
Leonard menuju kediaman Gail dengan geram. Ia dihentikan oleh pengawal di sana.
"Lepaskan aku." Tangan Leonard menyibakkan tangan pengawal yang menghalangi jalannya.
Kedua pengawal itu tidak mau menyingkir. Pertarungan tidak terelakkan. Leonard mengalahkan pengawal-pengawal itu dengan mudah. Ia sampai di depan pintu kediaman. Dengan lantang ia berteriak.
"Keluar kau Count Gail! Kita perlu bicara!"
Bukan Count Gail yang keluar tetapi Kepala pelayan. Ia menggantikan majikannya menemui Leonard.
"Maaf, Tuan sedang ada tamu. Kamu bisa kembali besok saja," ujar kepala pelayan ketus.
Leonard yang tak mampu lagi menahan amarahnya mencengkeram baju kepala pelayan. "Di mana tuanmu? Aku harus menemuinya. Aku tidak peduli dia ada tamau atau tidak."
"Pengawal, pengawal cepat kemari! Usir orang gila ini!" teriak kepala pelayan memanggil bala bantuan.
Pengawal mulai berdatangan. Leonard berdecak kesal. Ia memukuli mereka semua, meski berakhir babak belur. Dengan sempoyongan, ia melangkah menuju ruang tamu. Pintu dibanting dengan keras hingga mengagetkan orang yang berada di sana.
Leonard menatap Count Gail dan tamunya dengan geram. "Ternyata kau sama saja dengan orang ini, Duchess. Berpura-pura baik menolong orang lain tetapi menipu mereka dengan menerapkan bunga tinggi."
Duchess Hillbright melirik Leonard sekilas, tetapi pandangannya tetao pada Count Gail. Count Gail ketakutan berusaha berdalih.
"Jangan dengarkan orang itu Duchess. Dia hanya membual. Dia hanyalah orang lancang."
Duchess menghampiri Leonard yang murka. Count Gail pun mengikuti Duchess dengan tergesa-gesa.
"Apa kamu punya bukti?" tanya Duchess.
"Bukti? Perjanjian yang dipalsukan bisa menjadi buktinya," balas Leonard sambil menatap tajam Duchess.
Duchess menyodorkan tangannya pada Count Gail meminta barang bukti itu. Count Gail pun menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan percayai dia Duchess."
"Masalah aku percaya atau tidak, itu urusanku. Buktikan bahwa kamu tidak bersalah, Count," tantang Duchess Hillbright.
Count Gail segera pergi mencari surat perjanjiannya.
"Hah, terus saja berlagak sombong seperti itu. Kau membuatku muak dengan berpura-pura." Leonard tak tahan lagi dengan sikap Duchess.
Flint yang hanya diam saja daritadi, kini merasa kesal, ia bersiap mengeluarkan pedang tetapi dihalangi oleh Duchess Hillbright. Ajudan Duchess ini dengan terpaksa menuruti tuannya.
__ADS_1
Count Gail kembali dengan surat perjanjian-perjanjian. Duchess menyerahkan surat-surat itu kepada Leonard.
"Mana yang punyamu?"
Leonard mencari-cari surat perjanjian milik ayahnya. Ia menunjukkannya pad Duchess. "Ini, Count Gail tidak pernah mengatakan bahwa ada bunga sejak awal tetapi tiba-tiba saja tertulis di surat ini."
"Kalau begitu apa tanda tangan itu asli? Apa kamu menandatanginya dengan sadar?" tanya Duchess.
"Tentu saja ini tanda tangan ayahku, tetapi bangsawan satu ini memanipulasinya."
"Apa kamu punya bukti?"
Leonard terdiam sambil menggertakkan giginya. Tangannya terkepal, tak terima karena tidak dipercayai.
"Terserah saja, kalau kau tak mau percaya padaku. Urusanku dengan bangsawan satu ini." Leonard melewati Duchess, menghampiri Count Gail. Berbicara dengan Duchess Hillbright hanya membuang-buang waktu.
Duchess meraih bahu Leonard. "Kamu bisa dituduh dengan kekerasan pada bangsawan."
Leonard menyerang Duchess, tetapi malah dijatuhkan dengan mudah. Kepalanya menghadap langit-langit dengan cepat. Flint menghampirinya mengikat tangan Leonard.
Count Gail tersenyum penuh kemenangan karena Duchess Hillbright berada di pihaknya. Ia pun mempersilakan Duchess duduk kembali sambil meminta maaf karena kekacauan yang terjadi. Duchess Hillbright membalasnya dengan senyum simpul.
"Sebelum itu jelaskan dokumen-dokumen ini." Duchess Hillbright menyebarkan kertas-kertas di meja.
Count Gail membacanya. Matanya penuh sorot ketakutan. Ia menatap Duchess Hillbright lalu bangkit dengan berlarian keluar. Flint menghalanginya.
Duchess Hillbright mendekati dan mengikat Count Gail. "Kamu ditangkap atas penipuan dan bisnis ilegal, Count Gail."
Duchess membawa Count ke kereta kuda untuk dibawa ke istana. Kini ia menatap Leonard yang sedikit kebingungan.
"Lepaskan dia, Flint," perintah Duchess.
"Baik, Duchess." Flint melepas ikatan Leonard.
Leonard memegangi tangannya yang kesakitan. Duchess Hillbright merogoh sakunya, mengeluarkan sekantong uang.
"Uang ini cukup menggantikan keluargamu yang ditipu."
Leonard meraihnya, melihat isinya. Koin emas yang bertumpukan terlihat. Leonard menatap Duchess dengan tidak percaya.
"Apa kamu suka sekali memamerkan kekayaanmu?" sindir Leonard.
__ADS_1
Duchess Hillbright mengabaikan Leonard, menaiki kereta kuda yang lain. Flint masuk ke kereta Count Gail untuk menjaganya agar tidak kabur. Kereta kuda itu melaju ke tujuannya masing.
Leonard menggenggam kantong itu. Ia akan membangun bisnis lalu mempermalukan bangsawan, terutama Duchess Hillbright. Kesombongan bangsawan satu ini akan ia bungkam.
***
Duchess Hillbright menghela napas panjang. Ia merasa lelah karena harus bertemu dengan orang bebal seperti Leonard. Tujuannya hanyalah ingin menangkap Count Gail tetapi entah mengapa ia malah bertemu dengan prajurit bayaran itu.
"Apa yang kakak pikirkan?" tanya Ariana.
Duchess mengalihkan pandangan dari jendela kereta kuda, tersenyum pada adiknya. "Hanya lelah karena pekerjaan, Ana."
"Jangan terlalu lelah bekerja, Kak. Istirahatlah sebentar." Ariana menatap kakaknya khawatir
"Maka dari itu aku ingin mengajakmu bertemu Ibu dan Ayah. Aku baru bisa beristirahat dengan tenang bersama mereka. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Rion."
Ariana terdiam dan termenung. Duchess Hillbright menggenggam tangan adiknya karena tahu apa yang dipikirkan Ariana.
"Sesuai janjiku akan kuceritakan tentang kelakuan burukku pada Ibu dan Ayah, Ana."
Duchess Hillbright bercerita panjang lebar tentang masa kecilnya. Ia pernah tidak mempercayai ibunya bahkan mengatakan hal-hal buruk yang menyakiti hati sang ibu. Ia pernah tidak menginginkan seorang adik yang selalu didambakan oleh ayah dan ibunya karena takut dicintai. Namun, kedua orang tuanya tetap menyayanginya. Ariana terkejut ternyata kakaknya punya cerita yang seperti itu. Kakaknya yang selalu dapat diandalkan dan kuat ternyata pernah melalukan hal kekanak-kanakan.
"Kakak tidak berbohong bukan?"
"Tentu saja tidak, Ana. Jadi jangan takut, aku lebih banyak berdosa kepada mereka daripada dirimu."
Ariana terkekeh pelan. "Terima kasih kak."
Duchess Hillbright mengelus-elus kepala adiknya sambil tertawa. Pikiran buruk yang terus memenuhi benaknya bisa tersingkirkan karena bersama keluarganya.
***
Leonard kembali ke rumahnya. Rumah sederhana dengan banyak lubang di dinding sudah menjadi pemandangannya sehari-hari. Pertama-tama ia akan memperbaiki rumahnya ini sebelum memulai bisnis.
Begitu lampu dinyalakan, seorang pria duduk didampingi beberapa orang. Leonard mengeluarkan pedangnya.
"Siapa kau?"
Pria itu tidak menjawab. Ia memberi tanda kepada anak buahnya untuk membekuk Leonard. Leonard melawan orang-orang itu, tetapi mereka lebih kuat dibandingkan pengawal-pengawal Count Gail. Prajurit bayaran ini dengan mudah dikalahkan. Ia tengkurap dan ditindih oleh anak buah pria itu. Kepalanya dipaksa melihat pria itu. Pria yang memakai baju mewah itu menyeringai.
"Turuti semua perintahku, mulai sekarang."
__ADS_1