
Isabella melatih Judith dengan lebih hati-hati kali ini. Ia tidak ingin terlalu keras karena mungkin Judith masih kelelahan akibat penculikan ibunya beberapa hari yang lalu. Suara gangguan yang menyorakinya masih terdengar. Namun, ia tidak memedulikannya.
Karena ia melatih Judith di istana, keberadaan pengganggu jadi bertambah satu lagi. Rose mulai datang pada sesi latihan pedang Judith. Meskipun sebenarnya penyihir istana diam saja daritadi, tetapi tatapannya membuat Isabella terusik.
Isabella membiarkan Judith beristirahat sebentar. Kedua penyihir itu langsung mendekati putri Leticia dan memberinya minum dan handuk.
Isabella mengelap keringatnya, tiba-tiba ada yang menyodorkannya air. Pemimpin penyihir menara yang satu ini tidak pernah menyerah mendekati Isabella. Isabella menerima air itu karena ia memang haus.
Dale merasa senang karena sepertinya Isabella tidak menjaga jarak lagi dengannya. Meskipun begitu, sebenarnya tidak banyak informasi yang ia dapatkan dari Isabella. Ia tidak mudah mengatakan rahasia miliknya ataupun Grand Duke Faust.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu Judith."
Isabella langsung menoleh pada sumber suara itu. Merasa ada orang yang menatapnya, orang itu segera menoleh.
Duke Hilbright melebarkan matanya. Lalu bersikap seperti biasa. Isabella menatap tajam Duke Hilbright. Ia masih belum bisa melupakan sorot mata yang merendahkan dirinya dan ayahnya. Orang yang mengusir mereka.
"Ternyata guru berpedang Judith adalah kamu. Tidak cukup membawa pengaruh buruk untuk putriku, ternyata kamu juga membawa pengaruh buruk untuk cucuku."
Judith yang berada di dekat kakeknya merasa bingung. Baginya guru pedangnya sama sekali tidak membawa pengaruh buruk. Gurunya sangat baik.
Isabella tersenyum kecut. Ia berusaha menahan amarahnya dengan tidak bicara apapun.
"Lebih baik kamu belajar yang lain daripada berpedang, Judith," ucap Duke Hilbright.
"Tetapi saya suka berlatih pedang, Kakek. Ayah juga menyetujuinya. Dengan berlatih saya bisa menjadi kuat dan bisa melindungi kekaisaran," jawab Judith polos.
"Ada banyak cara lain melindungi kekaisaran daripada berlatih pedang, Judith."
Isabella tertawa. Semua orang yang ada di sana melihat ke arahnya. Dale yang berada paling dekat dengannya tertegun.
"Kenapa Anda melarang pada sesuatu yang disukai oleh orang lain, Duke Hilbright?"
"Itu bukan urusanmu, ini adalah urusan keluargaku. Aku melakukan yang terbaik untuk keluargaku."
Isabella berdecak. "Bahkan Kaisar dan Permaisuri Pertama tidak mempermasalahkan hal ini. Kenapa Anda terlalu mempermasalahkan seorang putri yang belajar berpedang, Duke?"
Orang-orang yang ada di sana bisa merasakan ketegangan yang terjadi di antara mereka berdua. Duke Hilbright adalah orang yang ditakuti oleh Rose dan Dale. Mereka bahkan tidak berani menatap matanya. Namun, Isabella berani membantahnya dan berniat mencari ribut dengannya.
__ADS_1
"Sepertinya, kamu terlalu lancang Countess. Kamu tidak tahu kedudukanmu. Pekerjaanmu sebagai guru cucuku bisa hilang dalam sekejab."
"Yang bisa memecat saya hanyalah Permaisuri Pertama, Kaisar dan Tuan Putri, apabila salah satu dari mereka tidak menyukai cara mengajar saya, Duke Hilbright."
Duke Hilbright mengernyitkan dahinya. "Suatu hari nanti kamu akan menyesal, Countess."
Duke Hilbright pergi dari tempat pelatihan itu. Ketegangan yang dirasakan oleh orang-orang di sana telah hilang, mereka bernapas lega. Dale dan Rose menatap Isabella dengan rasa kagum. Sebenarnya mereka ingin sekali melawan perbuatan Duke Hilbright pada Leticia dan Judith, tetapi mereka takut.
Judith mendekati Isabella pelan-pelan. Ia menarik baju Isabella. "Apa Guru membenci kakek?"
"Apa terlalu kelihatan ya?" Isabella bersikap lembut.
"Jika tidak bisa melihatnya berarti orang itu buta, Countess," timpal Rose.
Isabella menatap Rose. Rose memalingkan muka.
"Apa Guru masih marah?" tanya Judith ragu-ragu.
"Sudah tidak lagi, Tuan Putri. Mari kita lanjutkan latihannya." Isabella mengulurkan tangan pada Judith.
Judith menerimanya. "Baik, Guru."
"Ada yang ingin Permaisuri bicarakan dengan Anda sebelum pulang, Countess."
Seketika semua orang yang ada di sana merasakan ketegangan yang telah lewat tadi, kecuali Isabella. Isabella menanggapinya dengan santai.
"Baiklah."
***
Leticia menunggu di kamarnya. Ia masih menerawang ke langit-langit. Suara pintu dibuka membuyarkan lamunannya. Isabella masuk ke dalam. Leticia meminta Emilia menunggu di luar. Isabella duduk di tempat yang diduduki Duke Hilbright beberapa menit yang lalu.
Leticia bingung untuk memulai percakapan. Isabella menyadarinya.
"Raut mukamu sangat serius Leti, ada apa?"
"Maafkan aku, Bella." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Leticia.
__ADS_1
"Maaf untuk apa? Apa ayahmu memintamu memecatku karena bertengkar dengannya tadi?" tanya Isabella.
Leticia memiringkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Isabella.
"Ternyata bukan itu. Katakan saja aku siap mendengarmu."
"Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku tahu bahwa ini tidak bisa dimaafkan. Ayahku... ayahku... ayahkulah yang menyebabkan bisnis ayahmu bangkrut." Kepala Leticia tertunduk..
Isabella terdiam. Leticia menyadari bahwa perbuatan ayahnya tidak bisa dimaafkan. Ia siap dibenci oleh Isabella lagi. Tidak seharusnya Isabella membantu anak dari orang yang telah membuat keluarganya hancur.
"Aku sudah tahu, Leti."
Mata Leticia membola. Ia mendongak melihat wajah sahabatnya.
"Ayahku juga sudah tahu bahwa alasan bangsawan yang beliau ajak kerjasama tiba-tiba membatalkan perjanjian karena ayahmu. Karena itulah ayahku mendatangi ayahmu untuk terakhir kalinya meminta bantuan dan penjelasan. Aku marah padamu karena kukira kamu tahu atas perbuatan ayahmu. Lalu, kamu menutup mata atas permintaan bantuanku. Semuanya adalah salahpaham." Isabella mengangkat kedua pundaknya.
Isabella tersenyum pada Leticia. "Aku sudah pernah mengatakannya. Aku memaafkanmu, Leti. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak membencimu. Kesalahan ayahmu bukanlah kesalahanmu. Dan aku tidak akan menyakitimu atau Judith karena kesalahan ayahmu."
"Terima kasih, Bella." Leticia tidak bisa menutupi kegembiraannya. Ia tersenyum.
Isabella berdiri mendekati Leticia. "Kita sahabat bukan?"
"Tentu saja."
Sepasang sahabat itu saling tersenyum. Isabella berpamitan pulang. Ia membuka pintu dan ada suara benda terjatuh. Rose dan Dale tersungkur di depan pintu. Mereka menguping di depan pintu sambil menggunakan sihir penghilang. Rose dan Dale meringis karena ketahuan.
"Seperti kedua penyihir ini tidak tahu yang namanya privasi, Leti," sindir Isabella. Ia menoleh pada Leticia.
"Maaf atas kelancangan mereka, Bella," jawab Leticia sambil terkekeh.
"Aku tidak tahu kalau kau punya nama panggilan, Leticia," jawab Rose sambil berdiri.
"Karena aku lebih dekat dengannya," jawab Isabella bangga.
"Tapi kau bertemu dengannya baru-baru ini. Dan kalian tidak berhubungan selama bertahun-tahun. Meskipun kau teman semasa kecil Leticia, aku tidak yakin kau mengetahui semuanya tentang Leticia," sanggah Rose.
"Aku tahu semua tentang dirinya melebihi kalian," ujar Isabella.
__ADS_1
"Berhentilah bertengkar di kamarku. Lebih baik kalian bertengkar di luar saja," kata Leticia kesal.
Mereka saling berpandangan dan tertawa. Dale yang daritadi diam saja ikut tertawa. Sepertinya teman lama Leticia memang benar-benar berniat membantunya. Namun, Dale masih belum bisa mempercayai Grand Duke Faust sepenuhnya. Oleh karena itu ia masih memerlukan informasi dari Isabella. Kedekatan mereka akan ia manfaatkan.