
Isabella mengerutkan dahi. Orang yang ada di depannya membuatnya risi.
"Saya sedang melatih Tuan Putri. Anda bisa menemui berbicara setelah saya selesai." Isabella sebenarnya enggan berbicara dengan penyihir ini. Ia tidak menyukainya sejak pertama bertemu. Meskipun ia lebih tidak menyukai penyihir wanita yang bersama Leticia waktu itu.
"Tidak masalah. Aku tidak ingin berbicara hal yang penting. Aku ingin melihatmu itu saja," timpal Dale.
Isabella menahan amarahnya. Jika tidak ingin bicara hal penting sebaiknya ia tidak perlu datang ke sini. Penyihir ini ingin membuang-buang waktunya. Dan dia mulai berbicara informal kepada Isabella.
Isabella dan Judith kembali latihan. Isabella merasa tatapan yang tertuju kepadanya. Ia tidak bisa berkonsentrasi dengan benar. Ia melihat ke asal tatapan itu. Dale tersenyum melihatnya. Isabella berusaha tidak memedulikan keberadaan Dale.
Isabella mengira-ira Dale masih tidak mempercayainya. Oleh karena itu, penyihir menara ini mengawasi Isabella. Orang itu takut Isabella akan melukai Judith. Guru pedang Judith ini mendengus kesal.
Latihan pedang telah selesai. Judith berpamitan pulang kepada gurunya. Isabella mengantarnya sampai ke gerbang kediaman. Tugasnya yang satu ini sudah selesai.
Selanjutnya tinggal meladeni penyihir yang tak diundang ini. Isabella mendekati Sang Penyihir Menara. Sebelum sempat Isabella berbicara, Dale mengeluarkan suaranya, "Kalau begitu aku pulang dulu."
Mata Isabella membola, ia memiringkan kepalanya. Sebenarnya apa yang diiinginkan penyihir menara ini?
"Apakah Anda tidak jadi membicarakan sesuatu?"
"Aku sudah bilang, aku datang ke sini cuma ingin melihatmu, itu saja." Senyum Dale masih mengembang.
Isabella menyadari apa yang sedang dilakukan Dale. Penyihir ini ingin mendekatinya. Ia lupa rumor tentang penyihir yang satu ini merupakan pecinta wanita, karena saat pertemuan terakhir kali orang ini terlihat bisa mengendalikan emosi dan bijaksana. Bisa jadi semua itu hanyalah topeng yang digunakan Dale.
Wajah tampan milik penyihir ini dapat memikat wanita manapun. Tak salah banyak putri bangsawan yang jatuh hati kepadanya. Namun, segala sesuatu yang disukai wanita yang pernah ditemui Dale, malah membuat Isabella semakin tidak menyukainya.
"Terserahmu," jawab Isabella ketus.
__ADS_1
Isabella mulai berbicara informal kepada Dale. Tidak perlu menjaga ucapan di hadapan orang seperti ini.
Dale masih tersenyum, ia perlahan menghilang karena teleportasi. Isabella memegangi kepalanya yang tidak pusing. Sepertinya mulai sekarang hari-harinya tidak akan tenang.
***
Hari ini Leticia mengadakan acara minum teh dengan mengundang bangsawan-bangsawan. Leticia juga mengundang Charlotte karena sebelumnya ia tidak datang dalam acara minum teh yang diadakan oleh Permaisuri Kedua.
Walaupun tidak menyukai acara seperti ini, ia harus melakukannya untuk memperluas koneksinya. Ia juga dapat memperoleh informasi tentang bangsawan lain.
Leticia menyesap tehnya. Bangsawan lain terdiam menunggu Leticia memulai pertemuan ini.
"Saya dengar bisnis baru suami Anda berhasil, Countess Blaire?" tanya Leticia memulai percakapan.
"Benar, Permaisuri Pertama. Kami mengambil risiko besar dalam bisnis ini, karena kepiawaian suami saya dalam mengelolanya, bisnis ini sukses besar," jawab Countess Blaire membanggakan suaminya.
"Tentu saja, Permaisuri Kedua."
Bangsawan yang lain mulai tertarik pada bisnis yang dijalankan suami Countess Blaire. Keuntungan yang sangat besar membuat mereka tergiur bekerja sama dengan Count Blaire. Berbeda dengan mereka, meskipun Leticia yang pertama kali berbicara tentang bisnis dari Countess Bliare, ia sama sekali tidak tertarik pada bisnis yang dijalankan Count Blaire.
Bisnis yang memiliki keuntungan besar dalam waktu yang singkat sangat mencurigakan. Memang bisnis ini sepertinya tidak ada sangkut pautnya dengan kuil. Namun, alasan Count Blaire berdonasi dalam jumlah yang banyak pada kuil, menurut Leticia bukan karena ingin mendapat pujian atau benar-benar murni ingin berdonasi. Pasti ada alasan tersembunyi.
"Saya dengar semakin lama Marquis Rainster semakin menggila," tukas Countess Blaire.
"Menggila seperti apa, Countess?" tanya Leticia.
"Marquis marah-marah saat pertemuan dengan Suami saya tanpa alasan yang jelas. Suami saya dengan niat baik mengundangnya tetapi Marquis malah melemparnya dengan vas bunga," jelas Countess Blaire.
__ADS_1
Semua yang ada di tempat itu menganga. Mereka semua terdiam mendengar kelanjutan dari Countess Blaire.
"Saya takut keluarga Rainster akan semakin terpuruk. Marquis Rainster tidak bisa mengurus keuangan dengan baik ditambah kekuatan militernya semakin menurun. Ditambah dengan sikapnya yang semakin buruk, entah bagiamana nasib keluarga Rainster di masa depan," lanjut Countess Blaire.
"Saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Anda, Countess," balas Charlotte.
"Terima kasih, Permaisuri Kedua." Countess menyungingkan senyum di bibirnya.
Mereka melanjutkan kembali pembicaraan. Leticia tidak dapat mengingat apa yang mereka bicarakan meskipun berada di sana. Semuanya merupakan informasi yang tidak penting. Informasi yang menurut Leticia penting adalah bisnis baru Count Blaire dan masalah keluarga Rainster.
Kedua informasi itu dapat membawanya memulihkan nama baik Grand Duke Faust. Keluarga Rainster adalah salah satu nama bangsawan yang tertulis di daftar bangsawan dapat yang membantu Grand Duke Faust. Kekuatan militer dari Marquis Rainster dulu sangatlah kuat hampir setara dengan Grand Duke Faust. Namun, kemerosotan terjadi sejak Marquis Rainster mulai bertingkah aneh. Jika Grand Duke Faust dapat memecahkan masalah keluarga Rainster, dua militer terkuat di Kekaisaran akan menyatu. Melawan pasukan Kekaisaran pasti bukanlah hal yang sulit.
Namun, Braun masih punya pendukung yang tidak bisa dianggap remeh. Marquis Nien, ayah dari Charlote pasti membantu anak dan menantunya. Duke Hilbright, ayah Leticia pasti juga akan ikut membantu menantunya. Leticia tidak mengatakan semua rencana yang ia buat kepada ayahnya. Ayahnya tidak akan mendukungnya. Duke Hilbright akan lebih memihak Kaisar yang merupakan menantunya. Bagi ayahnya, Leticia hanyalah sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Lalu beberapa bangsawan lain pasti akan membantu Braun.
Gabungan kekuatan militer Kekaisaran dengan bangsawan yang membantunya memang kuat. Namun, gabungan kekuatan militer Grand Duke Faust dan Marquis Rainster lebih kuat. Leticia yakin kemenangan akan berada di tangan Grand Duke Faust.
Sekarang, Leticia berada di kamarnya memberitahukan semua informasi yang ia dapat kepada Dale. Ia tidak ingin Dale marah lagi karena Leticia menyembunyikan sesuatu.
Leticia juga meminta Dale untuk membuatkan batu sihir untuk berkomunikasi dengan Isabella dan Gerald. Dale sedikit enggan menyanggupi permintaan Leticia yang satu ini, terdengar dari cara bicaranya yang sedikit berbeda. Namun, ia tetap membuatkan batu sihir lalu mengirimkannya pada Leticia. Dale menceritakan singkat tentang kedatangannya di kediaman Faust. Leticia menghela napas, berharap Dale tidak mengacau.
Leticia akan memberi tahu Rose nanti malam. Ia tidak bisa memberitahunya saat hari masih cerah, karena Rose masih bekerja.
Leticia menuliskan sebuah surat. Setelah selesai, ia memanggil Emilia.
Emilia datang kepada majikannya. Ia menunduk tidak berani menatap mata majikannya.
Leticia menyodorkan surat itu kepada Emilia. "Pulanglah, Emilia."
__ADS_1
Emilia menatap majikannya lekat-lekat. Ia tahu ini perbuatan yang sedikit lancang. Namun, kejadian ini terlalu menguncang diri Emilia.