
Charlotte mengundang Leticia untuk minum teh bersamanya. Meskipun enggan datang, Leticia terpaksa ke sini karena Charlotte mengatakan Judith akan datang. Ada kemungkinan Charlotte berbohong, tetapi Leticia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Judith.
"Jadi sudah berapa lama kau berhubungan dengan Grand Duke Faust, Leticia?"
Ia tidak lagi bersikap formal kepada Leticia. Baginya kedudukan Leticia yang sekarang sangat rendah.
Leticia hanya diam saja. Ia bersikap dingin pada Charlotte.
"Apa sejak dia menyelamatkanmu atau sebelum itu?"
"Itu bukan urusanmu, Charlotte."
"Ah... begitu ya. Kalau begitu apa kau tahu siapa informan Grand Duke Faust yang memberi tahu informasi kepadanya tentang bangsawan yang melakukan tindakan ilegal?"
Charlotte hanya mengetahui hubungan Grand Duke Faust dan Leticia hanya sebatas percintaan saja. Ia tidak tahu hubungan mereka lebih dalam.
"Sekalipun tahu aku tidak akan memberitahumu."
"Sejak kapan kau tahu hubungan antara Braun dan aku, Leticia?"
Leticia tidak menjawab.
"Apa saja yang sudah kau bocorkan pada Grand Duke Faust?"
"Semua pertanyaanmu itu sia-sia saja, Charlotte. Aku tidak akan buka mulut."
"Kita lihat saja nanti."
Charlotte menyeringai. Leticia menatapnya tajam seolah-olah ia dapat menusuknya dengan matanya. Charlotte sama sekali tidak takut.
Charlotte dan Leticia menoleh ke orang yang datang ke arah mereka. Hati Leticia gembira melihat putrinya. Judith melirik Leticia sebentar lalu memalingkan muka. Putrinya masih tidak mau menatap Leticia. Meski hatinya terasa sakit ia merasa lega putrinya sehat-sehatnya walaupun terlihat semakin kurus.
Judith duduk di dekat Charlotte. Ia masih menghindari ibunya.
Leticia menguatkan hatinya. Ia akan mengambil hati Judith.
"Apa kamu sudah makan Judith?"
Judith tidak menjawab. Ia meraih cangkir teh disajikan di depannya. Ia menyesapnya.
Leticia ikut menyesap tehnya. Baunya aneh. Ia melihat ke arah Charlotte yang menyeringai jahat. Ia menyadari apa yang ada di teh itu. Racun.
Leticia segera menepis teh yang diminum Judith. "Jangan diminum!"
Cangkir teh itu terjatuh dan pecah. Sisa teh di cangkir Judith tinggal sedikit.
Judith kebingungan dengan sikap Ibunya. Menutup mulutnya yang mengeluarkan banyak darah. Ia roboh. Tangan Charlotte menopangnya. Charlotte melihat Leticia yang tersungkur karena efek racun sudah menjalar di tubuh Leticia juga.
Leticia menangis tak berdaya. "Judith... Judith... Judith..."
Leticia menggapai-gapai udara ke arah putrinya yang berada di tangan Charlotte. Mulut Leticia mengeluarkan sedikit darah.
Salah satu pelayan yang ada di sana melarikan diri.
"Cepat tangkap pelayan Permaisuri Pertama. Pasti dia yang menuangkan racun. Lalu tangkap Permaisuri Pertama mungkin saja ia juga terlibat pada peracunan ini," perintah Charlotte.
__ADS_1
Sebagian pengawal menangkap pelayan itu. Sedangkan yang lain membekuk Leticia dan Dean. Semua ini adalah rencana Charlotte. Pelayan tadi telah disogok olehnya.
"Kau menggali lubang kuburmu sendiri Leticia. Sayang sekali tidak akan ada yang menyelamatkanmu bahkan pahlawanmu itu." Charlotte mendekatkan wajahnya pada Leticia
Suara dan wajah Charlotte semakin kabur. Leticia tak sadarkan diri.
***
Meski membuka mata, hanya kegelapan yang bisa Leticia lihat. Kakinya terikat. Ia merasa sakit, berarti ia masih hidup. Ingatan Judith teracuni memenuhi kepalanya.
"Cepat keluarkan aku Charlotte! Di mana Judith?!"
Leticia terus-menerus berteriak hingga tenggorokannya sakit. Ketakutan tidak dapat bertemu dengan putrinya untuk selama-lamanya menjalari tubuhnya.
Lalu pintu terbuka. Cahaya yang ada di luar menyilaukan mata Leticia. Charlotte masuk ke dalam. Pintu masih dibuka untuk penerangan.
"Tenang saja, putrimu masih hidup. Aku sudah memberikan penawar racun padanya. Aku tidak akan membunuhnya karena dia akan berguna bagiku dan Braun," kata Charlotte sinis.
"Aku tidak akan memaafkanmu atas perbuatanmu ini! Aku pasti akan membalasmu!" Teriak Leticia.
"Ha... ha... ha..." Tawa Charlotte memenuhi ruangan.
"Bagaimana caranya kau membalasku? Kamu sama sekali tidak berdaya Leticia," lanjut Charlotte.
"Aku akan membunuhmu!" Leticia berteriak lebih keras.
"Kalau begitu, maka bersiap-siaplah berpisah dengan putrimu untuk selamanya. Jika kau membunuh salah satu dari kami, Braun atau aku akan langsung membunuh putrimu."
"Pengecut!"
Charlotte membanting nampan makan ke depan Leticia.
"Tenang saja ini tidak beracun." Charlotte memakannya dan tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa aku dibiarkan hidup?" tanya Leticia. Ia tidak mampu berpikir lagi. Otaknya sudah lelah karena banyak masalah yang menerpa.
"Kami masih membutuhkanmu. Kamu bisa menjalankan semua tugas Permaisuri selagi aku dan Braun bersenang-senang. Lalu jangan sekali-kali kau berniat melarikan diri atau bunuh diri. Nyawa putrimu akan menjadi taruhannya. Lalu aku akan mempertemukanmu dengan Judith, jika dia sudah siuman."
Mata Leticia terbelalak. Ia akan bertemu dengan putrinya lagi. Ia akan menjelaskan semuanya dengan benar kali ini. Agar membuat putrinya mempercayainya.
"Jangan lupa makan Leticia. Aku tidak mau kau mati kelaparan." Charlotte meninggalkan ruangan itu.
Leticia memeriksa batu sihir kecil untuk teleportasi yang ia ikat di pahanya. Selama ini ia menyembunyikannya di sana. Braun dan Charlotte pasti tidak mengira Leticia masih memiliki batu sihir. Ia tidak menggunakannya karena berniat melarikan diri bersama Judith sehingga semua rencana Charlotte dan Braun gagal.
Ia menggenggamnya dengan kuat. Dengan ini ia dan putrinya akan selamat.
***
Judith telah sadar. Ia mengamati keadaan di sekelilingnya. Ia berada di kamar. Dadanya terasa sakit. Ia mengingat-ingat kejadian terakhir kali. Racun dan muntah darah. Lalu, sekilas ia mendengar suara ibunya yang terus memanggil-manggilnya.
Judith sama sekali tidak menyadari keberadaan Charlotte yang duduk di kursi tamu. Permaisuri Kedua mendekatinya, memeluk.
"Kasihan sekali Anda, Tuan Putri. Permaisuri Leticia berusaha meracuni Anda," tutur Charlotte.
"Tidak mungkin, Ibu juga meminumnya," sanggah Judith.
__ADS_1
"Itu hanyalah akal-akalan Permaisuri Leticia agar tidak dicurigai. Buktinya, pelayan yang melarikan diri itu sudah mengaku diberi uang olehnya. Alasan Anda diracuni mungkin Permaisuri Leticia sudah tidak membutuhkan Tuan Putri lagi," jelas Charlotte.
Judith menggeleng-geleng, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Sepertinya saya tahu alasan Permaisuri Leticia berhubungan dengan Grand Duke Faust. Grand Duke Faust menginginkan takhta, apabila terwujud dan Permaisuri Leticia menjadi istrinya maka Tuan Putri akan menjadi Kaisar selanjutnya. Lalu, karena hubungan mereka sudah tersebar maka dia berniat mencelakai Tuan Putri. Ternyata Permaisuri Leticia tidak ada bedanya dengan Duke Hilbright." Charlotte menyeringai.
Judith terus menangis mendengar penjelasan Charlotte. Ia berusaha menyangkalnya, tetapi tidak bisa.
***
Leticia menemui Judith. Wajah putrinya terlihat pucat. Ia merasa bahagia dan sedikit sedih karena tidak bisa melindungi putrinya dengan baik.
Leticia menghampiri putrinya yang bersandar di dipan kasur. Tangan Leticia berusaha menyentuh wajah putrinya. Judith memalingkan wajah. Leticia menurunkan tangannya. Ini bukanlah saat yang tepat. Ia akan menggunakan batu sihir itu di saat yang tepat. Ia tidak ingin saat tengah menggunakan batu itu mereka bergumul lalu tiba-tiba berpisah.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Leticia khawatir.
Judith tersenyum kecut menatap tajam Leticia. "Apa Ibu tidak bisa lihat hasil dari perbuatan Ibu sendiri? Berhentilah berpura-pura!"
Leticia terkejut dengan reaksi putrinya yang benar-benar membencinya. "Ibu benar-benar khawatir padamu, Judith. Ibu tidak akan menyakitimu. Charlotte-lah yang merencanakan peracunan itu."
"Aku sudah tidak percaya lagi pada ucapan Ibu. Apa Ibu tahu aku selalu berharap menjadi seperti Ibu yang hebat, anggun, dan pintar. Aku selalu menyayangi, menghormati dan mencintai Ibu. Aku berharap Ibu merasakan hal yang sama, tapi... tapi... itu semua hanyalah khayalanku belaka." Air mata menggenangi mata Judith.
"Itu tidak benar. Ibu selalu menyayangi dan mencintaimu, Judith. Kamu adalah harta terbesar bagi Ibu." Leticia berusaha mengelus kepala putrinya.
Judith menepis tangan ibunya. "Berhentilah berbohong! Apa ibu pernah menganggapku sebagai anak? Bukan sebagai alat?"
"Apa?" Leticia tersentak dengan kata-kata putrinya mirip dengan ucapan yang ia lontarkan pada Ayahnya.
"Ibu dan Kakek sama saja! Kalian berdua hanya mementingkan kekuasaan!"
Kalian hanya mengharapkan aku menjadi Kaisar! Semua perhatian, kasih sayang dan pelajaran yang Ibu berikan hanya demi itu!" Pipi Judith basah oleh air mata.
"Tidak, Ibu tulus menyayangimu, Judith!" teriak Leticia. Mata Leticia semakin buram karena air mata.
"Apa itu alasan Ibu mencintai pria itu? Bila pria itu menjadi Kaisar, aku akan menjadi Kaisar selanjutnya! Pria itu pun juga pasti berjanji tidak akan menikah lagi!" teriak Judith.
"Itu semua tidak benar! Ibu mohon jangan termakan hasutan Charlotte." Leticia memegang dadanya yang semakin tercabik-cabik.
"Aku lebih mempercayai Permaisuri Kedua dibandingkan Ibu. Aku... aku... aku..."
Judith terisak-isak. Ia menghapus air matanya yang terus keluar.
Leticia ingin menghibur putrinya, meski dirinya juga merasa kesakitan.
Tak ingin dihibur ibunya, Judith mendorong Leticia. Karena tenaganya lemah Leticia hanya mundur sedikit. Leticia terus menguatkan diri dari penolakan-penolakan Judith.
Judith mengatur napasnya melihat mata ibunya. Tatapan yang ia pancarkan pada Leticia sangat dingin.
"Pergilah jangan pernah temui saya lagi, Permaisuri Leticia."
Sekarang putrinya sendiri bahkan tidak mau memanggilnya ibu. Air mata yang berusaha Leticia tahan tadi bercucuran tiada henti. Bibir Leticia bergetar. Ia menggeleng pelan.
Charlotte berada di luar mendengar semua pertengkaran ibu dan anak itu, menyeringai. Ia masuk berbisik pada Leticia. "Sayang sekali, mulai sekarang orang yang ingin kau lindungi malah akan membencimu untuk selamanya, Leticia." Charlotte membawa Leticia yang seperti cangkang tanpa jiwa keluar dari kamar Judith.
Begitu keluar, terdengar teriakan Judith dari dalam. Teriakan itu menggeroti jiwa Leticia. Ia ingin memeluk, menyemangati, menghibur putrinya, tetapi tidak bisa. Apapun yang ia katakan tidak dapat mencapai hati Judith.
__ADS_1
Leticia berjalan ke kamarnya dengan tatapan kosong. Bekas air mata terlihat di pipinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hidup atau matipun akan membuat dirinya dan putrinya menderita.