Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 53 Panti Asuhan Lodrey (2)


__ADS_3

Paul perlahan mengangkat kepalanya. Ia mulai berani keluar kamar. Udara segar memenuhi paru-parunya. Kepala terasa lebih jernih. Meskipun beberapa hari ini ia merasa kesulitan karena tidak menggunakan benda itu. Masih ada rasa ingin menggunakan benda itu, tetapi Piere mampu menenangkannya dan menjauhkannya dari tindakan buruk yang akan ia lakukan.


Namun, Paul masih belum bisa mempercayai Piere sepenuhnya. Ia takut kalau Piere mempunyai niat terselubung. Ia tidak mempercayai siapapun setelah melihat hal "itu".


Hal "itu" menyebabkan ia menggunakan benda terlarang itu. Ia ingin melupakan hal "itu". Pauslah yang mengenalkannya menggunakan benda itu. Awalnya Paul hanya coba-coba tetapi lama kelamaan ia mulai tidak bisa membendung perasaan lega setelah menggunakan benda itu. Ia menemui Paus untuk mendapatkan benda itu lagi. Kartu wine terselipkan dalam benda itu. Paul tidak tahu apa kegunaan kartu wine itu.


Kini Paul bisa makan dan berdoa seperti sebelumnya. Ia bertemu dengan teman-temannya. Mereka merindukan Paul. Ia menghindari bertemu dengan Paus karena tidak ingin terlibat dengan benda itu lagi.


Kini ia berada di kamar berdua dengan Piere. 


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Piere.


"Aku merasa baikan, terima kasih telah membantuku Piere," jawab Paul sambil tersenyum.


"Kau tidak akan menggunakan benda itu lagi bukan?" tanya Piere sedikit ragu.


"Tidak aku sudah jera. Kau tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun bukan?" Paul takut Piere akan membocorkan tentang dirinya menggunakan benda itu pada yang lain.


"Tentu saja tidak, aku tidak ingin kau pergi dari kuil," jawab Paul.


"Ngomong-ngomong dari mana kau mengetahui aku menggunakan benda itu?"


"Kartu wine yang pernah ditemukan di kamarmu adalah alat untuk bertransaksi dengan Count Blaire."


"Siapa itu Count Blaire?"


Semenjak mendekam di kamar, Paul tidak tahu dunia luar. Ia ketinggalan berita yang terjadi di kekaisaran.


"Count Blaire mendirikan tempat untuk mengedarkan benda itu. Banyak bangsawan yang menggunakan benda itu di tempatnya. Kini Count Blaire ditangkap."


Paul bergeming. Itu artinya Paus bekerja sama dengan Count Blaire. Haruskah Paul mengungkap semua rahasia yang ia ketahui pada Piere?


"Aku juga mendengar bahwa Count Blaire berdonasi dalam jumlah besar pada kuil. Aku takut kuil dicurigai," lanjut Piere.


Namun, jika Paul mengatakan yang sebenarnya pasti Paus tidak akan tinggal diam. Paus bisa mengkambinghitamkan Paul. Karena ia mempunyai kartu wine itu. 


Ia pasti dicurigai. Semuanya akan lebih mempercayai perkataan Paus daripada seorang pendeta biasa sepertinya. 

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat," tanya Piere khawatir.


"Tidak apa-apa, Piere. Ngomong-ngomong kenapa kau membantuku sampai seperti ini Piere?" tanya Paul.


"Aku hanya khawatir padamu. Itu saja."


"Terima kasih, Piere."


"Sama-sama. Paus apa kita bisa mempercayainya?" tanya Piere tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" 


"Semenjak bertemu dengan penyihir yang datang ke sini aku mulai tidak mempercayai Paus. Dia bilang bahwa Pauslah yang mengenalkan benda itu padamu."


"..."


Paul tersentak. Piere sudah mengetahui sebenarnya tetapi ia tidak mengatakannya pada orang lain. Sudah pasti Piere tidak berada di pihak Paus. Paul merasa ia bisa mempercayai Piere. Sekalipun tidak ada orang yang mempercayainya bila mengatakan kebenaran, ia yakin Piere berada di pihaknya.


"Jadi semua itu benar?"


"Aku siap, Paul."


Paul mengatakan semua rahasia yang ia simpan. Alasan ia menggunakan benda itu. Siapa orang yang mengenalkannya pada benda itu. Lalu, apa yang ia lihat di ruang bawah tanah kuil. 


Piere tercengang mendengar semuanya. Ia tidak bisa tinggal diam atas tindakan Paus. Ia hendak mengabari penyihir itu. Sebuah rahasia kelam yang dapat menghancurkan kuil dalam sekejab. 


***


Leticia pergi ke sebuah bar milik Grand Duke Faust. Gerald mengajaknya bertemu. Ia langsung masuk menuju ruangan tempat mereka bertemu di sini. Leticia duduk di hadapan Gerald dan Isabella.


"Ada apa Anda memanggil saya, Grand Duke?" tanya Leticia.


Sepertinya Grand Duke bukan cuma ingin menyampaikan informasi. Jika ia hanya ingin membicarakan mengenai rencana mereka, sudah pasti Grand Duke akan menggunakan batu sihir untuk membahasnya.


"Saya mendapat informasi bahwa Marquis Lodrey bukan hanya bertransaksi dengan bangsawan di Kekaisaran Houllem saja. Dia juga berbisnis dengan bangsawan dari Kerajaan Uthria. Kami berhasil mencuri surat yang dikirimkan Marquis pada bangsawan di Uthria," jelas Gerald.


Hukum di Kerajaan Uthria tidak terlalu ketat. Banyak terjadi kejahatan di sana dan pemerintahannya tidak stabil. Untuk berbisnis di sana sedikit berisiko. Namun, jika mendirikan bisnis ilegal di sana, pengusaha itu tidak akan terkena jerat hukum.

__ADS_1


"Jadi apa isinya, Grand Duke?" tanya Leticia.


Gerald memandang Isabella. Isabella mengangguk. "Surat yang dikirim menggunakan bahasa Uthria, kami tidak bisa membacanya, Permaisuri. Kami ingin Anda yang membacanya dan menerjemahkannya," jelas Isabella.


Leticia mempelajari berbagai macam bahasa untuk mempersiapkan diri menjadi Putri Mahkota dulu. Ini menjadi bekalnya sebagai Permaisuri agar dapat bekerja sama dengan kerajaan lain. Terkadang Leticia ikut menyambut perwakilan dari kerajaan lain yang datang ke kekaisaran Houllem. Tentunya ia bisa menerjemahkan surat itu dengan mudah.


Leticia menerima surat yang diberikan oleh Isabella. Ia membaca surat itu sambil membelalakkan matanya. 


"Jadi apa isinya, Permaisuri?" tanya Gerald.


"Marquis mengirimkan beberapa barang pada salah satu bangsawan kerajaan Uthria. Barang yang dimaksud di sini adalah budak." Leticia menatap Isabella dan Gerald.


Isabella dan Gerald tersentak. Awalnya mereka mengira Marquis berinvestasi pada salah satu bangsawan di Kerajaan Uthria atau berniat menderikan bisnis ilegal di sana. Namun, mereka tidak mengira bisnis ilegal yang Marquis lakukan melibatkan manusia.


"Ini termasuk perdagangan manusia. Dari mana Marquis Lodrey mendapatkan budak?" Gerald merasa geram.


Leticia terdiam berpikir sebentar. Terlintas sesuatu di pikirannya. "Apa mungkin dari panti asuhan itu?"


Isabella membuka suara. "Kalau begitu apakah mereka tiba-tiba diculik seperti kasus Viscount Gremaroft? Bukankah itu akan menimbulkan kecurigaan anak-anak lain atau kepala panti?"


"Caranya masih belum terpikirkan olehku. Jika mereka diculik tentu saja anak-anak lain tidak akan tinggal diam sekalipun kepala panti menutupinya. Kepala panti bekerja sama dengan Marquis Lodrey, ia menerima uang bonus dari Marquis kemungkinan untuk tutup mulut," tutur Leticia.


"Sepertinya masih belum jelas apa yang dilakukan oleh Marquis. Sebaiknya kita menyelidikinya lagi," ujar Gerald.


Leticia dan Isabella mengiyakan pernyataan Grand Duke Faust.


Leticia mengernyitkan dahinya. Beberapa hari ini kepala Leticia terasa berat, kesibukan membuatnya tidak punya cukup waktu untuk tidur. 


Titik-titik darah membasahi jubah Leticia. Sontak ia memegang hidungnya. Hidungnya berdarah.


Isabella dan Gerald yang menyaksikan hal itu berteriak hampir bersamaan.


"Leticia!" "Permaisuri!"


Mereka langsung mendekati Leticia. Isabella segera mengeluarkan sapu tangannya untuk mengusap darah pada hidung Leticia. 


Lalu Grand Duke Faust yang sangat dingin, terlihat khawatir. Ini adalah ekspresi keempat yang Leticia lihat pada Gerald. 

__ADS_1


__ADS_2