
Dean terbangun dalam ruangan serba putih. Ia melihat Rose yang memegangi tangannya dengan erat sambil tertidur. Ia berusaha duduk. Ini menyebabkan Rose terbangun. Rasa senang, lega, sedih bercampur jadi satu.
"Apa saya berada di surga?" tanya Dean.
"Apa kau kira aku orang yang mudah mati?" jawab Rose ketus.
"Maafkan saya."
Keheningan terjadi di antara mereka. Dean menatap Rose lekat-lekat. Gadis pujaannya sudah ada di depannya. Ia tersenyum.
"Bagaimana saya bisa selamat?" tanya Dean.
"Emilia memberitahuku bahwa kau sedang sekarat. Aku menuju ke tempatnya lalu membawamu ke kuil dengan berteleportasi untuk diobati."
"Terima kasih, Pemimpin Penyihir Kekaisaran."
"Itu bukan apa-apa." Rose memalingkan muka ia merasa malu.
Dean membelai rambut Rose, membuat penyihir ini terkesiap. Ia menoleh ke Dean.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rose.
"Anda sudah merebut ciuman pertama saya. Apakah Anda tidak ingin bertanggung jawab?" goda Dean.
Rose terkejut dengan sikap Dean yang menjadi aneh. Sepertinya berada di ambang kematian membuatnya berubah. Namun, entah mengapa ia merasa senang dengan sikapnya ini.
"Itu juga ciuman pertamaku, jadi kita sama-sama impas."
"Bolehkah saya memanggil nama Anda."
"Tentu saja."
"Rose."
Rose mematung. Sudah lama ia ingin Dean memanggil namanya. Saat mereka masih kecil, mereka tidak bertukar nama. Mereka hanya bercerita satu sama lain.
Ia ingin Dean mengingat dirinya, tetapi sama sekali tidak berhasil. Semua perbuatannya untuk mendekatinya sama sekali tidak membuatnya ingat. Lalu terpikirkan cara lain di otak Rose. Ia akan membuat Dean jatuh cinta kepadanya. Meski Dean tidak mengingatnya, Rose tetap mendapat cintanya.
Wajah Dean semakin dekat dengan Rose lalu menciumnya. Rose mencengkram baju Dean sambil membalas ciumannya.
Dean melepaskan bibir Rose. Wajah Rose memerah, ia memalingkan muka.
__ADS_1
Dean terkekeh melihat tingkah Rose. Ia mengira Pemimpin Penyihir Istana adalah orang yang tegas dan sedikit serampangan, tetapi ternyata ada sisi manisnya juga. Sifat malu-malunya pun masih sama.
"Aku sudah menjadi kesatria yang hebat. Jadi maukah kamu bersamaku untuk selamanya?" ucap Dean.
Rose menyadari kalau Dean sudah mengingatnya. Ia memukul-mukul Dean dengan pelan. Dean tersenyum melihat kelakuan cinta pertamanya ini.
"Aku mau," jawab Rose lirih.
Dean memeluk Rose. Sudah lama ia ingin melakukan hal ini. Ia juga ingin menggenggam tangannya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau mengenalku?" tanya Dean.
"Aku ingin kau mengingatnya sendiri."
"Bagaimana jika aku tidak selamat saat pemberontakan?"
"Aku akan meratapi dan membencimu untuk selamanya karena meninggalkanku."
Rose sempat menyesal saat melihat Dean yang terluka. Ia takut dalam pertemuan mereka yang hanya berlangsung singkat, Dean hanya menganggapnya sebagai penyihir istana saja. Ia berpikir seharusnya memberitahunya dulu, mereka bisa berbahagia walau sebentar. Dengan tergesa-gesa Rose memaksa salah satu pendeta untuk mengobati Dean. Ia bersyukur Dean baik-baik saja.
"Kenapa kamu tidak datang di alun-alun setelah itu?"
Rose mempelajari sihir di tempat yang jauh dari kampung halaman Dean. Jadi ia hanya menyempatkan diri datang sebulan sekali. Ia berharap Dean datang untuk menjelaskan dirinya telah belajar sihir. Namun, pertemuannya dengan Dean adalah saat ia melihatnya di berlatih di tempat pelatihan istana. Ia bahagia bertemu dengannya, tetapi Dean tidak mengenalinya. Ia sempat membencinya. Namun, masih ada rasa cinta di hatinya. Ia berusaha membuat Dean ingat. Pada akhirnya, Dean mengenali sekarang.
"Maafkan, aku. Aku bertanya pada orang-orang katanya kamu mati kelaparan."
"Aku tidak semudah itu mati."
"Aku tahu, maafkan aku."
Dean memeluk Rose semakin erat. Rose membenamkan kepalanya ke dada kesatria ini. Mereka menikmati berdua sambil membicarakan masa lalu.
***
Leticia berada di depan kamar Judith membawakannya makanan. Pintu kamarnya masih terkunci. Putrinya masih membencinya. Ia belum menyentuh makanannya beberapa hari ini.
Gerald memperbolehkan mereka tinggal sampai Judith pulih. Setelah itu, mereka akan mengasingkan diri dari istana.
Leticia terus mengetuk pintu berharap Judith akan membuka pintunya.
"Sayang, Ibu membawakanmu makanan. Ibu mohon makanlah, sudah beberapa hari ini kamu tidak makan," ujar Leticia.
__ADS_1
Tak ada jawaban.
Leticia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya.
Gerald datang ke istana Permaisuri Pertama, ia ingin melihat keadaan ibu dan anak itu. Masih sama seperti sebelumnya. Jika diteruskan maka kehidupan keduanya akan sama-sama menderita.
Gerald membuka paksa pintu itu dengan auranya. Gerald meminta Leticia menunggu di depan saat ia masuk ke dalam. Leticia mengangguk.
Gerald masuk ke kamar Judith. Judith yang bersandar di kasurnya, terkejut sejenak. Tatapannya kosong.
Gerald menghampirinya, duduk di kursi sebelah ranjangnya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu merasa tujuan hidupmu hilang."
Gerald pernah merasakan hal yang sama saat kehilangan kedua orang tuanya. Ia menetapkan tujuan baru untuk membalas dendam kepada keluarga kekaisaran.
"Benar, Anda telah merebut semuanya. Sekarang tidak ada yang mencintai dan peduli terhadap saya."
Ayahnya sama sekali tidak mencintainya sedangkan ibunya ingin bersama pria lain. Tujuan hidupnya untuk menyatukan keluarganya telah sirna. Ia ingin berbahagia bersama mereka berdua.
"Kamu mirip dengan ibumu. Kalian berdua berpikir tidak ada yang peduli terhadap kalian. Ada banyak yang peduli kepadamu selain Ibumu, seperti Gurumu, Pemimpin Penyihir Menara, Pemimpin Penyihir Istana."
"Mereka hanya peduli kepada saya gara-gara saya adalah anak dari Ibu."
"Kalau begitu, itu bisa juga sebaliknya. Mereka dapat membencimu gara-gara kamu adalah anak ayahmu."
Judith melihat Gerald sambil melebarkan matanya. Perkataan Gerald benar, di dalam darahnya bukan hanya mengalir darah ibunya, ada juga darah ayahnya.
"Mereka peduli kepadamu karena sifatmu yang baik dan menggemaskan. Jika sifatmu jahat mereka tidak akan mau peduli kepadamu," lanjut Gerald.
Judith diam saja mendengar setiap perkataan Kaisar baru ini dengan seksama.
Gerald meneruskan perkataannya. "Lalu, Ibumu lebih memilihmu dibandingkan aku. Aku akan mengasingkan kalian berdua dari istana. Aku akan membuatmu memiliki tujuan baru. Bencilah aku, bunuhlah aku lalu jadilah Kaisar berikutnya."
Judith mengepalkan tangannya dengan erat. Cahaya di bola matanya kembali. Ia akan mempunyai tujuan yang baru.
"Tolong bawakan saya makanan," ucap Judith lirih.
Gerald tersenyum simpul. Tugasnya di sini sudah selesai. Ia keluar lalu memberitahu Leticia bahwa putrinya sudah mau makan. Leticia langsung masuk membawakan makanan Judith.
Judith tersenyum melihat Ibunya. Air mata Leticia mengalir deras. Ia memeluk putrinya dengan erat. Judith membalasnya. Kini ia bisa melihatnya lagi. Kehangatan dan kasih sayang dari ibunya. Ia tidak menyadarinya karena matanya tertutup oleh hasutan Charlotte. Ia akan melindungi ibunya. Ia berjanji akan membahagiakan ibunya.
__ADS_1