Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 51 Mencari Kesempatan


__ADS_3

Leticia pergi ke bar tempat informasi. Seperti biasa ia mengenakan penyamaran agar tidak dikenali. Ia sudah berada di ruangan pak tua yang biasa memberi informasi kepadanya.


"Sepertinya Anda jadi sering kemari," sapa Pak Tua.


Leticia segera duduk. Pak tua itu mengusap-usap dagunya. Ia menghembuskan napas panjang.


"Jika Anda menginginkan informasi tentang kuil, maka saya tidak punya informasi baru," ujar pak tua yang menebak alasan Leticia ke sini. 


Leticia sering menanyakan informasi tentang kuil hingga membuat pak tua bosan. Masalahnya mendapat informasi baru tentang kuil tidak mudah. Desas desus tentang kuil menggunakan sihir terlarang itu merupakan informasi yang sangat diragukan kebenarannya. Orang yang menyebarkannya tidak mempunyai bukti pendukung dan tiba-tiba menghilang. Entah mengapa Permaisuri Pertama menginginkan informasi ini.


"Bukan informasi itu yang kucari, aku ingin mengetahui apa yang Marquis Lodrey lakukan," jawab Leticia.


Orang tua itu bersendekap. "Marquis Lodrey sering bertransaksi dengan banyak bangsawan. Ia juga sering berdonasi dan datang di beberapa panti asuhan. Lalu saya pernah bilang sebelumnya, Marquis Lodrey juga berdonasi di kuil dalam jumlah besar."


"Apa tidak ada yang aneh dari transaksi yang dilakukan Marquis Lodrey?"


"Tidak, beliau benar-benar bersih. Tidak ada kabar miring yang menerpa Marquis Lodrey." Pak tua itu menggeleng. 


Apakah Marquis Lodrey benar-benar bersih? Leticia meragukannya. Ia ingin menyelidiki bisnis yang dijalankan Marquis. Lalu, tidak ada salahnya menyelidiki pula panti asuhan yang sering didatangi oleh Marquis Lodrey. Mungkin ada informasi yang bisa ia temukan.


"Kalau begitu apa kamu tahu letak panti asuhan itu?" tanya Leticia.


"Panti-panti itu sebagian besar terletak di wilayah kekuasaan Marquis. Letak terperincinya saya tidak tau."


Merasa tidak ada informasi lain yang ia perlukan, Leticia mengeluaekan sekantong uang dan meletakkanya di meja. "Seperti biasa ini bayaran dan uang tutup mulutmu."


Ia segera beranjak dari sana dan kembali ke istana. Ia mengambil salah satu batu sihir untuk menghubungi Grand Duke Faust.


Ia berani untuk menghubungi Grand Duke Faust karena Isabella pasti masih berada di sampingnya. Leticia masih sedikit enggan berbicara berdua dengan Grand Duke Faust. Rasa takutnya masih belum sirna, tetapi tidak sebesar dulu.


Batu sihir itu bersinar.


"Maaf mengganggu Anda. Apa Anda sedang sibuk, Grand Duke?" tanya Leticia.


"Tidak, ada apa, Permaisuri?" Gerald bertanya balik.


"Saya ingin Anda mencoba menyelidiki Marquis Lodrey," jawab Leticia tanpa basa-basi.


"Apa yang mencurigakan dari Marquis Lodrey, Permaisuri?"


"Saya masih belum tahu, hanya saja seperti yang kita tahu bahwa Marquis Lodrey berdonasi pada kuil dalam jumlah besar seperti Viscount Gremaroft dan Count Blaire. Mungkin ada yang Marquis sembunyikan dan ini bisa menjadi senjata untuk menyerang kuil, Grand Duke," jelas Leticia.

__ADS_1


"Baiklah, apa yang perlu saya selidiki, Permaisuri?"


"Bisnis yang dilakukan Marquis Lodrey dan panti asuhan yang sering dikunjungi oleh Marquis di daerah kekuasaannya, Grand Duke."


"Baiklah, akan saya selidiki, Permaisuri."


"Terima kasih, Grand Duke."


"Ada yang ingin disampaikan Isabella, Permaisuri." Terdengar suara gemuruh karena batu sihir Gerald berpindah tangan pada Isabella.


"Permaisuri, hari ini saya akan melatih Anda. Anda tidak sibuk bukan?" tanya Isabella.


"Tentu saja tidak, Countess." Tanpa disadari Leticia tersenyum.


"Apa ada yang ingin Anda sampaikan lagi pada Tuan?"


"Tidak ada."


"Kalau begitu saya akan menutupnya."


Batu sihir untuk berkomunikasi dengan Grand Duke Faust telah redup. Kini Leticia mengambil batu sihir lain untuk menghubungi Rose. Sebenarnya ini sedikit berisiko karena Leticia takut Braun akan tahu bahwa selama ini ternyata Rose berpihak pada Leticia. Namun, ia tidak ingin merepotkan Dale. Meskipun sebenarnya Dale pasti dengan senang hati membantu apabila Leticia memintanya.


"Ada apa Leticia? Apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Rose dengan bersemangat.


"Jadi ada apa?" tanya Rose lagi.


Leticia menceritakan informasi yang ia dapatkan di bar pada Rose. Ia meminta Rose menyelidiki panti asuhan itu. Leticia memintanya untuk berhati-hati.


"Baiklah, aku akan melakukannya dengan hati-hati. Aku tidak akan membuat Braun curiga padaku," jawab Rose.


"Terima kasih, Rose."


"Tidak perlu berterima kasih padaku Leticia."


"Apa aku boleh memanggilmu dengan nama panggilanmu?"


"Tentu saja, Rose." Leticia tersenyum.


"Baiklah, Leti."


Hubungan komunikasi mereka sudah terputus. Leticia mengembalikan batu sihir itu pada tempatnya. Ia menuliskan sebuah surat untuk datang ke kediaman Lodrey. Ia akan bertanya tentang panti asuhan itu.

__ADS_1


***


Charlotte mengajak Judith untuk minum teh bersamanya. Ia memang sengaja mengajaknya ketika Leticia sedang pergi. Dengan begitu ia bisa mempengaruhi Judith.


"Sepertinya, Permaisuri Pertama sangat sibuk beberapa hari ini, Tuan Putri," cetus Charlotte.


"Benar, ini akibat penculikan Ibu saya. Pekerjaan Ibu saya jadi menumpuk, Permasuri," jawab Judith. 


Judith menyesap tehnya, tidak melihat Charlotte. Meskipun mereka sudah lebih dekat, tetapi Charlotte merasa Judith sulit untuk didekati. Terutama setelah percakapan tentang Judith yang berlatih pedang. Ia sudah berusaha mendekatinya tetapi Judith masih belum membuka hatinya.


Judith memiliki beberapa kelemahan yaitu ibunya, ayahnya dan adiknya. Charlotte akan memanfaatkan kelemahan Judith itu.


"Saya siap membantu Permaisuri Pertama apabila kesulitan, Tuan Putri," ucap Charlotte.


"Terima kasih atas bantuannya, Permaisuri," jawab Judith singkat.


Merasa tanggapan Judith yang singkat, Charlotte melancarkan umpan yang kedua.


"Apakah Anda ingin bertemu dengan Louis, Tuan Putri?"


Mata Judith terlihat tertarik, Charlotte dapat melihatnya. Ia tertawa dalam hati.


"Saya ingin bertemu dengan adik saya, Permaisuri," ujar Judith sambil menatap Charlotte.


"Mari saya antar, Tuan Putri."


Charlotte menyeringai. Judith tidak menyadarinya. Judih sibuk menahan rasa senang bertemu dengan adiknya.


Mereka telah sampai pada kamar Louis. Charlotte meminta pengasuh Louis keluar. Ia ingin berada di ruangan itu bersama dengan Judith dan putranya. 


Charlotte mempersilakan Judith untuk mendekati putranya yang berada di ranjang bayi. Judith melihat adiknya.


Tangan Louis menggapai-gapai udara. Kelucuan Louis membuat Judith tidak tahan memegang jari mungil Louis. Ia sama sekali tidak memikirkan pandangan Charlotte terhadap dirinya, seperti saat pertama kali ia datang ke kamar Louis. Judith merasa Louis sangat rapuh. Pangeran bisa tersakiti dengan mudah dan sering menangis. Judith berjanji setelah dewasa, ia akan melindungi adiknya.


"Anda bisa datang ke sini sesuka hati Anda, Tuan Putri," ujar Charlotte sambil tersenyum.


Judith mengalihkan pandangannya dari Louis ke Charlotte. "Apa tidak masalah, Permaisuri Kedua?"


"Louis pasti senang karena kakaknya sering datang ke sini untuk bermain dengannya." Tatapan Charlotte berpindah dari Judith ke putranya yang masih kecil.


"Terima kasih, Permaisuri."

__ADS_1


"Saya yang seharusnya berterima kasih karena Anda mau bermain dengan Louis, Tuan Putri."


Judith kembali megenggam tangan mungil Louis. Ia berharap punya adik lagi dari ibu dan ayahnya. Namun, ibunya mengatakan bahwa dirinya sulit untuk mengandung lagi. Meskipun kecewa, Judith tetap merasa senang karena masih memiliki adik lain walaupun bukan dari ibunya. Ia berharap menjadi kakak yang baik bagi adiknya.


__ADS_2