakukan apa pun. Ajudan Duchess satu itu memukul Leonard berusaha bangkit. Ia menendang perut pengawal baru Tuannya itu. Ini sama sekali tidak mencerminkan sikap bangsawan yang selalu dididik ibunya. Melakukan kekerasan adalah satu-satunya cara menyadarkan Leonard akan tempatnya.
"Apa kau menyukai Duchess? Sepertinya Duchess tidak tahu perasaanmu," ejek Leonard. Ia mengelap darah di sudut bibirnya.
"Dia kuanggap sebagai kakakku. Kamu selalu mengoceh tanpa tahu sebenarnya. Selama ini kami selalu bersabar, tetapi kali ini kamu sudah keterlaluan."
Flint mengingat janjinya pada Arion bahwa akan menjaga Duchess. Sebenarnya ia seharusnya menjadi ajudan Arion yang akan menjadi Kaisar selanjutnya, tetapi pangeran satu itu melepas Flint demi membantu Judith. Flint menghormati janjinya pada sahabatnya itu bahkan rela mengorbankan nyawanya.
"Bangsawan seperti kalian, tidak akan tahu penderitaan rakyat jelata seperti aku!" Leonard berteriak hingga seluruh otot lehernya terlihat.
Flint tidak mau kalah mencengkeram baju Leonard. "Jangan menganggap kalau kamu adalah orang yang paling menderita! Kamu tidak tahu apa yang dilalui Duchess! Ayah kandungnya berusaha membunuh Duchess! Jangan seenaknya menghina Permaisuri dan Kaisar tanpa tahu penyebabnya!"
Flint menjelaskan masa lalu Duchess pada Leonard. Bagaimana Duchess diperlakukan di istana sewaktu kecil, hingga Permaisuri memutuskan untuk memberontak, Duchess yang tidak mempercayai Permaisuri, semuanya Flint ceritakan. Ia mendengar masa lalu Duchess dari ibunya.
Leonard terdiam tak bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang anak yang berusaha dibunuh oleh ayahnya sendiri. Penderitaan ditinggalkan oleh orang tua mungkin tidak sebanding dengan itu. Sifat Duchess yang keras dan tertutup pasti karena masa lalunya yang kelam. Leonard tertunduk pelan sembari mengepalkan tangan.
Flint melepas cengkeramannya, menjatuhkan Leonard. Tak ingin berlama-lama berada di tempat yang sama dengan Leonard, ia meninggalkan ruangan itu. Langkahnya terhenti di depan pintu. Matanya melirik ke arah Leonard.
"Berterima kasihlah pada Duchess, karena belas kasihnya kamu bisa hidup."
Pintu tertutup dengan rapat. Leonard meninju lantai. Lantas kembali ke kamarnya. Ia terperanjat melihat Idris duduk di kasurnya.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Leonard sedikit bergetar.
__ADS_1
Ini pertama kalinya ia berduaan dengan wanita di kamar yang sama. Idris menyinggung senyum menggoda. Leonard belum siap untuk melakukan hal itu, apalagi mereka hanya rekan dan mengenal tidak lebih dari satu jam. Ia berjanji akan melakukannya dengan wanita yang dicintai dan mencintai dirinya, walau wanita itu belum muncul.
Idris menghampiri Leonard. Merasa was-was, Leonard mundur perlahan. Ia terpojok di dinding. Idris mendekatkan wajah, melewati telinga Leonard.
"Marquis Loid akan mengadakan pesta, kemungkinan Duchess akan datang. Kau diperintahkan untuk mengawasi Duchess selama di pesta," bisik Idris.
Leonard segera menjauhkan Idris darinya. Senyum nakal Idris masih terpampang di bibirnya.
"Kau bisa mengatakannya baik-baik. Bukan seperti itu," ucap Leonard dengan wajah sedikit memerah.
Idris tertawa pelan tak ingin suaranya terdengar keluar. "Ekspresimu tadi sangat lucu, aku ingin menggodamu."
"Lupakan saja, ngomong-ngomong kenapa kau bekerja untuk Marquis Loid?"
"Bagaimana denganmu?" tanya Idris.
"Aku tidak peduli dengan Marquis Loid. Yang kuinginkan adalah membalas Duchess yang telah mempermalukanku. Akan kubuat dia bersujud di hadapanku," balas Leonard dengan percaya diri.
Idris tertawa lepas. Perkataan Leonard sangat lucu. Duchess mempunyai harga diri yang sangat tinggi, ia bahkan tidak mau menunduk di hadapan Marquis Loid. Bersujud di hadapan rakyat jelata seperti Leonard, itu sangat tidak mungkin.
"Berjuanglah, semoga harapanmu terwujud." Idris menepuk-nepuk bahu Leonard seraya pergi.
Leonard mengibas-ibaskan bahu yang disentuh Idris. Perkataannya tadi tidak sepenuhnya benar. Ia hanya ingin menyakinkan Idris bahwa mereka ada di pihak yang sama. Di lubuk hatinya ia ragu berada di pihak Marquis Loid atau pun Duchess. Ia tak mengerti alasan Duchess masih mempekerjakannya, padahal Leonard dapat dengan mudah mengkhianatinya. Leonard berbaring di kasurnya sambil termenung.
'Duchess Hillbright sebenarnya sifat aslimu seperti apa?'
__ADS_1
***
Di depan ruangan Duchess berdirilah Leonard yang bergeming. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Kejadian kemarin masih terngiang-ngiang di kepalanya. Bertemu dengan atasannya membuatnya gugup. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana.
Tiba-tiba pintu terbuka. Flint menatap tajam Leonard sambil menunjuk jam saku, menandakan bahwa pengawal itu terlambat lagi. Flint melanjutkan langkahnya keluar. Ia harus mengurus pembangunan kuil.
Leonard segera menempatkan diri. Suasana mereka sangat canggung. Hanya terdengar suara gemerisik kertas. Duchess fokus mengerjakan dokumen-dokumen di hadapannya, tak menganggap Leonard.
"Aku minta atas kelakuanku kemarin," ujar Leonard.
Pena Judith terangkat. Ia melirik ke arah Leonard. "Ini pertama kalinya kamu meminta maaf," ejek Judith.
"Sia-sia saja, aku meminta maaf." Leonard memutar bola matanya.
"Simpan saja permintaan maafmu padaku. Berikan saja pada ayah dan ibumu. Apa kamu akan menemui mereka?"
Kenapa Leonard harus meminta maaf? Yang salah adalah ayah dan ibunya. Ia menyadari alasan Duchess meminta Leonard menemui orang tuanya, tak ingin Leonard melakukan kesalahan yang sama, yaitu tidak mempercayai orang tua.
"Baiklah, tetapi tidak kujamin mereka akan kumaafkan," balas Leonard sambil memalingkan muka.
Judith tersenyum ke arah Leonard. Ia mengambil mantel, melangkah menuju pintu. Leonard terus bergeming, sampai pintu itu dibuka oleh Duchess.
"Kenapa diam saja? Tidak ikut menemui orang tuamu?" Duchess menunjuk keluar dengan kepalanya.
Leonard mendesah pelan, mengikuti tuannya yang tidak mudah ditebak itu.
__ADS_1