Permaisuri Yang Berbagi Cinta

Permaisuri Yang Berbagi Cinta
Bab 15 Awal yang Meyakinkan


__ADS_3

Leticia sedang duduk di kursi kamarnya. Pikirannya terasa lelah. Ia habis menghadiri pertemuan dengan bangsawan. Pertemuan dengan mereka selalu meresahkan Leticia. Ia harus berpura-pura tersenyum dan bersikap bodoh. Membicarakan sesuatu yang bukan menjadi minatnya. 


Ia ingin segera bertemu dengan putrinya. Dengan begitu, semua rasa lelahnya akan hilang. Ia berharap Judith bisa menyesuaikan dengan guru pedang barunya. Meskipun putrinya bersemangat dalam belajar berpedang, kejadian guru yang menghukum Judith pasti membuat putrinya takut berhadapan dengan guru yang lain. Ia sudah meminta Dean untuk menyemangati Judith apabila putrinya terlihat ragu.


Isabella adalah kesatria wanita yang sangat kuat, ia juga pandai dalam mengajari berpedang. Ia yakin Isabella dapat mengajari Judith dengan baik. 


Dulu Leticia sering meminta Isabella untuk mengajarinya berpedang, sembunyi-sembunyi dari ayahnya. Duke Hilbright mengetahui hal tersebut lalu memarahi Leticia. Ia tidak ingin anak perempuannya yang bisa dijual kepada bangsawan lain memiliki kecacatan di tubuhnya. Ayahnya mematahkan pedang kayu yang Leticia gunakan untuk belajar. Isabella mengetahui hal itu, ia membawakan Leticia pedang kayu yang baru. Mereka tetap berlatih walaupun tidak sesering sebelumnya karena takut ketahuan.


Leticia tertawa mengingat hal itu. Ia berharap hubungan mereka bisa seperti dulu lagi.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Leticia. Judith membuka pintu lalu berjalan menuju ibunya dengan bersemangat. Leticia tersenyum melihat kelakuan anaknya.


"Bagaimana latihan berpedangmu tadi, Sayang?"


"Sangat menyenangkan ibu. Aku bisa mengikuti apa yang diajarkan Guru dengan baik. Meskipun aku melakukan kesalahan guru tidak menghukumku. Ia mengajariku terus menerus hingga aku bisa menguasainya. Guru adalah orang hebat. Baru pertama kali aku melihat seorang wanita yang bisa berpedang dengan lihai seperti itu," kata Judith bersemangat.


Senyum Leticia masih tersungging di bibirnya. Masalah tentang guru putrinya sudah terselesaikan dengan baik. Sekarang tinggal rencana balas dendamnya kepada Braun dan Charlotte.


"Oh... ya... ada pesan dari Guru untuk Ibu." Judith memberikan surat kepada ibunya.


Leticia menerimanya. "Terima kasih, Sayang. Apa kamu lelah?"


"Iya, Ibu tadi aku sempat tertidur di kereta kuda."


"Kalau begitu beristirahatlah, ini sudah malam." Leticia memberikan kecupan pada kening Judith.


"Aku sayang Ibu." Judith memeluk Leticia.


"Ibu juga sayang dirimu, Judith."

__ADS_1


Judith pergi meninggalkan ibunya sendirian. Leticia segera membuka surat dari Grand Duke Faust. Grand Duke Faust menerima tawarannya, ia meminta bertemu dengan Leticia tiga hari lagi untuk membicarakan rencana menurunkan takhta Braun.


Leticia menghela napas lega. Bantuan yang paling dibutuhkan telah ia dapatkan. Ia mengambil batu sihir untuk menghubungi Rose. Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Batu yang berada di tangan Leticia bersinar.


"Ada apa Leticia?" suara Rose terdengar.


"Aku tahu ini sangat mendadak dan sangat gila. Aku akan menurunkan Braun dari takhta. Maukah kamu membantuku untuk balas dendam kepada Braun dan Charlotte, Rose?"


Tidak jawaban dari Rose. Sepertinya permintaan Leticia cukup sulit untuk dipenuhi. Tentu saja, Rose adalah penyihir istana sudah seharusnya ia loyal pada Kaisar. Leticia berniat mematikan batu sihir yang ada di tangannya. 


Belum sempat melakukan hal itu, Rose berkata, "Itulah yang ingin kudengar darimu, Leticia. Sudah sejak lama aku dan Dale tidak menyukai Braun. Aku menjadi penyihir istana karena ingin mengawasi perbuatan Braun kepadamu. Aku akan membantumu. Meskipun rencana gila sekalipun, aku tetap ikut."


"Terima kasih, Rose."


"Apa kau sudah menghubungi Dale?"


"Belum, aku ingin menghubunginya melalui surat."


"Ah... apakah Dale bisa membuat batu sihir untuk teleportasi, Rose?"


"Tentu saja bisa, Leticia. Aku akan memintanya membuatkan itu juga. Untuk apa kau membutuhkan itu?"


"Sebenarnya aku ingin pergi tanpa ketahuan orang lain. Di istana rasanya aku sedang diawasi."


"Baiklah. Apakah kau sudah punya rencana untuk menurunkan Braun dari takhta Leticia?"


"Sudah... aku akan membicarakannya dengan Grand Duke Faust. Kami bekerja sama untuk menurunkan takhta Braun."


Suara meja digebrak sampai pada telinga Leticia. Memang tindakannya ini sedikit berisiko, bekerja sama dengan orang bereputasi buruk. Apalagi ia tidak membicarakan hal ini kepada Rose ataupun Dale. Ia merasa mereka berdua akan menentangnya. Leticia tidak ingin kartu terkuat yang bisa ia dapatkan lepas begitu saja karena takut.

__ADS_1


"Apa kau tahu siapa dia, Leticia? Dia adalah orang terkejam di Kekaisaran."


"Aku tahu, tetapi dia adalah orang terkuat di Kekaisaran. Aku butuh bantuannya. Ia akan menjadi Kaisar menggantikan Braun."


"Kalau begitu, apa aku boleh ikut?"


Rose terlihat tidak tenang, dibuktikan dengan suara ketukan jari yang didengar Leticia. Ia tidak bisa mempercayai Grand Duke Faust. Ia tidak ingin Leticia berada di tempat yang bisa jadi merupakan jebakan. Tidak ada jaminan Leticia tidak ditipu.


"Kamu mau ikut pada pertemuan kami?" tanya Leticia


"Benar... apakah tidak boleh?"


Sebenarnya Leticia ingin pergi sendiri. Namun, dengan adanya Rose dirinya merasa lebih tenang. Ia merasa sedikit takut bertemu dengan Grand Duke Faust. Walaupun sebenarnya ia tahu bahwa rumor buruk tentang Grand Duke Faust mungkin saja salah.


"Kurasa tidak masalah mengajak orang yang ada sangkut pautnya dengan rencana menghancurkan Braun."


"Baiklah kapan pertemuannya?"


"Tiga hari lagi di kediaman Faust. Apakah aku bisa minta bantuanmu menggunakan sihir teleportasi, Rose? Jika aku pergi menggunakan kereta kuda, kutakutkan akan ada yang mencurigaiku."


Alasan Leticia meminta dibuatkan batu sihir untuk teleportasi adalah agar ia dapat berpindah tempat ke kediaman Faust dengan cepat. Ia tidak ingin orang-orang istana, terutama Braun dan Charlotte tahu kedatangannya ke kediaman Faust. 


"Tentu saja, tidak masalah."


"Terima kasih, Rose."


"Tidak perlu berterima kasih padaku, Leticia."


Batu sihir yang semula bersinar, kini telah meredup. Leticia memasukkan batu sihir itu ke laci. Ia mengambil sebuah kertas dan pena. Ia menuliskan rencana pemberontakannya. Tidak mungkin ia langsung memulai pemberontakan karena Kekaisaran akan kacau bila Kaisar selanjutnya terkenal sebagai orang yang kejam. Ia akan memulihkan reputasi Grand Duke Faust dengan membuatnya sebagai pahlawan. Grand Duke Faust akan berperan sebagai orang yang menguak kebusukan dari bangsawan di Kekaisaran. Ia akan mendapat dukungan dari rakyat kecil Kekaisaran. Leticia juga menuliskan daftar nama bangsawan yang dapat menjadi pendukung Grand Duke Faust. Bangsawan-bangsawan itu berada di ambang kehancuran, tetapi memiliki potensi yang kuat untuk membantu Grand Duke Faustm Pemberontakan Grand Duke Faust akan dilancarkan setelah ia mendapat dukungan dari bangsawan-bangsawan itu, sehingga kemenangan dapat diraih dengan mudah.

__ADS_1


Ia memasukkan surat itu ke dalam amplop. Ia akan menyampaikan hal ini saat pertemuan mereka tiga hari ini. Mungkin akan ada masalah yang menganggu rencana Leticia, tetapi ia yakin bisa mengatasinya.


__ADS_2