
Leticia berusaha menenangkan ke dua temannya yang saling bermusuhan. Ia menatap Rose tajam. Tanpa berkata apapun Leticia menyuruh Rose untuk berhenti. Sang penyihir istana menyadari arti tatapan Permaisuri. Bola api yang berada di samping kepalanya, menghilang tanpa berbekas. Rose duduk kembali sambil memalingkan muka.
Isabella pun kembali duduk. Grand Duke Faust memandangnya dengan sorot mata yang tajam seolah-olah akan membunuhnya. Isabella tahu bahwa tuannya tidak benar-benar ingin membunuhnya. Ia sudah mengenal tuannya sejak lama, arti dari sorot mata itu adalah berhenti bertindak gegabah.
"Saya minta maaf atas kegaduhan ini, Grand Duke." Leticia menundukkan kepalanya sedikit.
"Tidak sepenuhnya kesalahan Anda, Permaisuri. Ini karena Ajudan saya memprovokasi Penyihir Kekaisaran." Gerald ikut meminta maaf kepada Leticia.
Keheningan terjadi di ruangan itu. Masih terdapat kecurigaan satu sama lain antara pihak Leticia dan pihak Gerald. Leticia tidak tahu apa yang ada dipikiran Dale. Meskipun ia selalu tersenyum dan bersikap ramah, Leticia tahu bahwa pemimpin penyihir menara ini juga masih tidak percaya kepada Gerald. Berbeda dengan Rose yang selalu mengutarakan apa dirasakannya langsung, Leticia lebih sulit memprediksi apa yang akan Dale katakan.
"Baiklah, sepertinya pihak Grand Duke Faust masih belum mempercayai kami. Saya akan mengungkapkan rumor yang mencengangkan. Tidak ada siapapun yang mengetahui hal ini kecuali kami bertiga," kata Dale dengan pembawaannya yang santai. Ke dua ujung bibirnya terangkat ke atas hingga terlihat mirip seringai.
Leticia sepertinya tahu apa yang ingin diungkapkan Dale. Mereka bertiga membicarakan hal itu saat pertemuan mereka terakhir kali selain membericarakan tentang kehidupan dirinya di istana.
"Kuil melakukan ritual sihir terlarang." Raut wajah Dale terlihat serius.
Wajah Isabella terlihat terkejut. Meskipun raut wajah Gerald tidak berubah, terlihat ia melebarkan matanya walau hanya sebentar.
"Apakah rumor itu bisa dipercaya?" tanya Isabella.
"Sebuah rumor tidak muncul dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Setidaknya pasti ada kebenaran dibalik rumor itu," tukas Rose.
Amarah Isabella yang semula reda kembali memuncak. Sebuah sindiran untuk tuannya. Lebih baik dirinya yang dihina daripada orang yang menyelamatkan nyawanya. Isabella merasa tidak terima mengeluarkan auranya.
Aura yang dimiliki oleh pendekar pedang sama kuatnya dengan sihir yang dimiliki oleh penyihir. Aura dapat membuat penggunanya lebih kuat dan cepat. Tebasan pedang mereka akan lebih kuat bisa mencapai tempat yang lebih jauh.
"Rose!" bentak Leticia.
Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke Leticia. Leticia jarang sekali marah, apabila ia marah artinya orang yang kena marah mempunyai sikap yang tidak dapat ditolerir lagi.
Orang yang dipanggil merasa bersalah. Rose segera meminta maaf, "Maaf atas kelancangan saya, Tuan Grand Duke."
Gerald tidak mempedulikan ucapan Rose. Ia sudah terbiasa dengan omongan yang seperti itu. Aura yang Isabella keluarkan segera mereda. Suasana di ruangan itu kembali tenang. Leticia bernapas lega.
"Kami mendapat informasi dari kalangan bawah. Sejauh ini informasi yang kami dapatkan selalu benar. Anda bisa mempercayai informasi yang kami dapatkan, Tuan," jelas Rose.
__ADS_1
"Baiklah, kami mempercayai kalian."
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Tuan Grand Duke," balas Rose dan Dale secara bersamaan.
Dale merasa ada yang mencurigai pertemuan yang dilakukan di kamar permaisuri. Selain menggunakan sihir ilusi, ia juga menempatkan mata yang bisa melihat keadaan di luar kamar Leticia untuk berjaga-jaga. Pertemuan mereka berlangsung cukup lama. Energi Dale juga menipis, ia tidak bisa mempertahankan ilusinya lebih lama lagi. Ia memberikan tanda kepada Leticia untuk segera mengakhiri pertemuan ini.
"Kami undur diri dulu, Grand Duke. Kami akan menyelidiki pihak kuil lebih lanjut. Mungkin ini dapat memulihkan reputasi Anda. Semoga kerjasama ini dapat berjalan dengan baik sampai pemberontakan terjadi." Leticia memberikan salam perpisahan.
Gerald hanya mengangguk sekali, menyetujui kerjasama yang mereka lakukan. Isabella mengantar Leticia dan kedua penyihir keluar dari ruangan itu.
Isabella berada di depan mereka bertiga.
Leticia teringat akan sesuatu. Ia berjalan lebih cepat mendekati Isabella.
"Aku lupa mengatakan ini. Apakah kamu bisa mengajari Judith di istana, Isabella? Tidak harus pada pertemuan selanjutnya. Kamu bisa mulai ketika Braun meminta pembelajaran Judith harus dilaksanakan di istana," kata Leticia.
"Mengapa harus saat Braun memintanya, Leticia?" tanya Isabella bingung.
"Ini salah satu rencanaku. Aku ingin Braun menganggapku terlalu sibuk mengerjakan tugas permaisuri dan mencurigaiku mengabaikan Judith. Aku ingin dianggap sebagai permaisuri yang bodoh."
"Terima kasih, Isabella."
Isabella tersenyum walau hanya sebentar kepada Leticia. Leticia merasa tenang hubungan mereka berdua berkembang menuju arah yang lebih baik.
Mereka sudah sampai di luar kediaman Faust. Rose menggunakan sihir teleportasinya. Bibir Leticia tersungging kepada Isabella. Leticia melihat Isabella yang perlahan memudar dari pandangannya.
***
Mereka bertiga sampai di kamar Leticia. Dale membatalkan sihir ilusinya. Mereka segera menempatkan diri, duduk agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Rose menggerutu, "Aku tidak menyukai wanita itu. Dia mencurigai kita."
"Ini salahku karena tidak memberitahu mereka terlebih dahulu," ujar Leticia.
"Tidak ini bukan salahmu Leticia. Sebagian ini salah Dale karena datang pemberitahuan," tuduh Rose.
__ADS_1
"Ini juga salahmu karena tidak bisa menahan amarah, Rose," timpal Dale.
Kedua penyihir ini memang tidak bisa akur. Meskipun berteman sejak kecil, mereka sering bertengkar.
"Kumohon jangan bertengkar." Terdengar nada mengancam dari Leticia. Seakan dia siap menendang mereka keluar apabila bertengkar lagi.
Kedua penyihir itu terdiam. Leticia yang marah sangat menakutkan bagi mereka.
"Jadi apa yang kau bicarakan dengan wanita itu, Leticia?"
"Aku membicarakan tentang latihan pedang Judith yang mungkin akan pindah ke istana."
"Tunggu... jadi wanita itu adalah guru pedang Judith yang baru menggantikan Sir Dean?" Rose mengibas-ngibaskan tangannya. Ia masih tidak mempercayai apa yang telah ia dengar.
"Benar."
"Apa kau bisa mempercayainya?"
"Dia adalah sahabatku yang pernah kuceritakan pada kalian. Dia salah satu kesatria pedang wanita yang hebat. Judith pun menyukai dirinya," tegas Leticia.
Rose tidak bisa berkata-kata lagi. Meskipun begitu Rose masih tidak menyukai Isabella.
"Jadi siapa di antara kita yang akan menyelidiki pihak kuil?" tanya Dale tiba-tiba.
"Biar aku saja. Pihak kuil akan datang ke istana beberapa hari lagi untuk memberkati Louis. Aku juga akan berdoa di kuil setelah kedatangan pihak kuil ke istana," balas Leticia.
Kedua penyihir itu mengangguk.
"Apabila kau kesulitan jangan lupa hubungi kami," ujar Dale
"Tentu saja." Leticia tersenyum kepada mereka berdua.
Kedua penyihir itu pergi meninggalkan Leticia sendirian. Ia memejamkan mata. Sejujurnya apabila tidak ditemani Rose dan Dale mungkin Leticia akan ketakutan berbicara dengan Gerald. Permusuhan antara Rose dan Isabella membuatnya lupa akan ketakutannya kepada Gerald.
Ia bersyukur kerjasama dengan Grand Duke Faust berjalan dengan baik meskipun sempat terjadi kekaucauan. Sekarang tinggal menjalankan rencana yang telah ia buat.
__ADS_1
Dua hari lagi pihak kuil akan datang ke istana. Leticia akan mengawasi tindakan mereka. Ini akan menjadi awal yang menentukan kelangsungan rencana menurunkan takhta Braun.