Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 54 Panti Asuhan Lodrey (3)


__ADS_3

"Isabella, cepat panggilkan dokter datang ke sini untuk Permaisuri," perintah Gerald.


"Baik, Tuan." Isabella menjauhkan diri dari Leticia, melepas tangannya yang memegang sapu tangan.


Leticia memegangi sapu tangan Isabella yang dirapatkan pada hidungnya. "Saya tidak apa-apa. Saya hanya kelelahan saja. Mimisan ini pasti segera berhenti." 


Leticia tidak ingin merepotkan mereka berdua.


"Apanya yang tidak apa-apa, hidungku berdarah begitu. Aku akan tetap ke dokter. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu," ujar Isabella.


Pada akhirnya Leticia menurut. Isabella sampai berbicara informal di depan Grand Duke Faust karena khawatir. Gerald sama sekali tidak memedulikannya.


Isabella bergegas keluar. Kini hanya tinggal mereka berdua. Gerald masih berada di samping Leticia, walaupun ekspresinya sudah berubah seperti biasa. Leticia ragu apa dirinya tadi salah lihat. Namun, ia yakin Grand Duke Faust terlihat khawatir. Ekspresinya hampir sama saat Gerald marah padanya karena memergokinya hampir menggunakan obat itu. Bedanya tidak ada rasa marah. Leticia baru sadar bahwa sebenarnya saat itu ternyata Gerald mengkhawatirkannya. 


Kecanggungan terjadi di antara mereka berdua. Leticia bukanlah orang yang terbiasa membuka percakapan apalagi dengan orang yang belum dikenal secara mendalam. Selama ini ia berbicara dengan Grand Duke Faust selama ada keperluan saja. Gerald pun juga tidak pernah berbicara pada orang lain hanya untuk berbasa-basi. 


"Isabella benar-benar mempercayai Anda, Permaisuri," ujar Gerald tiba-tiba. 


Darah yang keluar dari hidung Leticia tinggal sedikit. Ia sedikit mendongak melihat Grand Duke Faust.


"Dia bahkan rela menerima hukuman apabila Anda berkhianat," lanjut Gerald.


"Saya merasa tidak pantas mendapat kepercayaan sebesar itu, Grand Duke. Saya tahu sebenarnya sulit baginya untuk mempercayai saya sepenuhnya karena perbuatan ayah saya," ujar Leticia merendah.


"Itu adalah kesalahan Duke Hilbright bukan Anda, Permaisuri."


"Benar, Isabella pernah mengatakan hal itu, tetapi saya merasa ikut bersalah. Saya berada didekat beliau dalam waktu yang lama tetapi tidak menyadari apa pun, Grand Duke."


"Seandainya Isabella ingin balas dendam kepada Duke Hilbright, Anda akan berada di pihak mana, Permaisuri?"


Leticia terdiam. Ia bingung. 


Ayahnya tidak pernah menyayanginya, hanya kekuasaan yang ada di pikiran Duke Hilbright. Namun, Duke Hilbright tetaplah ayahnya. Darah ayahnya mengalir di dalam tubuhnya.  


Sedangkan, Isabella adalah sahabat yang selalu memihaknya dan menyayanginya. Ia sudah menganggap Isabella seperti saudaranya sendiri.


"Saya tidak tahu," jawab Leticia lirih.


"Sebaiknya Anda memikirkan hal ini, sehingga Anda tidak menyesal dalam memilih di kemudian hari, Permasuri."

__ADS_1


Pendarahan di hidung Leticia sudah berhenti. Leticia hendak mengucapkan terima kasih tetapi suara langkah kaki terdengar. Tak lama Isabella telah datang bersama dokter. Isabella juga membeli jubah untuk Leticia, karena jubah milik Leticia kotor.


Gerald segera memindahkan kursi untuk dokter itu. Dokter itu segera duduk dan memeriksa Leticia. Ia memegang tangan Leticia untuk mengecek keadaannya. Lalu melihat hidungnya yang berdarah.


"Jadi bagaimana keadaannya?" tanya Isabella.


"Hanya kelelahan, Anda tidak perlu khawatir." Dokter itu menoleh pada Isabella.


Isabella bernapas lega.


"Sebaiknya, Anda jangan kelelahan, dan banyak istirahat, Nyonya."


"Terima kasih atas sarannya, Dokter."


Untungnya dokter itu tidak lupa membawa beberapa obat. Ia memberikan obat yang berguna bagi Leticia. Isabella mengantar dokter itu keluar dan memberikannya sejumlah uang yang cukup mengganti kerugiannya karena telah meninggalkan beberapa pasiennya di klinik. Tadi Isabella memaksanya untuk pergi memeriksa Leticia.


Isabella telah kembali. Ia mendekati Leticia.


"Bila Anda merasa kelelahan saat berlatih dengan saya, Anda harus mengatakannya, Permaisuri," ujar Isabella merasa bersalah.


"Tidak, ini bukan karena itu, Countess. Saya hanya lelah karena beberapa hari ini saya sibuk karena berbagai hal," ujar Leticia menenangkan Isabella.


"Sebaiknya Anda menyerahkan kasus Marquis Lodrey pada kami dan teman penyihir Anda, Permaisuri. Anda istirahat saja," kata Gerald.


"Itu benar," timpal Isabella.


"Baiklah." Leticia mengalah. Jika Rose dan Dale mengetahui hal ini mungkin mereka akan melakukan hal yang sama.


Isabella mengambil baskom berisi air. Sapu tangan miliknya ia cuci lalu digunakan untuk mengelap sisa-sisa darah kering yang menempel wajah Leticia. 


Isabella memberikan jubah baru untuk Leticia dan mengambil sapu tangannya. Ia akan mencuci sapu tangan dan jubah lama Leticia. Jika dicuci di istana bisa menimbulkan kecurigaan. 


Leticia berterima kasih pada mereka berdua. Lalu kembali ke istana untuk beristirahat seperti saran mereka. Ia menghubungi Rose untuk menyampaikan informasi baru yang baru didapatkan. Tanpa mengatakan bahwa dirinya habis mimisan.


***


Rose kembali ke panti asuhan yang didatanginya kemarin. Tidak ada anak-anak yang berkeliaran di halaman. Ia memakai tudung tak terlihatnya lalu masuk untuk memeriksa keadaan di dalam. Tak ada siapapun di sana. Ia memeriksa semua barang milik anak-anak di sana. Kosong tidak ada apapun seolah-olah anak-anak itu tidak pernah ada di sini. Kepala panti asuhan juga tidak terlihat.


Rose keluar dari panti untuk menanyakan pada tetangga di sekitar panti asuhan itu. Ia melepas tudungnya.

__ADS_1


"Saya dengar ada panti asuhan di sekitar sini, tetapi kenapa tidak anak-anak yang berkeliaran?" tanya Rose pada salah satu orang yang lewat.


"Mereka sedang liburan, biasanya sebulan sekali," jawab orang itu.


"Apa pernah terjadi penculikan anak di sekitar sini, terutama pada anak panti?" tanya Rose lagi.


"Sepertinya tidak mungkin. Anak-anak panti di sini tidak pernah keluar dari pagar. Orang-orang sini tidak terlalu mengenal anak-anak itu. Begitu pula dengan saya. Kami hanya mengenal kepala panti asuhan." 


"Begitu ya, terima kasih." 


Rose pergi ke panti asuhan lain. Anak-anak di sana bermain riang. Ia memanggil salah satu anak di sana untuk mendekatinya. Anak itu terlihat ragu-ragu. Rose mengeluarkan makanan dan permen memperlihatkannya pada anak itu. Merasa tergoda anak itu segera mendekati Rose.


"Apa Anda orang asing? Kata kepala panti kami tidak boleh berbicara dengan orang asing yang jahat." Anak itu masih ragu-ragu.


"Kakak memang orang asing tetapi orang asing yang baik. Buktinya kakak mau memberikan ini kepadamu." Rose berusaha meyakinkannya sambil memberikan makanan dan permen kepada anak itu.


"Ini untukku? Terima kasih."


"Kakak harap kamu tidak memberitahukan ini pada siapapun, karena bisa jadi kepala panti memarahimu karena menerima makanan dari orang asing."


Anak itu mengangguk sambil memakan makanannya.


"Apa anak-anak panti di sini sering liburan?" tanya Rose.


"Tidak pernah." Anak itu berbicara sambil mengunyah makanannya.


Rose berharap mendapat informasi dari panti lain tetapi sepertinya sia-sia. 


Anak panti itu menelan makanannya lalu melanjutkan perkataannya, "Tetapi kata kepala panti asuhan seminggu lagi kami akan berlibur. Seandainya di panti asuhan ini sering berlibur aku tidak tahu karena kami baru tiga minggu berada di sini."


"Kamu dan anak-anak lain adalah anak-anak panti baru. Kalau begitu di mana anak-anak yang lama?" 


"Aku tidak tahu."


Sepertinya anak itu memang tidak tahu apa-apa. Merasa tidak ada yang bisa didapatkan lagi dari anak ini, Rose hendak pergi ke panti asuhan lain.


"Kakak akan merahasiakan hal ini. Kamu juga harus merahasiakan ini." Rose berkedip.


Anak itu mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2