
Dale tetap bersikap tenang sambil tersenyum seperti kebiasaannya. Tangan Isabella dan Dale masih berpegangan. Ia melepas tangan Isabella, lalu maju ke depan mendekati Piere. Di sana hanya ada mereka bertiga. Isabella masih tidak terlihat.
"Akan kulaporkan ke Paus bahwa ada penyusup," kata Piere dengan gemetar.
"Aku tidak berniat menyakiti siapapun. Aku berusaha membantu temanmu," jawab Dale.
Isabella hanya mengamati tindakan Dale.
"Berhentilah berbohong! Aku tetap melaporkannya pada Paus!" Piere berbalik, melarikan diri.
Isabella mencegahnya dengan menariknya hingga terjatuh. Dale menepuk bahu Isabella, berterima kasih. Isabella menepis tangan Dale. Ia tidak butuh rasa terima kasih dari orang yang menyebalkan.
Dale berjongkok di depan Piere. Masih dengan senyumnya, walaupun sebenarnya ia tidak terlihat senang. "Aku berusaha bicara baik-baik. Aku tahu apa yang temanmu butuhkan, tetapi itu bukan hal yang baik. Aku berusaha membantunya."
"Memangnya apa yang Paul butuhkan?"
"Apa kau tahu kasus Count Blaire?"
Mata Pierre melebar. Ia tahu apa yang dimaksud orang yang di depannya.
"Paul tidak mungkin menggunakan hal itu."
"Kau tahu kartu ini?" Dale mengeluarkan kartu wine itu.
"Kartu itu pernah ditemukan di antara barang-barang Paul," jawab Piere lirih.
"Kartu ini adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan barang itu dari Count Blaire."
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau bicara jujur?" Piere masih belum mempercayai Dale sepenuhnya.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku kehabisan waktu di sini. Jadi aku harus pergi. Aku harap kau merahasiakan kedatanganku. Aku akan kembali besok. Besok aku akan menunggu di depan aula berdoa. Jika kau ingin mendapat informasi lain, temui aku. Kalau kau membocorkan kedatanganku tidak ada informasi untukmu," ancam Dale. Raut mukanya masih sama. Nada riangnya terdengar seperti ancaman. Ia menyimpan kembali kartu wine itu.
Dale segera mengaktifkan sihirnya meninggalkan Piere yang kebingungan. Isabella segera mengikutinya.
Mereka dua kali beristirahat di tempat yang sepi karena Dale tiba-tiba menampakkan diri. Kini mereka sudah sampai di tembok yang membatasi aula doa dan tempat tinggal pendeta.
__ADS_1
Dale menggengam tangan Isabella lagi, segera berpindah di sisi lain tembok. Tubuhnya mulai terlihat kembali. Ia terlihat kelelahan. Menggunakan sihir berulang kali menguras energinya. Energinya masih tersisa untuk berteleportasi ke menara.
Isabella segera melepas tudungnya.
"Jadi besok kamu akan datang lagi ke sini?" tanya Isabella.
Dale menyandarkan dirinya ke pohon tempat mereka berbicara beberapa saat yang lalu.
"Tentu saja. Pendeta tadi bisa menjadi informan penting di masa depan."
Mereka masih belum menemukan ritual sihir terlarang yang dilakukan kuil. Mereka membutuhkan orang dalam untuk memberikan informasi. Pendeta itu akan berguna.
"Apa yang akan kamu lakukan pada teman sekamarnya?" tanya Isabella.
"Kalau itu, biar pendeta tadi yang memutuskan apa yang terbaik bagi temannya," jawab Dale riang.
Isabella menghela napas. Bersyukur Dale bisa terbebas dari keadaan yang genting. Sekarang saatnya kembali ke kediaman Faust.
Isabella membuka jubah milik Dale hendak mengembalikannya.
"Kamu tidak perlu mengembalikannya. Aku masih punya banyak jubah sihir seperti itu. Akan kuberikan kepadamu, mungkin akan berguna untukmu," ujar Dale.
"Itu artinya aku harus berteleportasi sebanyak empat kali dalam sehari. Dua kali pergi ke kuil dan dua kali ke menara. Semakin jauh tempatnya semakin banyak pula energi yang kubutuhkan. Menara dan kuil sangat jauh. Aku tidak punya energi sebanyak itu," jelas Dale.
Isabella hendak berterima kasih tetapi Dale menyelanya, "Ah, kalau kamu benar-benar mau mengembalikannya, jangan lupa dicuci. Kudengar itu bisa menjadi suatu bentuk kasih sayang dari seorang bangsawan."
Kekesalan Isabella timbul lagi. Orang yang mengusiknya kembali. Penyihir menara hanya bersungguh-sungguh ketika melakukan penyelidikan dan pertemuan saja. Sisanya ia suka bermain-main. Isabella menyesal sempat merasa pemimpin penyihir menara ini hebat.
"Aku akan menyimpannya," jawab Isabella ketus.
Isabella meninggalkan Dale, menuju kereta kudanya.
"Apa kamu akan ke sini besok, Countess?" tanya Dale.
Langkah Isabella terhenti. Ia menoleh. "Kamu lihat saja besok, aku datang atau tidak."
__ADS_1
Isabella kembali melanjutkan langkahnya. Dale melihatnya dari belakang sambil tersenyum.
***
Leticia berada di ibu kota jalan-jalan bersama Judith. Dean ikut mengawal Judith bersama dengan pengawal Leticia yang lain. Untuk berjaga-jaga apabila ada yang menggeledag kamarnya, Leticia membawa semua batu sihirnya.
Leticia mengajak Judith untuk makan dessert. Putrinya makan dengan lahap. Makanan manis adalah kesukaan Judith, sama seperti selera ibunya.
Leticia membawa Judith ke toko boneka. Putrinya tidak terlihat bersemangat di sana. Itu karena Judith tidak terlalu menyukai boneka. Leticia membawanya ke toko-toko lain dan membelikan barang yang disukai putrinya.
Judith memandangi bbq yang dijual di pasar. Ia terlihat ingin memakannya tetapi tidak berani meminta kepada ibunya, karena itu adalah makanan yang tidak sehat. Leticia melihat tempat yang dipandangi Judith dari tadi. Ia menuju ke tempat itu lalu membeli dua tusuk bbq. Satu untuknya dan satu untuk putrinya.
Judith yang melihat ibunya membawa makanan yang ingin dicobanya, terlihat kegirangan. Ia mencobanya dan bilang enak. Leticia tersenyum melihat tingkah putrinya itu.
Hari sudah sore, sudah waktunya mereka pulang. Namun, kereta kuda yang membawa mereka kemari rusak. Bahkan kereta kuda milik pengawal juga ikut rusak. Seolah-olah ada yang merusaknya. Leticia menjadi lebih waspada. Ada orang yang mengincarnya atau putrinya.
Leticia memerintahkan salah satu pengawalnya untuk kembali ke istana menyiapkan kereta kuda bersama dengan Emilia. Leticia meminta Emilia membawa pakaiannya dan Judith.
Karena perjalanan dari istana ke ibu kota sedikit jauh, kemungkinan kereta kuda baru datang besok. Leticia dan Judith harus bermalam di ibu kota.
Mereka memilih penginapan yang cukup mewah. Leticia ingin Judith merasa nyaman di sana.
Pengawal yang tersisa berjaga di depan bersama Dean. Leticia dan Judith yang hendak tidur mendengar keributan di luar. Salah satu pengawal keluar dari penginapan untuk memeriksa keributan itu. Leticia menggenggam tangan putrinya dengan erat.
Brak...
Kaca jendela dipecahkan. Leticia segera memeluk putrinya untuk melindunginya dari serpihan kaca. Pengawal yang masih berjaga di luar langsung masuk mendengar adanya pecahan kaca.
Ada empat orang berpakaian hitam yang masuk ke kamar Leticia. Leticia menjauhkan dirinya dan Judith dari orang yang berusaha mencelakakan mereka dengan bergerak dari kasur.
Dua pengawal Leticia dan Dean melawan orang-orang berpakaian hitam itu. Salah satu orang berpakaian hitam itu menarik rambut Leticia. Leticia melepaskan tangannya dari Judith karena tidak ingin putrinya ikut terseret.
Dean segera melindungi Judith lalu membawanya menjauh. Judith meronta-ronta. "Ibu selamatkan, Ibu!" teriak Judith.
Kedua pengawal yang lain masih sibuk melawan komplotan penculik Leticia.
__ADS_1
Orang yang berhasil menangkap Leticia segera membuatnya pingsan dengan memukul tengkuknya. Mereka semua kabur meninggalkan tempat itu.
"Cepat kejar orang-orang itu!" perintah Judith pada pengawal yang ada di sana.